Powered By Blogger

Minggu, 05 September 2010

Tujuh Wasu Dewi Gangga
Bapak Ketut pasti ingat cerita Adiparwa, salah satunya berkisah perihal Dewi Gangga yang membuang setiap bayinya ke Sungai Gangga. Kalau tidak salah ada enam atau tujuh bayi yang ditenggelamkan ke aliran sungai suci itu. Tempo hari setelah nonton film Mahabharata, saya dicerca sejumlah pertanyaan kritis dari anak saya. Menurutnya ia “marah” dengan perilaku Dewi Gangga, yang tanpa belas kasih membuang begitu saja bayi yang baru ia lahirkan. Itu terjadi berturut-turut, di mana Raja Sentanu, sang suami Dewi Gangga tidak kuasa menahan perbuatan itu. Menurut anak saya, perbuatan Dewi Gangga ini tergolong kurang baik, karena membunuh anak tanpa dosa, Lanjut anak saya, tidakkah perbuatan membuang orok dan abortus pembenarannya bisa dicari pada apa yang dilakukan Dewi Gangga? Saya sudah berusaha menjelaskan dengan sejumlah dogma, di mana bayi-bayi yang dibuang itu adalah tujuh wasu yang dikutuk—di mana kelak akan menjelma menjadi manusia utama
Putu Suartana
Tuakilang, Tabanan

Jawab:
Ada ketidak-selarasan dalam pertanyaan yang diajukan Gede Sumarsana di atas. Pada satu sisi, pertanyaan tentang pembenaran abortus berdasarkan cerita Dewi Gangga ini, diajukan oleh anaknya. Sedangkan, pada sisi lain, anaknya sendiri tidak mampu mengerti tindakan Dewi Gangga membuang putra-putranya ke tengah Sungai Gangga itu sendiri. Rasanya agak aneh seorang anak yang mampu mengajukan pertanyaan intelektual tinggi tapi justru tidak mampu mengerti persoalan sederhana yang ada didalam cerita itu sendiri. Apakah ini suatu gejala kurangnya kepekaaan intuitif kita dalam menangkap makna spiritual suatu sejarah suci Mahabharata? Biarlah pertanyaan ini menjadi renungan para penekun spiritual. Saya hanya melihat fakta yang diajukan dalam pertanyaan di atas, adalah celah untuk menyampaikan kembali amanat yang tersimpan dalam cerita Dewi Gangga dari Mahabharata, khususnya Adi Parwa, kepada masyarakat luas.
Cerita Dewi Gangga membuang putra-putranya sudah sangat jelas. Ia melakukan demikian karena takdir, bukan ia sendiri yang menghendakinya. Dalam hubungan ini, kiranya penting menghadirkan kembali cerita turunnya Dewi Gangga ke Bumi sebagaimana diceritakan dalam Adi Parwa 96-97, sebagai berikut.
Disebutkan seorang raja dari dinasti Suryawamsa bernama Mahabhisaka yang sedang melakukan perjalanan ke Satyaloka untuk memuja Dewa Brahma. Pada saat pemujaaan akan dilakukan, Dewi Gangga juga hadir di sana. Saat itu bertiup angin segar dan kencang yang mengakibatkan kain penutup paha Dewi Gangga tersingkap. Mahabhisaka menyaksikan hal tersebut penuh dengan dorongan nafsu, dan hal itu diketahui oleh Brahma, yang akhirnya marah dan mengutuk Mahabhisaka agar turun dan menjelma ke Bumi menjadi seorang raja dan menjadikan Gangga sebagai istrinya. Gangga memohon pengampunan supaya kutukan itu segera berakhir, dan Brahma mengatakan bahwa ia akan kembali ke Sorga setelah melahirkan Astawasu. Sebagai akibat dari kutukan itu Raja Mahabhisaka menjelma menjadi Raja Santanu dalam dinasti Suryawamsa dan mengawini Dewi Gangga.
Pada bagian lain dari cerita Adi Parwa ini, Gangga dikatakan duduk di paha kanan Raja Pratipa, ayah raja Santanu. Ia melakukan itu untuk memohon cinta dari Pratipa. Tapi Raja Pratipa tidak berkenan dengan permintaan Gangga untuk memperistrinya, sambil mengatakan hal-hal sebagai berikut, “paha kanan adalah untuk anak-anak dan menantu perempuan, sedangkan paha kiri adalah untuk istri, oleh karena itu Anda akan menjadi istri anak saya”. Beberapa saat setelah kejadian itu, Pratipa memanggil putranya Santanu dan berkata: “Suatu hari ayah akan menikahkanmu dengan seorang wanita surga, dan bila ia datang menghampirimu dan meminta putra-putra darimu, hendaknya kamu menerimanya dan apapun yang dia minta hendaknya kamu jangan menghalanginya”. Cerita ini berlangsung di tepi Sungai Gangga ketika para Resi melakukan pertapaan untuk memohon kesejahteraan putra Raja Pratipa (Santanu). Tidak berselang lama setelah itu, Raja Pratipa menobatkan Santanu menjadi raja.
Tentang Astavasu diceritakan dalam Adi Parwa 99 yang intinya sebagai berikut: Dyau, pemimpin delapan Vasu, atas permintaan istrinya, mengajak teman-temannya yang lain (para Vasu) mencuri lembu Nandini dan anak-anaknya milik Rsi Vasistha. Atas perbuatan tersebut, Vasistha mengutuk ke-delapan Vasu agar menjelma menjadi manusia ke Bumi. Para Vasu mendengar kutukan tersebut dan memohon pengampunan dari Vasistha. Atas permintaan ini, Vasistha mengatakan, bahwa mereka tetap akan lahir menjadi manusia dan menjalani kehidupan hanya setahun, kemudian meninggal dan kembali ke Sorga. “Hanya Dyau yang akan menjalani kehidupan sebagai manusia agak lama sebelum kembali ke Sorga, karena ia yang merencanakan pencurian lembu tersebut”, demikian penjelasan Rsi Vasistha.
Sebagaimana diketahui, Dyau kemudian menjelma menjadi Bhisma dan menjalani kehidupan yang lama di Bumi ini. Dalam cerita ini, Gangga juga menjelaskan kepada asta Vasu tentang kutukan yang dialaminya, dan mengijinkan para Vasu tersebut lahir melalui rahimnya.
Rsi` Vyasa menyusun sejarah suci Mahabharata untuk golongan wanita dan kaum sudra (strisudro sambhavah). Ini bukan dogma, kalau dengan dogma yang kita maksudkan adalah cerita-cerita fiksi, sebab Rsi Vyasa menulis Mahabharata berdasarkan fakta sejarah, walaupun tradisi Bali memandang Itihasa, Mahabharata dan Ramayana, dalam perspektif yang berbeda.
Kembali dengan inti pertanyaan di atas, apakah tidak mungkin cerita Dewi Gangga di atas menjadi pembenar atas tindakan membuang orok dan aborsi yang banyak dilakukan anak-anak remaja kita dewasa ini. Tentu saja, pernyataan ini tidak benar, sebab antara tindakan Dewi Gangga dan membuang orok dan aborsi yang dilakukan sekarang, adalah dua tindakan yang berseberangan. Aborsi dan membuang orok adalah tindak amoral, tindakan berdosa, sedangkan Dewi Gangga membuang bayi-nya ke Sungai, bukan pembunuhan, tetapi mengembalikan para asta vasu ke Sorga.
Membuang orok dan aborsi kebanyakan terjadi karena seks pra-nikah yang berlanjut pada kehamilan dan pihak lelaki yang menghamili tidak mau bertanggung-jawab. Artinya, bayi yang lahir itu tidak dikehendaki kehadirannya, dan aborsi menyebabkan terjadinya kematian pada bayi tersebut. Jadi, tindakan amoral ini tidak bisa dicarikan referensinya dalam cerita Dewi Gangga, sebab Dewi Gangga menjalani pernikahannya dengan Santanu melalui tindakan yang penuh dengan kehormatan dan bermartabat. Jadi, bukan karena seks pra-nikah yang dilarang menurut konsep aksatayoni dalam Purana-purana. Ke-7 Vasu yang dibuang oleh Dewi Gangga ke dalam Sungai Gangga tidak menyebabkan kematian ke-7 Vasu tersebut, tetapi dikembalikan oleh Dewi Gangga ke habitatnya di Sorga. Sungai Gangga adalah Dewi Gangga yang riil, Dewi Gangga yang sejati. Dalam bahasa Sanskerta wawasan ini dijelaskan dalam phrase Nadi Dewata, yang berarti nadi (sungai) itu adalah Dewata atau Dewa itu sendiri. Jadi, Sungai Gangga adalah Dewi Gangga yang sebenarnya. Dalam mantra-mantra pendeta di Bali, Dewi Gangga disebutkan dengan istilah “Sri Bhagavan Gangga” yang pengertiannya sama dengan Nadi Dewata. Dalam cerita Dewi Gangga ini, Asta Vasu yang lahir melalui rahim Dewi gangga bukan melalui tindakan abortus, melainkan melalui kelahiran yang normal.
Pada plot cerita Dewi Gangga yang dihadirkan mengawali tulisan ini, tampak jelas, bahwa Dewi Gangga menjalani pernikahan dengan Santanu sampai kepada tindakannya membuang para vasu ke dalam Sungai Gangga, adalah sebuah takdir (karma) yang harus dijalaninya. Ilmu tentang takdir adalah ilmu pengetahuan spiritual. Hanya ada satu cara untuk bisa memahaminya ialah meningkatkan kegiatan spiritual. Sebab Panca indria kita terbatas. Jangankan melihat keluasan dunia spiritual, apa yang terjadi di bali tembok rumah kita, otak material kita tidak akan mampu menjangkaunya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar