WALAUPUN tidak ikut terlibat dalam kepanitaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-31, namun karena kecintaan kepada seni budaya Bali khususnya seni pertunjukan, penulis hampir selalu mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun -- walaupun pada saat tertentu mungkin penulis sedang berada di luar negeri. PKB 2009 baru saja berlalu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita patut berbangga dan bersyukur karena pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Soal materi yang diacarakan dalam PKB masih terkesan kurang seimbang. Hal ini dapat dilihat pada penampilan dari penggalian dan pelestarian kesenian tua atau klasik dengan kesenian pengembangan (populer). Pun penampilan seni tradisi dengan seni kontemporer termasuk teater modern, seperti termuat pada Bali Post (14/7) yang baru lalu.
Masalah paling menonjol adalah soal pendanaan. Konon, seni populer seperti satu grup gong kebyar, pembiayaannya mencapai lebih dari Rp 200 juta. Sementara kesenian tua atau klasik dibiayai hanya sekitar Rp 5-7 juta. Hal ini sungguh sangat ironis jika berlangsung terus menerus. Oleh karenanya, sesuai dengan tema PKB tahun ini yaitu "Mulat Sarira", panitia khususnya konseptor seni pertunjukan hendaknya lebih bijak mengagendakan acara pementasan dan mengusulkan kepada top figur atau pengambil keputusan/kebijakan agar dana pembinaan antara kesenian klasik dengan kesenian modern lebih diseimbangkan di masa mendatang.
Perihal Laras
Generasi muda khususnya para pecinta karawitan Bali seyogyanya tidak bingung mendefinisikan perihal laras. Laras ialah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang sudah tertentu banyaknya serta susunan intervalnya atau suara-antaranya.
Sesuai dengan penuturan para penabuh tua yang pernah penulis ajak berdiskusi secara informal pada saat penulis sedang melatih tabuh di tiap kabupaten di seluruh Bali, kebanyakan dari mereka berasal dari Kota Denpasar, Badung, Klungkung, Bangli, Tabanan, Gianyar dan dari Karangasem. Mereka rata-rata mengatakan bahwa gamelan yang bertangga nada tujuh di Bali dikenal dengan sebutan saih pitu -- bukan pelog saih pitu. Adanya tambahan kata pelog terkesan sudah kena pengaruh dari Jawa.
Di samping gamelan saih pitu, juga dikenal saih lima dan saih pat. Dan menurut penuturan Guru I Nyoman Kaler (almarhum) yang adalah salah seorang pendiri Konservatori Karawitan (Kokar) Jurusan Bali (kini SMKI), dari gamelan saih pitu dapat diturunkan beberapa macam laras atau saih/patutan termasuk pelog dan slendro.
Karawitan Bali pada umumnya menggunakan tangga nada tujuh, lima, dan empat. Namun khusus untuk karawitan vokal, digunakan tangga nada lebih banyak lagi. Hal ini dapat dijumpai pada sekar ageng seperti wirama, sloka, sruti, mantram, dan palawakya.
Terkait dengan tangga nada yang dipergunakan pada seni suara vokal, ada cerita menarik yang dialami penulis. Menjelang akhir dari studi penulis pada San Diego Sate University, California, AS, Agustus 1981, seorang sarodis terkenal dari India, Ali Akbar Khan, diundang untuk mempertunjukkan kebolehannya memainkan alat musik sarod. Di samping pementasan, juga diadakan acara tanya-jawab antara penonton dengan si pemain sarod.
Kala itu ada seorang penonton yang menanyakan perihal raga. Raga atau rag adalah satu istilah dalam musik India yang artinya sama dengan melodi atau laras. Si penonton menanyakan prihal banyaknya raga yang dipergunakan dalam musik India. Ketika itu, Ali Akbar Khan dengan spontan menjawab bahwa dalam musik India terdapat ratusan ribu raga. Mendengar jawaban itu, penulis agak kaget, dan langsung menanyakan kepada seorang dosen yang kebetulan banyak mengetahui perihal musik Bali.
Apakah jawaban itu betul? Yang bersangkutan balik menjelaskan bahwa di Bali mungkin terdapat lebih banyak lagi namun tidak diteorikan. Terkait dengan hal tersebut, penulis telah mendapat satu inspirasi untuk menciptakan gamelan baru yang kemudian penulis beri nama Manikasanti, tercipta pada 1994. Gamelan Manikasanti dapat berfungsi seperti ensiklopedi gamelan Bali.
Berselang beberapa tahun kemudian, penulis lagi menciptakan gamelan terbaru saat ini yaitu Siwa Nada bertangga nada sembilan atau saih sanga yang tercipta pada 2005 di Universitas Washington, Seattle, AS. Gamelan ini dapat dipakai untuk memainkan musik Bali serta musik dari negara lain. Misalnya musik Barat, Jepang, dll.nya. Memainkan musik Barat dan Jepang pada gamelan Siwa Nada sudah dilaksanakan pada PKB yang ke-29 pada 2007 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Pada masa mendatang, jika diberi kesempatan, penulis berencana mementaskan musik Cina dan India pada gamelan Siwa Nada.
Gong Kebyar
Gong kebyar adalah salah satu gamelan yang muncul di Bali Utara (Buleleng) sekitar tahun 1920-an, kemudian popularitasnya meningkat luar biasa sejak 1950-an hingga saat ini. Penulis sendiri pertama kali belajar menabuh gamelan gong kebyar pada 1957 di kampung kami Banjar Dauh Kutuh dan Pemangkalan, Desa Ubung Kaja (Denpasar). Penulis juga sudah cukup banyak berkarya pada gamelan gong kebyar yang terkait dengan pelaksaan PKB dari tahun ke tahun.
Gong kebyar memberikan dampak yang positif dan juga negatif. Dampak positifnya antara lain (1) lagunya yang energik, dinamis dengan suara menggelegar serta mempergunakan aneka tempo, ritme, disertai irama ngumbang-ngisep, sungguh mengundang decak kagum bagi pendengarnya, dan (2) dapat dipakai untuk mengiringi beberapa jenis seni pertunjukan, di samping mengiringi upacara panca yajnya.
Sedangkan dampak negatifnya, antara lain (1) pada gamelan gong kebyar kita tidak mungkin bisa mengubah tangga nada dari satu patutan ke patutan lainnya karena gong kebyar hanya bertangga nada lima, (2) munculnya gamelan gong kebyar menyebabkan cukup banyak barung gamelan tua dilebur dijadikan gong kebyar, dan (3) gending-gending (lagu) gamelan klasik akhirnya terbukti tidak sedikit yang dipengaruhi oleh teknik permainan gong kebyar, sehingga karakter gendingnya menjadi berubah.
Dampak negatif lainnya adalah (4) munculnya gamelan gong kebyar, larasnya sangat mempengaruhi si pendengar pada khususnya para seniman tabuh, sehingga telinganya -- maaf -- terkesan sudah dijajah oleh laras gamelan gong kebyar yang kebanyakan mempergunakan patut selisir, sehingga patutan yang lain menjadi agak terpinggirkan. Namun, gamelan gong kebyar cukup bagus dipakai memulai melatih anak-anak muda karena teknik menabuhnya tinggi.
Gamelan Gambang
Lantas, bagaimana dengan gambelan gambang? Gambang diperkirakan sudah ada pada masa pemeritahan Prabu Erlangga yang memerintah Bali dan Jawa Timur pada 1019-1042 Masehi. Hal ini penulis simpulkan setelah membaca beberapa literatur serta membaca beberapa pupuh gambang yang ada teksnya dan kidung Jayendria.
Generasi muda yang mau belajar menabuh gambang, tidak ada jeleknya juga belajar membaca notasi gambang (dingdong). Memang, untuk belajar gambang, bisa saja menggunakan notasi lain, misalnya notasi Kokar, namun reng atau intonasinya akan kedengarannya beda. Yang lebih penting adalah melestarikan notasi tersebut agar tidak sampai punah. Penulis yakin, mudah-mudahan para penabuh gambang di masyarakat sudah biasa membaca notasi gambang.
Lalu, bagaimana halnya dengan para sarjana karawitan kita khususnya di lembaga pendidikan? Kita semua tentu berharap agar notasi itu tidak sampai punah. Namun, kalau seandainya punah, siapakah yang paling bertanggungjawab? Pemahaman penulis, notasi dingdong dipergunakan untuk menotasi pupuh (gending) gamelan gambang, saron/caruk, gong luang, slonding dan kidung.
Perihal kidung, salah seorang tokoh kidung terkenal yaitu almarhum I Wayan Pamit dari Banjar Kayumas Kelod Denpasar, pernah mendatangi penulis menanyakan tentang cara membaca notasi gambang. Kehadirannya tentu saja penulis sambut dengan gembira karena kami sama-sama mencintai seni vokal kidung. Sebaliknya, penulis dapat bertenggang rasa perihal bahasa Jawa Tengahan yang banyak dipergunakan pada kidung. Kemudian, belakangan dengan senang hati penulis memberinya satu tungguh tingklik gambang untuk dipakai pedoman.
Memang, Taman Budaya Denpasar adalah tempat yang sangat bagus untuk berolah seni. Tempat itu sangat ideal dipakai untuk menyelamatkan kesenian tua atau klasik seperti wayang, gambuh, arja, serta jenis kesenian lainnya. Jadwal pementasannya bisa dilakukan misalnya pada setiap bulan Purnama. Dan untuk lebih menyemarakkan pementasan, kalau dipandang perlu, panitia bisa saja mengundang para seniman yang dianggap peduli dengan jenis kesenian yang dipentaskan, sehingga PKB tetap bisa berkesinambungan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar