Perlu Keseimbangan "Sekala" dan "Niskala"
Dalam rangka menjaga tatanan agar tetap harmonis -- dalam hal ini kesucian Bali -- sesungguhnya diperlukan keseimbangan langkah sekala dan niskala. Tak dimungkiri, langkah niskala sudah banyak dilakukan umat lewat penyelenggaraan upakara. Tetapi, hendaknya tak cukup berhenti sampai di sana. Perlu dibarengi dengan upaya sekala. Di samping itu, yadnya mesti dipahami bermakna luas. Tak hanya vertikal, tetapi juga horizontal. Apa saja yadnya horizontal itu? Langkah sekala berupa apa mesti dilakukan umat dalam menjaga keharmonisan?
============================
Praktisi pendidikan yang juga pengamat agama Drs. IB Anom, M.Pd. mengatakan sesungguhnya ada sesuatu yang hilang di Bali. Kita telah melupakan nilai tambah yang dimiliki masyarakat Bali. Nilai tambah itu adalah sopan santun, ramah tamah, permisif, toleran, dll. Kini hal itu sudah mulai dilupakan, ujarnya.
Dalam rangka menciptakan tatanan Bali yang harmonis, kata Anom, nilai tambah itu sesungguhnya modal yang utama. Nilai itulah yang mesti dijadikan spirit dalam rangka menjaga keharmonisan dan keajegan Bali.
Dikatakannya, dalam rangka mengharmoniskan tatanan tersebut, secara niskala sudah banyak dilakukan lewat penyelenggaraan ritual -- berbagai upacara. Secara niskala upacara itu bertujuan agar alam mikro (mikrokosmos) dan alam makro (makrokosmos) selalu harmonis. Tetapi, sesungguhnya umat tidak mesti berhenti sampai di sana. Secara sekala perlu ada yadnya-yadnya horizontal dalam rangka memanusiakan manusia Bali.
Yadnya diperlukan dalam rangka mengembalikan sesuatu yang hilang tersebut. Dalam rangka menemukan kembali nilai tambah yang hilang itu diperlukan sentuhan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan elite pemerintahan. Namun, semua tokoh tersebut agar betul-betul dipercaya dan disegani. Lewat pencerahan agama yang diberikan, diharapkan umat sadar dan terpanggil untuk kembali pada nilai-nilai yang sempat menghilang itu.
Di sinilah perlunya keteladanan. Namun, tokoh yang patut digugu dan ditiru jumlahnya amat langka. Tokoh panutan sangat diperlukan dalam konteks ini. Tetapi sayang, jumlah mereka sangat sedikit, katanya.
Dikatakannya, ritual keagamaan dalam rangka mengembalikan keharmonisan jagat raya beserta isinya sangat diperlukan. Namun, hal itu mesti dibarengi dengan langkah sekala, seperti upaya pembenahan-pembenahan sikap mental umat dan langkah-langkah pelestarian alam. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan antara sekala dan niskala.
Karena itu, kata IB Anom, mesti diseimbangkan antara yadnya vertikal dan horizontal. Yadnya vertikal umat sudah tak perlu diragukan, tetapi yadnya ke samping sangat diperlukan agar terjadi keseimbangan.
Banyak Dilakukan
Praktisi pendidikan yang juga Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Rai S, M.A. mengatakan upaya untuk mengharmoniskan jagat raya beserta isinya sudah banyak dilakukan secara niskala. Namun sesungguhnya, umat tidak berhenti sampai di sana. Perlu ada penghayatan dari tiap-tiap individu umat mengenai makna upacara tersebut. Pemahaman upacara itu penting agar masyarakat paham apa makna di balik simbol upakara tersebut.
Dalam rangka menjaga keharmonisan, sesungguhnya umat cukup bertitik tolak pada konsep Trikaya Parisuda. Dengan melakukan tiga ajaran suci itu, sesungguhnya umat sudah melakukan swadharma dalam menjaga keharmonisan. Berpikir, berkata dan berbuat yang baik, merupakan langkah yang strategis dalam menjaga keharmonisan itu.
Dengan berpikir untuk menjadikan alam ini tetap lestari sudah merupakan upaya menjaga keharmonisan jagat raya. Demikian pula dengan berkata sesuai dengan tata krama bicara -- sehingga menyejukkan -- juga dalam rangka menjaga tatanan sosial tetap harmonis. Ditambah berperilaku atau berbuat sesuai dengan ajaran agama, semuanya akan menjadi klop. Dengan tiga landasan ini diharapkan umat dapat menjaga keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit.
Untuk menjaga kehamonisan itu semua pihak mesti memiliki visi dan misi yang searah. Memang kita akui, masing-masing individu memiliki keterbatasan dan kelebihan. Jika umat menjalankan swadharma masing-masing dengan baik dan benar, tentu tak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Wayan Rai mengibaratkan dalam kegiatan magambel, semua penabuh memiliki tugas masing-masing. Ketika tugas itu dijalankan sesuai dengan aturan tabuh, tentu irama gamelan yang dihasilkan akan baik dan indah didengar. Tetapi, kalau masing-masing menunjukkan keegoan, dengan nepak instrumen gamelan secara sembarangan, irama yang dihasilkan tentu tidak harmonis.
Demikian juga dalam rangka mengajegkan Bali, semua pihak hendaknya memiliki komitmen yang sama. Jika ingin Bali ajeg, aturan mesti diajegkan. Jangan mengaku diri paling pintar, paling jago, dll, katanya.
Ia setuju dengan Anom bahwa antara yadnya vertikal dan horizontal mesti diseimbangkan. Ikut berdana punia dalam peningkatan kualitas SDM umat merupakan yadnya besar. Demikian pula membantu orang yang menderita juga tergolong yadnya horizontal. Tak itu saja, melakukan upaya pelestarian alam juga termasuk yadnya. Jadi, yadnya itu punya arti yang luas. Tak terbatas pada yadnya yang berhubungan dengan upacara atau pembangunan fisik tempat ibadah, ujarnya. Ibarat timbangan, kedua yadnya itu -- sekala dan niskala -- mesti seimbang. (lun)
Source : Balipost
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar