Oleh:
NAMA : I Made Juliadi Supadi.S.Pd
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.
Perdagangan bebas sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semuha hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, yang menjadi masalah dalam kajian ini adalah untuk mengetahui:
• Sejarah Pasar Bebas
• Pro-Kontra Perdagangan Bebas
• Menggugat Mitos-Mitos Neoliberalisme Tentang Pasar Bebas
• Antiglobalisasi
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan kaian ini dapat di bagi dua yaitu : (1) tujuan umum; dan (2) tujuan khusus.
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perdagangan internasional.
1.3.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui:
• Sejarah Pasar Bebas
• Pro-Kontra Perdagangan Bebas
• Menggugat Mitos-Mitos Neoliberalisme Tentang Pasar Bebas
• Antiglobalisasi
1.4 Manfaat Penelitian
Setiap langkah atau kegiatan yang dilakukan pasti mempunyai manfaat. Begitu pula dengan penelitian ini diharapkan dapat berfungsi bagi pihak-pihak sebagai berikut:
1. Bagi penulis penelitian ini bermanfaat untuk menambah wawasan tentang Perdagangan Bebas.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Melihat judul kajian ini yang berbunyi: Perdagangan Internasional, maka rumusan masalah ini terbatas pada masalah Perdagangan Internasional saja yang meliputi:
• Sejarah Pasar Bebas
• Pro-Kontra Perdagangan Bebas
• Menggugat Mitos-Mitos Neoliberalisme Tentang Pasar Bebas
• Antiglobalisasi
BAB II
PERDAGANGAN BEBAS
2.1 Sejarah Pasar Bebas
Sejarah dari perdagangan bebas internasional adalah sejarah perdagangan internasional memfokuskan dalam pengembangan dari pasar terbuka. Diketahui bahwa bermacam kebudayaan yang makmur sepanjang sejarah yang bertransaksi dalam perdagangan. Berdasarkan hal ini, secara teoritis rasionalisasi sebagai kebijakan dari perdagangan bebas akan menjadi menguntungkan ke negara berkembang sepanjang waktu. Teori ini berkembang dalam rasa moderennya dari kebudayaan komersil di Inggris, dan lebih luas lagi Eropa, sepanjang lima abad yang lalu. Sebelum kemunculan perdagangan bebas, dan keberlanjutan hal tersebut hari ini, kebijakan dari merkantilisme telah berkembang di Eropa di tahun 1500. Ekonom awal yang menolak merkantilisme adalah David Ricardo dan Adam Smith.
Ekonom yang menganjurkan perdagangan bebas percaya kalau itu merupakan alasan kenapa beberapa kebudayaan secara ekonomis makmur. Adam Smith, contohnya, menunjukkan kepada peningkatan perdagangan sebagai alasan berkembangnya kultur tidak hanya di Mediterania seperti Mesir, Yunani, dan Roma, tapi juga Bengal dan Tiongkok. Kemakmuran besar dari Belanda setelah menjatuhkan kekaisaran Spanyol, dan mendeklarasikan perdagangan bebas dan kebebasan berpikir, membuat pertentangan merkantilis/perdagangan bebas menjadi pertanyaan paling penting dalam ekonomi untuk beberapa abad. Kebijakan perdagangan bebas telah berjibaku dengan merkantilisme, proteksionisme, isolasionisme, komunisme dan kebijakan lainnya sepanjang abad.
2.2 Pro-kontra perdagangan bebas
Banyak ekonom yang berpendapat bahwa perdagangan bebas meningkatkan standar hidup melalui teori keuntungan komparatif dan ekonomi skala besar. Sebagian lain berpendapat bahwa perdagangan bebas memungkinkan negara maju untuk mengeksploitasi negara berkembang dan merusak industri lokal, dan juga membatasi standar kerja dan standar sosial. Sebaliknya pula, perdagangan bebas juga dianggap merugikan negara maju karena ia menyebabkan pekerjaan dari negara maju berpindah ke negara lain dan juga menimbulkan perlombaan serendah mungkin yang menyebabkan standar hidup dan keamanan yang lebih rendah. Perdagangan bebas dianggap mendorong negara-negara untuk bergantung satu sama lain, yang berarti memperkecil kemungkinan perang.
2.3 Menggugat Mitos-mitos Neoliberalisme tentang Pasar Bebas
Neoliberalisme sebagai perwujudan baru paham liberalisme saat ini dapat dikatakan telah menguasai sistem perekonomian dunia. Paham liberalisme dipelopori oleh ekonom asal Inggris Adam Smith dalam karyanya The Wealth of Nations (1776). Sistem ini sempat menjadi dasar bagi ekonomi negara-negara maju seperti Amerika Serikat dari periode 1800-an hingga masa kejatuhannya pada periode krisis besar (Great Depression) di tahun 1930. Sistem ekonomi yang menekankan pada penghapusan intervensi pemerintah ini mengalami kegagalan untuk mengatasi krisis ekonomi besar-besaran yang terjadi saat itu.
Selanjutnya sistem liberal digantikan oleh gagasan-gagasan dari John Maynard Keynes yang digunakan oleh Presiden Roosevelt dalam kebijakan New Deal. Kebijakan itu ternyata terbukti sukses karena mampu membawa negara selamat dari bencana krisis ekonomi. Inti dari gagasannya menyebutkan tentang penggunaan full employment yang dijabarkan sebagai besarnya peranan buruh dalam pengembangan kapitalisme dan pentingnya peran serta pemerintah dan bank sentral dalam menciptakan lapangan kerja. Kebijakan ini mampu menggeser paham liberalisme untuk beberapa saat sampai munculnya kembali krisis kapitalisme yang berakibat semakin berkurangnya tingkat profit dan menguatnya perusahaan-perusahaan transnasional atau Trans Nasional Corporation/Multi Nasional Corporation (TNC/MNC).
Menguatnya kekuatan modal dan politik perusahaan-perusahaan transnasional (TNC/MNC) yang banyak muncul di negara-negara maju makin meningkatkan tekanan untuk mengurangi berbagai bentuk intervensi pemerintah dalam perekonomian karena hal itu akan berpengaruh pada berkurangnya keuntungan yang mereka terima. Melalui kebijakan politik negara-negara maju dan institusi moneter seperti IMF, Bank Dunia dan WTO, mereka mampu memaksakan penggunaan kembali paham liberalisme gaya baru atau yang lebih dikenal dengan sebutan paham neo-liberalisme.
2.3.1 Paham Neoliberalisme
Secara garis besar Mansour Fakih (2003) menjelaskan pendirian paham neoliberalisme:
1. biarkan pasar bekerja tanpa distorsi (unregulated market is the best way to increase economic growth), keyakinan ini berakibat bahwa perusahaan swasta harus bebas dari intervensi pemerintah, apapun akibat sosial yang dihasilkan.
2. kurangi pemborosan dengan memangkas semua anggaran negara yang tidak perlu seperti subsidi untuk pelayanan sosial seperti anggaran pendidikan, kesehatan dan jaminan sosial lainnya.
3. perlu diterapkan deregulasi ekonomi, mereka percaya bahwa regulasi selalu mengurangi keuntungan, termasuk regulasi mengenai AMDAL, keselamatan kerja dan sebagainya.
4. privatisasikan semua badan usaha negara. Privatisasi ini termasuk juga perusahaan-perusahaan strategis yang melayaani kepentignan rakyat banyak seperti PLN, Sekolah dan Rumah Sakit. Hal ini akan mengakibatkan konsentrasi kapital di tangan sedikit orang dan memaksa rakyat kecil membayar lebih mahal atas kebutuhan dasar mereka.
5. masukkan gagasan seperti “barang-barang publik”, “gotong-royong” serta berbagai keyakinan solidaritas sosial yang hidup di masyarakat ke dalam peti es dan selanjutnya digantikan dengan gagasan “tanggung jawab individual”. Masing-masing orang akan bertanggung jawab terhadap kebutuhan mereka sendiri-sendiri. Golongan paling miskin di masyarakat akan menjadi korban gagasan ini karena merekalah yang paling kesulitan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
2.3.2 Mitos
Dalam rangka memantapkan kebijakan neo-liberalisme, para pendukungnya secara gencar mengampanyekan mitos-mitos berkaitan dengan neo-liberalisme dan lebih lanjut tentang pasar bebas. Lebih lanjut dijelaskan oleh Mansour Fakih (2003) bahwa mitos-mitos itu diantaranya adalah :
1. perdagangan bebas akan menjamin pangan murah dan kelaparan tidak akan terjadi. Kenyataan yang terjadi bahwa perdagangan bebas justru meningkatkan harga pangan.
2. WTO dan TNC akan memproduksi pangan yang aman. Kenyataannya dengan penggunaan pestisida secara berlebih dan pangan hasil rekayasa genetik justru membahayakan kesehatan manusia dan juga keseimbangan ekologis.
3. kaum permpuan akan diuntungkan dengan pasar bebas pangan. Kenyataannya, perempuan petani semakin tersingkir baik sebagai produsen maupun konsumen.
4. bahwa paten dan hak kekayaan intelektual akan melindungi inovasi dan pengetahuan. Kenyataannya, paten justru memperlambat alih teknologi dan membuat teknologi menjadi mahal.
5. perdagangan bebas di bidang pangan akan menguntungkan konsumen karena harga murah dan banyak pilihan. Kenyataannya justru hal itu mengancam ketahanan pangan di negara-negara dunia ketiga.
Akibat dari gagasan-gagasan yang selanjutnya diterapkan menjadi kebijakan ini dapat kita perhatikan pada kehidupan di negeri ini. Bagaimana rakyat menjerit akibat kenaikan harga-harga seiring dengan ketetapan pemerintah mencabut subsidi BBM. PHK massal mewabah karena efisiensi perusahaan akibat meningkatnya beban biaya produksi. Mahalnya harga obat karena paten dan hak cipta yang membuat rakyat makin sulit mendapatkannya. Mahalnya biaya perawatan rumah sakit karena swastanisasi. Makin tercekiknya kesejahteraan petani akibat kebijakan impor beras dan diperburuk dengan mahalnya harga pupuk dan obat-obatan pembasmi hama. Masih banyak contoh yang dapat kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita.
Akibat dalam skala lebih luas menurut Yanuar Nugroho (2005) ternyata perekonomian dunia saat ini hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup 800 juta dari 6.5 miliar manusia. Itupun ia sudah mengonsumsi 80 persen dari semua sumber daya bumi yang tersedia. Jika cara ini diteruskan, sumber daya bumi ini akan segera terkuras habis. Globalisasi dan pasar bebas memang membawa kesejahteraan dan pertumbuhan, namun hanya bagi segelintir orang karena sebagian besar dunia ini tetap menderita. Ketika budaya lokal makin hilang akibat gaya hidup global, tiga perempat penghuni bumi ini harus hidup dengan kurang dari dua dollar sehari. Satu miliar orang harus tidur sembari kelaparan setiap malam. Satu setengah miliar penduduk bola dunia ini tidak bisa mendapatkan segelas air bersih setiap hari. Satu ibu mati saat melahirkan setiap menit.
2.4 Antiglobalisasi
Perlawanan di seluruh dunia sudah mulai berlangsung. Ketiga institusi keuangan dunia yang dianggap sebagai alat kaum neo-liberal terus menerus ditekan. Ketiganya yaitu WTO, IMF dan Bank Dunia selalu mendapat demonstrasai besar-besaran di setiap pertemuan yang dilakukan.
Perlawanan dalam skala besar pertama berlangsung pada pertemua WTO di Seattle, AS. Berbagai gerakan sosial dari penjuru dunia berbondong-bondong memadati kota Seattle. Mereka melakukan demo besar-besaran untuk menghentikan pertemuan tersebut. Mereka berasal dari berbagai kalangan seperti kelompok lingkungan, kelompok perempuan, aktivis buruh, petani dan berbagai kelompok sosialis. Maraknya aksi yang mereka lakukan membuat pertemuan itu gagal menyelesaikan agenda yang seharusnya dibahas.
Perlawanan selanjutnya terus menerus berlangsung mengiringi setiap pertemuan WTO. Demo juga kerap kali berlangsung di depan kantor Bank Dunia dan IMF. Bahkan yang paling fenomenal adalah tewasnya seorang petani asal Korea Selatan yang menghunjamkan tubuhnya pada barikade pasukan anti huru-hara pada pertemuan WTO di Cancun, Meksiko (Jhamtani,2005). Pertemuan WTO di Hongkong baru-baru ini juga mengundang aksi demonstrasi yang tak kalah besarnya.
Pada akhirnya karena situasi ekonomi global yang dikuasai paham neo-liberalisme saat ini ternyata penuh dengan mitos-mitos palsu, kita harus lebih bisa bersikap kritis terhadapnya. Dengan penguasaan teknologi informasi dan jaringan media global oleh perusahaan perusahaan raksasa internasional, akan mudah sekali bagi mereka untuk menyusupkan kembali mitos-mitos tersebut di benak kita. Untuk itu diperlukan kewaspadaan lebih dan sikap kritis yang didukung dengan informasi yang kaya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan dan Saran
Dari urain yang telah penulis paparkan diatas dapat simpulan sebagai berikut:
Sistim perdagangan bebas meminta setiap negara membuka akses yang adil dan tidak diskriminatif terhadap satu sama lain. Akses terbuka ini menjadi tertutup jika terjadi ketimpangan teknologi dan informasi perdagangan sehingga dunia usaha negara berkembang seperti Indonesia menjadi dirugikan.Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk dan daya beli yang terus meningkat sehingga menghasilkan potensi pasar yang sangat besar dan menarik minat pelaku usaha di luar negeri untuk masuk..Untuk itu pemerintah perlu mendorong produksi dalam negeri yang berkualitas dan kompetitif dengan komoditi luar negeri demi keberlanjutan produksi di dalam negeri.
Sekian penulis dapat uraikan tentang kajian Perdagangan bebas, apabila ada uraian yang tidak berkenan mohon kritik dan sarannya, agar kajian ini bisa menjadi lebih baik, terimakasi.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa /Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugrah-Nya, maka penulis dapat kesempatan menulis tugas yang diberikan untuk memenuhi syarat saya sebagai mahasiswa dalam mata kuliah di Universitas Tabanan.
Penulis dapat menguraikan tugas ini sesuai dengan paparan yang telah disampaikan bapak dosen pada kami selaku mahasiswa, untuk itu penulis ucapkan terimakasi. Penulis merasa tugas ini belum sempurna tanpa adanya koreksi dari bapak dosen. Karena keterbatasan penulis, tulisan ini sangat terbatas sesuai kemampuan penulis untuk itu harap dimaklumi. Sekian terimakasi.
Denpasar,......,......2011
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
Fakih, Mansour. 2003.”Bebas dari Neoliberalisme”.Insist Pers. Yogyakarta
Jhamtani, Hira. 2005.”WTO dan Penjajahan Kembali Dunia Ketiga” Insist Pers. Yogyakarta
Nugoho, Yanuar. 2005. ”Bisnis Pun Ada di Simpang Jalan”. Opini, Kompas 22 September 2005
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/22/opini/2068215.htm)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.1 Rumusan Masalah 1
1.2 Tujuan Penelitian 2
1.2.1 Tujuan Umum 2
1.2.2 Tujuan Khusus 2
1.3 Manfaat Hasil Penelitian 2
1.4 Ruang Lingkup Penelitian 2
BAB II PERDAGANGAN BEBAS 4
2.1 Sejarah Pasar Bebas 4
2.2 Pro-Kontra Perdagangan Bebas 5
2.3 Menggugat Mitos-Mitos Neoliberalisme Tentang Pasar Bebas 5
2.3.1 Paham Neoliberalisme 7
2..3.2 Mitos 8
2.4 Antiglobalisasi 9
BAB III 11
3.1 Simpulan Dan Saran-Saran 11
DAFTAR PUSTAKA
Minggu, 08 Mei 2011
Kamis, 05 Mei 2011
Puisi Bali
PAMARGI SANE NENTEN MAGUNA
Nyesel nenten maguna
Ngatonang suratan lima
Sane nenten pedas
Krana hidup puniki pajalan karma
Wantah makeneh, ngawirasayang
Nenten mlaksana.....
Pastiaka nenten prasida
Manggehang tatujon urip ring mercapada
Napi malih nenten makarya
Ulap ken brana....
Ulap teken sakacan arta sasana
Pastika urip ten maguna
Pajalan uyang…..
Nenten mapineh, ngulat sarira
Stata mamarga tanpa keneh wirasa
Pasti taler pacang nenten maguna
Ring Kayun Hyang Kuasa
Olih:
J-SADI-I-MD
SASTRA MAUTAMA
Sadurung sang surya endag
Sabilang semeng nyantos saniscara
Manabdabang raga jagi kasekolah
Ngulati paplajahan mangda wikan teken satra
Wikan ring sajeroning kauripan
Ngamargiang suadarma ring kauripan
Duaning….
Tanpa sastra sejroning palajahan
Pastika nenten tatas indik kauripan
Ngamargiang sajeroning suadarman
Tata susila kaagamaan
Patut kauningin
Tan bina kadi sang surya lan bulan
Sahananing sastra mautama
Nyuryanin sakancan genah
Ngewetuang galang manah liang
Sebet hilang ati girang
Ngamargiang suadarma dados sisia
Olih: J-S.Pd-I-MD
Nyesel nenten maguna
Ngatonang suratan lima
Sane nenten pedas
Krana hidup puniki pajalan karma
Wantah makeneh, ngawirasayang
Nenten mlaksana.....
Pastiaka nenten prasida
Manggehang tatujon urip ring mercapada
Napi malih nenten makarya
Ulap ken brana....
Ulap teken sakacan arta sasana
Pastika urip ten maguna
Pajalan uyang…..
Nenten mapineh, ngulat sarira
Stata mamarga tanpa keneh wirasa
Pasti taler pacang nenten maguna
Ring Kayun Hyang Kuasa
Olih:
J-SADI-I-MD
SASTRA MAUTAMA
Sadurung sang surya endag
Sabilang semeng nyantos saniscara
Manabdabang raga jagi kasekolah
Ngulati paplajahan mangda wikan teken satra
Wikan ring sajeroning kauripan
Ngamargiang suadarma ring kauripan
Duaning….
Tanpa sastra sejroning palajahan
Pastika nenten tatas indik kauripan
Ngamargiang sajeroning suadarman
Tata susila kaagamaan
Patut kauningin
Tan bina kadi sang surya lan bulan
Sahananing sastra mautama
Nyuryanin sakancan genah
Ngewetuang galang manah liang
Sebet hilang ati girang
Ngamargiang suadarma dados sisia
Olih: J-S.Pd-I-MD
Revitalisasi dan Aktualisasi 'Tri Kaya Parisuda'
Pengantar:
Pada tingkat grassroot, degradasi moral dan mental justru tidak banyak terjadi. Dengan perkataan lain, konsep Tri Kaya Parisuda masih dipegang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun bila tidak dicermati, degradasi pada kalangan ini pun dapat terjadi, mengingat upaya fundamental dalam membangun kembali budi pekerti belum terlihat secara nyata. Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, Tri Kaya Parisuda perlu diangkat kembali untuk dijadikan pegangan, setelah diperkaya dengan semacam proses revitalisasi dan aktualisasi. Degradasi moral dan mental justru lebih banyak terjadi pada kalangan elite, termasuk kelompok yang dekat serta ber-KKN dengan kekuasaan.
Tri Kaya Parisuda merupakan salah satu konsep yang mempunyai makna mendalam di kalangan umat Hindu, dalam urusan budi pekerti. Konsep yang bersifat universal ini mengajak kita agar selalu berpikir yang baik (kayika), berkata-kata atau berbicara yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (manacika). Tri Kaya Parisuda, bersama dengan konsep-konsep lain yang luhur, telah membentuk insan-insan dengan karakter yang memenuhi persyaratan untuk dapat dipercaya dan diandalkan.
DALAM dua dekade terakhir, telah terjadi pergeseran moral dan mental yang cenderung mengejar kebutuhan-kebutuhan duniawi menggunakan jalan pintas, akibat pembelajaran ke arah yang salah pada zaman pemerintahan yang lalu, sehingga menumbuhkan 'budaya' KKN. Disadari atau tidak, Tri Kaya Parisuda ternyata telah terpinggirkan. Ini dapat dilihat misalnya dari pelajaran budi pekerti yang telah menghilang dari kurikulum di sekolah. Demikian juga dengan hilangnya kebiasaan memberi cerita semacam Tantri sebagai pengantar tidur, seperti yang dilakukan generasi pendahulu kepada anak cucunya, yang sekarang nyaris tak pernah terdengar lagi.
Pembelajaran tersebut ternyata telah meniru cara-cara yang berlaku di zaman kolonial dalam pola hubungan vertikal antara penjajah Belanda, para raja (terutama di Jawa), dan rakyat. Dari atas ke bawah terjadi represi atau penekanan dalam berbagai bentuk secara berjenjang sementara dari bawah ke atas terjadi pemberian upeti dalam berbagai bentuk, juga secara berjenjang. Apakah pergeseran moral dan mental tersebut terjadi secara menyeluruh? Tampaknya tidak. Degradasi moral dan mental justru lebih banyak terjadi pada kalangan elite, termasuk kelompok yang dekat serta ber-KKN dengan kekuasaan.
Pada tingkat grassroot, degradasi moral dan mental justru tidak banyak terjadi. Dengan perkataan lain, konsep Tri Kaya Parisuda masih dipegang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun bila tidak dicermati, degradasi pada kalangan ini pun dapat terjadi, mengingat upaya fundamental dalam membangun kembali budi pekerti belum terlihat secara nyata. Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, Tri Kaya Parisuda perlu diangkat kembali untuk dijadikan pegangan, setelah diperkaya dengan semacam proses revitalisasi dan aktualisasi.
Membentuk Sikap Dasar
Cara berpikir dibentuk oleh pembelajaran dan pengalaman di masa lalu, berkembang menjadi pola-pola tertentu yang kemudian tertanam dalam pikiran bawah sadar. Inilah yang disebut sikap dasar/sikap intrinsik atau mind-set. Sikap dasar/cara berpikir ini menentukan kecenderungan pola seseorang dalam berkata-kata maupun berbuat. Jadi, dalam konsep Tri Kaya Parisuda, berpikir yang baik (kayika) merupakan komponen yang paling penting dan bersifat paling sentral.
Sekarang banyak pemimpin, terutama yang menghendaki terjadinya perubahan ke arah positif, mendorong berbagai upaya untuk mengubah mind-set. Mereka sangat sepakat dengan kaidah yang dilontarkan oleh William James, seorang psikolog terkemuka dari Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa revolusi terbesar generasi sekarang adalah bahwa manusia dapat mengubah aspek ekstrinsik kehidupannya dengan mengubah sikap intrinsik alam pikirannya. Artinya bila seseorang ingin mengubah kehidupannya (misalnya dari menderita menjadi bahagia, dari gagal menjadi sukses, bahkan dari miskin menjadi makmur, dan lain sebagainya), ia harus mulai dengan mengubah cara-cara berpikir yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya. Pemanfaatan teknik-teknik dan metode terbaru yang telah membuahkan perubahan-perubahan bermakna dalam skala yang lebih luas, telah menggugah keberanian William James untuk menyebut perubahan tersebut sebagai revolusi terbesar generasi sekarang.
Berpikir yang baik menurut kacamata lama mungkin terbatas pada pengertian seperti berpikir positif, berpikir jernih, bebas dari pikiran kotor, dengki, sirik, dendam, marah dan lain sebagainya. Sekarang, cakupan pengertian tersebut mungkin sudah harus diperluas dengan hal-hal yang berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dalam konteks berpikir ada beragam variasi yang dapat digunakan untuk memperkaya pengertian berpikir yang baik tersebut.
Pertama, berpikir dari sudut pandang yang berbeda-beda yang dapat memperluas cara pandang seseorang. Kedua, berpikir berdasarkan fakta menggunakan hukum sebab akibat yang dapat meningkatkan kemampuan dalam melihat berbagai situasi serta memperkirakan berbagai kemungkinan. Ketiga, berpikir secara lateral/kolateral yang dapat mengembangkan kreativitas / daya cipta.
Keempat, berpikir bahwa setiap orang diberi anugerah oleh-Nya berupa potensi yang sama, untuk menjadi apa pun yang mereka benar-benar inginkan di kemudian hari. Kelima, berpikir bahwa di dalam pikiran bawah sadar, tersimpan nalar supra atau inteligensia kreatif yang dapat membantu setiap orang mewujudkan cita-citanya.
Dapatkah hal-hal semacam ini digunakan dalam upaya revitalisasi dan aktualisasi Tri Kaya Parisuda? Pertanyaan yang bersifat masih sangat terbuka ini mungkin mampu menggugah cendekiawan Hindu untuk memberi sumbangan yang lebih besar bagi perkembangan kehidupan dan kesejahteraan umat.
Pada tingkat grassroot, degradasi moral dan mental justru tidak banyak terjadi. Dengan perkataan lain, konsep Tri Kaya Parisuda masih dipegang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun bila tidak dicermati, degradasi pada kalangan ini pun dapat terjadi, mengingat upaya fundamental dalam membangun kembali budi pekerti belum terlihat secara nyata. Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, Tri Kaya Parisuda perlu diangkat kembali untuk dijadikan pegangan, setelah diperkaya dengan semacam proses revitalisasi dan aktualisasi. Degradasi moral dan mental justru lebih banyak terjadi pada kalangan elite, termasuk kelompok yang dekat serta ber-KKN dengan kekuasaan.
Tri Kaya Parisuda merupakan salah satu konsep yang mempunyai makna mendalam di kalangan umat Hindu, dalam urusan budi pekerti. Konsep yang bersifat universal ini mengajak kita agar selalu berpikir yang baik (kayika), berkata-kata atau berbicara yang baik (wacika), dan berbuat yang baik (manacika). Tri Kaya Parisuda, bersama dengan konsep-konsep lain yang luhur, telah membentuk insan-insan dengan karakter yang memenuhi persyaratan untuk dapat dipercaya dan diandalkan.
DALAM dua dekade terakhir, telah terjadi pergeseran moral dan mental yang cenderung mengejar kebutuhan-kebutuhan duniawi menggunakan jalan pintas, akibat pembelajaran ke arah yang salah pada zaman pemerintahan yang lalu, sehingga menumbuhkan 'budaya' KKN. Disadari atau tidak, Tri Kaya Parisuda ternyata telah terpinggirkan. Ini dapat dilihat misalnya dari pelajaran budi pekerti yang telah menghilang dari kurikulum di sekolah. Demikian juga dengan hilangnya kebiasaan memberi cerita semacam Tantri sebagai pengantar tidur, seperti yang dilakukan generasi pendahulu kepada anak cucunya, yang sekarang nyaris tak pernah terdengar lagi.
Pembelajaran tersebut ternyata telah meniru cara-cara yang berlaku di zaman kolonial dalam pola hubungan vertikal antara penjajah Belanda, para raja (terutama di Jawa), dan rakyat. Dari atas ke bawah terjadi represi atau penekanan dalam berbagai bentuk secara berjenjang sementara dari bawah ke atas terjadi pemberian upeti dalam berbagai bentuk, juga secara berjenjang. Apakah pergeseran moral dan mental tersebut terjadi secara menyeluruh? Tampaknya tidak. Degradasi moral dan mental justru lebih banyak terjadi pada kalangan elite, termasuk kelompok yang dekat serta ber-KKN dengan kekuasaan.
Pada tingkat grassroot, degradasi moral dan mental justru tidak banyak terjadi. Dengan perkataan lain, konsep Tri Kaya Parisuda masih dipegang dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun bila tidak dicermati, degradasi pada kalangan ini pun dapat terjadi, mengingat upaya fundamental dalam membangun kembali budi pekerti belum terlihat secara nyata. Untuk mencegah terjadinya kemungkinan tersebut, Tri Kaya Parisuda perlu diangkat kembali untuk dijadikan pegangan, setelah diperkaya dengan semacam proses revitalisasi dan aktualisasi.
Membentuk Sikap Dasar
Cara berpikir dibentuk oleh pembelajaran dan pengalaman di masa lalu, berkembang menjadi pola-pola tertentu yang kemudian tertanam dalam pikiran bawah sadar. Inilah yang disebut sikap dasar/sikap intrinsik atau mind-set. Sikap dasar/cara berpikir ini menentukan kecenderungan pola seseorang dalam berkata-kata maupun berbuat. Jadi, dalam konsep Tri Kaya Parisuda, berpikir yang baik (kayika) merupakan komponen yang paling penting dan bersifat paling sentral.
Sekarang banyak pemimpin, terutama yang menghendaki terjadinya perubahan ke arah positif, mendorong berbagai upaya untuk mengubah mind-set. Mereka sangat sepakat dengan kaidah yang dilontarkan oleh William James, seorang psikolog terkemuka dari Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa revolusi terbesar generasi sekarang adalah bahwa manusia dapat mengubah aspek ekstrinsik kehidupannya dengan mengubah sikap intrinsik alam pikirannya. Artinya bila seseorang ingin mengubah kehidupannya (misalnya dari menderita menjadi bahagia, dari gagal menjadi sukses, bahkan dari miskin menjadi makmur, dan lain sebagainya), ia harus mulai dengan mengubah cara-cara berpikir yang telah tertanam dalam pikiran bawah sadarnya. Pemanfaatan teknik-teknik dan metode terbaru yang telah membuahkan perubahan-perubahan bermakna dalam skala yang lebih luas, telah menggugah keberanian William James untuk menyebut perubahan tersebut sebagai revolusi terbesar generasi sekarang.
Berpikir yang baik menurut kacamata lama mungkin terbatas pada pengertian seperti berpikir positif, berpikir jernih, bebas dari pikiran kotor, dengki, sirik, dendam, marah dan lain sebagainya. Sekarang, cakupan pengertian tersebut mungkin sudah harus diperluas dengan hal-hal yang berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Dalam konteks berpikir ada beragam variasi yang dapat digunakan untuk memperkaya pengertian berpikir yang baik tersebut.
Pertama, berpikir dari sudut pandang yang berbeda-beda yang dapat memperluas cara pandang seseorang. Kedua, berpikir berdasarkan fakta menggunakan hukum sebab akibat yang dapat meningkatkan kemampuan dalam melihat berbagai situasi serta memperkirakan berbagai kemungkinan. Ketiga, berpikir secara lateral/kolateral yang dapat mengembangkan kreativitas / daya cipta.
Keempat, berpikir bahwa setiap orang diberi anugerah oleh-Nya berupa potensi yang sama, untuk menjadi apa pun yang mereka benar-benar inginkan di kemudian hari. Kelima, berpikir bahwa di dalam pikiran bawah sadar, tersimpan nalar supra atau inteligensia kreatif yang dapat membantu setiap orang mewujudkan cita-citanya.
Dapatkah hal-hal semacam ini digunakan dalam upaya revitalisasi dan aktualisasi Tri Kaya Parisuda? Pertanyaan yang bersifat masih sangat terbuka ini mungkin mampu menggugah cendekiawan Hindu untuk memberi sumbangan yang lebih besar bagi perkembangan kehidupan dan kesejahteraan umat.
Berbuat Baik untuk Leluhur dan Keturunan
Berbuat Baik untuk Leluhur dan Keturunan
Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna
(Manawa Dharmasastra III.37).
Maksudnya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.
SLOKA Manawa Dharmasastra ini memiliki makna yang sangat luas. Untuk menyelamatkan leluhur dan keturunan harus dimulai dari melakukan perkawinan dengan cara yang terhormat. Perkawinan Brahma Vivaha adalah jenis perkawinan yang paling terhormat. Di samping dilakukan dengan landasan cinta sama cinta yang juga sangat penting dilakukan dengan pertimbangan kerohanian yang dalam.
Kalau dari perkawinan ini melahirkan putra dan putra itu berperilaku dan berbuat baik maka perbuatan baik itu akan dapat membebaskan dosa-dosa leluhur dan keturunannya, di samping diri sang putra sendiri. Perbuatan baik yang bagaimana dapat menyelamatkan membebaskan leluhur dan keturunan tersebut. Dalam Narada Purana disebutkan nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata yang ingin membebaskan dosa-dosa leluhurnya yang pernah menghina dan menyiksa Resi Kapila yang sedang bertapa.
Salah satu nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata adalah dengan jalan melanjutkan cita-cita suci dari leluhur. Cita-cita suci leluhur itu tidak semata-mata melakukan meditasi atau Dewasraya. Tetapi, dengan melakukan perbuatannya nyata seperti menjaga tetap lestarinya Sarwaprani (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Menolong mereka yang sedang susah dan menderita. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan. Membangun pasar, tempat peristirahatan, menghormati mereka yang berjasa, dan menegakkan keadilan, serta memelihara tempat pemujaan, dst.
Dengan perbuatan baik itulah leluhur akan bebas dari dosa dan kemudian keturunan mendapatkan keselamatan. Untuk memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan leluhur umat Hindu di zaman lampau meninggalkan warisan konsep kawasan suci. Kawasan suci itu disebut Alas Angker, Alas Rasmini atau Alas Arum. Salah satu cara melestarikan kawasan suci tersebut dengan membangun tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas. Tempat pemujaan di hutan itu tidak perlu didatangi oleh banyak umat. Umat yang datang ke tempat pemujaan di hutan itu hanyalah orang-orang yang terpilih yang memang benar-benar bertujuan untuk melakukan pemujaan yang tulus. Bukan untuk rekreasi atau untuk mereka yang berkaul yang memohon atau melestarikan jabatan, mohon memenangkan tender proyek dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Karena itu, banyak leluhur kita di masa lampau meninggalkan hutan-hutan yang disebut alas angker. Di Bali banyak hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker.
Tetapi, sekarang sudah banyak yang dirusak ditebangi pohon-pohon yang berfungsi sebagai waduk menahan air. Di Pulau Jawa pun masih banyak ada peninggalan Alas Angker seperti misalnya Alas Purwa di Jawa Timur. Alas Purwa ini juga merupakan peninggalan leluhur di masa lampau sebagai Alas Angker.
Arti hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker oleh leluhur di masa lampau bertujuan menjaga hutan dengan menstatuskan hutan itu sebagai hutan yang keramat. Hutan yang disebut Alas Angker itu karena tempatnya dikeramatkan. Di sana tentu banyak vibrasi kesucian yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan di hutan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kepekaan rohani akan sangat tertarik untuk datang ke tempat-tempat yang seperti itu. Kita tentunya sangat mengharap siapa pun boleh datang ke hutan yang angker seperti itu, cuma yang perlu dijaga adalah niat suci dan tulus ikhlas. Janganlah datang dengan tujuan untuk rekreasi duniawi atau memanjatkan permohonan yang Rajasika dan Tamasika.
Kalau Alas Angker tidak lagi memancarkan keangkerannya maka orang-orang yang berniat jahat seperti pencuri kayu hutan akan tidak merasa takut datang ke hutan yang sudah merosot keangkerannya. Di sinilah kita tidak melanjutkan konsep Alas Angker yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Kalau ini sampai terjadi tinggal kita menunggu balasannya. Balasan itu akan menyengsarakan rakyat seperti hutan gundul, banyak pohon yang tumbang, sumber air menghilang, udara terpolusi, cuaca menjadi makin panas.
Dari alam yang rusak itu manusia tinggal memetik buah penderitaan darinya. Dengan merusak alam seperti itu, leluhur dan keturunan pun tidak akan terbebaskan dari dosa-dosanya. Kita bersyukur kepada umat di Jawa Timur yang makin sadar untuk menjaga keangkeran hutannya seperti umat Hindu di Alas Purwa. Semoga hutan-hutan berserta isinya dijaga dengan cara niskala diikuti dengan cara-cara yang sekala yaitu dengan langkah nyata melestarikan hutan tersebut.
* Ketut Gobyah
Source : Balipost
Dasa puuvaanparaan vamsyan
Aatmanam caikavim sakam
Braahmiputrah sukrita krnmoca
Yedenasah pitr rna
(Manawa Dharmasastra III.37).
Maksudnya:
Seorang anak yang lahir dari Brahma Vivaha, jika ia melakukan perbuatan baik akan dapat membebaskan dosa-dosa sepuluh tingkat leluhurnya dan sepuluh tingkat keturunannya dan ia sendiri yang kedua puluh satu.
SLOKA Manawa Dharmasastra ini memiliki makna yang sangat luas. Untuk menyelamatkan leluhur dan keturunan harus dimulai dari melakukan perkawinan dengan cara yang terhormat. Perkawinan Brahma Vivaha adalah jenis perkawinan yang paling terhormat. Di samping dilakukan dengan landasan cinta sama cinta yang juga sangat penting dilakukan dengan pertimbangan kerohanian yang dalam.
Kalau dari perkawinan ini melahirkan putra dan putra itu berperilaku dan berbuat baik maka perbuatan baik itu akan dapat membebaskan dosa-dosa leluhur dan keturunannya, di samping diri sang putra sendiri. Perbuatan baik yang bagaimana dapat menyelamatkan membebaskan leluhur dan keturunan tersebut. Dalam Narada Purana disebutkan nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata yang ingin membebaskan dosa-dosa leluhurnya yang pernah menghina dan menyiksa Resi Kapila yang sedang bertapa.
Salah satu nasihat Dewa Yama kepada Raja Bagirata adalah dengan jalan melanjutkan cita-cita suci dari leluhur. Cita-cita suci leluhur itu tidak semata-mata melakukan meditasi atau Dewasraya. Tetapi, dengan melakukan perbuatannya nyata seperti menjaga tetap lestarinya Sarwaprani (tumbuh-tumbuhan dan hewan). Menolong mereka yang sedang susah dan menderita. Membuka lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian dan keterampilan. Membangun pasar, tempat peristirahatan, menghormati mereka yang berjasa, dan menegakkan keadilan, serta memelihara tempat pemujaan, dst.
Dengan perbuatan baik itulah leluhur akan bebas dari dosa dan kemudian keturunan mendapatkan keselamatan. Untuk memelihara dan melestarikan tumbuh-tumbuhan dan hewan leluhur umat Hindu di zaman lampau meninggalkan warisan konsep kawasan suci. Kawasan suci itu disebut Alas Angker, Alas Rasmini atau Alas Arum. Salah satu cara melestarikan kawasan suci tersebut dengan membangun tempat pemujaan sederhana dengan areal yang tidak luas. Tempat pemujaan di hutan itu tidak perlu didatangi oleh banyak umat. Umat yang datang ke tempat pemujaan di hutan itu hanyalah orang-orang yang terpilih yang memang benar-benar bertujuan untuk melakukan pemujaan yang tulus. Bukan untuk rekreasi atau untuk mereka yang berkaul yang memohon atau melestarikan jabatan, mohon memenangkan tender proyek dan tujuan-tujuan duniawi lainnya. Karena itu, banyak leluhur kita di masa lampau meninggalkan hutan-hutan yang disebut alas angker. Di Bali banyak hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker.
Tetapi, sekarang sudah banyak yang dirusak ditebangi pohon-pohon yang berfungsi sebagai waduk menahan air. Di Pulau Jawa pun masih banyak ada peninggalan Alas Angker seperti misalnya Alas Purwa di Jawa Timur. Alas Purwa ini juga merupakan peninggalan leluhur di masa lampau sebagai Alas Angker.
Arti hutan yang distatuskan sebagai Alas Angker oleh leluhur di masa lampau bertujuan menjaga hutan dengan menstatuskan hutan itu sebagai hutan yang keramat. Hutan yang disebut Alas Angker itu karena tempatnya dikeramatkan. Di sana tentu banyak vibrasi kesucian yang tersembunyi di balik lebatnya pepohonan di hutan tersebut. Oleh karena itu, orang-orang yang memiliki kepekaan rohani akan sangat tertarik untuk datang ke tempat-tempat yang seperti itu. Kita tentunya sangat mengharap siapa pun boleh datang ke hutan yang angker seperti itu, cuma yang perlu dijaga adalah niat suci dan tulus ikhlas. Janganlah datang dengan tujuan untuk rekreasi duniawi atau memanjatkan permohonan yang Rajasika dan Tamasika.
Kalau Alas Angker tidak lagi memancarkan keangkerannya maka orang-orang yang berniat jahat seperti pencuri kayu hutan akan tidak merasa takut datang ke hutan yang sudah merosot keangkerannya. Di sinilah kita tidak melanjutkan konsep Alas Angker yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Kalau ini sampai terjadi tinggal kita menunggu balasannya. Balasan itu akan menyengsarakan rakyat seperti hutan gundul, banyak pohon yang tumbang, sumber air menghilang, udara terpolusi, cuaca menjadi makin panas.
Dari alam yang rusak itu manusia tinggal memetik buah penderitaan darinya. Dengan merusak alam seperti itu, leluhur dan keturunan pun tidak akan terbebaskan dari dosa-dosanya. Kita bersyukur kepada umat di Jawa Timur yang makin sadar untuk menjaga keangkeran hutannya seperti umat Hindu di Alas Purwa. Semoga hutan-hutan berserta isinya dijaga dengan cara niskala diikuti dengan cara-cara yang sekala yaitu dengan langkah nyata melestarikan hutan tersebut.
* Ketut Gobyah
Source : Balipost
Perlu Keseimbangan "Sekala" dan "Niskala"
Perlu Keseimbangan "Sekala" dan "Niskala"
Dalam rangka menjaga tatanan agar tetap harmonis -- dalam hal ini kesucian Bali -- sesungguhnya diperlukan keseimbangan langkah sekala dan niskala. Tak dimungkiri, langkah niskala sudah banyak dilakukan umat lewat penyelenggaraan upakara. Tetapi, hendaknya tak cukup berhenti sampai di sana. Perlu dibarengi dengan upaya sekala. Di samping itu, yadnya mesti dipahami bermakna luas. Tak hanya vertikal, tetapi juga horizontal. Apa saja yadnya horizontal itu? Langkah sekala berupa apa mesti dilakukan umat dalam menjaga keharmonisan?
============================
Praktisi pendidikan yang juga pengamat agama Drs. IB Anom, M.Pd. mengatakan sesungguhnya ada sesuatu yang hilang di Bali. Kita telah melupakan nilai tambah yang dimiliki masyarakat Bali. Nilai tambah itu adalah sopan santun, ramah tamah, permisif, toleran, dll. Kini hal itu sudah mulai dilupakan, ujarnya.
Dalam rangka menciptakan tatanan Bali yang harmonis, kata Anom, nilai tambah itu sesungguhnya modal yang utama. Nilai itulah yang mesti dijadikan spirit dalam rangka menjaga keharmonisan dan keajegan Bali.
Dikatakannya, dalam rangka mengharmoniskan tatanan tersebut, secara niskala sudah banyak dilakukan lewat penyelenggaraan ritual -- berbagai upacara. Secara niskala upacara itu bertujuan agar alam mikro (mikrokosmos) dan alam makro (makrokosmos) selalu harmonis. Tetapi, sesungguhnya umat tidak mesti berhenti sampai di sana. Secara sekala perlu ada yadnya-yadnya horizontal dalam rangka memanusiakan manusia Bali.
Yadnya diperlukan dalam rangka mengembalikan sesuatu yang hilang tersebut. Dalam rangka menemukan kembali nilai tambah yang hilang itu diperlukan sentuhan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan elite pemerintahan. Namun, semua tokoh tersebut agar betul-betul dipercaya dan disegani. Lewat pencerahan agama yang diberikan, diharapkan umat sadar dan terpanggil untuk kembali pada nilai-nilai yang sempat menghilang itu.
Di sinilah perlunya keteladanan. Namun, tokoh yang patut digugu dan ditiru jumlahnya amat langka. Tokoh panutan sangat diperlukan dalam konteks ini. Tetapi sayang, jumlah mereka sangat sedikit, katanya.
Dikatakannya, ritual keagamaan dalam rangka mengembalikan keharmonisan jagat raya beserta isinya sangat diperlukan. Namun, hal itu mesti dibarengi dengan langkah sekala, seperti upaya pembenahan-pembenahan sikap mental umat dan langkah-langkah pelestarian alam. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan antara sekala dan niskala.
Karena itu, kata IB Anom, mesti diseimbangkan antara yadnya vertikal dan horizontal. Yadnya vertikal umat sudah tak perlu diragukan, tetapi yadnya ke samping sangat diperlukan agar terjadi keseimbangan.
Banyak Dilakukan
Praktisi pendidikan yang juga Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Rai S, M.A. mengatakan upaya untuk mengharmoniskan jagat raya beserta isinya sudah banyak dilakukan secara niskala. Namun sesungguhnya, umat tidak berhenti sampai di sana. Perlu ada penghayatan dari tiap-tiap individu umat mengenai makna upacara tersebut. Pemahaman upacara itu penting agar masyarakat paham apa makna di balik simbol upakara tersebut.
Dalam rangka menjaga keharmonisan, sesungguhnya umat cukup bertitik tolak pada konsep Trikaya Parisuda. Dengan melakukan tiga ajaran suci itu, sesungguhnya umat sudah melakukan swadharma dalam menjaga keharmonisan. Berpikir, berkata dan berbuat yang baik, merupakan langkah yang strategis dalam menjaga keharmonisan itu.
Dengan berpikir untuk menjadikan alam ini tetap lestari sudah merupakan upaya menjaga keharmonisan jagat raya. Demikian pula dengan berkata sesuai dengan tata krama bicara -- sehingga menyejukkan -- juga dalam rangka menjaga tatanan sosial tetap harmonis. Ditambah berperilaku atau berbuat sesuai dengan ajaran agama, semuanya akan menjadi klop. Dengan tiga landasan ini diharapkan umat dapat menjaga keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit.
Untuk menjaga kehamonisan itu semua pihak mesti memiliki visi dan misi yang searah. Memang kita akui, masing-masing individu memiliki keterbatasan dan kelebihan. Jika umat menjalankan swadharma masing-masing dengan baik dan benar, tentu tak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Wayan Rai mengibaratkan dalam kegiatan magambel, semua penabuh memiliki tugas masing-masing. Ketika tugas itu dijalankan sesuai dengan aturan tabuh, tentu irama gamelan yang dihasilkan akan baik dan indah didengar. Tetapi, kalau masing-masing menunjukkan keegoan, dengan nepak instrumen gamelan secara sembarangan, irama yang dihasilkan tentu tidak harmonis.
Demikian juga dalam rangka mengajegkan Bali, semua pihak hendaknya memiliki komitmen yang sama. Jika ingin Bali ajeg, aturan mesti diajegkan. Jangan mengaku diri paling pintar, paling jago, dll, katanya.
Ia setuju dengan Anom bahwa antara yadnya vertikal dan horizontal mesti diseimbangkan. Ikut berdana punia dalam peningkatan kualitas SDM umat merupakan yadnya besar. Demikian pula membantu orang yang menderita juga tergolong yadnya horizontal. Tak itu saja, melakukan upaya pelestarian alam juga termasuk yadnya. Jadi, yadnya itu punya arti yang luas. Tak terbatas pada yadnya yang berhubungan dengan upacara atau pembangunan fisik tempat ibadah, ujarnya. Ibarat timbangan, kedua yadnya itu -- sekala dan niskala -- mesti seimbang. (lun)
Source : Balipost
Dalam rangka menjaga tatanan agar tetap harmonis -- dalam hal ini kesucian Bali -- sesungguhnya diperlukan keseimbangan langkah sekala dan niskala. Tak dimungkiri, langkah niskala sudah banyak dilakukan umat lewat penyelenggaraan upakara. Tetapi, hendaknya tak cukup berhenti sampai di sana. Perlu dibarengi dengan upaya sekala. Di samping itu, yadnya mesti dipahami bermakna luas. Tak hanya vertikal, tetapi juga horizontal. Apa saja yadnya horizontal itu? Langkah sekala berupa apa mesti dilakukan umat dalam menjaga keharmonisan?
============================
Praktisi pendidikan yang juga pengamat agama Drs. IB Anom, M.Pd. mengatakan sesungguhnya ada sesuatu yang hilang di Bali. Kita telah melupakan nilai tambah yang dimiliki masyarakat Bali. Nilai tambah itu adalah sopan santun, ramah tamah, permisif, toleran, dll. Kini hal itu sudah mulai dilupakan, ujarnya.
Dalam rangka menciptakan tatanan Bali yang harmonis, kata Anom, nilai tambah itu sesungguhnya modal yang utama. Nilai itulah yang mesti dijadikan spirit dalam rangka menjaga keharmonisan dan keajegan Bali.
Dikatakannya, dalam rangka mengharmoniskan tatanan tersebut, secara niskala sudah banyak dilakukan lewat penyelenggaraan ritual -- berbagai upacara. Secara niskala upacara itu bertujuan agar alam mikro (mikrokosmos) dan alam makro (makrokosmos) selalu harmonis. Tetapi, sesungguhnya umat tidak mesti berhenti sampai di sana. Secara sekala perlu ada yadnya-yadnya horizontal dalam rangka memanusiakan manusia Bali.
Yadnya diperlukan dalam rangka mengembalikan sesuatu yang hilang tersebut. Dalam rangka menemukan kembali nilai tambah yang hilang itu diperlukan sentuhan tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan elite pemerintahan. Namun, semua tokoh tersebut agar betul-betul dipercaya dan disegani. Lewat pencerahan agama yang diberikan, diharapkan umat sadar dan terpanggil untuk kembali pada nilai-nilai yang sempat menghilang itu.
Di sinilah perlunya keteladanan. Namun, tokoh yang patut digugu dan ditiru jumlahnya amat langka. Tokoh panutan sangat diperlukan dalam konteks ini. Tetapi sayang, jumlah mereka sangat sedikit, katanya.
Dikatakannya, ritual keagamaan dalam rangka mengembalikan keharmonisan jagat raya beserta isinya sangat diperlukan. Namun, hal itu mesti dibarengi dengan langkah sekala, seperti upaya pembenahan-pembenahan sikap mental umat dan langkah-langkah pelestarian alam. Dengan demikian akan terjadi keseimbangan antara sekala dan niskala.
Karena itu, kata IB Anom, mesti diseimbangkan antara yadnya vertikal dan horizontal. Yadnya vertikal umat sudah tak perlu diragukan, tetapi yadnya ke samping sangat diperlukan agar terjadi keseimbangan.
Banyak Dilakukan
Praktisi pendidikan yang juga Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. Rai S, M.A. mengatakan upaya untuk mengharmoniskan jagat raya beserta isinya sudah banyak dilakukan secara niskala. Namun sesungguhnya, umat tidak berhenti sampai di sana. Perlu ada penghayatan dari tiap-tiap individu umat mengenai makna upacara tersebut. Pemahaman upacara itu penting agar masyarakat paham apa makna di balik simbol upakara tersebut.
Dalam rangka menjaga keharmonisan, sesungguhnya umat cukup bertitik tolak pada konsep Trikaya Parisuda. Dengan melakukan tiga ajaran suci itu, sesungguhnya umat sudah melakukan swadharma dalam menjaga keharmonisan. Berpikir, berkata dan berbuat yang baik, merupakan langkah yang strategis dalam menjaga keharmonisan itu.
Dengan berpikir untuk menjadikan alam ini tetap lestari sudah merupakan upaya menjaga keharmonisan jagat raya. Demikian pula dengan berkata sesuai dengan tata krama bicara -- sehingga menyejukkan -- juga dalam rangka menjaga tatanan sosial tetap harmonis. Ditambah berperilaku atau berbuat sesuai dengan ajaran agama, semuanya akan menjadi klop. Dengan tiga landasan ini diharapkan umat dapat menjaga keharmonisan bhuana agung dan bhuana alit.
Untuk menjaga kehamonisan itu semua pihak mesti memiliki visi dan misi yang searah. Memang kita akui, masing-masing individu memiliki keterbatasan dan kelebihan. Jika umat menjalankan swadharma masing-masing dengan baik dan benar, tentu tak akan terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Wayan Rai mengibaratkan dalam kegiatan magambel, semua penabuh memiliki tugas masing-masing. Ketika tugas itu dijalankan sesuai dengan aturan tabuh, tentu irama gamelan yang dihasilkan akan baik dan indah didengar. Tetapi, kalau masing-masing menunjukkan keegoan, dengan nepak instrumen gamelan secara sembarangan, irama yang dihasilkan tentu tidak harmonis.
Demikian juga dalam rangka mengajegkan Bali, semua pihak hendaknya memiliki komitmen yang sama. Jika ingin Bali ajeg, aturan mesti diajegkan. Jangan mengaku diri paling pintar, paling jago, dll, katanya.
Ia setuju dengan Anom bahwa antara yadnya vertikal dan horizontal mesti diseimbangkan. Ikut berdana punia dalam peningkatan kualitas SDM umat merupakan yadnya besar. Demikian pula membantu orang yang menderita juga tergolong yadnya horizontal. Tak itu saja, melakukan upaya pelestarian alam juga termasuk yadnya. Jadi, yadnya itu punya arti yang luas. Tak terbatas pada yadnya yang berhubungan dengan upacara atau pembangunan fisik tempat ibadah, ujarnya. Ibarat timbangan, kedua yadnya itu -- sekala dan niskala -- mesti seimbang. (lun)
Source : Balipost
Mencari Kepuasan Hidup
Mencari Kepuasan Hidup
PUNCAK tertinggi pengamalan ajaran Veda menurut Manawa Dharmasastra II.6 adalah mencapai kepuasan Atman. Dalam sloka Manawa Dharmasastra itu disebut dengan istilah Atmanastusti. Kepuasan Atman itu adalah kepuasan rohani yang kedudukannya di atas kepuasan jasmani. Kepuasan Atman itu adalah kepuasan hidup yang tertinggi. Tentunya ada kepuasan sebelumnya yang wajib dicapai terlebih dulu.
Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan ada dua tahap kepuasan yang seyogianya kita capai secara bertahap dalam hidup ini. dua kepuasan itu adalah Wahyu Tusti dan Adyamika Tusti. Pada kesempatan ini akan diuraikan tentang kepuasan lahiran atau duniawi. Orang dapat disebut telah mencapai Wahya Tusti atau kepuasan lahiriah apabila telah dapat mencapai lima jenis kepuasan dalam hidupnya di dunia ini.
Lima jenis kepuasan itu adalah Arjana, Raksana, Himsa, Ksaya dan Sangga. Arjana artinya memperoleh penghasilan atau rezeki dengan baik dan benar. Orang akan puas hidupnya apabila ia memiliki penghasilan yang memadai untuk menyelenggarakan kehidupannya secara wajar. Akan lebih puas lagi kalau rezeki yang didapatkannya itu melalui pekerjaan yang benar dan sah tidak melanggar norma-norma hidup. Misalnya, norma agama, kesusilaan, kesopanan maupun norma hukum. Kepuasan tersebut akan bertambah lagi apabila penghasilan yang didapatkannya itu hasil dari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Alangkah senangnya seorang seniman mendapatkan penghasilan yang memadai dari hasil karya seninya. Orang yang senang berdagang terus mendapatkan hasil yang lumayan dari usaha dagangannya. Seorang dokter menjadi dokter karena memang ia berbakat jadi dokter. Kalau dari pekerjaannya sebagai dokter ia memperoleh hasil yang memadai maka hal itu akan memberi kepuasan yang mendalam.
Orang yang mendapatkan hasil dari pekerjaan yang ia senangi, berarti mereka itu telah berhasil memadukan Guna (minat dan bakat) dengan Karma (pekerjaan). Ini artinya mereka itu sudah bisa memperoleh rezeki sesuai dengan varna-nya. Penghasilan yang didapat dari bekerja sesuai dengan minat dan bakat sungguh sangat memuaskan hati. Tetapi itu baru kepuasan lahiriah namanya.
Raksana artinya orang akan puas dalam hidupnya apabila ia dapat menjaga dan menggunakan rezekinya itu secara benar dan tepat. Tidak ada uang yang digunakannya dengan sia-sia. Orang akan sangat puas dalam hidupnya apabila rezekinya itu aman. Semua rezekinya itu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dalam hidup ini. Tidak ada uang rezekinya itu yang dibelanjakan tanpa tujuan yang benar dan tepat sasaran. Apalagi penggunaan rezeki itu bisa dihemat untuk tabungan menghadapi masa depan. Hal ini akan lebih memuaskan lagi hati mereka yang memiliki rezeki tersebut. Raksana berarti mereka dapat membawa diri sehingga mereka dapat menikmati rasa aman dalam mengarungi kehidupan ini.
Himsa maksudnya orang akan puas apabila ia mampu memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Mengapa mendapatkan makanan itu disebut himsa. Ini untuk mengingatkan agar muncul kesadaran dalam memperoleh makanan agar berusaha sesedikit mungkin melalui himsa. Misalnya dengan hidup vegetarian. Karena pada kenyataannya bahan makanan manusia itu diperoleh dari tumbuhan dan hewan. Di samping itu himsa juga berarti mencari makanan dengan berusaha semaksimal mungkin tidak dengan menyakiti hati siapa pun. Hal itulah akan memberi kepuasan hati yang luar biasa.
Ksaya artinya melenyapkan. Maksudnya orang akan puas dalam hidupnya kalau ia dapat menghilangkan setiap kesukaran yang muncul dalam kehidupannya. Misalnya kalau sedang sakit ia bisa mengatasi dengan baik sehingga bisa sembuh kembali. Setelah sembuh pasti ia menikmati rasa puas. Punya utang, setelah berusaha ia dapat lunasi dengan baik dan tepat waktu. Setiap menghadapi kesukaran atau ada permasalahan hidup dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Karena dalam hidup ini tidak ada manusia yang bebas sama sekali tanpa menghadapi kesukaran dalam hidupnya. Hidup ini adalah rangkaian persoalan. Kalau satu demi satu persoalan dapat kita atasi dengan baik maka hal itu akan dapat memberi kepuasan hidup.
Sangga artinya persahabatan atau persatuan. Orang akan puas dalam hidupnya apabila ia mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Apakah itu dari keluarga, tetangga maupun kasih sayang dari lingkungan sosial yang lebih luas. Artinya dalam hubungannya dengan kehidupan sosial tidak memiliki hubungan permusuhan dengan siapa pun. Orang akan merasa puas dalam hidupnya kalau mendapatkan curahan kasih sayang dari lingkungan keluarga dan lingkunan sosial lainnya. Kelima kepuasan itulah yang harus dicapai dalam hidup ini. Namun, kepuasan itu barulah kepuasan jasmaniah atau tahap kepuasan yang disebut Wahya Tusti dalam kitab Wrehaspati Tattwa. Diingatkan dalam Wreshaspati Tattwa bahwa kepuasan tersebut kalau salah caranya memahami, dapat mengikat Atma berputar-putar dalam penjelmaan. Capailah kepuasan itu dengan tidak sampai mengikat diri kita pada ketakutan kehilangan kepuasan tersebut. Karena kepuasan itu sifatnya sementara. Kepuasan tersebut tidak kekal. Ia akan musnah ketika kita tinggalkan dunia sekala ini menuju dunia niskala.
Source : Balipost
PUNCAK tertinggi pengamalan ajaran Veda menurut Manawa Dharmasastra II.6 adalah mencapai kepuasan Atman. Dalam sloka Manawa Dharmasastra itu disebut dengan istilah Atmanastusti. Kepuasan Atman itu adalah kepuasan rohani yang kedudukannya di atas kepuasan jasmani. Kepuasan Atman itu adalah kepuasan hidup yang tertinggi. Tentunya ada kepuasan sebelumnya yang wajib dicapai terlebih dulu.
Dalam Wrehaspati Tattwa dinyatakan ada dua tahap kepuasan yang seyogianya kita capai secara bertahap dalam hidup ini. dua kepuasan itu adalah Wahyu Tusti dan Adyamika Tusti. Pada kesempatan ini akan diuraikan tentang kepuasan lahiran atau duniawi. Orang dapat disebut telah mencapai Wahya Tusti atau kepuasan lahiriah apabila telah dapat mencapai lima jenis kepuasan dalam hidupnya di dunia ini.
Lima jenis kepuasan itu adalah Arjana, Raksana, Himsa, Ksaya dan Sangga. Arjana artinya memperoleh penghasilan atau rezeki dengan baik dan benar. Orang akan puas hidupnya apabila ia memiliki penghasilan yang memadai untuk menyelenggarakan kehidupannya secara wajar. Akan lebih puas lagi kalau rezeki yang didapatkannya itu melalui pekerjaan yang benar dan sah tidak melanggar norma-norma hidup. Misalnya, norma agama, kesusilaan, kesopanan maupun norma hukum. Kepuasan tersebut akan bertambah lagi apabila penghasilan yang didapatkannya itu hasil dari pekerjaan yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Alangkah senangnya seorang seniman mendapatkan penghasilan yang memadai dari hasil karya seninya. Orang yang senang berdagang terus mendapatkan hasil yang lumayan dari usaha dagangannya. Seorang dokter menjadi dokter karena memang ia berbakat jadi dokter. Kalau dari pekerjaannya sebagai dokter ia memperoleh hasil yang memadai maka hal itu akan memberi kepuasan yang mendalam.
Orang yang mendapatkan hasil dari pekerjaan yang ia senangi, berarti mereka itu telah berhasil memadukan Guna (minat dan bakat) dengan Karma (pekerjaan). Ini artinya mereka itu sudah bisa memperoleh rezeki sesuai dengan varna-nya. Penghasilan yang didapat dari bekerja sesuai dengan minat dan bakat sungguh sangat memuaskan hati. Tetapi itu baru kepuasan lahiriah namanya.
Raksana artinya orang akan puas dalam hidupnya apabila ia dapat menjaga dan menggunakan rezekinya itu secara benar dan tepat. Tidak ada uang yang digunakannya dengan sia-sia. Orang akan sangat puas dalam hidupnya apabila rezekinya itu aman. Semua rezekinya itu digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dalam hidup ini. Tidak ada uang rezekinya itu yang dibelanjakan tanpa tujuan yang benar dan tepat sasaran. Apalagi penggunaan rezeki itu bisa dihemat untuk tabungan menghadapi masa depan. Hal ini akan lebih memuaskan lagi hati mereka yang memiliki rezeki tersebut. Raksana berarti mereka dapat membawa diri sehingga mereka dapat menikmati rasa aman dalam mengarungi kehidupan ini.
Himsa maksudnya orang akan puas apabila ia mampu memperoleh makanan sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Mengapa mendapatkan makanan itu disebut himsa. Ini untuk mengingatkan agar muncul kesadaran dalam memperoleh makanan agar berusaha sesedikit mungkin melalui himsa. Misalnya dengan hidup vegetarian. Karena pada kenyataannya bahan makanan manusia itu diperoleh dari tumbuhan dan hewan. Di samping itu himsa juga berarti mencari makanan dengan berusaha semaksimal mungkin tidak dengan menyakiti hati siapa pun. Hal itulah akan memberi kepuasan hati yang luar biasa.
Ksaya artinya melenyapkan. Maksudnya orang akan puas dalam hidupnya kalau ia dapat menghilangkan setiap kesukaran yang muncul dalam kehidupannya. Misalnya kalau sedang sakit ia bisa mengatasi dengan baik sehingga bisa sembuh kembali. Setelah sembuh pasti ia menikmati rasa puas. Punya utang, setelah berusaha ia dapat lunasi dengan baik dan tepat waktu. Setiap menghadapi kesukaran atau ada permasalahan hidup dapat diatasi dengan sebaik-baiknya. Karena dalam hidup ini tidak ada manusia yang bebas sama sekali tanpa menghadapi kesukaran dalam hidupnya. Hidup ini adalah rangkaian persoalan. Kalau satu demi satu persoalan dapat kita atasi dengan baik maka hal itu akan dapat memberi kepuasan hidup.
Sangga artinya persahabatan atau persatuan. Orang akan puas dalam hidupnya apabila ia mendapatkan kasih sayang dari lingkungannya. Apakah itu dari keluarga, tetangga maupun kasih sayang dari lingkungan sosial yang lebih luas. Artinya dalam hubungannya dengan kehidupan sosial tidak memiliki hubungan permusuhan dengan siapa pun. Orang akan merasa puas dalam hidupnya kalau mendapatkan curahan kasih sayang dari lingkungan keluarga dan lingkunan sosial lainnya. Kelima kepuasan itulah yang harus dicapai dalam hidup ini. Namun, kepuasan itu barulah kepuasan jasmaniah atau tahap kepuasan yang disebut Wahya Tusti dalam kitab Wrehaspati Tattwa. Diingatkan dalam Wreshaspati Tattwa bahwa kepuasan tersebut kalau salah caranya memahami, dapat mengikat Atma berputar-putar dalam penjelmaan. Capailah kepuasan itu dengan tidak sampai mengikat diri kita pada ketakutan kehilangan kepuasan tersebut. Karena kepuasan itu sifatnya sementara. Kepuasan tersebut tidak kekal. Ia akan musnah ketika kita tinggalkan dunia sekala ini menuju dunia niskala.
Source : Balipost
Pengendalian Tri Kaya
Sangat menarik untuk disimak dharma wacana seorang sulinggih di depan siswa setingkat SMP yang materinya mengaitkan pengendalian tri kaya (pikiran, perkataan dan perbuatan) dalam hubungan hukum karma.
Dijelaskan ada 12 bentuk pengendalian tri kaya yang bila dirinci masing-masing menjadi 3 hal untuk manah (pikiran), 4 hal untuk wacika (perkataan) dan 3 hal lagi untuk kayika (perbuatan). Seperti misalnya pikiran dengki/irihati, kata-kata kasar dan memfitnah, dan perbuatan tidak senonoh seperti berzinah atau berselingkuh. Semua perilaku ini baik atau buruk tidak terlepas dari hukum karma.
Dikutip isi kitab suci Rig Weda tentang sanksi terhadap pelanggaran moral ini yang tidak bisa dibersihkan atau dicuci dengan cara apa pun, khususnya menyangkut perselingkuhan. Dikatakan bila kelak menitis kembali akan menjadi makhluk yang paling rendah derajatnya.
Ketika disinggung perilaku pacaran di usia yang sangat muda, risikonya kelak bila terlahir kembali akan lahir muda yang belum waktunya. Pada saat itu muncul reaksi suara bergumam dari para anak muda itu, suatu sikap spontan yang seharusnya tidak keluar sekiranya anak-anak itu tahu sesana Hindu di hadapan seorang sulinggih. Sampai beliau berujar, sekiranya apa yang disampaikan itu bohong, berarti kitab suci atau lontar suci itu bohong.
Mungkin konotasi perselingkuhan ini rancu dengan istilah kencan yang oleh beliau disebut pacaran. Padahal ucapan beliau itu benar apabila dibahas dari aspek ilmiah, baik dari ilmu kedokteran maupun ilmu psikologi, bagaimana dampaknya perilaku suami istri pada usia sangat muda atau sering disebut di bawah umur. Dari sudut hukum perkawinan pun dilarang, ada batasan usia 19 tahun.
Timbul pertanyaan, bagaimana pendidikan agama Hindu di tingkat sekolah, khusus aspek etika susila ataupun sesana di hadapan orang yang patut kita hormati, seperti kepada orangtua apalagi di hadapan sulinggih. Dari sudut karmaphala memang demikianlah bunyinya, karena karmaphala berfungsi pencegahan. Dari sisi lain, apabila dosa-dosa yang mahabesar itu telanjur telah diperbuat, ajaran agama Hindu yang sangat universal memberikan suatu terapi, dengan syarat pertobatan lahir batin dengan melakukan tapa brata yoga semadi seperti yang diungkap oleh ajaran Siwaratri.
Drs. I Dewa Ketut Wisnu Putra
Br. Sembung Kangin, Kerambitan, Tabanan
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/31/s2.htm
From: "Putra Semarapura"
Date: mei2011
Sangat menarik untuk disimak dharma wacana seorang sulinggih di depan siswa setingkat SMP yang materinya mengaitkan pengendalian tri kaya (pikiran, perkataan dan perbuatan) dalam hubungan hukum karma.
Dijelaskan ada 12 bentuk pengendalian tri kaya yang bila dirinci masing-masing menjadi 3 hal untuk manah (pikiran), 4 hal untuk wacika (perkataan) dan 3 hal lagi untuk kayika (perbuatan). Seperti misalnya pikiran dengki/irihati, kata-kata kasar dan memfitnah, dan perbuatan tidak senonoh seperti berzinah atau berselingkuh. Semua perilaku ini baik atau buruk tidak terlepas dari hukum karma.
Dikutip isi kitab suci Rig Weda tentang sanksi terhadap pelanggaran moral ini yang tidak bisa dibersihkan atau dicuci dengan cara apa pun, khususnya menyangkut perselingkuhan. Dikatakan bila kelak menitis kembali akan menjadi makhluk yang paling rendah derajatnya.
Ketika disinggung perilaku pacaran di usia yang sangat muda, risikonya kelak bila terlahir kembali akan lahir muda yang belum waktunya. Pada saat itu muncul reaksi suara bergumam dari para anak muda itu, suatu sikap spontan yang seharusnya tidak keluar sekiranya anak-anak itu tahu sesana Hindu di hadapan seorang sulinggih. Sampai beliau berujar, sekiranya apa yang disampaikan itu bohong, berarti kitab suci atau lontar suci itu bohong.
Mungkin konotasi perselingkuhan ini rancu dengan istilah kencan yang oleh beliau disebut pacaran. Padahal ucapan beliau itu benar apabila dibahas dari aspek ilmiah, baik dari ilmu kedokteran maupun ilmu psikologi, bagaimana dampaknya perilaku suami istri pada usia sangat muda atau sering disebut di bawah umur. Dari sudut hukum perkawinan pun dilarang, ada batasan usia 19 tahun.
Timbul pertanyaan, bagaimana pendidikan agama Hindu di tingkat sekolah, khusus aspek etika susila ataupun sesana di hadapan orang yang patut kita hormati, seperti kepada orangtua apalagi di hadapan sulinggih. Dari sudut karmaphala memang demikianlah bunyinya, karena karmaphala berfungsi pencegahan. Dari sisi lain, apabila dosa-dosa yang mahabesar itu telanjur telah diperbuat, ajaran agama Hindu yang sangat universal memberikan suatu terapi, dengan syarat pertobatan lahir batin dengan melakukan tapa brata yoga semadi seperti yang diungkap oleh ajaran Siwaratri.
Drs. I Dewa Ketut Wisnu Putra
Br. Sembung Kangin, Kerambitan, Tabanan
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2007/1/31/s2.htm
From: "Putra Semarapura"
Date: mei2011
Hadiah Keteguhan Hati Sang Bhakta
Hadiah Keteguhan Hati Sang Bhakta
SETIAP orang tidak bisa menghindari suka lara pati, yaitu kebahagiaan, penderitaan dan kematian. Pada waktu menikmati kesukaan umumnya orang lupa kepada Tuhan, tetapi bila penderitaan menimpa ataupun kematian mendekatinya orang baru teringat kepada Tuhan. Sejak lahir manusia diperkenalkan dengan isi dunia, dan asik bermain-main dengan isi duniawi. Tidak pernah memikirkan apalagi berterima kasih kepada pemilik daripada benda-benda itu. Sudah sepatutnyalah berburu kesenangan duniawi itu dikurangi dengan mengalihkan pandangan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Kesenangan akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan memenuhi kesenangan itu sendiri. Seperti menyiram api dengan minyak, api akan berkobar semakin besar.
Setitik kesenanganyang kita nikmati selalu terdapat bibit penderitaan didalamnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah terdapat didalam kekayaan yang berlimpah, ataupun pemuasan hawa nafsu yang tidak terbatas. Kesenangan yang hampa dan selalu diikuti oleh kedukaan adalah hasil dari perburuan terhadap benda-benda duniawi. Di masyarakat yang menilai segala sesuatu dari sudut benda dan memakai ukuran benda akan berkembang penyakit menular yaitu stress.
Bila anda menghadapi pekerjaan yang berat dan penuh bahaya, maka keragu-raguan dan ketakutan akan menghantui diri anda, karena itu untuk menghilangkan keraguan itu sebutlah nama Tuhan. Menurut ajaran agama Hindu, setiap apa pun yang akan anda lakukan sebelum memulai pekerjaan itu didahului dengan mengucapkan Om, sebagai simbol Nama Tuhan. Setiap memulai pekerjaan, pikiran dipusatkan sejenak kepada Tuhan dan menyebut nama-Nya untuk memohon restu-Nya, agar adanya kegairahan dalam bekerja dan mengundang keberhasilan.
Dengan demikian, maka kita akan takut untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan tidak direstui-Nya. Tidak ada istilah terlambat bagi kita untuk menjalankan kebenaran dalam mencari Tuhan. Seperti halnya sang Ratnakara yang seorang pencuri dan perampok, namun dalam kariernya sebagai pencuri dia bertemu dengan seorang Maharsi yang sedang mengajarkan kitab-kitab Weda dan ayat-ayat Weda yang didengarnya menyentuh hatinya, hingga akhirnya ia bertobat dan bahkan sebagai perwujudan tobatnya itu dia menghukum dirinya dengan melakukan tapa yang sangat berat dengan hati yang teguh yaitu tanpa bergerak dan bergeser sedikit pun dari tempatnya bertapa sampai bertahun-tahun lamanya, hingga tubuh sampai ke lehernya ditutupi oleh gundukan rumah semut.
Karena ketekunannya dalam tapa dan penyerahan diri kepada Tuhan dengan tulus sehingga memberikan kemukjizatan kepadanya, yang menyebabkan ia menjadi seorang suci yang penuh dengan cinta kasih, dan dikenal dengan nama Bhagawan Walmiki.
Cerita ini menunjukan bahwa dengan kesungguhan dan kebulatan tekad maka seseorang itu dapat kembali pada kebenaran yaitu Tuhan. Kesungguhan dan tekad sangat penting untuk mendapatkan pengampunan Tuhan. Demikianpula tekad yang kuat dapat mengalihkan kenekatan jahat menjadi kenekatan menyerahkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu janganlah larut di dalam penyesalan dan kedukaan, serahkan diri kepada Tuhan. Menyebut nama Tuhan dan menuliskan nama Tuhan besar sekali manfaatnya. Seperti halnya sang Hanuman dalam memimpin pasukan kera saat membuat jembatan Situbanda, ia senantiasa menuliskan nama Rama pada setiap batu dan selalu mengucapkan nama Rama. Walaupun pekerjaan itu luar biasa hebatnya, namun kegembiraan memuja Rama memberikan keberhasilan.
Bagi Hanuman seluruh hidupnya diabdikan untuk Rama dan selama hidupnya ia tidak pernah melupakan wajah Rama. Dan setelah perang selesai, sang Hanuman diberikan sebuah kalung mutiara oleh Dewi Sita sebagai hadiah, setelah melihatnya sejenak lalu sang Hanuman menggigit dan membuang mutiara itu. Sehingga timbul keheranan dari Maharsi agastya dan bertanya kepada Hanuman mengapa ia melakukan hal itu. Lalu sang Hanuman mengatakan bahwa dalam setiap butiran mutiara itu tidak ditemukannya wajah Sri Rama dan apalah gunanya mutiara baginya yang hanya seekor kera. Lalu Maharsi Agastya berkata " Hanuman jangan kamu merasa diri paling bhakti pada Sri Rama, apakah dalam hatimu sungguh-sungguh kamu memuja Sri Rama?" maka Hanuman pun merobek dadanya dengan kukunya yang tajam dan tampaklah dalam hatinya gambar Sri Rama dan Sita. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi heran dan akhirnya Sri Rama pun berkata "baiklah Hanuman hadiah yang kuberikan kepadamu adalah diri kami berdua, kami adalah milikmu selamanya, simpanlah kami selalu di dalam hatimu. Maka Hanuman pun menyembah dengan puas. Demikianlah Hanuman sebagai contoh dari orang yang selalu bhakti, ingat, teguh dan selalu berbuat demi untuk tuannya yaitu Sri Rama yang merupakan awatara Wisnu.
Inilah contoh kenikmatan dan kepuasan yang dinikmati oleh seseorang yang benar-benar teguh dalam bhaktinya. Tidak ada hadiah yang lebih nikmat dari kesediaan Tuhan untuk selalu berada di hati kita sehingga kita bisa merasa memiliki-Nya dengan ketulusan hati kita.**
Source : www.pontianakpost.com
SETIAP orang tidak bisa menghindari suka lara pati, yaitu kebahagiaan, penderitaan dan kematian. Pada waktu menikmati kesukaan umumnya orang lupa kepada Tuhan, tetapi bila penderitaan menimpa ataupun kematian mendekatinya orang baru teringat kepada Tuhan. Sejak lahir manusia diperkenalkan dengan isi dunia, dan asik bermain-main dengan isi duniawi. Tidak pernah memikirkan apalagi berterima kasih kepada pemilik daripada benda-benda itu. Sudah sepatutnyalah berburu kesenangan duniawi itu dikurangi dengan mengalihkan pandangan kepada Tuhan yang menciptakan alam semesta ini. Kesenangan akan benda-benda duniawi tidak akan pernah dapat dipuaskan dengan memenuhi kesenangan itu sendiri. Seperti menyiram api dengan minyak, api akan berkobar semakin besar.
Setitik kesenanganyang kita nikmati selalu terdapat bibit penderitaan didalamnya. Kebahagiaan sejati tidak akan pernah terdapat didalam kekayaan yang berlimpah, ataupun pemuasan hawa nafsu yang tidak terbatas. Kesenangan yang hampa dan selalu diikuti oleh kedukaan adalah hasil dari perburuan terhadap benda-benda duniawi. Di masyarakat yang menilai segala sesuatu dari sudut benda dan memakai ukuran benda akan berkembang penyakit menular yaitu stress.
Bila anda menghadapi pekerjaan yang berat dan penuh bahaya, maka keragu-raguan dan ketakutan akan menghantui diri anda, karena itu untuk menghilangkan keraguan itu sebutlah nama Tuhan. Menurut ajaran agama Hindu, setiap apa pun yang akan anda lakukan sebelum memulai pekerjaan itu didahului dengan mengucapkan Om, sebagai simbol Nama Tuhan. Setiap memulai pekerjaan, pikiran dipusatkan sejenak kepada Tuhan dan menyebut nama-Nya untuk memohon restu-Nya, agar adanya kegairahan dalam bekerja dan mengundang keberhasilan.
Dengan demikian, maka kita akan takut untuk berbuat sesuatu yang menyimpang dan tidak direstui-Nya. Tidak ada istilah terlambat bagi kita untuk menjalankan kebenaran dalam mencari Tuhan. Seperti halnya sang Ratnakara yang seorang pencuri dan perampok, namun dalam kariernya sebagai pencuri dia bertemu dengan seorang Maharsi yang sedang mengajarkan kitab-kitab Weda dan ayat-ayat Weda yang didengarnya menyentuh hatinya, hingga akhirnya ia bertobat dan bahkan sebagai perwujudan tobatnya itu dia menghukum dirinya dengan melakukan tapa yang sangat berat dengan hati yang teguh yaitu tanpa bergerak dan bergeser sedikit pun dari tempatnya bertapa sampai bertahun-tahun lamanya, hingga tubuh sampai ke lehernya ditutupi oleh gundukan rumah semut.
Karena ketekunannya dalam tapa dan penyerahan diri kepada Tuhan dengan tulus sehingga memberikan kemukjizatan kepadanya, yang menyebabkan ia menjadi seorang suci yang penuh dengan cinta kasih, dan dikenal dengan nama Bhagawan Walmiki.
Cerita ini menunjukan bahwa dengan kesungguhan dan kebulatan tekad maka seseorang itu dapat kembali pada kebenaran yaitu Tuhan. Kesungguhan dan tekad sangat penting untuk mendapatkan pengampunan Tuhan. Demikianpula tekad yang kuat dapat mengalihkan kenekatan jahat menjadi kenekatan menyerahkan diri kepada Tuhan. Oleh karena itu janganlah larut di dalam penyesalan dan kedukaan, serahkan diri kepada Tuhan. Menyebut nama Tuhan dan menuliskan nama Tuhan besar sekali manfaatnya. Seperti halnya sang Hanuman dalam memimpin pasukan kera saat membuat jembatan Situbanda, ia senantiasa menuliskan nama Rama pada setiap batu dan selalu mengucapkan nama Rama. Walaupun pekerjaan itu luar biasa hebatnya, namun kegembiraan memuja Rama memberikan keberhasilan.
Bagi Hanuman seluruh hidupnya diabdikan untuk Rama dan selama hidupnya ia tidak pernah melupakan wajah Rama. Dan setelah perang selesai, sang Hanuman diberikan sebuah kalung mutiara oleh Dewi Sita sebagai hadiah, setelah melihatnya sejenak lalu sang Hanuman menggigit dan membuang mutiara itu. Sehingga timbul keheranan dari Maharsi agastya dan bertanya kepada Hanuman mengapa ia melakukan hal itu. Lalu sang Hanuman mengatakan bahwa dalam setiap butiran mutiara itu tidak ditemukannya wajah Sri Rama dan apalah gunanya mutiara baginya yang hanya seekor kera. Lalu Maharsi Agastya berkata " Hanuman jangan kamu merasa diri paling bhakti pada Sri Rama, apakah dalam hatimu sungguh-sungguh kamu memuja Sri Rama?" maka Hanuman pun merobek dadanya dengan kukunya yang tajam dan tampaklah dalam hatinya gambar Sri Rama dan Sita. Semua yang menyaksikan hal itu menjadi heran dan akhirnya Sri Rama pun berkata "baiklah Hanuman hadiah yang kuberikan kepadamu adalah diri kami berdua, kami adalah milikmu selamanya, simpanlah kami selalu di dalam hatimu. Maka Hanuman pun menyembah dengan puas. Demikianlah Hanuman sebagai contoh dari orang yang selalu bhakti, ingat, teguh dan selalu berbuat demi untuk tuannya yaitu Sri Rama yang merupakan awatara Wisnu.
Inilah contoh kenikmatan dan kepuasan yang dinikmati oleh seseorang yang benar-benar teguh dalam bhaktinya. Tidak ada hadiah yang lebih nikmat dari kesediaan Tuhan untuk selalu berada di hati kita sehingga kita bisa merasa memiliki-Nya dengan ketulusan hati kita.**
Source : www.pontianakpost.com
"Karma dan Watak"
"Karma dan Watak"
Oleh I Made Murdiasa, S.Ag
"KARMA" dapat berarti berbuat. Segala perbuatan ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Dalam falsafah timur dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itu adalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan dari pengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesan yaitu dari baik dan buruk yang akan membentuk "karakter atau watak seseorang".
Dalam setiap kehidupan orang-orang besar, sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari kesusahan bukan dari kesenangan, dan kemiskinan memberikan pelajaran yang lebih berarti daripada kekayaan. Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang. Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak diketemukan karena ia tinggal tertutup, bilamana tutupan itu perlahan-lahan di buka maka kita berkata "kita mengetahui", dan kemajuan dari pada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).
Perbuatan-perbuatan besar bisa terjadi karena gabungan-gabungan dari perbuatan-perbuatan kecil, bila kita berdiri di tepi laut dan mendengar gemuruh ombak-ombak yang mendampar batu-batu karang atau gulungan ombak yang besar-besar, padahal gulungan ombak itu terdiri dari jutaan ombak-ombak kecil yang masing-masing membuat suara sendiri-sendiri, hanya kita tak dapat menangkap suara itu, melainkan bila tergabung menjadi satu barulah kita mendengar suara gemuruh.
Jika kita sungguh ingin menimbang watak atau karakter seseorang, janganlah menilai hanya satu pekerjaan luar biasa yang dilakukannya, namun kita harus memperhatikan saat orang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-harinya, karena itulah yang dapat menunjukan karakter orang yang sesungguhnya. Orang yang sesungguhnya besar adalah dia yang selalu memperlihatkan sifat-sifat agung meski di tempat manapun dia berada dan karakter-karakter itu bisa kita bentuk sejak dini, karena karma yang kita lakukan sekarang ini bisa mempengaruhi karakter kita pada kehidupan mendatang.
Karakter itu sesungguhnya dapat membangkitkan atau menggerakkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang, jika diikuti dengan kemauan, karena sebagaimana adanya karma, demikian pula perwujudan dari pada kemauan. Orang-orang yang memiliki kemauan besar adalah pekerja-pekerja yang hebat. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan "hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bisa memperoleh kesempurnaan, karena itu hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia". Perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu telah ditentukan oleh karma. Tidak ada seorang pun akan memperoleh sesuatu kecuali ia memang berhak mendapatkannya, inilah suatu hukum abadi. Namun kadang-kadang kita tidak berpendapat demikian, akan tetapi pada kesimpulannya haruslah kita meyakini diri kearah hukum tersebut. Karma kita memberi ketentuan apa yang patut dan apa yang dapat kita lakukan. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita laksanakan, apa yang kita inginkan, kita memiliki kemauan untuk menjadi apa yang kita harapkan itu. Jika apa adanya kita sekarang ini sebagai akibat dari penghidupan kita yang lampau, maka hal inipun akan berlaku pada apa yang kita inginkan di kemudian hari, dapat kita bentuk dan kerjakan pada waktu sekarang ini. Kita harus mampu melakukannya secara benar untuk tujuan yang lebih sempurna, karena kelahiran sebagai seseorang adalah suatu kesempatan yang sangat utama dengan diberikannya pikiran sehingga kita mampu berpikir kearah yang lebih baik untuk menolong diri kita sendiri dari kelahiran yang berulang-ulang.
Dalam Bhagawad Gita diterangkan tentang karma bahwa bekerja hendaklah memakai kecerdasan dan secara ilmiah, dengan mengerti bagaimana bekerja secara benar untuk memperoleh hasil yang terbesar. Kita harus tahu bahwa semua perbuatan atau pekerjaan hanyalah pembangkitan dari kekuatan pikiran yang sudah ada, untuk membangunkan sang jiwa.
Bekerja untuk kepentingan pekerjaan, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawad Gita bahwa "pekerjaan yang dilakukan tanpa mengikatkan diri pada hasil akan mencapai tujuan yang tertinggi". Jika seorang bekerja tanpa mengandung tujuan dalam arti mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu, apakah kelak ia akan mendapatkan sesuatu ? Ya. Pastilah ia akan mendapatkan sesuatu yang tertinggi. Tiada mementingkan diri adalah hasil keuntungan yang paling tinggi yang akan diperolehnya, hanya saja jarang orang yang sabar melaksanakannya. Bekerja tanpa mementingkan diri akan menghasilkan kesehatan yang besar pula. Cinta kasih, kejujuran dan tidak mementingkan diri bukan hanya khayalan dalam kata-kata yang kosong, tetapi kebajikan-kebajikan tersebut sesungguhnya membentuk cita-cita hidup kita yang luhur dan mulia, didalamnya terletak kekuatan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Siapapun dari kita boleh mengharap, cepat atau lambat jalan perjuangan hidup kita melalui pekerjaan ini, pasti akan tiba saatnya bahwa semua dari kita akan menjadi sempurna seluruhnya dan pada saat itulah kita mencapai suatu keadaan dimana diperolehnya suatu kebahagiaan yang abadi.**
Source : www.pontianakpost.com
Oleh I Made Murdiasa, S.Ag
"KARMA" dapat berarti berbuat. Segala perbuatan ialah karma, dapat pula diartikan sebagai akibat dari perbuatan, yang secara batiniah dimaksudkan bahwa apa yang terjadi sekarang adalah sebab dari perbuatan-perbuatan yang lampau. Dalam falsafah timur dikemukakan bahwa pengetahuan adalah cita-cita atau tujuan hidup seseorang dan kesenangan bukanlah suatu tujuan hidup seseorang. Amatlah keliru jika kita menduga bahwa kesenangan itu adalah tujuan hidup, sebab dari sekian banyaknya kesulitan yang menimpa seseorang di dunia ini ialah karena adanya pikiran yang keliru bahwa kesenanganlah yang harus di kejar. Setiap keadaan suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan merupakan guru-guru bagi kita dalam upaya memperoleh suatu pengetahuan dari pengalaman, yang kemudian akan meninggalkan berbagai kesan yaitu dari baik dan buruk yang akan membentuk "karakter atau watak seseorang".
Dalam setiap kehidupan orang-orang besar, sudah pasti mereka telah menerima pelajaran-pelajaran dari kesusahan bukan dari kesenangan, dan kemiskinan memberikan pelajaran yang lebih berarti daripada kekayaan. Semua pengetahuan baik duniawi maupun rohani, ada di dalam pikiran seseorang. Dalam banyak hal pengetahuan itu tidak diketemukan karena ia tinggal tertutup, bilamana tutupan itu perlahan-lahan di buka maka kita berkata "kita mengetahui", dan kemajuan dari pada ilmu pengetahuan disebabkan oleh kemajuan dari proses pembukaan pikiran. Orang yang lapisan-lapisan pikirannya sudah tersingkap semuanya disebut orang yang sangat mengetahui (Waskita).
Perbuatan-perbuatan besar bisa terjadi karena gabungan-gabungan dari perbuatan-perbuatan kecil, bila kita berdiri di tepi laut dan mendengar gemuruh ombak-ombak yang mendampar batu-batu karang atau gulungan ombak yang besar-besar, padahal gulungan ombak itu terdiri dari jutaan ombak-ombak kecil yang masing-masing membuat suara sendiri-sendiri, hanya kita tak dapat menangkap suara itu, melainkan bila tergabung menjadi satu barulah kita mendengar suara gemuruh.
Jika kita sungguh ingin menimbang watak atau karakter seseorang, janganlah menilai hanya satu pekerjaan luar biasa yang dilakukannya, namun kita harus memperhatikan saat orang itu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil sehari-harinya, karena itulah yang dapat menunjukan karakter orang yang sesungguhnya. Orang yang sesungguhnya besar adalah dia yang selalu memperlihatkan sifat-sifat agung meski di tempat manapun dia berada dan karakter-karakter itu bisa kita bentuk sejak dini, karena karma yang kita lakukan sekarang ini bisa mempengaruhi karakter kita pada kehidupan mendatang.
Karakter itu sesungguhnya dapat membangkitkan atau menggerakkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri seseorang, jika diikuti dengan kemauan, karena sebagaimana adanya karma, demikian pula perwujudan dari pada kemauan. Orang-orang yang memiliki kemauan besar adalah pekerja-pekerja yang hebat. Dalam Bhagawad Gita dijelaskan "hanya dengan perbuatanlah seseorang itu bisa memperoleh kesempurnaan, karena itu hendaknyalah pekerjaan itu dilakukan untuk pemeliharaan dunia". Perbuatan-perbuatan yang dilakukan itu telah ditentukan oleh karma. Tidak ada seorang pun akan memperoleh sesuatu kecuali ia memang berhak mendapatkannya, inilah suatu hukum abadi. Namun kadang-kadang kita tidak berpendapat demikian, akan tetapi pada kesimpulannya haruslah kita meyakini diri kearah hukum tersebut. Karma kita memberi ketentuan apa yang patut dan apa yang dapat kita lakukan. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita laksanakan, apa yang kita inginkan, kita memiliki kemauan untuk menjadi apa yang kita harapkan itu. Jika apa adanya kita sekarang ini sebagai akibat dari penghidupan kita yang lampau, maka hal inipun akan berlaku pada apa yang kita inginkan di kemudian hari, dapat kita bentuk dan kerjakan pada waktu sekarang ini. Kita harus mampu melakukannya secara benar untuk tujuan yang lebih sempurna, karena kelahiran sebagai seseorang adalah suatu kesempatan yang sangat utama dengan diberikannya pikiran sehingga kita mampu berpikir kearah yang lebih baik untuk menolong diri kita sendiri dari kelahiran yang berulang-ulang.
Dalam Bhagawad Gita diterangkan tentang karma bahwa bekerja hendaklah memakai kecerdasan dan secara ilmiah, dengan mengerti bagaimana bekerja secara benar untuk memperoleh hasil yang terbesar. Kita harus tahu bahwa semua perbuatan atau pekerjaan hanyalah pembangkitan dari kekuatan pikiran yang sudah ada, untuk membangunkan sang jiwa.
Bekerja untuk kepentingan pekerjaan, sebagaimana diungkapkan dalam Bhagawad Gita bahwa "pekerjaan yang dilakukan tanpa mengikatkan diri pada hasil akan mencapai tujuan yang tertinggi". Jika seorang bekerja tanpa mengandung tujuan dalam arti mampu mengendalikan diri dari keinginan-keinginan untuk memperoleh sesuatu, apakah kelak ia akan mendapatkan sesuatu ? Ya. Pastilah ia akan mendapatkan sesuatu yang tertinggi. Tiada mementingkan diri adalah hasil keuntungan yang paling tinggi yang akan diperolehnya, hanya saja jarang orang yang sabar melaksanakannya. Bekerja tanpa mementingkan diri akan menghasilkan kesehatan yang besar pula. Cinta kasih, kejujuran dan tidak mementingkan diri bukan hanya khayalan dalam kata-kata yang kosong, tetapi kebajikan-kebajikan tersebut sesungguhnya membentuk cita-cita hidup kita yang luhur dan mulia, didalamnya terletak kekuatan untuk diwujudkan dalam perbuatan. Siapapun dari kita boleh mengharap, cepat atau lambat jalan perjuangan hidup kita melalui pekerjaan ini, pasti akan tiba saatnya bahwa semua dari kita akan menjadi sempurna seluruhnya dan pada saat itulah kita mencapai suatu keadaan dimana diperolehnya suatu kebahagiaan yang abadi.**
Source : www.pontianakpost.com
TUNTUNAN MEDITASI CINTA KASIH (METTA BHAVANA)-Ajahn Chah
Meditasi ini dapat dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok dengan salah seorang di antaranya membacakan instruksi dengan perlahan dan suara yang halus. Tanda titik titik pada akhir paragraf menunjukkan suatu masa hening sebelum masuk ke instruksi berikutnya. Disarankan meditasi ini dilakukan selama kurang lebih satu setengah jam. Meditasi ini adalah meditasi cinta-kasih. Meditasi dilakukan dengan menggunakan teknik visualisasi yang sederhana dengan menggunakan pikiran kita yang biasa kita gunakan untuk berpikir. Sebagai contoh, jika saya menyarankan untuk membayangkan sebuah bunga, kita akan dapat melakukannya dengan mudah. Tidak peduli apakah bunga itu adalah bunga mawar atau bunga teratai, atau apapun warnanya itu, atau bahkan bagaimanapun jelasnya objek itu tergambar di dalam batin anda –- sesuatu yang berproses dengan lancar itu sudah cukup.
Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. ……
Apa yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita, melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … Pertahankan ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar dada. ……
Membuka diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … Dan pada saat kita telah siap… tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –- napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. …
Sekarang, kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Berikutnya: bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain, yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita. Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih sayang. ......
Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. ……
Dan sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. …
Sekarang dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita. Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. ……
Sekarang bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA.
Berikan perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda. Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU.
Sekarang dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN.
Menyatulah dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati, kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.
Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...
Sekarang duduklah dengan tegak, perhatikan jika ada ketegangan pada wajah anda. Kendorkan ketegangan di sekitar mata, sekitar rahang dan mulut. Arahkan perhatian anda pada daerah sekitar hati/dada –- suatu daerah di tengah-tengah dada, di sekitar tulang dada dan sekitar tulang rusuk. Tarik napas dan rasakan napas. Rasakan seolah-olah anda bisa menarik napas dan mengeluarkan napas dari daerah di tengah-tengah dada anda itu. Pada saat anda menarik napas, katakan kepada diri anda: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK –-mengharapkan diri sendiri sehat sejahtera, biarkan muncul dengan alami suatu perasaan simpati yang halus terhadap diri anda. Biarkan masa lalu terjadi, lepaskan ia; dan pada saat ini, pusatkan saja perhatian anda pada napas, pada hati/dada, serta pada pikiran simpati yang muncul, dengan alami dan seimbang. Tarik napas dan katakan pada diri anda sendiri: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK. Secara alami kembangkan irama ini –- menarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, mengeluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … Jika pikiran berkelana, maka dengan halus, wajar dan penuh kesabaran, tarik kembali perhatian anda. Ada suatu pergerakan yang lembut, kembali pada daerah sekitar dada, pada napas, pada perasaan simpati -– tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK, keluarkan napas: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. ……
Apa yang kita lakukan adalah mencoba menyelaraskan diri kita dengan energi cinta-kasih dan kasih-sayang di alam semesta. Membuka diri dan menyerap energi tersebut, membiarkannya masuk ke dalam diri kita, menyegarkan diri kita, melalui napas dan kekuatan pikiran sebagai media aliran energi tersebut. Tarik napas: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Kemudian salurkan energi itu kepada setiap orang: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. … Pertahankan ketenangan dan kehalusan napas anda, biarkan energi napas menyegarkan diri kita; tarik napas ke daerah sekitar dada, keluarkan napas dari daerah sekitar dada. ……
Membuka diri terhadap energi cinta kasih dari alam semesta. Tarik napas, biarkan diri anda menjadi lebih peka dan lebih banyak menyerap energi tersebut. Keluarkan napas, hati anda menjadi lebih terbuka dan lebih luas, pancarkan keluar: SEMOGA ORANG LAIN SELALU DALAM KONDISI YANG BAIK. … Dan pada saat kita telah siap… tarik napas yang dalam dan halus ke daerah sekitar dada, biarkan perasaan cinta kasih dan energi napas memenuhi diri kita. Tahan sebentar dengan alami, dengan nyaman. Biarkan perasaan cinta kasih masuk semakin dalam dan menguatkan perasaan nyaman tersebut. Biarkan ia memenuhi seluruh tubuh kita, meresap ke dalam tubuh. Keluarkan napas, dengan perlahan dan halus, dari daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN DALAM KONDISI YANG BAIK. Lakukan itu beberapa kali –- napas masuk yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. …
Sekarang, kita mulai dengan visualisasi dan bekerja lebih banyak pada napas-keluar. Terus menjaga napas masuk anda seperti sebelumnya, napas masuk ke dalam daerah sekitar dada dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Untuk napas keluar, mula-mula bayangkan dalam pikiran anda sosok ayah dan ibu kita – tidak peduli di mana pun mereka berada, dekat atau jauh, masih hidup atau pun sudah meninggal. Bayangkan kedua-duanya sekaligus atau satu per satu -- tergantung mana yang paling mudah dilakukan. Bayangkan mereka berada beberapa meter di depan kita, dan pada saat kita mengeluarkan napas, arahkan pikiran-pikiran simpati dan penerimaan kita terhadap mereka. Jadi, tarik napas dengan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK...dan pada saat mengeluarkan napas, dengan membayangkan sosok ayah dan ibu kita: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Berikutnya: bawa ke dalam pikiran kita, guru-guru spiritual kita, yakni mereka yang telah menolong kita, membimbing kita, mendorong kita dan memberikan petunjuk kepada kita dalam hidup kita. Bersama napas-keluar, dengan sikap perasaan berterima kasih, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … … Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, keluarga kita; suami/istri kita, anak-anak, kakak dan adik kita, bisa sekaligus dalam satu kelompok atau satu per satu. Bersama napas-keluar, dengan perasaan kasih sayang, pikirkan: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran anda, teman terdekat kita atau teman-teman yang lain, yang kita rasakan akan mendapatkan manfaat dari pikiran-pikiran simpati kita. Bersama napas-keluar, bawa mereka ke dalam pikiran dan berharap semoga mereka dalam keadaan yang baik; suatu rengkuhan yang lembut, suatu sikap penuh kasih sayang. ......
Tarik napas ke daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas dari daerah sekitar dada: SEMOGA MEREKA DALAM KONDISI YANG BAIK. Bawa ke dalam pikiran anda sekarang, mereka yang berlatih bersama-sama kita, mereka berada di sekitar kita; arahkan pikiran kita keluar, melingkupi mereka semua: SEMOGA MEREKA SEMUA DALAM KONDISI YANG BAIK DAN DAMAI. … …
Sekarang bawa ke dalam pikiran, bentuk Bumi kita seperti kita melihatnya dari luar angkasa. Arahkan pada objek yang penuh warna-warni tersebut, pikiran-pikiran kita: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Keluarkan napas: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. ……
Dan sekarang bawa ke dalam pikiran kita, suatu bentuk dari kekosongan yang luas dan tak terbatas. Arahkan pikiran kita ke ruang yang tak terbatas itu: SEMOGA SEMUA MAKHLUK DALAM KONDISI YANG BAIK. Biarkan pikiran anda terbuka luas; biarkan hati anda terbuka seluas-luasnya. Tiada lagi batasan antara tubuh anda dengan alam semesta –- tiada batasan – luas – menembus ruang dan waktu. …
Sekarang dengan hati-hati, dengan sedikit lebih memfokus, bawa kembali perhatian kita ke arah daerah di sekitar dada, suatu titik di tengah-tengah dada kita. Tarik napas dengan halus dan dalam serta munculkan pikiran: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Tahan sebentar... biarkan pikiran, sebagai perasaan yang simpati tersebut, menyebar ke seluruh tubuh, memberikan energi dan menyegarkan kita. Kemudian dengan perlahan dan halus, keluarkan napas melalui daerah sekitar dada. Lakukan hal yang sama satu atau dua kali – tarik napas yang dalam, tahan sebentar dan keluarkan. ……
Sekarang bawa ke dalam pikiran, seseorang yang pernah anda sakiti, baik secara disengaja ataupun tidak, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal... dan dengan menyebut nama orang itu, katakan: MAAFKANLAH SAYA... Ingat kembali mereka yang pernah anda sakiti... sebut nama mereka dan katakan: MAAFKANLAH SAYA.
Berikan perhatian yang dalam pada daerah sekitar dada. Biarkan ia tetap terbuka... dan sekarang bawa ke dalam pikiran anda, seseorang yang pernah menyakiti anda. Sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Bawa ke dalam pikiran seseorang yang menyakiti anda, sebut nama orang itu dan katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU.
Sekarang dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... Dengan menyebut nama kita sendiri, katakan: SAYA MEMAAFKAN KAMU... dan... KAMU SAYA MAAFKAN... KAMU SAYA MAAFKAN.
Menyatulah dengan perasaan-perasaan kasih sayang itu. Bawa perasaan-perasaan itu ke dalam hati anda; rangkul mereka dengan lembut... Sekarang dengan hati-hati, kembalilah ke napas –- energi napas masuk ke dalam daerah sekitar dada: SEMOGA SAYA DALAM KONDISI YANG BAIK. Resapi dan penuhi diri anda dengan perasaan tersebut. Kemudian keluarkan napas melalui daerah sekitar dada: SEMOGA ORANG LAIN JUGA DALAM KONDISI YANG BAIK.
Begitu sederhana –- menarik napas, menyatu dengan energi. Mengeluarkan napas, mendoakan agar semua orang selalu dalam kondisi yang baik. Mengeluarkan napas untuk semua orang. ...
Minggu, 01 Mei 2011
Sejarah Pura Batur
OBYEK WISATA PENELOKAN
Penelokan terletak di sebelah Selatan Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani kira-kira 23 km dari Kota Bangli atau 63 km dari Denpasar ibukota Propinsi Bali. Sepanjang areal Batur memiliki pemandangan yang sangat menarik merupakan wilayah Kecamatan Kintamani yang terletak di bagian Utara Bangli. Penelokan adalah tempat yang terbaik untuk melihat pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur. Letaknya kira-kira 1500 meter dari permukaan laut yangdari tahun ke tahun memiliki temperatur ± 22o C di siang hari, dan 16oC di malam hari.
Banyak pengunjung baik domestik maupun internasional, memilih tempat ini untuk dapat menikmati udara pegunungan yang dingin dan segar. Tentunya hal ini sangat menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang indah dengan lava hitam yang padat berasal dari letusan Gunung Batur pada tahun 1917 yang menghancurkan seluruh desa di sekitarnya.
Untuk itu kami bermaksud mengajak siapa yang senang berpetualang untuk mendaki sampai ke puncak. Keindahan kepundannya sunggu merupakan suatu lukisan yang indah.
Disamping keindahan panoramanya, kita juga dapat melihat indahnya Danau Batur dengan airnya yang jernih bagaikan kristal dan di lereng pegunungan anda dapat melihat kuburan yang unik, serta Barong Brutuk dari Desa Trunyan, yang mana tidak bisa ditemukan di tepat lain di Bali.
DESA KEDISAN
Desa Kedisan terletak di tepi Selatan Gunung Batur 7 Km dari Penelokan dan sepanjang jalan Kecamatan Kintamani atau 27 Km dari kota Bangli.
Sebuah desa kecil, dengan udaranya yang dingin dan segar serta keramahan penduduknya yang berdampingan dengan desa lainnya seperti Batur, Buahan, trunyan, dan desa Songan sehingga disebut Desa Bintang Danu, karena terletak di tepi Gunung Batur.
Di sini ada pelabuhan kecil dimana seseorang dapat menyewa boat untuk mengunjungi Desa Trunyan yang unik. Harga tiket pulang pergi dan rencana keberangkatannya sudah diatur oleh LLASDP.
DESA TERUNYAN
Nama dari Desa Terunyan berasal dari kata “Taru dan Menyan”, pohon berbau harum yang tumbuh di desa itu, orang-orang disana percaya bahwa pohon itu sangat penting. Mayat orang yang meninggal diletakkan di atas kuburan terbuka di bawah pohon tersebut dengan wajah terbuka dengan hanya memakai kain putih dan “ancak saji”. Cara penguburan ini disebut “Mepasah”.
Desa Terunyan sebagai bagian dari kecamatan Kintamani terletak di tepi Danau Batur atau di Kaki sebelah Barat dai Gunung Abang. Penduduk desa ini adalah keturunan asli bali Age. Dengan aspek kebudayaan yang unik, desa ini dapat dicapai dengan boat dari desa Kedisan, menyeberangi Danau Batur selama ± 30 menit.
PURA PANCERING JAGAT
Pura Pancering Jagat terletak di Desa Trunyan Kecamatan Kintamani. Nama Pura ini berasal dari patung raksasa tingginya 4 meter. Masyarakat setempat menyebutnya “Arca Da Tonta atau Ratu Gede Pusering Jagat”. Upacara di pura ini jatuh pada Purnamaning sasih Kapat sekitar bulan oktober. Dalam beberapa kesempatan Barong Brutuk ditarikan langsung untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan antara Ratu Sakti Pancering Jagat, penguasa daerah ini dengan Ratu Ayu Dalem Pingit (Ratu Ayu Dalem Dasar). Pura ini hanya disungsung oleh masysrakat Trunyan saja.
TOYO BUNGKAH
Toyo Bungkah terletak di tepi sebelah Barat Danau Batur, 11 Km dari penelokan Kecamatan Kintamani. Tempat ini sangat menyegarkan dan cocok untuk memancing dan berenang. Disana juga ada air panas yang airnya berasal dari kaku Gunung Batur. Masyarakat disana percaya bahwa air ini dapat menyembuhkan segala jenis penyakit kulit. Tempat ini sudah dikenal sejal tahun 1930 terutama oleh para Ilmuwan Asing. Fasilitas yang terdapat disini antara lain, penginapan, hotel dan restoran serta aula untuk mementaskan tari-tarian tradisional maupun modern.
PURA PUNCAK PENULISAN
Pura Puncak Penulisan terletak 1745 dari permukaan laut kira-kira 3 Km dari Kintamani atau 30 Km dari ibukota Bangli, di sebelah timur bagian atas dari jalan Denpasar – singaraja. Berdasarkan lontar Bali Kuno dikatakan bahwa Bukit Penulisan disebut juga Bukit Tunggal karena tempatnya terpisah dari rangkaian pegunungan yang terbentang dari barat ke timur, seolah-olah membagi Bali menjadi dua bagian : Utara dan Selatan.
Sekitar abad ke-9 di atas puncak Bukit Penulisan dibangunlah Pura Tegeh Koripan yang lebih dikenal dengan Pura Pucak Penulisan karena terletak di puncak Bukit Penulisan.
Pura Pucak Penulisan disamping letaknya di atas bukit, tersusun dari beberapa teras sampai sebelas teras.
Teras-teras itu dimaksudkan sebagai kelanjutan dari aspek kebudayaan pyramid jaman megalitik. Ini juga merupakan kompleks Pura Danu dan Pura Taman Danu yang terletak pada teras ke -3, juga terdapat Pura Ratu Penyarikan yang terletak pada teras ke-4 pada bagian Barat Pura itu.
Kompleks keempat, adalah Pura Ratu Daha Tua terletak di bagian Barat pada teras ke-16.
Yang terakhir atau kompleks ke-5 adalah Pura Panarojam terletakdi bagian Timur dari Puncak. Kompleks pura ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan empat kompleks yang lain. Di dalam kompleks pura ini, pengunjung dapat melihat patung terbuat dari buah yang dipercaya berasal dari jaman Bali kuno sebagai peninggalan kebudayaan megalitik
SEJARAH DARI PURA PUCAK PENULISAN.
Lompleks Pura Penulisan merupakan satu-kesatuan yang dibangun pada jaman perunggu, yang dimulai kira-kira pada tahun 300 sebelum Masehi. Dan lanjut ke milenium pertama masehi yaitu abad ke-10 sampai berakhirnya kekuasaan Majapahit pada tahun 1343, daerah ini dikuasai oleh Kerajaan Pejeng-Bedulu. Raja ini membuat peraturan tertulis di atas pinggiran perunggu, yang membuktikan bahwa para sastrawan telah mendapat menyusun kembali sejarah Kerajaan itu. Banyak tulisan yang menggunakan dasar-dasar Agama Hindu dan Agama Budha yang berisikan peraturan-peraturan hukum dasar.
Di dalam halaman komplek Pura itu ada beberapa balai uang terttup patung-patung sebagai potret Raja-raja Bali, Permaisuri dan pengikutnya. Menurut data Arkeologi, sejarah pura ini telah disusun oleh para ahli dari beberapa prasasti yang terhitung dari abad ke-11 sampai abad ke-15 :
A). Prasasti Penulisan I : Angka Tahun 1011 Masehi (Caka 933) dan Rajanya, Mpu Bga Anatah.
B). Prasasti dari Pura Bukit Indrakila (dekat Desa Kintamani) dengan angka tahun 1016 Masehi (Caka 938) mengatakan bahwa masyarakat arcanigayan (Asal mula Desa Caningan, dekat Desa Dausa di Kintamani) meminta raja mereka yaitu Anak Wungsu, menghadiri upacara peringatan yang akan diadakan oleh istrinya, Bhatari Mandul. Masyarakat Sukawana mengabulkan permintaan mereka.
C). Prasasti Penulisan V : Angka Tahun 1332 Maswhi (Caka 1254) dibaca…………t (asu), Ra Ratna Bhumi atau raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten.
Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten adalah Raja Bali yang terakhir yang memerintahkan selama ekpedisi Gajah mada (1343), yang terkenal pada abad ke-14 yaitu seorang Patih Kerajaan Majapahit yang bercita-cita mempersatukan Nusantara.
Dengan menyimpulkan prasasti dari Pura Penulisan itu kita bisa mengetahui bahwa pada tahun 1016 Masehi pura ini dijadikan sebagai tempat syukuran bagi istri terakhir dari Raja Anak Wungsu. Dilanjutkan sebagai “mountain sanctury” dari kerajaan Pejeng-Bedulu dari abad ke-10 hingga ekspansi Majapahit pada tahun 1343, hanya Pura Besakih dijadikan sebagai “mountain sanctury” bagi Dinasti Gelgel di Klukung (abad ke-15 – 17).
PURA BATUR
Pura Batur yang lebih dikenal dengan Pura Ulun Danu terletak pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut tepatnya di Desa Kalanganyar Kecamatan Kintamani di sebelah Timur jalan raya Denpasar-Singaraja.
Pura ini menghadap ke barat yang dilatarbelakangi Gunung Batur dengan lava hitamnya serta Danau Batur yang membentang jauh di kaki Gunung Batur, melengkapi keindahan alam di sekeliling pura.
Sebelum letaknya yang sekarang ini, Pura Batur terletak di lereng Barat Daya Gunung Batur. Karena letusan dasyat pada tahun 1917 yang telah menghancurkan semuanya, termasuk pura ini kecuali sebuah pelinggih yang tertinggi. Akhirnya berkat inisiatif kepala desa bersama pemuka desa, mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur ke tempat yang lebih tinggi yakni pada lokasi saat ini. Upacara di pura ini dirayakan setiap tahun yang dinamakan Ngusaba Kedasa.
SEJARAH PURA BATUR
Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki Gunung itu dekat tepi Barat Daya Danau Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura. Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, temapt pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tusag mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kayangan” enam kelompok Pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum.
Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi Kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu.
Legenda tersebut diceritakan sebagai berikut :
Pada suatu malam di awal bulan kelima Margasari Dewa Pasupati (Siwa) memindahkan puncak Gunung Mahameru di India dan membaginya menjadi dua bagian. Dibawanya satu bagian dengan tangan kirinya dan yang satunya dengan tangan kanannya. Kedua belahan itu dibawa menjadi tahta. Belahan yang dibawa dengan tangan kanannya menjadi Gunung Agung tahta untuk anaknya, Dewa Putranjaya (mahadewa Siwa) dan yang dibawanya dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur tahta dari Dewi Danu, Dewi Air Danau. Legenda ini menjadikan Gunung terbesar di Bali dan dua elemen simbolis “laki-laki dan perempuan” (Purasa dan Pradana) atau dua asal mula manifestasi dari sumber; Tuhan (Ida Sang Hyang Wishi Wasa).
————————————————————
PENELOKAN TOURIST RESORT
Penelokan (look – out point) is situated on the southem part of Batur Tengah village, Kintamani District about 23 kms from the Bangli town or 63 km from Denpasar, capital city of Bali province.
The entire batur area, with its spectacular scenery, belongs to the district of Kintamani in northern Bangli, The Penelokan (look –out Point) offers views of Mt. Batur and Lake Batur, highlighting most tourist’s visit to Bali, At about 900 metersd above sea level, this vista point is cool and refresing throughout the year with temperatures averaging 22′ C at mid –day and 16′C at night. Penelokan is just 27 kilometers from Denpasar is well maintained ashalted roads.
Many visitors, both Domestic or Foreign, drop over to this resort, breathe the cool and refreshing mountainous air and all at once to enjoy the breath-taking beauty of panoramic view with its solidified black lavas serve as a deaf witness to the 1917 eruption which devastating entire villages surrounding it.
Meanwhile for those who laki ‘adventuring’ could go for hiking up to the peak. The beauty of this caldera or crater really beggars description.
Inspite of its beautiful panoramic view, we can also take a look the beauty of lake Batur with its crytal clear water and mountainous areas serve as the unique graveyard and the Barong Brutuk of Trunyan village which can’t be found anywhere else in Bali.
KEDISAN VILLAGE
Kedisan village is located on the southem bank of Mount Batur, 7 kms from Penelokan and belongs to Kintamani district or 27 kms on the northern regency of Bangli.
An idyllic little village, cool and refreshing air and hospitable people along with other villages such as Batur Buahan, Trunyan, and Songan village is called Bintang Danu village because of their location on the banks of Mount Batur.
It has its own dockyard where one can hire a boat to visit the unique village of Trunyan. The cost of around trip-tickets and its schedules have been set by the LLASDP.
TERUNYAN VILLAGE
The name of Trunyan is derived from the words ‘Taru’ and Menyan’: the smell of a fragrant tren of incense which grows in that village. The villages consider that the tree is very important because the corpses of the dead person are just laid down on the open grave under the tree and lefthe faces open ; whereas their bodies are simply covered by white clothes and by ‘ancak saji’. This method of burying corpses is called “MEPASAH”.
The village of Terunyan lays on the banl of lake Batur or on the west foot of Abang hill of Kintamani District. It is a village inhabited by the ‘Origines’ of Bali Aga with its unique cultural aspects. This village is attainable only by boat from Kedisan village, crossing along lake Batur in 30 minutes.
PANCERING JAGAT TEMPLE
The Temple of Pancering Jagat is located at Trunyan village, Kintamani District. The name of the temple is derived from themegalithic status with 4 meters high, locally known as Arca da Tonta or Ratu Gede Pusering jagat among the common people. The ceremony in this temple takes place on purnamaning sasih kapat around October. On the same accasion the Barong Brutuk dance is performed for commemorating the legendary wedding anniversary between Ratu Sakti Pancering Jagat; the patron guardian of the village and Ratu Ayu dalem Pingt ( Ratu Ayu Dalem dasar). This temple is worshipped only by people of Trunyan.TOYA BUNGKAH
Toya Bungkah is located on the west Bank of lake Batur, 11 kms from Penelokan, Kintamani Distric. This resort is refresh and quit and is a good spot for fishing water is considered to be derived from the foot of mount Batur. The villagers believe that it has curative power for all kind of skin diseases. This resort is renown in tourism since 1930 especially among foreign anthropologists. Tourism facilities available here are quest houses, Hotel and restaurants and a hall for performing both traditional and newly created dances.
PUNCAK PENULISAN TEMPLE
Puncak Penulisan Temple is situated at 1745 meters above sea level about 3 kms from Kintamani, or 30 kms from the capital town of Bangli regency, on the east side of the road leading to Denpasar or Singaraja.
Based on the road-Balinese manuscripts, it was told that Bukit Penulisan is also called Bukit Tunggal since its location is separated from the chain of mountains, stretching along from west to east, dividing Bali island into 2 parts, the northern and southern Bali.
Around IX century on the peak of this Bukit Penulisan, the temple of Tegeh Koripan was constructed wich is commonly called Pura Pucak Penulisan because it is located at the peak of Penulisan Hill.
The temple of Puncak Penulisan, beside its location on a hill, composed of several terraces, even up to 11 terraces.
These terraces reveal the continuation of the pyramidal from of cultural aspects of the megalithic age. Its is also a complexes respectively called Pura Danu and Pura Taman Danu, located on the third called Pura Ratu Penyarikan, located on the 4th terrace also on the west part of the temple.
The 4th complex, Pura Ratu Daha Tua, is located at the west side on the 16th terrace.
The last or the fifth complex is Pura Panarajon situated on the eastside of the peak. This complex is the highest one compared to the four former complexes . Inside of this temple complex, visitors can find stone made statues and are believed to be derived from olden Balinese period as the remains of the megalithic culture.
THE HISTORY OF THE PUNCAK PENULISAN TEMPLE
The temple complex at Penulisan was in a territory that was settled by the Broze Age, which began about 300 B.C. and continued well into the first millennium A.D from the 10th century until the Majapahit conquest in 1343, this area was controlled by the kingdom of Pejeng –Bedulu. Its kingks issued controlled by the kingdom of Pejeng-Bedulu. Its kings issued decrees written on plates of broze, from which scholars have been able to reconstruct the history of the Kingdom. Many inscriptions describe the founding of Hindu and Buddhist monasteries within a village territory and the freeing of that village from certain state taxes to pay for the monasteries upkeep.
Inside the temple complex grounds there are several covered pavilions or bales lines of fine statues ; portraits of Balinese kings, queens and divinities. Archaeological data concering, the history of this temple has been gathered by local experts from several inscriptions on these statues dating from the 11th century and the 15th century;
A) Inscripton Penulisan I: dates from 1011 A.D. (Cakra 933) and is credited to the king, Mpu Bga Anatah.
B) Inscriptions from Pura Bukit Indrakila A (Near Kintamani village) dated 1016 A.D. (Caka 938) tells that the people of Parcanigayan (the former name of caninganvillage, near Dausa village in Kintamani ) asked their king, Anak Wungsu, to be excused from attending the compulsory memorial ceremonies being held his deceased wife, Bhatari Mandul. The people Sukawana village were granted their request.
C) Inscription Penulisan V : dead 1332 A.D. (Caka 1254), it reads …t 9asu), Ra Ratna Bhumi or Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten.
Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten is the name of the last Balinese king who rule Bali during the 1343 expedition of Gajah Mada, the famous 14th century peneral of the East Javanese Majapahit empire who worked throughout his life for Indonesia unification by ruling much of the country, including Bali.
By summarizing the inscriptions from Penulisan Temple we can conclude that in 1016 A.D. it served as a place to pay homage to the late wife of King Anak Wungsu. It continued to served as the mountain sanctuary of the Pejeng-Bedulu Kingdom from the 10th century until the Majapahit conquest in 1343, just as Pura Besakih was the state mountain sanctuarly for the later Gelgel Dynasty of Klungkung (15th – 17th Centuries).
BATUR TEMPLE
Batur Temple or commonly called Ulun danu Temple is situated at 900 meters above sea level of Kalanganyar Batur village Kintamani District on the eastern side of the main road leading to danpasar or Singaraja via bangle.
The temple faced west ward where Mount batur and remains of its solodofied black lavas serve as back drop and Lake stretches far down the slope, enhanced the beauty of nature around the temple.
Formerly, before it is in its present location Batur Temple is located on the south western slope of Mount Batur since the devastating eruption in 1917 which destroyed everything, including the temple it self. Then initiated by the head of the village along with other prominent figures, they brought the surviving shrines with them and rebuilt batur Temple to the higher place at Kalanganyar on its present location.
The ceremony in this temple is held annually commonly called Ngusaba ke Dasa.
THE HISTORY OF BATUR TEMPLE
Before Mt. Batur’s devastating eruption in 1917, Batur Temple was originally located at the base of the volcano near the south western shore Of Lake Batur Lavacovered the village of Batur, destroying 65.000 houses, 2.500 temple and more then a thousand lives butmiraculously stopped at the foot at the temple. The people took this as the good omen and continued to live there. In 1926, a new eruption buried the entire temple except the highest shrine, dedicated to god in his manifestation as Dewi Danu, the Goddess of the lakes and waters. The villagers were then forced to resettle on high ridges and begin their task of rebuilding their temple. They brought the serviving shrine with them and rebuilt Batur Temple, commonly known as Pura Ulun danu of Batur village.
Several ancient Balinese holy manuscripts (lontar) have served as sources of information describing the history of Batur Temple. Its significance as part of the “Sad Kahyangan”, a group of the six most revered temples on Bali, is documented in the Babad Pasek Kayu Slelem. Batur Temple is also refered to as “Kahyangan Jagat” temple which means it is a public place of worship.
Throughout its history Batur Temple has been a sanctuary dedicated to the fertility Goddess, Dewi Danu. She is the Goddess of lakes and waters. Mineral rich waters flow from Lake Batur,led from one rice terrace to another, in descending steps to the sea. In the Usana Bali Lontar, one of the sacred texts housed at the temple, there is an ancient legend the describes the formation of Dewi Danu’s throne. The legend goes as follows :
It is said that on the night of the new moon during Margasari the fifth month, the God Pasupati (Siwa) removed the peak of the sacred Hindu Mt. Mahameru in India and devided it into two parts. Carrying one part in his left hand and the other in his right the two pieces were brought to Bali to be used as thrones. The piece carried in the right hand became Mt. Agung – the throne for his son, the God Putranjaya ( Mahadewa Siwa ) and the remaining portion carried in the left hand became Mt. Batur – the throne for Dewi Danu, the Goddess of the lakes and waters. This legend refers to Bali’s two most revered volcanoes Gunung Agung and Gunung Batur as two symbolic elements ; male and female ( Purusa and Pradana ) , or two complimentary manifestations originating from one source; God ( Ida Sang Hyang Widhi ).
Penelokan terletak di sebelah Selatan Desa Batur Tengah, Kecamatan Kintamani kira-kira 23 km dari Kota Bangli atau 63 km dari Denpasar ibukota Propinsi Bali. Sepanjang areal Batur memiliki pemandangan yang sangat menarik merupakan wilayah Kecamatan Kintamani yang terletak di bagian Utara Bangli. Penelokan adalah tempat yang terbaik untuk melihat pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur. Letaknya kira-kira 1500 meter dari permukaan laut yangdari tahun ke tahun memiliki temperatur ± 22o C di siang hari, dan 16oC di malam hari.
Banyak pengunjung baik domestik maupun internasional, memilih tempat ini untuk dapat menikmati udara pegunungan yang dingin dan segar. Tentunya hal ini sangat menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang indah dengan lava hitam yang padat berasal dari letusan Gunung Batur pada tahun 1917 yang menghancurkan seluruh desa di sekitarnya.
Untuk itu kami bermaksud mengajak siapa yang senang berpetualang untuk mendaki sampai ke puncak. Keindahan kepundannya sunggu merupakan suatu lukisan yang indah.
Disamping keindahan panoramanya, kita juga dapat melihat indahnya Danau Batur dengan airnya yang jernih bagaikan kristal dan di lereng pegunungan anda dapat melihat kuburan yang unik, serta Barong Brutuk dari Desa Trunyan, yang mana tidak bisa ditemukan di tepat lain di Bali.
DESA KEDISAN
Desa Kedisan terletak di tepi Selatan Gunung Batur 7 Km dari Penelokan dan sepanjang jalan Kecamatan Kintamani atau 27 Km dari kota Bangli.
Sebuah desa kecil, dengan udaranya yang dingin dan segar serta keramahan penduduknya yang berdampingan dengan desa lainnya seperti Batur, Buahan, trunyan, dan desa Songan sehingga disebut Desa Bintang Danu, karena terletak di tepi Gunung Batur.
Di sini ada pelabuhan kecil dimana seseorang dapat menyewa boat untuk mengunjungi Desa Trunyan yang unik. Harga tiket pulang pergi dan rencana keberangkatannya sudah diatur oleh LLASDP.
DESA TERUNYAN
Nama dari Desa Terunyan berasal dari kata “Taru dan Menyan”, pohon berbau harum yang tumbuh di desa itu, orang-orang disana percaya bahwa pohon itu sangat penting. Mayat orang yang meninggal diletakkan di atas kuburan terbuka di bawah pohon tersebut dengan wajah terbuka dengan hanya memakai kain putih dan “ancak saji”. Cara penguburan ini disebut “Mepasah”.
Desa Terunyan sebagai bagian dari kecamatan Kintamani terletak di tepi Danau Batur atau di Kaki sebelah Barat dai Gunung Abang. Penduduk desa ini adalah keturunan asli bali Age. Dengan aspek kebudayaan yang unik, desa ini dapat dicapai dengan boat dari desa Kedisan, menyeberangi Danau Batur selama ± 30 menit.
PURA PANCERING JAGAT
Pura Pancering Jagat terletak di Desa Trunyan Kecamatan Kintamani. Nama Pura ini berasal dari patung raksasa tingginya 4 meter. Masyarakat setempat menyebutnya “Arca Da Tonta atau Ratu Gede Pusering Jagat”. Upacara di pura ini jatuh pada Purnamaning sasih Kapat sekitar bulan oktober. Dalam beberapa kesempatan Barong Brutuk ditarikan langsung untuk memperingati hari ulang tahun pernikahan antara Ratu Sakti Pancering Jagat, penguasa daerah ini dengan Ratu Ayu Dalem Pingit (Ratu Ayu Dalem Dasar). Pura ini hanya disungsung oleh masysrakat Trunyan saja.
TOYO BUNGKAH
Toyo Bungkah terletak di tepi sebelah Barat Danau Batur, 11 Km dari penelokan Kecamatan Kintamani. Tempat ini sangat menyegarkan dan cocok untuk memancing dan berenang. Disana juga ada air panas yang airnya berasal dari kaku Gunung Batur. Masyarakat disana percaya bahwa air ini dapat menyembuhkan segala jenis penyakit kulit. Tempat ini sudah dikenal sejal tahun 1930 terutama oleh para Ilmuwan Asing. Fasilitas yang terdapat disini antara lain, penginapan, hotel dan restoran serta aula untuk mementaskan tari-tarian tradisional maupun modern.
PURA PUNCAK PENULISAN
Pura Puncak Penulisan terletak 1745 dari permukaan laut kira-kira 3 Km dari Kintamani atau 30 Km dari ibukota Bangli, di sebelah timur bagian atas dari jalan Denpasar – singaraja. Berdasarkan lontar Bali Kuno dikatakan bahwa Bukit Penulisan disebut juga Bukit Tunggal karena tempatnya terpisah dari rangkaian pegunungan yang terbentang dari barat ke timur, seolah-olah membagi Bali menjadi dua bagian : Utara dan Selatan.
Sekitar abad ke-9 di atas puncak Bukit Penulisan dibangunlah Pura Tegeh Koripan yang lebih dikenal dengan Pura Pucak Penulisan karena terletak di puncak Bukit Penulisan.
Pura Pucak Penulisan disamping letaknya di atas bukit, tersusun dari beberapa teras sampai sebelas teras.
Teras-teras itu dimaksudkan sebagai kelanjutan dari aspek kebudayaan pyramid jaman megalitik. Ini juga merupakan kompleks Pura Danu dan Pura Taman Danu yang terletak pada teras ke -3, juga terdapat Pura Ratu Penyarikan yang terletak pada teras ke-4 pada bagian Barat Pura itu.
Kompleks keempat, adalah Pura Ratu Daha Tua terletak di bagian Barat pada teras ke-16.
Yang terakhir atau kompleks ke-5 adalah Pura Panarojam terletakdi bagian Timur dari Puncak. Kompleks pura ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan empat kompleks yang lain. Di dalam kompleks pura ini, pengunjung dapat melihat patung terbuat dari buah yang dipercaya berasal dari jaman Bali kuno sebagai peninggalan kebudayaan megalitik
SEJARAH DARI PURA PUCAK PENULISAN.
Lompleks Pura Penulisan merupakan satu-kesatuan yang dibangun pada jaman perunggu, yang dimulai kira-kira pada tahun 300 sebelum Masehi. Dan lanjut ke milenium pertama masehi yaitu abad ke-10 sampai berakhirnya kekuasaan Majapahit pada tahun 1343, daerah ini dikuasai oleh Kerajaan Pejeng-Bedulu. Raja ini membuat peraturan tertulis di atas pinggiran perunggu, yang membuktikan bahwa para sastrawan telah mendapat menyusun kembali sejarah Kerajaan itu. Banyak tulisan yang menggunakan dasar-dasar Agama Hindu dan Agama Budha yang berisikan peraturan-peraturan hukum dasar.
Di dalam halaman komplek Pura itu ada beberapa balai uang terttup patung-patung sebagai potret Raja-raja Bali, Permaisuri dan pengikutnya. Menurut data Arkeologi, sejarah pura ini telah disusun oleh para ahli dari beberapa prasasti yang terhitung dari abad ke-11 sampai abad ke-15 :
A). Prasasti Penulisan I : Angka Tahun 1011 Masehi (Caka 933) dan Rajanya, Mpu Bga Anatah.
B). Prasasti dari Pura Bukit Indrakila (dekat Desa Kintamani) dengan angka tahun 1016 Masehi (Caka 938) mengatakan bahwa masyarakat arcanigayan (Asal mula Desa Caningan, dekat Desa Dausa di Kintamani) meminta raja mereka yaitu Anak Wungsu, menghadiri upacara peringatan yang akan diadakan oleh istrinya, Bhatari Mandul. Masyarakat Sukawana mengabulkan permintaan mereka.
C). Prasasti Penulisan V : Angka Tahun 1332 Maswhi (Caka 1254) dibaca…………t (asu), Ra Ratna Bhumi atau raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten.
Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten adalah Raja Bali yang terakhir yang memerintahkan selama ekpedisi Gajah mada (1343), yang terkenal pada abad ke-14 yaitu seorang Patih Kerajaan Majapahit yang bercita-cita mempersatukan Nusantara.
Dengan menyimpulkan prasasti dari Pura Penulisan itu kita bisa mengetahui bahwa pada tahun 1016 Masehi pura ini dijadikan sebagai tempat syukuran bagi istri terakhir dari Raja Anak Wungsu. Dilanjutkan sebagai “mountain sanctury” dari kerajaan Pejeng-Bedulu dari abad ke-10 hingga ekspansi Majapahit pada tahun 1343, hanya Pura Besakih dijadikan sebagai “mountain sanctury” bagi Dinasti Gelgel di Klukung (abad ke-15 – 17).
PURA BATUR
Pura Batur yang lebih dikenal dengan Pura Ulun Danu terletak pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut tepatnya di Desa Kalanganyar Kecamatan Kintamani di sebelah Timur jalan raya Denpasar-Singaraja.
Pura ini menghadap ke barat yang dilatarbelakangi Gunung Batur dengan lava hitamnya serta Danau Batur yang membentang jauh di kaki Gunung Batur, melengkapi keindahan alam di sekeliling pura.
Sebelum letaknya yang sekarang ini, Pura Batur terletak di lereng Barat Daya Gunung Batur. Karena letusan dasyat pada tahun 1917 yang telah menghancurkan semuanya, termasuk pura ini kecuali sebuah pelinggih yang tertinggi. Akhirnya berkat inisiatif kepala desa bersama pemuka desa, mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur ke tempat yang lebih tinggi yakni pada lokasi saat ini. Upacara di pura ini dirayakan setiap tahun yang dinamakan Ngusaba Kedasa.
SEJARAH PURA BATUR
Sebelum letusan Gunung Batur yang dasyat pada tahun 1917, Pura Batur semula terletak di kaki Gunung itu dekat tepi Barat Daya Danau Batur yang merusakkan 65.000 rumah, 2.500 Pura dan lebih dari ribuan kehidupan. Tetapi keajaiban menghentikannya pada kaki Pura. Orang-orang melihat semua ini sebagai pertanda baik dan melanjutkan untuk tetap tinggal disana. Pada tahun 1926 letusan baru menutupi seluruh Pura kecuali “Pelinggih” yang tertinggi, temapt pemujaan kepada Tuhan dalam perwujudan Dewi Danu, Dewi air danau. Kemudian warga desa bersikeras untuk menempatkannya di tempat yang lebih tinggi dan memulai tusag mereka untuk membangun kembali pura. Mereka membawa pelinggih yang masih utuh dan membangun kembali Pura Batur.
Beberapa lontar suci Bali kuno menceritakan asal mula Pura Batur yang merupakan bagian dari “sad kayangan” enam kelompok Pura yang ada di Bali yang tercatat dalam lontar Widhi Sastra, lontar Raja Purana dan Babad Pasek Kayu Selem. Pura Batur juga dinyatakan sebagai Pura “Kayangan Jagat” yang disungsung oleh masyarakat umum.
Sejarah Pura Batur merupakan persembahan untuk Dewi Kesuburan, Dewi Danu. Dia adalah Dewi dari air danau. Air yang kaya akan mineral mengalir dari Danau Batur, mengalir dari satu petak sawah ke petak sawah yang lainnya, lambat laun turun ke bumi. Dalam lontar Usaha Bali, salah satu sastra suci yang ditempatkan di pura itu, ada legenda kuno yang melukiskan susunan dari tahta Dewi Danu.
Legenda tersebut diceritakan sebagai berikut :
Pada suatu malam di awal bulan kelima Margasari Dewa Pasupati (Siwa) memindahkan puncak Gunung Mahameru di India dan membaginya menjadi dua bagian. Dibawanya satu bagian dengan tangan kirinya dan yang satunya dengan tangan kanannya. Kedua belahan itu dibawa menjadi tahta. Belahan yang dibawa dengan tangan kanannya menjadi Gunung Agung tahta untuk anaknya, Dewa Putranjaya (mahadewa Siwa) dan yang dibawanya dengan tangan kiri menjadi Gunung Batur tahta dari Dewi Danu, Dewi Air Danau. Legenda ini menjadikan Gunung terbesar di Bali dan dua elemen simbolis “laki-laki dan perempuan” (Purasa dan Pradana) atau dua asal mula manifestasi dari sumber; Tuhan (Ida Sang Hyang Wishi Wasa).
————————————————————
PENELOKAN TOURIST RESORT
Penelokan (look – out point) is situated on the southem part of Batur Tengah village, Kintamani District about 23 kms from the Bangli town or 63 km from Denpasar, capital city of Bali province.
The entire batur area, with its spectacular scenery, belongs to the district of Kintamani in northern Bangli, The Penelokan (look –out Point) offers views of Mt. Batur and Lake Batur, highlighting most tourist’s visit to Bali, At about 900 metersd above sea level, this vista point is cool and refresing throughout the year with temperatures averaging 22′ C at mid –day and 16′C at night. Penelokan is just 27 kilometers from Denpasar is well maintained ashalted roads.
Many visitors, both Domestic or Foreign, drop over to this resort, breathe the cool and refreshing mountainous air and all at once to enjoy the breath-taking beauty of panoramic view with its solidified black lavas serve as a deaf witness to the 1917 eruption which devastating entire villages surrounding it.
Meanwhile for those who laki ‘adventuring’ could go for hiking up to the peak. The beauty of this caldera or crater really beggars description.
Inspite of its beautiful panoramic view, we can also take a look the beauty of lake Batur with its crytal clear water and mountainous areas serve as the unique graveyard and the Barong Brutuk of Trunyan village which can’t be found anywhere else in Bali.
KEDISAN VILLAGE
Kedisan village is located on the southem bank of Mount Batur, 7 kms from Penelokan and belongs to Kintamani district or 27 kms on the northern regency of Bangli.
An idyllic little village, cool and refreshing air and hospitable people along with other villages such as Batur Buahan, Trunyan, and Songan village is called Bintang Danu village because of their location on the banks of Mount Batur.
It has its own dockyard where one can hire a boat to visit the unique village of Trunyan. The cost of around trip-tickets and its schedules have been set by the LLASDP.
TERUNYAN VILLAGE
The name of Trunyan is derived from the words ‘Taru’ and Menyan’: the smell of a fragrant tren of incense which grows in that village. The villages consider that the tree is very important because the corpses of the dead person are just laid down on the open grave under the tree and lefthe faces open ; whereas their bodies are simply covered by white clothes and by ‘ancak saji’. This method of burying corpses is called “MEPASAH”.
The village of Terunyan lays on the banl of lake Batur or on the west foot of Abang hill of Kintamani District. It is a village inhabited by the ‘Origines’ of Bali Aga with its unique cultural aspects. This village is attainable only by boat from Kedisan village, crossing along lake Batur in 30 minutes.
PANCERING JAGAT TEMPLE
The Temple of Pancering Jagat is located at Trunyan village, Kintamani District. The name of the temple is derived from themegalithic status with 4 meters high, locally known as Arca da Tonta or Ratu Gede Pusering jagat among the common people. The ceremony in this temple takes place on purnamaning sasih kapat around October. On the same accasion the Barong Brutuk dance is performed for commemorating the legendary wedding anniversary between Ratu Sakti Pancering Jagat; the patron guardian of the village and Ratu Ayu dalem Pingt ( Ratu Ayu Dalem dasar). This temple is worshipped only by people of Trunyan.TOYA BUNGKAH
Toya Bungkah is located on the west Bank of lake Batur, 11 kms from Penelokan, Kintamani Distric. This resort is refresh and quit and is a good spot for fishing water is considered to be derived from the foot of mount Batur. The villagers believe that it has curative power for all kind of skin diseases. This resort is renown in tourism since 1930 especially among foreign anthropologists. Tourism facilities available here are quest houses, Hotel and restaurants and a hall for performing both traditional and newly created dances.
PUNCAK PENULISAN TEMPLE
Puncak Penulisan Temple is situated at 1745 meters above sea level about 3 kms from Kintamani, or 30 kms from the capital town of Bangli regency, on the east side of the road leading to Denpasar or Singaraja.
Based on the road-Balinese manuscripts, it was told that Bukit Penulisan is also called Bukit Tunggal since its location is separated from the chain of mountains, stretching along from west to east, dividing Bali island into 2 parts, the northern and southern Bali.
Around IX century on the peak of this Bukit Penulisan, the temple of Tegeh Koripan was constructed wich is commonly called Pura Pucak Penulisan because it is located at the peak of Penulisan Hill.
The temple of Puncak Penulisan, beside its location on a hill, composed of several terraces, even up to 11 terraces.
These terraces reveal the continuation of the pyramidal from of cultural aspects of the megalithic age. Its is also a complexes respectively called Pura Danu and Pura Taman Danu, located on the third called Pura Ratu Penyarikan, located on the 4th terrace also on the west part of the temple.
The 4th complex, Pura Ratu Daha Tua, is located at the west side on the 16th terrace.
The last or the fifth complex is Pura Panarajon situated on the eastside of the peak. This complex is the highest one compared to the four former complexes . Inside of this temple complex, visitors can find stone made statues and are believed to be derived from olden Balinese period as the remains of the megalithic culture.
THE HISTORY OF THE PUNCAK PENULISAN TEMPLE
The temple complex at Penulisan was in a territory that was settled by the Broze Age, which began about 300 B.C. and continued well into the first millennium A.D from the 10th century until the Majapahit conquest in 1343, this area was controlled by the kingdom of Pejeng –Bedulu. Its kingks issued controlled by the kingdom of Pejeng-Bedulu. Its kings issued decrees written on plates of broze, from which scholars have been able to reconstruct the history of the Kingdom. Many inscriptions describe the founding of Hindu and Buddhist monasteries within a village territory and the freeing of that village from certain state taxes to pay for the monasteries upkeep.
Inside the temple complex grounds there are several covered pavilions or bales lines of fine statues ; portraits of Balinese kings, queens and divinities. Archaeological data concering, the history of this temple has been gathered by local experts from several inscriptions on these statues dating from the 11th century and the 15th century;
A) Inscripton Penulisan I: dates from 1011 A.D. (Cakra 933) and is credited to the king, Mpu Bga Anatah.
B) Inscriptions from Pura Bukit Indrakila A (Near Kintamani village) dated 1016 A.D. (Caka 938) tells that the people of Parcanigayan (the former name of caninganvillage, near Dausa village in Kintamani ) asked their king, Anak Wungsu, to be excused from attending the compulsory memorial ceremonies being held his deceased wife, Bhatari Mandul. The people Sukawana village were granted their request.
C) Inscription Penulisan V : dead 1332 A.D. (Caka 1254), it reads …t 9asu), Ra Ratna Bhumi or Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten.
Raja Sri Asta Sura Ratna Bhumi Banten is the name of the last Balinese king who rule Bali during the 1343 expedition of Gajah Mada, the famous 14th century peneral of the East Javanese Majapahit empire who worked throughout his life for Indonesia unification by ruling much of the country, including Bali.
By summarizing the inscriptions from Penulisan Temple we can conclude that in 1016 A.D. it served as a place to pay homage to the late wife of King Anak Wungsu. It continued to served as the mountain sanctuary of the Pejeng-Bedulu Kingdom from the 10th century until the Majapahit conquest in 1343, just as Pura Besakih was the state mountain sanctuarly for the later Gelgel Dynasty of Klungkung (15th – 17th Centuries).
BATUR TEMPLE
Batur Temple or commonly called Ulun danu Temple is situated at 900 meters above sea level of Kalanganyar Batur village Kintamani District on the eastern side of the main road leading to danpasar or Singaraja via bangle.
The temple faced west ward where Mount batur and remains of its solodofied black lavas serve as back drop and Lake stretches far down the slope, enhanced the beauty of nature around the temple.
Formerly, before it is in its present location Batur Temple is located on the south western slope of Mount Batur since the devastating eruption in 1917 which destroyed everything, including the temple it self. Then initiated by the head of the village along with other prominent figures, they brought the surviving shrines with them and rebuilt batur Temple to the higher place at Kalanganyar on its present location.
The ceremony in this temple is held annually commonly called Ngusaba ke Dasa.
THE HISTORY OF BATUR TEMPLE
Before Mt. Batur’s devastating eruption in 1917, Batur Temple was originally located at the base of the volcano near the south western shore Of Lake Batur Lavacovered the village of Batur, destroying 65.000 houses, 2.500 temple and more then a thousand lives butmiraculously stopped at the foot at the temple. The people took this as the good omen and continued to live there. In 1926, a new eruption buried the entire temple except the highest shrine, dedicated to god in his manifestation as Dewi Danu, the Goddess of the lakes and waters. The villagers were then forced to resettle on high ridges and begin their task of rebuilding their temple. They brought the serviving shrine with them and rebuilt Batur Temple, commonly known as Pura Ulun danu of Batur village.
Several ancient Balinese holy manuscripts (lontar) have served as sources of information describing the history of Batur Temple. Its significance as part of the “Sad Kahyangan”, a group of the six most revered temples on Bali, is documented in the Babad Pasek Kayu Slelem. Batur Temple is also refered to as “Kahyangan Jagat” temple which means it is a public place of worship.
Throughout its history Batur Temple has been a sanctuary dedicated to the fertility Goddess, Dewi Danu. She is the Goddess of lakes and waters. Mineral rich waters flow from Lake Batur,led from one rice terrace to another, in descending steps to the sea. In the Usana Bali Lontar, one of the sacred texts housed at the temple, there is an ancient legend the describes the formation of Dewi Danu’s throne. The legend goes as follows :
It is said that on the night of the new moon during Margasari the fifth month, the God Pasupati (Siwa) removed the peak of the sacred Hindu Mt. Mahameru in India and devided it into two parts. Carrying one part in his left hand and the other in his right the two pieces were brought to Bali to be used as thrones. The piece carried in the right hand became Mt. Agung – the throne for his son, the God Putranjaya ( Mahadewa Siwa ) and the remaining portion carried in the left hand became Mt. Batur – the throne for Dewi Danu, the Goddess of the lakes and waters. This legend refers to Bali’s two most revered volcanoes Gunung Agung and Gunung Batur as two symbolic elements ; male and female ( Purusa and Pradana ) , or two complimentary manifestations originating from one source; God ( Ida Sang Hyang Widhi ).
Reinkarnasi / Punarbawa
Reinkarnasi, Punarbhawa tidak terbatas ruang dan waktu, karena di alam roh tidak dikenal roh Arab, India, Cina, Bali dsb. Yang ada hanyalah roh besar, yang akan mengecil ketika mengisi wadag yang kecil, seperti semut misalnya; dan ia akan menjadi besar ketika mengisi wadag, seperti gajah. Roh tidak mengenal masa lampau, masa sekarang maupun masa depan; karena roh tidak terpengaruh oleh ketiga masa itu. Pedanda menegaskan bahwa punarbhawa tidak selalu terjadi dilingkungan keluarga saja, atau berasal dari leluhur. Punarbhawa bisa terjadi dari seluruh manusia di permukaan bumi ini. Bahkan punarbhawa bisa terjadi dari mahluk-mahluk lain, selain manusia.
Roh itu ibarat sekumpulan awan yang kemudian berubah menjadi titik-titik air hujan yang kemudian jatuh, ke bumi. Ada yang jatuh di laut, ada pula yang jatuh di darat. Dan titik air haujan, baik yang jatuh di laut maupun di darat sulit dikenali lagi karena sudah bercampur dengan air laut dan tanah. Baik air hujan yang jatuh di laut maupun di darat, nanti pada akhirnya berkumpul di laut juga. Yang jatuh di laut berarti kembali ke asal, karena awan berasal dari penguapan air laut, sedangkan yang jatuh di pegunungan akan menjadi tirtha. Manusia mati ibarat uap setitik air laut (roh individual) yang karena ringan naik keangkasa dan berkumpul dengan uap air-air laut (berbagai roh), membentuk awan (roh besar), yang lalu karena berat oleh muatan beban (karma wasana masa lalu), lalu jatuh kembali (punarbhawa) ke bumi. Gambaran ini merupakan gambaran perjalanan roh melalui punarbhawa yang tiada habisnya, sampai ketika suatu saat semua beban-beban yang memberatkan sang roh hilang lenyap, maka ia tidak akan jatuh lagi, tetapi menyatu dengan Hyang Widhi menuju moksa.
Oleh karena itu dalam pustaka Sarasamuccaya disebutkan, berbahagialah hidup menjadi manusia, karena dengan perbuatan baik akan mampu memperbaiki perbuatan buruk. Dan ini akan menjadi modal untuk kehidupan nanti melalui punarbhawa. Cerita tentang pelajaran punarbhawa ini disebutkan dalam pustaka Agastya Parwa (sebuah parwa aliran Siwa), melalui percakapan antara Bhagawan Agastya dengan putranya. Dan percakapan antara sang Bhagawan dengan putranya juga menjadi pelajaran untuk kita agar selalu terjadi komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya.
Punarbhawa di Bali
Pembuktian punarbhawa yang gamblang dan mudah dimengerti terdapat dalam keseharian kehidupan beragama umat HIndu di Bali. Untuk bayi yang berusia 12 hari sudah saatnya dicari sang punarbhawa-nya, yang menitis pada sang bayi; untuk mencari “sapa sira sane rawuh”. Umumnya akan didapat informasi tentang seseorang yang ingin “ngidih nasi” di keluarga ini ini melalui kelahiran sang bayi. Sebuah contoh kejadian nyata di India Selatan, seorang anak perempuan bernama Shanti Devi yang mampu mengenali benda-benda yang pernah dimilikinya dalam kehidupan sebelumnya di India Utara. Ia masih mengenali tempat-tempat tertentu dengan benda-benda tertentu, serta mengenali orang yang pernah hidup bersamanya.
Di Bali, setelah seorang anak dewasa, maka orang tuanya akan melihat betapa sang anak memiliki karakter, lagak dan gaya yang sama dengan seseorang yang mereka kenal tetapi sudah meninggal. Misalnya sang anak kelakuannya mirip dengan sang kakek atau nenek yang sudah almarhum. Ini merupakan cara mudah untuk meyakini eksistensi punarbhawa sebagai salah satu sradha umat Hindu.
Hidup Saat Ini
Kehidupan saat ini ibarat menulis permohonan untuk perjalanan kehidupan yang akan datang. Kita bersyukur kalau kehidupan nanti masih bisa menggunakan badan manusia, jangan sampai memakai badan binatang. Oleh karena itu harus diingat bahwa semua indrya ini adalah pinjaman dari Hyang Widhi; termasuk tubuh ini. Sehingga kalau kita tidak mampu memelihara “barang” pinjaman ini, maka kita pasti akan diberikan badan yang lebih jelek lagi; misalnya badan binatang atau tumbuh-tumbuhan. Dengan mengingat betapa “kecilnya” manusia ini dibanding dengan ciptaan yang ada di alam semesta ini, maka hendaknya manusia selalu sadar; bahwa semua ini akan berakhir, dan kita semua akan kembali menuju-Nya; untuk mengembalikan semua barang pinjaman tadi dan sekaligus mempertanggung-jawabkannya. Punarbhawa sebagai salah satu sradha yang harus selalu diyakini oleh umat Hindu, dan dipahami juga bahwa punarbhawa kita yang sekarang ini adalah proses untuk menuju punarbhawa berikutnya yang lebih baik.(gading sewu)
Roh itu ibarat sekumpulan awan yang kemudian berubah menjadi titik-titik air hujan yang kemudian jatuh, ke bumi. Ada yang jatuh di laut, ada pula yang jatuh di darat. Dan titik air haujan, baik yang jatuh di laut maupun di darat sulit dikenali lagi karena sudah bercampur dengan air laut dan tanah. Baik air hujan yang jatuh di laut maupun di darat, nanti pada akhirnya berkumpul di laut juga. Yang jatuh di laut berarti kembali ke asal, karena awan berasal dari penguapan air laut, sedangkan yang jatuh di pegunungan akan menjadi tirtha. Manusia mati ibarat uap setitik air laut (roh individual) yang karena ringan naik keangkasa dan berkumpul dengan uap air-air laut (berbagai roh), membentuk awan (roh besar), yang lalu karena berat oleh muatan beban (karma wasana masa lalu), lalu jatuh kembali (punarbhawa) ke bumi. Gambaran ini merupakan gambaran perjalanan roh melalui punarbhawa yang tiada habisnya, sampai ketika suatu saat semua beban-beban yang memberatkan sang roh hilang lenyap, maka ia tidak akan jatuh lagi, tetapi menyatu dengan Hyang Widhi menuju moksa.
Oleh karena itu dalam pustaka Sarasamuccaya disebutkan, berbahagialah hidup menjadi manusia, karena dengan perbuatan baik akan mampu memperbaiki perbuatan buruk. Dan ini akan menjadi modal untuk kehidupan nanti melalui punarbhawa. Cerita tentang pelajaran punarbhawa ini disebutkan dalam pustaka Agastya Parwa (sebuah parwa aliran Siwa), melalui percakapan antara Bhagawan Agastya dengan putranya. Dan percakapan antara sang Bhagawan dengan putranya juga menjadi pelajaran untuk kita agar selalu terjadi komunikasi antara orang tua dengan anak-anaknya.
Punarbhawa di Bali
Pembuktian punarbhawa yang gamblang dan mudah dimengerti terdapat dalam keseharian kehidupan beragama umat HIndu di Bali. Untuk bayi yang berusia 12 hari sudah saatnya dicari sang punarbhawa-nya, yang menitis pada sang bayi; untuk mencari “sapa sira sane rawuh”. Umumnya akan didapat informasi tentang seseorang yang ingin “ngidih nasi” di keluarga ini ini melalui kelahiran sang bayi. Sebuah contoh kejadian nyata di India Selatan, seorang anak perempuan bernama Shanti Devi yang mampu mengenali benda-benda yang pernah dimilikinya dalam kehidupan sebelumnya di India Utara. Ia masih mengenali tempat-tempat tertentu dengan benda-benda tertentu, serta mengenali orang yang pernah hidup bersamanya.
Di Bali, setelah seorang anak dewasa, maka orang tuanya akan melihat betapa sang anak memiliki karakter, lagak dan gaya yang sama dengan seseorang yang mereka kenal tetapi sudah meninggal. Misalnya sang anak kelakuannya mirip dengan sang kakek atau nenek yang sudah almarhum. Ini merupakan cara mudah untuk meyakini eksistensi punarbhawa sebagai salah satu sradha umat Hindu.
Hidup Saat Ini
Kehidupan saat ini ibarat menulis permohonan untuk perjalanan kehidupan yang akan datang. Kita bersyukur kalau kehidupan nanti masih bisa menggunakan badan manusia, jangan sampai memakai badan binatang. Oleh karena itu harus diingat bahwa semua indrya ini adalah pinjaman dari Hyang Widhi; termasuk tubuh ini. Sehingga kalau kita tidak mampu memelihara “barang” pinjaman ini, maka kita pasti akan diberikan badan yang lebih jelek lagi; misalnya badan binatang atau tumbuh-tumbuhan. Dengan mengingat betapa “kecilnya” manusia ini dibanding dengan ciptaan yang ada di alam semesta ini, maka hendaknya manusia selalu sadar; bahwa semua ini akan berakhir, dan kita semua akan kembali menuju-Nya; untuk mengembalikan semua barang pinjaman tadi dan sekaligus mempertanggung-jawabkannya. Punarbhawa sebagai salah satu sradha yang harus selalu diyakini oleh umat Hindu, dan dipahami juga bahwa punarbhawa kita yang sekarang ini adalah proses untuk menuju punarbhawa berikutnya yang lebih baik.(gading sewu)
Puja Trisandya
1. Puja Trisandya dilaksanakan tiga kali sehari karena menurut Lontar Niti Sastra, kita sebagai penganut Hindu Sekte Siwa Sidanta memuja Matahari (Surya) sebagai keagungan dan ke-maha kuasaan Hyang Widhi. Matahari juga sumber energi atau sumber kehidupan.
Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30).
Trisandya terdiri dari dua kata yaitu “Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan kepada-Nya.
Bait pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.
Setelah mengucapkan Puja Trisandya, sembahyang Kramaning Sembah.
2. Maturan sehari-hari (pagi setelah masak) disebut me-saiban. Bantennya sederhana, yaitu canang sari berisi semua jenis makanan yang dimasak hari itu.
Tempat-tempat maturan saiban diatur dalam Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah sloka ke – 68:
PANCA SUNA GRHASTHASYA CULLI PESANYU PASKARAH, KANDANI CODA KUMBHASCA BADHYATE YASTU WAHAYAN
Artinya: Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung dan alunya, tempayan tempat air dengan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa.
Maksudnya di lima tempat itu keluarga telah melakukan pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja terhadap mahluk-mahluk hidup yang dapat dilihat mata maupun tidak; karena Hindu mengenal kepercayaan Ahimsa maka pembunuhan itu adalah dosa.
Selanjutnya sloka ke – 69:
TASAM KRAMENA SARWASAM NISKRTYASTHAM MAHARSIBHIH, PANCA KIRPTA MAHAYAJNAH PRATYAHAM GRHAMEDHINAM
Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu para Maha Rsi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.
Yang dimaksud Panca Yadnya setiap hari adalah mesaiban, selain kelima tempat itu sebagai perwujudan Bhuta Yadnya, juga ke Pelinggih Dewa-Dewi: Padmasari, Kemulan Rong 3, dll. sebagai Dewa Yadnya.
Pelinggih Maha Rsi Mpu Kuturan: Manjangan Sluang, Taksu (Linggih Dewi Saraswati), dll. sebagai Rsi Yadnya, Pelinggih Hyang Kompiang sebagai Pitra Yadnya, dan setelah itu barulah segenap keluarga makan sebagai wujud Manusa Yadnya.
Pelinggih seperti: Pengerurah, Jero Gede, Sedahan Karang, dll. adalah pelinggih Bhatara Kala. Pelinggih di Kamar Suci seperti Dewa Ayu Melanting, Pejenengan, dll. adalah simbol Dewa-Dewi, sedangkan pelangkiran di kamar tidur adalah pelinggih Kanda Pat (saudara di niskala). Urut-urutan mesaiban, mulai dari pelinggih-pelinggih: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta.
3. Mesaiban di masing-masing pelinggih/ tempat pembunuhan seperti diuraikan di atas, dan sembahyang boleh dilakukan hanya di depan Piasan.
4. Mantram ketika maturan boleh dengan sesontengan bagi Walaka, namun bagi Ekajati dan Dwijati, minimal menggunakan Puja Tribhuwana.
5. Ketika sembahyang konsentrasi pikiran seperti arti kata-kata Puja Trisandya dan Kramaning sembah sebagai berikut:
PUJA TRISANDYA
* OM BUR BUWAH SWAH
* TAT SAWITUR WARENYAM
* BARGO DEWASYA DIMAHI
* DIYOYONAH PRACODAYAT
* Hyang Widhi yang berada di alam bumi, langit dan sorga
* Itulah Tuhan yang amat mulia
* Hamba pusatkan perhatian pada sinar-Mu yg. cemerlang
* Semoga memberikan semangat pada pikiran hamba
* OM NARAYANA EWEDAM SARWAM
* YAD BUTAM YACO BAWIYAM
* NISKALANGKO NIRANJANO NIRWIKALPO
* NIRAKYATAH SUDO DEWO EKO
* NARAYANA NA DWITIO ASTI KASCIT
* Semuanya adalah ciptaan-Mu
* Yang telah ada maupun yang akan ada
* Tuhan yang bebas dari noda, kotoran, dan perubahan (kekal abadi)
* Tuhan yang Esa, suci, dan tak tergambarkan
* Tuhan tiada yang kedua atau yang lain
* OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH
* ISWARAH PARAMESWARAH
* BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA
* PURUSAH PARIKIRTITAH
* Engkaulah Siwa yang pengasih, Mahadewa yang Agung
* Iswara penguasa yang tertinggi
* Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Rudra pralina
* Sebagai jiwa alam semesta
* OM PAPOHAM PAPA KARMAHAM
* PAPAATMA PAPASAMBAWAH
* TRAHI MAM PUNDARIKAKSA
* SABAHYA BIANTARA SUCI
* Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa
* Jiwa hambapun papa
* Mohon Engkau melindungi hamba
* Agar hamba menjadi suci lahir batin
* OM KSAMASWA MAM MAHADEWA
* SARWAPRANI HITANGKARA
* MAM MOCA SARWA PAPEBYAH
* PALAYASWA SADA SIWA
* OM KSANTAWIYAH KAYIKO DOSAH
* Tuhan, ampunilah hamba
* Engkau yang membahagiakan semua mahluk
* Ampunilah semua dosa hamba
* Lindungilah hamba, oh Tuhan
* Tuhan, ampunilah dosa perbuatan hamba
* KSANTAWYO WACIKO MAMA
* KSANTAWYO MANASO DOSAH
* TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM
* OM SANTI, SANTI, SANTI, OM
* Ampunilah dosa kata-kata hamba
* Ampuni pula dosa pikiran hamba
* Semua kelalaian hamba itu, ampunilah
* Semoga sejahtera, ya Tuhan
KRAMANING SEMBAH
* OM ATMA TATTWATMA SUDA MAM SWAHA
* Tuhan, sucikanlah batin hamba
* OM ADITISYA PARAMJOTI
* RAKTA TEJA NAMO STUTE
* SWETA PANGKAJA MADIASTA
* BASKARAYA NAMO STUTE
* Tuhan, bagai sinar surya yang maha hebat
* Yang bersinar merah
* Yang berada ditengah-tengah teratai putih
* Hamba menyembahmu
* OM NAMA DEWA ADISTANAYA
* SARWA WYAPI WAI SIWAYA
* PADMASANA EKAPRATISTAYA
* ARDANARESWARIYAI NAMO NAMAH
* Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi
* Engkau adalah Siwa yang berada dimana-mana
* Yang bersemayan diatas bunga teratai
* Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembahmu
* OM ANUGRAHA MANOHARA
* DEWA DATA NUGRAHAKA
* ARCANAM SARWA PUJANAM
* NAMAH SARWA NUGRAHAKA
* Engkau yang memikat pemberi anugrah
* Anugrah dari Tuhan
* Puja-puji semuanya
* Hamba menyembahmu pemberi anugrah
* DEWA DEWI MAHASIDI
* YAJNANGA NIRMALATMAKA
* LAKSMI SIDISCA DIRGAYUH
* NIRWIGNA SUKA WERDISCA
* OM DEWA SUKSMA
* PARAMACINTYA YA NAMAH SWAHA
* Tuhan yamg maha kuasa
* Yang beryadnya dan maha suci
* Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur
* Pemberi kebebasan, kegembiraan dan kemajuan
* Tuhan, junjunganku
* Yang tak terpikirkan, maha tinggi dan gaib.
Ketika bersembahyang tidak meminta sesuatu kepada-Nya, selain mengucapkan doa-doa seperti tersebut di atas. Perhatikanlah makna Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:
HANA MARA JANMA TAN PAPIHUTANG BRATA YOGA TAPA SAMADI ANGETEKUL AMINTA WIRYA SUKA NING WIDHI SAHASAIKA, BINALIKAKEN PURIH NIKA LEWIH TINEMUNIYA LARA, SINAKITANING RAJAH TAMAH INANDEHANING PRIHATI
Artinya: Adalah orang yang tidak pernah melaksanakan brata tapa yoga samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati.
Itu berarti pula bahwa Hyang Widhi mengasihi dan memberkati hamba-Nya yang melaksanakan brata tapa yogi samadi terus menerus tanpa mengharap pahala.
Pemujaan itu dimulai pagi-pagi menyongsong terbitnya matahari (sekitar jam 05.30), siang hari tepat jam 12.00 ketika Bumi berada dalam posisi yang menerima panas Matahari maksimum, dan sore hari ketika matahari menjelang “tenggelam” (sekitar jam 18.30).
Trisandya terdiri dari dua kata yaitu “Tri” artinya tiga, “Sandya” artinya sembahyang. Jadi Trisandya artinya sembahyang tiga kali sehari. Puja Trisandya diucapkan secara lengkap keenam baitnya, karena tiga bait pertama adalah puja-puji kepada Hyang Widhi, dan tiga bait terakhir adalah permohonan ampun dan kepasrahan kepada-Nya.
Bait pertama disebut Mantram Gayatri, dapat digunakan dalam waktu sempit/ penting misalnya sebelum berangkat (starter) kendaraan, ketika akan menyeberang sungai, menjelang dan setelah kelahiran bayi, mendoakan orang sakit agar lekas sembuh, dll.
Setelah mengucapkan Puja Trisandya, sembahyang Kramaning Sembah.
2. Maturan sehari-hari (pagi setelah masak) disebut me-saiban. Bantennya sederhana, yaitu canang sari berisi semua jenis makanan yang dimasak hari itu.
Tempat-tempat maturan saiban diatur dalam Manawa Dharmasastra Tritiyo Dhyayah sloka ke – 68:
PANCA SUNA GRHASTHASYA CULLI PESANYU PASKARAH, KANDANI CODA KUMBHASCA BADHYATE YASTU WAHAYAN
Artinya: Seorang kepala keluarga mempunyai lima macam tempat penyembelihan yaitu tempat masak, batu pengasah, sapu, lesung dan alunya, tempayan tempat air dengan pemakaian mana ia diikat oleh belenggu dosa.
Maksudnya di lima tempat itu keluarga telah melakukan pembunuhan secara sengaja atau tidak sengaja terhadap mahluk-mahluk hidup yang dapat dilihat mata maupun tidak; karena Hindu mengenal kepercayaan Ahimsa maka pembunuhan itu adalah dosa.
Selanjutnya sloka ke – 69:
TASAM KRAMENA SARWASAM NISKRTYASTHAM MAHARSIBHIH, PANCA KIRPTA MAHAYAJNAH PRATYAHAM GRHAMEDHINAM
Artinya: Untuk menebus dosa yang ditimbulkan oleh pemakaian kelima alat itu para Maha Rsi telah menggariskan untuk para kepala keluarga agar setiap harinya melakukan Panca Yadnya.
Yang dimaksud Panca Yadnya setiap hari adalah mesaiban, selain kelima tempat itu sebagai perwujudan Bhuta Yadnya, juga ke Pelinggih Dewa-Dewi: Padmasari, Kemulan Rong 3, dll. sebagai Dewa Yadnya.
Pelinggih Maha Rsi Mpu Kuturan: Manjangan Sluang, Taksu (Linggih Dewi Saraswati), dll. sebagai Rsi Yadnya, Pelinggih Hyang Kompiang sebagai Pitra Yadnya, dan setelah itu barulah segenap keluarga makan sebagai wujud Manusa Yadnya.
Pelinggih seperti: Pengerurah, Jero Gede, Sedahan Karang, dll. adalah pelinggih Bhatara Kala. Pelinggih di Kamar Suci seperti Dewa Ayu Melanting, Pejenengan, dll. adalah simbol Dewa-Dewi, sedangkan pelangkiran di kamar tidur adalah pelinggih Kanda Pat (saudara di niskala). Urut-urutan mesaiban, mulai dari pelinggih-pelinggih: Dewa, Rsi, Pitra, Manusa, dan Bhuta.
3. Mesaiban di masing-masing pelinggih/ tempat pembunuhan seperti diuraikan di atas, dan sembahyang boleh dilakukan hanya di depan Piasan.
4. Mantram ketika maturan boleh dengan sesontengan bagi Walaka, namun bagi Ekajati dan Dwijati, minimal menggunakan Puja Tribhuwana.
5. Ketika sembahyang konsentrasi pikiran seperti arti kata-kata Puja Trisandya dan Kramaning sembah sebagai berikut:
PUJA TRISANDYA
* OM BUR BUWAH SWAH
* TAT SAWITUR WARENYAM
* BARGO DEWASYA DIMAHI
* DIYOYONAH PRACODAYAT
* Hyang Widhi yang berada di alam bumi, langit dan sorga
* Itulah Tuhan yang amat mulia
* Hamba pusatkan perhatian pada sinar-Mu yg. cemerlang
* Semoga memberikan semangat pada pikiran hamba
* OM NARAYANA EWEDAM SARWAM
* YAD BUTAM YACO BAWIYAM
* NISKALANGKO NIRANJANO NIRWIKALPO
* NIRAKYATAH SUDO DEWO EKO
* NARAYANA NA DWITIO ASTI KASCIT
* Semuanya adalah ciptaan-Mu
* Yang telah ada maupun yang akan ada
* Tuhan yang bebas dari noda, kotoran, dan perubahan (kekal abadi)
* Tuhan yang Esa, suci, dan tak tergambarkan
* Tuhan tiada yang kedua atau yang lain
* OM TWAM SIWAH TWAM MAHADEWAH
* ISWARAH PARAMESWARAH
* BRAHMA WISNUSCA RUDRASCA
* PURUSAH PARIKIRTITAH
* Engkaulah Siwa yang pengasih, Mahadewa yang Agung
* Iswara penguasa yang tertinggi
* Brahma pencipta, Wisnu pemelihara, Rudra pralina
* Sebagai jiwa alam semesta
* OM PAPOHAM PAPA KARMAHAM
* PAPAATMA PAPASAMBAWAH
* TRAHI MAM PUNDARIKAKSA
* SABAHYA BIANTARA SUCI
* Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa
* Jiwa hambapun papa
* Mohon Engkau melindungi hamba
* Agar hamba menjadi suci lahir batin
* OM KSAMASWA MAM MAHADEWA
* SARWAPRANI HITANGKARA
* MAM MOCA SARWA PAPEBYAH
* PALAYASWA SADA SIWA
* OM KSANTAWIYAH KAYIKO DOSAH
* Tuhan, ampunilah hamba
* Engkau yang membahagiakan semua mahluk
* Ampunilah semua dosa hamba
* Lindungilah hamba, oh Tuhan
* Tuhan, ampunilah dosa perbuatan hamba
* KSANTAWYO WACIKO MAMA
* KSANTAWYO MANASO DOSAH
* TAT PRAMADAT KSAMASWA MAM
* OM SANTI, SANTI, SANTI, OM
* Ampunilah dosa kata-kata hamba
* Ampuni pula dosa pikiran hamba
* Semua kelalaian hamba itu, ampunilah
* Semoga sejahtera, ya Tuhan
KRAMANING SEMBAH
* OM ATMA TATTWATMA SUDA MAM SWAHA
* Tuhan, sucikanlah batin hamba
* OM ADITISYA PARAMJOTI
* RAKTA TEJA NAMO STUTE
* SWETA PANGKAJA MADIASTA
* BASKARAYA NAMO STUTE
* Tuhan, bagai sinar surya yang maha hebat
* Yang bersinar merah
* Yang berada ditengah-tengah teratai putih
* Hamba menyembahmu
* OM NAMA DEWA ADISTANAYA
* SARWA WYAPI WAI SIWAYA
* PADMASANA EKAPRATISTAYA
* ARDANARESWARIYAI NAMO NAMAH
* Tuhan yang bersemayam di tempat yang tinggi
* Engkau adalah Siwa yang berada dimana-mana
* Yang bersemayan diatas bunga teratai
* Engkau juga Ardanareswari, hamba menyembahmu
* OM ANUGRAHA MANOHARA
* DEWA DATA NUGRAHAKA
* ARCANAM SARWA PUJANAM
* NAMAH SARWA NUGRAHAKA
* Engkau yang memikat pemberi anugrah
* Anugrah dari Tuhan
* Puja-puji semuanya
* Hamba menyembahmu pemberi anugrah
* DEWA DEWI MAHASIDI
* YAJNANGA NIRMALATMAKA
* LAKSMI SIDISCA DIRGAYUH
* NIRWIGNA SUKA WERDISCA
* OM DEWA SUKSMA
* PARAMACINTYA YA NAMAH SWAHA
* Tuhan yamg maha kuasa
* Yang beryadnya dan maha suci
* Pemberi kebahagiaan, kesempurnaan, panjang umur
* Pemberi kebebasan, kegembiraan dan kemajuan
* Tuhan, junjunganku
* Yang tak terpikirkan, maha tinggi dan gaib.
Ketika bersembahyang tidak meminta sesuatu kepada-Nya, selain mengucapkan doa-doa seperti tersebut di atas. Perhatikanlah makna Kekawin Arjuna Wiwaha sebagai berikut:
HANA MARA JANMA TAN PAPIHUTANG BRATA YOGA TAPA SAMADI ANGETEKUL AMINTA WIRYA SUKA NING WIDHI SAHASAIKA, BINALIKAKEN PURIH NIKA LEWIH TINEMUNIYA LARA, SINAKITANING RAJAH TAMAH INANDEHANING PRIHATI
Artinya: Adalah orang yang tidak pernah melaksanakan brata tapa yoga samadi, dengan lancang ia memohon kesenangan kepada Widhi (dengan memaksa) maka ditolaklah harapannya itu sehingga akhirnya ia menemui penderitaan dan kesedihan, disakiti oleh sifat-sifat rajah (angkara murka/ ambisius) dan tamah (malas dan loba), ditindih oleh rasa sakit hati.
Itu berarti pula bahwa Hyang Widhi mengasihi dan memberkati hamba-Nya yang melaksanakan brata tapa yogi samadi terus menerus tanpa mengharap pahala.
Senin, 25 April 2011
Sejarah Kabupaten Karangasem dan Kota Amlapura
Sejarah Kabupaten Karangasem dan Kota Amlapura
Thursday, 06 January 2011 08:20 administrator
E-mail Print PDF
Sejarah Singkat Kabupaten Karangasem
Sebelum tahun 1908 Kabupaten Karangasem merupakan wilayah kerajaan di bawah kekuasaan raja-raja. Tercatat raja yang terakhir sampai tahun 1908 adalah Ida Anak Agung Gde Djelantik yang membawahi 21 Punggawa, yaitu Karangasem, Seraya, Bugbug, Ababi, Abang, Culik, Kubu, Tianyar, Pesedahan, Manggis, Antiga, Ulakan, Bebandem, Sibetan, Pesangkan, Selat, Muncan, Rendang, Besakih, Sidemen dan Talibeng.
Setelah Belanda menguasai Karangasem, terhitung mulai tanggai 1 Januari 1909 dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1908 No. 22, Kerajaan Karangasem dihapuskan dan dirubah menjadi Gauverments Lanschap Karangasem di bawah Pimpinan I Gusti Gde Djelantik (Anak angkat Raja Ida Anak Agung Gde Djelantik) yang memakai gelar Stedehouder. Jumlah kepunggawaan pada saat itu diciutkan dari 21 menjadi 14, yaitu Karangasem, Bugbug, Ababi, Abang, Kubu, Manggis, Antiga, Bebandem, Sibetan, Pesangkan, Pesangkan Selat, Muncan, Rendang dan Sidemen.
Dengan Keputusan Gubernur Hindia Belanda tertanggal 16 Desember 1921 No. 27 Stbl No. 756 tahun 1921 terhitung mulai tanggal 1 Januari 1922, Gouvernements Lanschap Karangasem dihapuskan, dirubah menjadi daerah otonomi, langsung di bawah Pemerintahan Hindia Belanda, terbentuklah Karangasem Raad yang diketuai oleh Regent I Gusti Agung Bagus Djelantik, yang umum dikenal sebagai Ida Anak Agung Bagus Djelantik, sedangkan sebagai Sekretaris dijabat oleh Controleur Karangasem.
Sebagai Regent Ida Anak Agung Bagus Djelantik masih mempergunakan gelar Stedehouder. Jumlah Punggawa yang sebelumnya berjumlah 14 buah dikurangi lagi sehingga menjadi 8 buah, yaitu : Rendang, Selat, Sidemen, Bebandem, Manggis, Karangasem, Abang, Kubu. Dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 4 September 1928 No. I gelar Stedehouder diganti dengan gelar Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem.
Dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 30 Juni 1938 No. 1 terhitung mulai tanggal 1 Juli 1938 beliau diangkat menjadi Zelfbesteur Karangasem (terbentuknya swapraja). Bersamaan dengan terbentuknya Zelfbesteur Karangasem, terhitung mulai tanggal 1 Juli 1938 terbentuk pulalah Zelfbesteur - Zelfbesteur di seluruh Bali, yaitu Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana dan Buleleng, dimana swapraja-swapraja (Zelfbesteur) tersebut tergabung menjadi federasi dalam bentuk Paruman Agung.
Pada atahun 1942 Jepang masuk ke Bali, Paruman Agung diubah menjadi Sutyo Renmei. Pada tahun 1946 setelah Jepang menyerah, Bali menjadi bagian dari Pemerintah Negara Indonesia Timur dan Swapraja di Bali diubah menjadi Dewan Raja-Raja dengan berkedudukan di Denpasar dan diketuai oleh seorang Raja.
Pada bulan Oktober 1950, Swapraja Karangasem berbentuk Dewan Pemerintahan Karangasem yang diketuai oleh ketua Dewan Pemerintahan Harian yang dijabat oleh Kepala Swapraja (Raja) serta dibantu oleh para anggota Majelis Pemerintah Harian. Pada tahun 1951, istilah Anggota Majelis Pemerintah Harian diganti menjadi Anggota Dewan Pemerintah Karangasem. Berdasarkan UU No. 69 tahun 1958 terhitung mulai tanggal 1 Desember 1958, daerah-daerah swapraja diubah menjadi Daerah Tingkat II Karangasem.
Sejarah Singkat Kota Amlapura
Menurut Pebancangah Babad Dalem, bahwa semenjak bertahta Raja I Dewa Karang Amla, Wilayah Kota Amlapura ini disebut Desa Batuaya. Kemudian tahta berganti sampai masa raja Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, yang istananya di Puri Amlaraja, pada saat itu sebutan Karangasem sudah dipakai, yang dalam hal ini dikukuhkan oleh Piagam Pura Bukit. Dengan bertahtanya Raja Anak Agung Gde Putu dan Anak Agung Gde Oka, Awig-Awig Desa Batuaya diubah menjadi Awig-Awig Amlapura. Kemudian dibawah pemerintahan Anak Agung Gde Jelantik, sebutan Wilayah Kota Amlapura ini kembali disebut Karangasem sebagai suatu pusat pemerintahan.
Dengan Keputusan Mentri Dalam Negeri (Mendagri) tertanggal 28 November 1970 No. 284 tahun 1970, terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970, Ibu Kota Karangasem
diubah menjadi Amlapura, kembali sebagai nama Kerajaan Karangasem yang bertahta di Kota Karang Amla (Amla berarti Asem).
Riwayat Singkat Lahirnya Nama Amlapura
Pada saat itu semenjak terjadi penyerahan kekuasaan kerajaan Karangasem dari pemegang tampuk kekuasaan Raja Batuaya kepada pihak Puri Karangasem, merupakan masa peralihan dari sistim kerajan kepada sistem Pemerintahan Republik, dimana wilayah Kota Amlapura sekarang bernama Amlanegantun.
Mula-mula Ibu Kota Karangasem masih berpusat dengan nama Karangasem pula. Mengingat beberapa Kabupaten di Bali sudah memiliki Ibu Kota seperti Buleleng dengan Kota Singaraja - Singa Ambararaja, Jembrana dengan Kota Negara, Badung dengan Ibu Kota Denpasar, maka dicarilah upaya untuk mencari nama terbaik Ibu Kota Karangasem.
Anak Agung Gde Karang yang menjadi Bupati saat itu berkonsultasi dengan Ketua DPRD Ida Wayan Pidada, hingga menemukan nama Amlepure (Amlapura) yang artinya, Amla berarti buah-buahan, sebagaimana layaknya daerah Karangasem yang memiliki potensi buah-buahan yang sangat beragam, buah apapun yang ada di Bali di Karangasem pun ada. Dari asal nama wilayah Amlanegantun dan sebagai pusat buah-buahan yang beragam, maka lahirlah nama Amlapura (Pura = tempat, Amla = buah).
Nama Amlapura akhirnya diresmikan sebagai Ibu Kota Kabupaten Karangasem dengan turunnya Kep. Mendagri tanggal 28 Nopember 1970 No. 284 tahun 1970, dan terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970, Kota Karangasem sebagai Ibu Kota Dati II diubah menjadi Amlapura, bersamaan dengan Upacara Pembukaan Selubung Monument Lambang Daerah, oleh Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) XV Bali, sebagai Panji kebanggaan Kabupaten Karangasem di Lapangan Tanah Aron. Dan yang menggembirakan saat itu Kabupaten Karangasem menerima penghargaan Sertifikat dan Tropy Patung dan hadiah berupa uang Rp. 200,00 sebagai Kabupaten Terbersih di Bali. Kini Karangasem pada peringatan hut Kota Amlapura ke-39 juga menjadi Kota Terbersih tidak hanya se-Propinsi Bali tetapi se-Indonesia dengan meraih Trophy Adipura.
Lambang Daerah diambil dari simbol Gunung Agung yang mengepulkan asap dengan membentuk Pulau Bali dengan Tugu Pahlawan di tengah, dikelilingi padi dan kapas menandakan simbol kemakmuran Gunung Agung dengan Pura Besakih sebagai pusat ritual umat Hindhu serta memiliki sejarah sebagai daerah perjuangan, murah sandang pangan, gemah ripah loh jinawi berkat lahar Gunung Agung.
Sedangkan garis merah merupakan simbol Karangasem ngemong Pura Kiduling Kreteg di Besakih.
Kepala Daerah dari masa ke masa
Para pejabat yang pernah memegang jabatan sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karangasem / Bupati dan Wakil Bupati Karangasem, yaitu :
Anak Agung Gde Jelantik ( 1951 – 1960 )
I Gusti Lanang Rai ( 1960 – 1967 )
Anak Agung Gde Karang ( 1967 – 1979 )
Letkol Pol I Gusti Nyoman Yudana ( 1979 – 1989 )
Kolonel Pol. I Ketut Mertha, Sm.Ik. S.sos ( 1989 – 1999 )
Drs. I Gede Sumantara Adi Prenatha dan Drs. I Gusti Putu Widjera ( 1999 – 2005 )
I Wayan Geredeg, S.H. dan Drs. I Gusti Lanang Rai, M. Si. ( 2005 – 2010 )
I Wayan Geredeg, S.H. dan I Nengah Sukerena, S.H. (2010 - 2015)
Last Updated ( Monday, 17 January 2011 04:24 )
Thursday, 06 January 2011 08:20 administrator
E-mail Print PDF
Sejarah Singkat Kabupaten Karangasem
Sebelum tahun 1908 Kabupaten Karangasem merupakan wilayah kerajaan di bawah kekuasaan raja-raja. Tercatat raja yang terakhir sampai tahun 1908 adalah Ida Anak Agung Gde Djelantik yang membawahi 21 Punggawa, yaitu Karangasem, Seraya, Bugbug, Ababi, Abang, Culik, Kubu, Tianyar, Pesedahan, Manggis, Antiga, Ulakan, Bebandem, Sibetan, Pesangkan, Selat, Muncan, Rendang, Besakih, Sidemen dan Talibeng.
Setelah Belanda menguasai Karangasem, terhitung mulai tanggai 1 Januari 1909 dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 28 Desember 1908 No. 22, Kerajaan Karangasem dihapuskan dan dirubah menjadi Gauverments Lanschap Karangasem di bawah Pimpinan I Gusti Gde Djelantik (Anak angkat Raja Ida Anak Agung Gde Djelantik) yang memakai gelar Stedehouder. Jumlah kepunggawaan pada saat itu diciutkan dari 21 menjadi 14, yaitu Karangasem, Bugbug, Ababi, Abang, Kubu, Manggis, Antiga, Bebandem, Sibetan, Pesangkan, Pesangkan Selat, Muncan, Rendang dan Sidemen.
Dengan Keputusan Gubernur Hindia Belanda tertanggal 16 Desember 1921 No. 27 Stbl No. 756 tahun 1921 terhitung mulai tanggal 1 Januari 1922, Gouvernements Lanschap Karangasem dihapuskan, dirubah menjadi daerah otonomi, langsung di bawah Pemerintahan Hindia Belanda, terbentuklah Karangasem Raad yang diketuai oleh Regent I Gusti Agung Bagus Djelantik, yang umum dikenal sebagai Ida Anak Agung Bagus Djelantik, sedangkan sebagai Sekretaris dijabat oleh Controleur Karangasem.
Sebagai Regent Ida Anak Agung Bagus Djelantik masih mempergunakan gelar Stedehouder. Jumlah Punggawa yang sebelumnya berjumlah 14 buah dikurangi lagi sehingga menjadi 8 buah, yaitu : Rendang, Selat, Sidemen, Bebandem, Manggis, Karangasem, Abang, Kubu. Dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 4 September 1928 No. I gelar Stedehouder diganti dengan gelar Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem.
Dengan Keputusan Gubernur Djendral Hindia Belanda tertanggal 30 Juni 1938 No. 1 terhitung mulai tanggal 1 Juli 1938 beliau diangkat menjadi Zelfbesteur Karangasem (terbentuknya swapraja). Bersamaan dengan terbentuknya Zelfbesteur Karangasem, terhitung mulai tanggal 1 Juli 1938 terbentuk pulalah Zelfbesteur - Zelfbesteur di seluruh Bali, yaitu Klungkung, Bangli, Gianyar, Badung, Tabanan, Jembrana dan Buleleng, dimana swapraja-swapraja (Zelfbesteur) tersebut tergabung menjadi federasi dalam bentuk Paruman Agung.
Pada atahun 1942 Jepang masuk ke Bali, Paruman Agung diubah menjadi Sutyo Renmei. Pada tahun 1946 setelah Jepang menyerah, Bali menjadi bagian dari Pemerintah Negara Indonesia Timur dan Swapraja di Bali diubah menjadi Dewan Raja-Raja dengan berkedudukan di Denpasar dan diketuai oleh seorang Raja.
Pada bulan Oktober 1950, Swapraja Karangasem berbentuk Dewan Pemerintahan Karangasem yang diketuai oleh ketua Dewan Pemerintahan Harian yang dijabat oleh Kepala Swapraja (Raja) serta dibantu oleh para anggota Majelis Pemerintah Harian. Pada tahun 1951, istilah Anggota Majelis Pemerintah Harian diganti menjadi Anggota Dewan Pemerintah Karangasem. Berdasarkan UU No. 69 tahun 1958 terhitung mulai tanggal 1 Desember 1958, daerah-daerah swapraja diubah menjadi Daerah Tingkat II Karangasem.
Sejarah Singkat Kota Amlapura
Menurut Pebancangah Babad Dalem, bahwa semenjak bertahta Raja I Dewa Karang Amla, Wilayah Kota Amlapura ini disebut Desa Batuaya. Kemudian tahta berganti sampai masa raja Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, yang istananya di Puri Amlaraja, pada saat itu sebutan Karangasem sudah dipakai, yang dalam hal ini dikukuhkan oleh Piagam Pura Bukit. Dengan bertahtanya Raja Anak Agung Gde Putu dan Anak Agung Gde Oka, Awig-Awig Desa Batuaya diubah menjadi Awig-Awig Amlapura. Kemudian dibawah pemerintahan Anak Agung Gde Jelantik, sebutan Wilayah Kota Amlapura ini kembali disebut Karangasem sebagai suatu pusat pemerintahan.
Dengan Keputusan Mentri Dalam Negeri (Mendagri) tertanggal 28 November 1970 No. 284 tahun 1970, terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970, Ibu Kota Karangasem
diubah menjadi Amlapura, kembali sebagai nama Kerajaan Karangasem yang bertahta di Kota Karang Amla (Amla berarti Asem).
Riwayat Singkat Lahirnya Nama Amlapura
Pada saat itu semenjak terjadi penyerahan kekuasaan kerajaan Karangasem dari pemegang tampuk kekuasaan Raja Batuaya kepada pihak Puri Karangasem, merupakan masa peralihan dari sistim kerajan kepada sistem Pemerintahan Republik, dimana wilayah Kota Amlapura sekarang bernama Amlanegantun.
Mula-mula Ibu Kota Karangasem masih berpusat dengan nama Karangasem pula. Mengingat beberapa Kabupaten di Bali sudah memiliki Ibu Kota seperti Buleleng dengan Kota Singaraja - Singa Ambararaja, Jembrana dengan Kota Negara, Badung dengan Ibu Kota Denpasar, maka dicarilah upaya untuk mencari nama terbaik Ibu Kota Karangasem.
Anak Agung Gde Karang yang menjadi Bupati saat itu berkonsultasi dengan Ketua DPRD Ida Wayan Pidada, hingga menemukan nama Amlepure (Amlapura) yang artinya, Amla berarti buah-buahan, sebagaimana layaknya daerah Karangasem yang memiliki potensi buah-buahan yang sangat beragam, buah apapun yang ada di Bali di Karangasem pun ada. Dari asal nama wilayah Amlanegantun dan sebagai pusat buah-buahan yang beragam, maka lahirlah nama Amlapura (Pura = tempat, Amla = buah).
Nama Amlapura akhirnya diresmikan sebagai Ibu Kota Kabupaten Karangasem dengan turunnya Kep. Mendagri tanggal 28 Nopember 1970 No. 284 tahun 1970, dan terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970, Kota Karangasem sebagai Ibu Kota Dati II diubah menjadi Amlapura, bersamaan dengan Upacara Pembukaan Selubung Monument Lambang Daerah, oleh Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) XV Bali, sebagai Panji kebanggaan Kabupaten Karangasem di Lapangan Tanah Aron. Dan yang menggembirakan saat itu Kabupaten Karangasem menerima penghargaan Sertifikat dan Tropy Patung dan hadiah berupa uang Rp. 200,00 sebagai Kabupaten Terbersih di Bali. Kini Karangasem pada peringatan hut Kota Amlapura ke-39 juga menjadi Kota Terbersih tidak hanya se-Propinsi Bali tetapi se-Indonesia dengan meraih Trophy Adipura.
Lambang Daerah diambil dari simbol Gunung Agung yang mengepulkan asap dengan membentuk Pulau Bali dengan Tugu Pahlawan di tengah, dikelilingi padi dan kapas menandakan simbol kemakmuran Gunung Agung dengan Pura Besakih sebagai pusat ritual umat Hindhu serta memiliki sejarah sebagai daerah perjuangan, murah sandang pangan, gemah ripah loh jinawi berkat lahar Gunung Agung.
Sedangkan garis merah merupakan simbol Karangasem ngemong Pura Kiduling Kreteg di Besakih.
Kepala Daerah dari masa ke masa
Para pejabat yang pernah memegang jabatan sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Karangasem / Bupati dan Wakil Bupati Karangasem, yaitu :
Anak Agung Gde Jelantik ( 1951 – 1960 )
I Gusti Lanang Rai ( 1960 – 1967 )
Anak Agung Gde Karang ( 1967 – 1979 )
Letkol Pol I Gusti Nyoman Yudana ( 1979 – 1989 )
Kolonel Pol. I Ketut Mertha, Sm.Ik. S.sos ( 1989 – 1999 )
Drs. I Gede Sumantara Adi Prenatha dan Drs. I Gusti Putu Widjera ( 1999 – 2005 )
I Wayan Geredeg, S.H. dan Drs. I Gusti Lanang Rai, M. Si. ( 2005 – 2010 )
I Wayan Geredeg, S.H. dan I Nengah Sukerena, S.H. (2010 - 2015)
Last Updated ( Monday, 17 January 2011 04:24 )
Langganan:
Komentar (Atom)
