Agama Hindu
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Hindu)
Langsung ke: navigasi, cari
Artikel ini adalah bagian dari seri
Agama Hindu
Om
Topik
Mitologi · Kosmologi · Dewa-Dewi
Sejarah
Sejarah agama Hindu ·
Sejarah agama Hindu di Nusantara
Lima keyakinan dasar
Brahman · Atman · Karmaphala ·
Samsara · Moksa
Filsafat
Samkhya · Yoga · Mimamsa ·
Nyaya · Waisiseka · Wedanta
Susastra
Weda · Samhita · Brāhmana ·
Aranyaka · Upanisad
Hari Raya
Galungan · Kuningan · Saraswati ·
Pagerwesi · Nyepi · Siwaratri
Bali Omkara Red.png
Kumpulan artikel tentang Hindu
lihat • bicara • sunting
"Hindu" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Hindu, lihat Hindu (disambiguasi).
Artikel ini bukan mengenai Hindi.
Agama Hindu (Bahasa Sanskerta: Sanātana Dharma सनातन धर्म "Kebenaran Abadi" [1]), dan Vaidika-Dharma ("Pengetahuan Kebenaran") adalah sebuah agama yang berasal dari anak benua India. Agama ini merupakan lanjutan dari agama Veda (Brahmanisme) yang merupakan kepercayaan bangsa Indo-Iran (Arya). Agama ini diperkirakan muncul antara tahun 3102 SM sampai 1300 SM dan merupakan agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini.[2][3] Agama ini merupakan agama ketiga terbesar di dunia setelah agama Kristen dan Islam dengan jumlah umat sebanyak hampir 1 milyar jiwa.[4]
Penganut agama Hindu sebagian besar terdapat di anak benua India. Di sini terdapat sekitar 90% penganut agama ini. Agama ini pernah tersebar di Asia Tenggara sampai kira-kira abad ke-15, lebih tepatnya pada masa keruntuhan Majapahit. Mulai saat itu agama ini digantikan oleh agama Islam dan juga Kristen. Pada masa sekarang, mayoritas pemeluk agama Hindu di Indonesia adalah masyarakat Bali, selain itu juga yang tersebar di pulau Jawa,Lombok, Kalimantan (Suku Dayak Kaharingan), Sulawesi (Toraja dan Bugis - Sidrap).
Daftar isi
[sembunyikan]
* 1 Etimologi
* 2 Keyakinan dalam Hindu
o 2.1 Widhi Tattwa
o 2.2 Atma Tattwa
o 2.3 Karmaphala
o 2.4 Punarbhawa
o 2.5 Moksa
* 3 Konsep ketuhanan
o 3.1 Monoteisme
o 3.2 Panteisme
o 3.3 Ateisme
o 3.4 Konsep lainnya
* 4 Pustaka suci
o 4.1 Weda
o 4.2 Bhagawadgita
o 4.3 Purana
o 4.4 Itihasa
o 4.5 Kitab lainnya
* 5 Karakteristik
* 6 Enam filsafat Hindu
* 7 Konsep Hindu
o 7.1 Dewa-Dewi Hindu
o 7.2 Sistem Catur Warna (Golongan Masyarakat)
o 7.3 Pelaksanaan ritual (Yajña)
* 8 Sekte (aliran) dalam Hindu
* 9 Toleransi umat Hindu
* 10 Catatan kaki
* 11 Bacaan lebih lanjut
* 12 Lihat pula
* 13 Pranala luar
[sunting] Etimologi
Dalam bahasa Persia, kata Hindu berakar dari kata Sindhu (Bahasa Sanskerta). [5] Dalam Reg Veda, bangsa Arya menyebut wilayah mereka sebagai Sapta Sindhu (wilayah dengan tujuh sungai di barat daya anak benua India, yang salah satu sungai tersebut bernama sungai Indus). Hal ini mendekati dengan kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) — sastra suci dari kaum Zoroaster di Iran. Pada awalnya kata Hindu merujuk pada masyarakat yang hidup di wilayah sungai Sindhu.
[sunting] Keyakinan dalam Hindu
Hindu seringkali dianggap sebagai agama yang beraliran politeisme karena memuja banyak Dewa, namun tidaklah sepenuhnya demikian. Dalam agama Hindu, Dewa bukanlah Tuhan tersendiri. Menurut umat Hindu, Tuhan itu Maha Esa tiada duanya. Dalam salah satu ajaran filsafat Hindu, Adwaita Wedanta menegaskan bahwa hanya ada satu kekuatan dan menjadi sumber dari segala yang ada (Brahman), yang memanifestasikan diri-Nya kepada manusia dalam beragam bentuk.
Dalam Agama Hindu ada lima keyakinan dan kepercayaan yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu. Kelima keyakinan tersebut, yakni:
1. Widhi Tattwa - percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan segala aspeknya
2. Atma Tattwa - percaya dengan adanya jiwa dalam setiap makhluk
3. Karmaphala Tattwa - percaya dengan adanya hukum sebab-akibat dalam setiap perbuatan
4. Punarbhava Tattwa - percaya dengan adanya proses kelahiran kembali (reinkarnasi)
5. Moksa Tattwa - percaya bahwa kebahagiaan tertinggi merupakan tujuan akhir manusia
[sunting] Widhi Tattwa
Omkara. Aksara suci bagi umat Hindu yang melambangkan "Brahman" atau "Tuhan Sang Pencipta".
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Brahman
Widhi Tattwa merupakan konsep kepercayaan terdapat Tuhan yang Maha Esa dalam pandangan Hinduisme. Agama Hindu yang berlandaskan Dharma menekankan ajarannya kepada umatnya agar meyakini dan mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan dalam kitab Weda, Tuhan diyakini hanya satu namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Dalam agama Hindu, Tuhan disebut Brahman. Filsafat tersebut tidak mengakui bahwa dewa-dewi merupakan Tuhan tersendiri atau makhluk yang menyaingi derajat Tuhan[6].
[sunting] Atma Tattwa
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Atman
Atma tattwa merupakan kepercayaan bahwa terdapat jiwa dalam setiap makhluk hidup. Dalam ajaran Hinduisme, jiwa yang terdapat dalam makhluk hidup merupakan percikan yang berasal dari Tuhan dan disebut Atman. Jivatma bersifat abadi, namun karena terpengaruh oleh badan manusia yang bersifat maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut Awidya. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatma mengalami proses reinkarnasi berulang-ulang. Namun proses reinkarnasi tersebut dapat diakhiri apabila Jivatma mencapai moksa[7].
[sunting] Karmaphala
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Karmaphala
Agama Hindu mengenal hukum sebab-akibat yang disebut Karmaphala (karma = perbuatan; phala = buah/hasil) yang menjadi salah satu keyakinan dasar. Dalam ajaran Karmaphala, setiap perbuatan manusia pasti membuahkan hasil, baik atau buruk. Ajaran Karmaphala sangat erat kaitannya dengan keyakinan tentang reinkarnasi, karena dalam ajaran Karmaphala, keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya. Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib yang akan ia jalani sementara Tuhan yang menentukan kapan hasilnya diberikan (baik semasa hidup maupun setelah reinkarnasi)[8].
[sunting] Punarbhawa
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Samsara
Punarbhawa merupakan keyakinan bahwa manusia mengalami reinkarnasi. Dalam ajaran Punarbhawa, reinkarnasi terjadi karena jiwa harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu. Apabila manusia tidak sempat menikmati hasil perbuatannya seumur hidup, maka mereka diberi kesempatan untuk menikmatinya pada kehidupan selanjutnya. Maka dari itu, munculah proses reinkarnasi yang bertujuan agar jiwa dapat menikmati hasil perbuatannya (baik atau buruk) yang belum sempat dinikmati. Proses reinkarnasi diakhiri apabila seseorang mencapai kesadaran tertinggi (moksa).
[sunting] Moksa
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Moksa
Dalam keyakinan umat Hindu, Moksa merupakan suatu keadaan di mana jiwa merasa sangat tenang dan menikmati kebahagiaan yang sesungguhnya karena tidak terikat lagi oleh berbagai macam nafsu maupun benda material. Pada saat mencapai keadaan Moksa, jiwa terlepas dari siklus reinkarnasi sehingga jiwa tidak bisa lagi menikmati suka-duka di dunia. Oleh karena itu, Moksa menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai oleh umat Hindu.
[sunting] Konsep ketuhanan
Salah satu bentuk penerapan monoteisme Hindu di Indonesia adalah konsep Padmasana, sebuah tempat sembahyang Hindu untuk memuja Brahman atau "Tuhan Sang Penguasa".
Seorang perempuan Hindu Bali sedang menempatkan sesaji di tempat suci keluarganya.
Kuil Hindu di caldeira Bromo, pegunungan Tengger, Jawa Timur
Agama Hindu merupakan agama tertua di dunia dan rentang sejarahnya yang panjang menunjukkan bahwa agama Hindu telah melewati segala paham ketuhanan yang pernah ada di dunia.[9] Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain henoteisme, panteisme, monisme, monoteisme, politeisme, dan bahkan ateisme. Konsep ketuhanan yang paling banyak dipakai adalah monoteisme (terutama dalam Weda, Agama Hindu Dharma dan Adwaita Wedanta), sedangkan konsep lainnya (ateisme, panteisme, henoteisme, monisme, politeisme) kurang diketahui. Sebenarnya konsep ketuhanan yang jamak tidak diakui oleh umat Hindu pada umumnya karena berdasarkan pengamatan para sarjana yang meneliti agama Hindu tidak secara menyeluruh.
[sunting] Monoteisme
Dalam agama Hindu pada umumnya, konsep yang dipakai adalah monoteisme. Konsep tersebut dikenal sebagai filsafat Adwaita Wedanta yang berarti "tak ada duanya". Selayaknya konsep ketuhanan dalam agama monoteistik lainnya, Adwaita Wedanta menganggap bahwa Tuhan merupakan pusat segala kehidupan di alam semesta, dan dalam agama Hindu, Tuhan dikenal dengan sebutan Brahman.
Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman merupakan sesuatu yang tidak berawal namun juga tidak berakhir. Brahman merupakan pencipta sekaligus pelebur alam semesta. Brahman berada di mana-mana dan mengisi seluruh alam semesta. Brahman merupakan asal mula dari segala sesuatu yang ada di dunia. Segala sesuatu yang ada di alam semesta tunduk kepada Brahman tanpa kecuali. Dalam konsep tersebut, posisi para dewa disetarakan dengan malaikat dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri, melainkan dipuji atas jasa-jasanya sebagai perantara Tuhan kepada umatnya.
Filsafat Adwaita Wedanta menganggap tidak ada yang setara dengan Brahman, Sang pencipta alam semesta. Dalam keyakinan umat Hindu, Brahman hanya ada satu, tidak ada duanya, namun orang-orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama sesuai dengan sifatnya yang maha kuasa. Nama-nama kebesaran Tuhan kemudian diwujudkan ke dalam beragam bentuk Dewa-Dewi, seperti misalnya: Wisnu, Brahma, Siwa, Laksmi, Parwati, Saraswati, dan lain-lain. Dalam Agama Hindu Dharma (khususnya di Bali), konsep Ida Sang Hyang Widhi Wasa merupakan suatu bentuk monoteisme asli orang Bali.
[sunting] Panteisme
Dalam salah satu Kitab Hindu yakni Upanishad, konsep yang ditekankan adalah panteisme. Konsep tersebut menyatakan bahwa Tuhan tidak memiliki wujud tertentu maupun tempat tinggal tertentu, melainkan Tuhan berada dan menyatu pada setiap ciptaannya, dan terdapat dalam setiap benda apapun[10], ibarat garam pada air laut. Dalam agama Hindu, konsep panteisme disebut dengan istilah Wyapi Wyapaka. Kitab Upanishad dari Agama Hindu mengatakan bahwa Tuhan memenuhi alam semesta tanpa wujud tertentu, beliau tidak berada di surga ataupun di dunia tertinggi namun berada pada setiap ciptaannya.
[sunting] Ateisme
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ateisme dalam Hindu
Agama Hindu diduga memiliki konsep ateisme (terdapat dalam ajaran Samkhya) yang dianggap positif oleh para teolog/sarjana dari Barat. Samkhya merupakan ajaran filsafat tertua dalam agama Hindu yang diduga menngandung sifat ateisme. Filsafat Samkhya dianggap tidak pernah membicarakan Tuhan dan terciptanya dunia beserta isinya bukan karena Tuhan, melainkan karena pertemuan Purusha dan Prakirti, asal mula segala sesuatu yang tidak berasal dan segala penyebab namun tidak memiliki penyebab[11]. Oleh karena itu menurut filsafat Samkhya, Tuhan tidak pernah campur tangan. Ajaran filsafat ateisme dalam Hindu tersebut tidak ditemui dalam pelaksanaan Agama Hindu Dharma di Indonesia, namun ajaran filsafat tersebut (Samkhya) merupakan ajaran filsafat tertua di India. Ajaran ateisme dianggap sebagai salah satu sekte oleh umat Hindu Dharma dan tidak pernah diajarkan di Indonesia.
[sunting] Konsep lainnya
Di samping mengenal konsep monoteisme, panteisme, dan ateisme yang terkenal, para sarjana mengungkapkan bahwa terdapat konsep henoteisme, politeisme, dan monisme dalam ajaran agama Hindu yang luas. Ditinjau dari berbagai istilah itu, agama Hindu paling banyak menjadi objek penelitian yang hasilnya tidak menggambarkan kesatuan pendapat para Indolog sebagai akibat berbedanya sumber informasi. Agama Hindu pada umumnya hanya mengakui sebuah konsep saja, yakni monoteisme. Menurut pakar agama Hindu, konsep ketuhanan yang banyak terdapat dalam agama Hindu hanyalah akibat dari sebuah pengamatan yang sama dari para sarjana dan tidak melihat tubuh agama Hindu secara menyeluruh[12]. Seperti misalnya, agama Hindu dianggap memiliki konsep politeisme namun konsep politeisme sangat tidak dianjurkan dalam Agama Hindu Dharma dan bertentangan dengan ajaran dalam Weda.
Meskipun banyak pandangan dan konsep Ketuhanan yang diamati dalam Hindu, dan dengan cara pelaksanaan yang berbeda-beda sebagaimana yang diajarkan dalam Catur Yoga, yaitu empat jalan untuk mencapai Tuhan, maka semuanya diperbolehkan. Mereka berpegang teguh kepada sloka yang mengatakan:
“ Jalan mana pun yang ditempuh manusia kepada-Ku, semuanya Aku terima dan Aku beri anugerah setimpal sesuai dengan penyerahan diri mereka. Semua orang mencariku dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)[13] ”
[sunting] Pustaka suci
Ajaran agama dalam Hindu didasarkan pada kitab suci atau susastra suci keagamaan yang disusun dalam masa yang amat panjang dan berabad-abad, yang mana di dalamnya memuat nilai-nilai spiritual keagamaan berikut dengan tuntunan dalam kehidupan di jalan dharma. Di antara susastra suci tersebut, Weda merupakan yang paling tua dan lengkap, yang diikuti dengan Upanishad sebagai susastra dasar yang sangat penting dalam mempelajari filsafat Hindu. Sastra lainnya yang menjadi landasan penting dalam ajaran Hindu adalah Tantra, Agama dan Purana serta kedua Itihasa (epos), yaitu Ramayana dan Mahabharata. Bhagawadgita adalah ajaran yang dimuat dalam Mahabharata, merupakan susastra yang dipelajari secara luas, yang sering disebut sebagai ringkasan dari Weda.
Hindu meliputi banyak aspek keagamaan, tradisi, tuntunan hidup, serta aliran/sekte. Umat Hindu meyakini akan kekuasaan Yang Maha Esa, yang disebut dengan Brahman dan memuja Brahma, Wisnu atau Siwa sebagai perwujudan Brahman dalam menjalankan fungsi sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta.
Secara umum, pustaka suci Hindu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kitab Sruti dan kelompok kitab Smerti.
* Sruti berarti "yang didengar" atau wahyu. Yang tergolong kitab Sruti adalah kitab-kitab yang ditulis berdasarkan wahyu Tuhan, seperti misalnya Weda, Upanishad, dan Bhagawadgita. Dalam perkembangannya, Weda dan Upanishad terbagi lagi menjadi bagian yang lebih kecil, seperti misalnya Regweda dan Isopanishad. Kitab Weda berjumlah empat bagian sedangkan kitab Upanishad berjumlah sekitar 108 buah.
* Smerti berarti "yang diingat" atau tradisi. Yang tergolong kitab Smerti adalah kitab-kitab yang tidak memuat wahyu Tuhan, melainkan kitab yang ditulis berdasarkan pemikiran dan renungan manusia, seperti misalnya kitab tentang ilmu astronomi, ekonomi, politik, kepemimpinan, tata negara, hukum, sosiologi, dan sebagainya. Kitab-kitab smerti merupakan penjabaran moral yang terdapat dalam kitab Sruti.
Kitab Regweda dalam aksara Dewanagari dari abad ke-19.
Krishna Dwaipayana Wyasa, seorang Maharesi yang mengklasifikasi kitab Weda.
[sunting] Weda
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Weda
Weda merupakan kitab suci yang menjadi sumber segala ajaran agama Hindu. Weda merupakan kitab suci tertua di dunia karena umurnya setua umur agama Hindu. Weda berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu dari kata vid yang berarti "tahu". Kata Weda berarti "pengetahuan". Para Maha Rsi yang menerima wahyu Weda jumlahnya sangat banyak, namun yang terkenal hanya tujuh saja yang disebut Saptaresi. Ketujuh Maha Rsi tersebut yakni:
1. Resi Gritsamada
2. Resi Wasista
3. Resi Atri
4. Resi Wiswamitra
5. Resi Wamadewa
6. Resi Bharadwaja
7. Resi Kanwa
Ayat-ayat yang diturunkan oleh Tuhan kepada para Maha Rsi tersebut tidak terjadi pada suatu zaman yang sama dan tidak diturunkan di wilayah yang sama. Resi yang menerima wahyu juga tidak hidup pada masa yang sama dan tidak berada di wilayah yang sama dengan resi lainnya, sehingga ribuan ayat-ayat tersebut tersebar di seluruh wilayah India dari zaman ke zaman, tidak pada suatu zaman saja. Agar ayat-ayat tersebut dapat dipelajari oleh generasi seterusnya, maka disusunlah ayat-ayat tersebut secara sistematis ke dalam sebuah buku. Usaha penyusunan ayat-ayat tersebut dilakukan oleh Bagawan Byasa atau Krishna Dwaipayana Wyasa dengan dibantu oleh empat muridnya, yaitu: Bagawan Pulaha, Bagawan Jaimini, Bagawan Wesampayana, dan Bagawan Sumantu.
Setelah penyusunan dilakukan, ayat-ayat tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah kitab yang kemudian disebut Weda. Sesuai dengan isinya, Weda terbagi menjadi empat, yaitu:
1. Regweda Samhita
2. Ayurweda Samhita
3. Samaweda Samhita
4. Atharwaweda Samhita
Keempat kitab tersebut disebut "Caturweda Samhita". Selain keempat Weda tersebut, Bhagawadgita yang merupakan intisari ajaran Weda disebut sebagai "Weda yang kelima".
[sunting] Bhagawadgita
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bhagawadgita
Bhagawadgita merupakan suatu bagian dari kitab Bhismaparwa, yakni kitab keenam dari seri Astadasaparwa kitab Mahabharata, yang berisi percakapan antara Sri Kresna dengan Arjuna menjelang Bharatayuddha terjadi. Diceritakan bahwa Arjuna dilanda perasaan takut akan kemusnahan Dinasti Kuru jika Bharatayuddha terjadi. Arjuna juga merasa lemah dan tidak tega untuk membunuh saudara dan kerabatnya sendiri di medan perang. Dilanda oleh pergolakan batin antara mana yang benar dan mana yang salah, Arjuna bertanya kepada Kresna yang mengetahui dengan baik segala ajaran agama.
Kresna yang memilih menjadi kusir kereta Arjuna menjelaskan dengan panjang lebar ajaran-ajaran ketuhanan dan kewajiban seorang kesatria agar dapat membedakan antara yang baik dengan yang salah. Ajaran tersebut kemudian dirangkum menjadi sebuah kitab filsafat yang sangat terkenal yang bernama Bhagawadgita.
Bhagawadgita terdiri dari delapan belas bab dan berisi ± 650 sloka. Setiap bab menguraikan jawaban-jawaban yang diajukan oleh Arjuna kepada Kresna. Jawaban-jawaban tersebut merupakan wejangan suci sekaligus pokok-pokok ajaran Weda.
Salah satu ilustrasi dalam kitab Warahapurana.
Sebuah ilustrasi dalam kitab Mahabharata, salah satu Itihasa (wiracarita Hindu).
[sunting] Purana
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Purana
Purana adalah bagian dari kesusastraan Hindu yang memuat mitologi, legenda, dan kisah-kisah zaman dulu. Kata Purana berarti "sejarah kuno" atau "cerita kuno". Penulisan kitab-kitab Purana diperkirakan dimulai sekitar tahun 500 SM. Terdapat delapan belas kitab Purana yang disebut Mahapurana. Adapun kedelapan belas kitab tersebut yakni:
1. Matsyapurana
2. Wisnupurana
3. Bhagawatapurana
4. Warahapurana
5. Wamanapurana
6. Markandeyapurana
7. Bayupurana
8. Agnipurana
9. Naradapurana
1. Garudapurana
2. Linggapurana
3. Padmapurana
4. Skandapurana
5. Bhawisyapurana
6. Brahmapurana
7. Brahmandapurana
8. Brahmawaiwartapurana
9. Kurmapurana
[sunting] Itihasa
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Itihasa
Itihasa adalah suatu bagian dari kesusastraan Hindu yang menceritakan kisah kepahlawanan para raja dan kesatria Hindu di masa lampau dan dikombinasikan dengan filsafat agama, mitologi, dan cerita tentang makhluk supranatural, yang merupakan manifestasi kekuatan Brahman. Kitab Itihasa disusun oleh para Resi dan pujangga India masa lampau, seperti misalnya Resi Walmiki dan Resi Byasa. Itihasa yang terkenal ada dua, yaitu Ramayana dan Mahabharata.
[sunting] Kitab lainnya
Selain kitab Weda, Bhagawadgita, Upanishad, Purana dan Itihasa, agama Hindu mengenal berbagai kitab lainnya seperti misalnya: Tantra, Jyotisha, Darsana, Salwasutra, Nitisastra, Kalpa, Chanda, dan lain-lain. Kebanyakan kitab tersebut tergolong ke dalam kitab Smerti karena memuat ajaran astronomi, ilmu hukum, ilmu tata negara, ilmu sosial, ilmu kepemimpinan, ilmu bangunan dan pertukangan, dan lain-lain.
Kitab Tantra memuat tentang cara pemujaan masing-masing sekte dalam agama Hindu. Kitab Tantra juga mengatur tentang pembangunan tempat suci Hindu dan peletakkan arca. Kitab Nitisastra memuat ajaran kepemimpinan dan pedoman untuk menjadi seorang pemimpin yang baik. Kitab Jyotisha merupakan kitab yang memuat ajaran sistem astronomi tradisional Hindu. Kitab Jyotisha berisi pedoman tentang benda langit dan peredarannya. Kitab Jyotisha digunakan untuk meramal dan memperkirakan datangnya suatu musim.
[sunting] Karakteristik
Ritual Keagamaan Hindu di Candi Prambanan, Yogyakarta, Indonesia.
Dalam agama Hindu, seorang umat berkontemplasi tentang misteri Brahman dan mengungkapkannya melalui mitos yang jumlahnya tidak habis-habisnya dan melalui penyelidikan filosofis. Mereka mencari kemerdekaan dari penderitaan manusia melalui praktik-praktik askese atau meditasi yang mendalam, atau dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui cinta kasih, bakti dan percaya (Sradha).
Umat Hindu juga menyebut agamanya sebagai Sanatana Dharma yang artinya Dharma yang kekal abadi.
Menurut kepercayaan para penganutnya, ajaran Hindu langsung diajarkan oleh Tuhan sendiri, yang turun atau menjelma ke dunia yang disebut Awatara. Misalnya Kresna, adalah penjelmaan Tuhan ke dunia pada zaman Dwaparayuga, sekitar puluhan ribu tahun yang lalu[14]. Ajaran Kresna atau Tuhan sendiri yang termuat dalam kitab Bhagawadgita, adalah kitab suci Hindu yang utama. Bagi Hindu, siapapun berhak dan memiliki kemampuan untuk menerima ajaran suci atau wahyu dari Tuhan asalkan dia telah mencapai kesadaran atau pencerahan. Oleh sebab itu dalam agama Hindu wahyu Tuhan bukan hanya terbatas pada suatu zaman atau untuk seseorang saja. Bahwa wahyu Tuhan yang diturunkan dari waktu ke waktu pada hakekatnya adalah sama, yaitu tentang kebenaran, kasih sayang, kedamaian, tentang kebahagiaan yang kekal abadi, tentang hakekat akan diri manusia yang sebenarnya dan tentang dari mana manusia lahir dan mau ke mana manusia akan pergi, atau apa tujuan yang sebenarnya manusia hidup ke dunia.
[sunting] Enam filsafat Hindu
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Filsafat Hindu
Terdapat dua kelompok filsafat India, yaitu Astika dan Nastika. Nastika merupakan kelompok aliran yang tidak mengakui kitab Weda, sedangkan kelompok Astika sebaliknya. Dalam Astika, terdapat enam macam aliran filsafat. Keenam aliran filsafat tersebut yaitu: Nyaya, Waisasika, Samkhya, Yoga, Mimamsa, dan Wedanta. Ajaran filsafat keenam aliran tersebut dikenal sebagai Filsafat Hindu.
Filsafat India
Nastika
Astika
Buddha
Jaina
Carwaka
Kelompok Astika yang ajarannya bersumber langsung kepada Weda
Kelompok Astika yang ajarannya tidak bersumber langsung kepada Weda
Wedanta
Mimamsa
Yoga
Samkhya
Waisiseka
Nyaya
Adwaita
Dwaita
Wisistadwaita
Keterangan:
* Kotak Hijau : Sad Darsana
Terdapat enam Astika (filsafat Hindu) — institusi pendidikan filsafat ortodok yang memandang Weda sebagai dasar kemutlakan dalam pengajaran filsafat Hindu — yaitu: Nyāya, Vaisheṣhika, Sāṃkhya, Yoga, Mīmāṃsā (juga disebut dengan Pūrva Mīmāṃsā), dan Vedānta (juga disebut dengan Uttara Mīmāṃsā) ke-enam sampradaya ini dikenal dengan istilah Sad Astika Darshana atau Sad Darshana. Diluar keenam Astika diatas, terdapat juga Nastika, pandangan Heterodok yang tidak mengakui otoritas dari Weda, yaitu: Buddha, Jaina dan Carvaka.
Meski demikian, ajaran filsafat ini biasanya dipelajari secara formal oleh para pakar, pengaruh dari masing-masing Astika ini dapat dilihat dari sastra-sastra Hindu dan keyakinan yang dipegang oleh pemeluknya dalam kehidupan sehari-hari.
[sunting] Konsep Hindu
Hindu memiliki beragam konsep keagamaan yang diterapkan sehari-hari. Konsep-konsep tersebut meliputi pelaksanaan yajña, sistem Catur Warna (kasta), pemujaan terhadap Dewa-Dewi, Trihitakarana, dan lain-lain.
[sunting] Dewa-Dewi Hindu
Pelaksanaan Ngaben di Ubud, Bali
Artikel utama: Dewa dalam konsep Hinduisme
Dalam ajaran agama Hindu, Dewa adalah makhluk suci, makhluk supernatural, penghuni surga, setara dengan malaikat, dan merupakan manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Kata “dewa” berasal dari kata “div” yang berarti “beResinar”. Dalam kitab suci Reg Weda, Weda yang pertama, disebutkan adanya 33 Dewa, yang mana ketiga puluh tiga Dewa tersebut merupakan manifestasi dari kemahakuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Di antara Dewa-Dewi dalam agama Hindu, yang paling terkenal sebagai suatu konsep adalah: Brahmā, Wisnu, Çiwa. Mereka disebut Trimurti.
Dalam kitab-kitab Weda dinyatakan bahwa para Dewa tidak dapat bergerak bebas tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa juga tidak dapat menganugerahkan sesuatu tanpa kehendak Tuhan. Para Dewa, sama seperti makhluk hidup yang lainnya, bergantung kepada kehendak Tuhan. Filsafat Advaita (yang berarti: “tidak ada duanya”) menyatakan bahwa tidak ada yang setara dengan Tuhan dan para Dewa hanyalah perantara antara beliau dengan umatnya.
[sunting] Sistem Catur Warna (Golongan Masyarakat)
Artikel utama: Sistem Golongan Masyarakat dalam Hinduisme
Dalam agama Hindu, dikenal istilah Catur Warna bukan sama sekali dan tidak sama dengan kasta. Karena di dalam ajaran Pustaka Suci Weda, tidak terdapat istilah kasta. yang ada hanyalah istilah Catur Warna. Dalam ajaran Catur Warna, masyarakat dibagi menjadi empat golongan, yaitu:
* Brāhmana : golongan para pendeta, orang suci, pemuka agama dan rohaniwan
* Ksatria : golongan para raja, adipati, patih, menteri, dan pejabat negara
* Waisya : golongan para pekerja di bidang ekonomi
* Sudra : golongan para pembantu ketiga golongan di atas
Menurut ajaran catur Warna, status seseorang didapat sesuai dengan pekerjaannya. Jadi, status seseorang tidak didapat semenjak dia lahir melainkan didapat setelah ia menekuni suatu profesi atau ahli dalam suatu bidang tertentu. Catur Warna menekankan seseorang agar melaksanakan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Keempat golongan sangat dianjurkan untuk saling membantu agar mereka dapat memperoleh hak. Dalam sistem Catur Warna terjadi suatu siklus “memberi dan diberi” jika keempat golongan saling memenuhi kewajibannya.
[sunting] Pelaksanaan ritual (Yajña)
Atikel utama: Yajña
Dalam ajaran Hindu, Yajña merupakan pengorbanan suci secara tulus ikhlas kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada para leluhur, kepada sesama manusia, dan kepada alam semesta. Biasanya diwujudkan dalam ritual yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan umat Hindu. Tujuan pengorbanan tersebut bermacam-macam, bisa untuk memohon keselamatan dunia, keselamatan leluhur, maupun sebagai kewajiban seorang umat Hindu. Bentuk pengorbanan tersebut juga bermacam-macam, salah satunya yang terkenal adalah Ngaben, yaitu ritual yang ditujukan kepada leluhur (Pitra Yadnya).
[sunting] Sekte (aliran) dalam Hindu
Jalan yang dipakai untuk menuju Tuhan (Hyang Widhi) jalurnya beragam, dan kemudian dikenallah para dewa. Dewa yang tertinggi dijadikan sarana untuk mencapai Hyang Widhi. Aliran terbesar agama Hindu saat ini adalah dari golongan Sekte Waisnawa yaitu menonjolkan kasih sayang dan bersifat memelihara; yang kedua terbesar ialah Sekte Siwa sebagai pelebur dan pengembali yang menjadi tiga sekte besar, yaitu Sekte Siwa, Sekte Sakti (Durga ), dan Sekte Ganesha, serta terdapat pula Sekte Siwa Siddhanta yang merupakan aliran mayoritas yang dijalani oleh masyarakat Hindu Bali, sekte Bhairawa dan Sekte - Sekte yang lainnya. Yang ketiga ialah Sekte Brahma sebagai pencipta yang menurunkan Sekte Agni, Sekte Rudra, Sekte Yama, dan Sekte Indra. Sekte adalah jalan untuk mencapai tujuan hidup menurut Agama Hindu, yaitu moksha (kembali kepada Tuhan), dan pemeluk Hindu dipersilahkan memilih sendiri aliran yang mana menurutnya yang paling baik/bagus.
[sunting] Toleransi umat Hindu
Agama ini memiliki ciri khas sebagai salah satu agama yang paling toleran, yang mana di dalam kitab Weda dalam salah satu baitnya memuat kalimat berikut:
Sansekerta: एकम् सत् विप्रा: बहुधा वदन्ति
Alihaksara: Ekam Sat Vipraaha Bahudhaa Vadanti
Cara baca dalam bahasa Indonesia: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti
Bahasa Indonesia: "Hanya ada satu kebenaran tetapi para orang pandai menyebut-Nya dengan banyak nama."
— Rg Weda (Buku I, Gita CLXIV, Bait 46)
Dalam berbagai pustaka suci Hindu, banyak terdapat sloka-sloka yang mencerminkan toleransi dan sikap yang adil oleh Tuhan. Umat Hindu menghormati kebenaran dari mana pun datangnya dan menganggap bahwa semua agama bertujuan sama, yaitu menuju Tuhan, namun dengan berbagai sudut pandang dan cara pelaksanaan yang berbeda. Hal itu diuraikan dalam kitab suci mereka sebagai berikut:
samo ‘haṁ sarva-bhūteṣu na me dveṣyo ‘sti na priyah
ye bhajanti tu māṁ bhaktyā mayi te teṣu cāpy aham
(Bhagavad Gītā, IX. 29)
Arti:
Aku tidak pernah iri dan selalu bersikap adil terhadap semua makhluk.
Bagi-Ku tidak ada yang paling Ku-benci dan tidak ada yang paling Aku kasihi.
Tetapi yang berbakti kepada-Ku, dia berada pada-Ku dan Aku bersamanya pula
Ye yathā mām prapadyante tāms tathaiva bhajāmy aham,
mama vartmānuvartante manusyāh pārtha sarvaśah
(Bhagavad Gītā, 4.11)
Arti:
Jalan mana pun yang ditempuh seseorang kepada-Ku,
Aku memberinya anugerah setimpal. Semua orang mencari-Ku
dengan berbagai jalan, wahai putera Partha (Arjuna)
Yo yo yām yām tanum bhaktah śraddhayārcitum icchati,
tasya tasyācalām śraddhām tām eva vidadhāmy aham
(Bhagavad Gītā, 7.21)
Arti:
Kepercayaan apapun yang ingin dipeluk seseorang,
Aku perlakukan mereka sama dan
Ku-berikan berkah yang setimpal supaya ia lebih mantap
Meskipun ada yang menganggap Dewa-Dewi merupakan Tuhan tersendiri, namun umat Hindu memandangnya sebagai cara pemujaan yang salah. Dalam kitab suci mereka, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda:
ye ‘py anya-devatā-bhaktā yajante śraddhayānvitāḥ
te ‘pi mām eva kaunteya yajanty avidhi-pūrvakam
(Bhagavad Gītā, IX.23)
Arti:
Orang-orang yang menyembah Dewa-Dewa dengan penuh keyakinannya
sesungguhnya hanya menyembah-Ku, tetapi mereka melakukannya
dengan cara yang keliru, wahai putera Kunti (Arjuna)
Pemeluk agama Hindu juga mengenal arti Ahimsa dan "Satya Jayate Anertam". Mereka diharapkan tidak suka (tidak boleh) membunuh secara biadab tapi untuk kehidupan pembunuhan dilakukan kepada binatang berbisa (nyamuk) untuk makanan sesuai swadarmanya, dan diminta jujur dalam melakukan segala pikiran, perkataan, dan perbuatan.
[sunting] Catatan kaki
Jumat, 19 November 2010
Rabu, 17 November 2010
Seni Tembang Bali
Seni Tembang Bali
Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok:
1. Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Isinya pada umumnya pendek, dan sederhana. Dikatakan bebas karena benar-benar tidak ada ikatannya. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian, dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Ada tiga jenis gegendingan:
a. Gending Rare atau Sekar Rare mencakup berbagai jenis lagu-lagu anak-anak yang bernuansa permainan. Jenis tembang ini pada umumnya memakai bahasa Bali sederhana, bersifat dinamis dan riang, sehingga dapat dilagukan dengan mudah dalam suasana bermain dan bergembira.
Biasanya tiap lagu dilengkapi (atau sebagai pelengkap dari) sebuah permainan (dolanan) yang bertema sama. Tetapi ada juga yang berdiri sendiri, sebagai lagu-lagu rakyat (gegendingan) yang bentuknya sangat sederhana. Baik lagu anak-anak maupun lagu rakyat tidak terlalu diikat oleh hukum / uger-uger seperti Guru Lagu atau Padalingsa. Beberapa contoh dari jenis tembang ini antara lain:
No. Judul
1. Meong-meong
2. Juru Pencar
3. Ongkek-ongkek Ongke
4. Indang-indang Sidi
5. Galang Bulan
6. Ucung-ucung Semanggi
7. Pul Sinoge
Pada jenis gending ini, ada yang seluruh baitnya merupakan isi, dan ada pula yang mengandung bait- bait sampiran bahkan ada yang hanya berupa sampiran tanpa isi yang jelas artinya.
b. Gending Jejanggeran ini sama dengan Gending Rare dan biasanya dinyanyikan bersama-sama saling sahut-menyahut antara kelompok satu dengan yang lain. Ada yang menjadi janger (kelompok putri) ada yang menjadi kecak (kelompok putra).
Lama kelamaan Gending Jejangeran ini dinyanyikan juga oleh orang-orang dewasa di dalam tontonan dengan jalan memberi variasi gerak-gerik atau variasi lakon (lelampahan)
Contoh Gending Jejangeran ini antara lain:
No. Judul
1 Putri Ayu
2 Siap Sangkur
3 Mejejangeran
c. Gending Sanghyang dinyanyikan untuk menurunkan (nedunang) Sanghyang-Sanghyang, misalnya pada prosesi budaya peninggalan jaman pra-Hindu dalam tarian sakral Sanghyang, yang meliputi tarian Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Jaran, Sanghyang Bojog, Sanghyang Celeng, Sanghyang Sampat dan sebagainya. Sistem atau ortenan tembang-tembang ini sama dengan gending-gending rare lainnya, pengertian yang dihasilkan dari isi gending ini sering abstrak, dan tidak menentu karena sulit dicerna. Ini sesuai dengan kaidah gegendingan yang tidak menuntut pengertian yang utuh dan runtut seperti halnya Tembang Macapat.
Contoh dari gending- gending Sanghyang adalah:
No. Judul
1 Puspa Panganjali
2 Kukus Arum
3 Suaran Kumbang
2. Tembang macapat, Sinom, Pangkur (Sekar Alit)
Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat), kelompok Sekar Alit, yang biasa disebut tembang macapat, gaguritan atau pupuh, terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empat-empat suku kata (ketukan).
3. Kekidungan/Sekar Madya
Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan, umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa.
Tembang- tembang yang tergolong dalam kelompok ini di antaranya yang paling banyak adalah Kidung atau Kakidungan. Kidung diduga datang dari Jawa abad XVI sampai XIX akan tetapi kemudian kebanyakan ditulis di Bali. Hal ini dapat dilihat dari struktur komposisinya terbukti dengan masuknya ide-ide yang terdiri dari Pangawit, Panama dan Pangawak yang merupakan istilah-istilah yang tidak asing lagi dalam tetabuhan Bali.
Di Bali kidung-kidung selalu dilakukan dan dimainkan bersama-sama dengan instrumen. Lagu - lagu kidung ini ditulis dalam lontar tabuh-tabuh Gambang dan oleh karena itulah laras dan namanya banyak sama dengan apa yang ada dalam penggambangan, menggunakan laras pelog Saih Pitu (Pelog 7 nada) yang terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pemaro/ tengahan.
Modulasi yaitu perubahan tangga nada ditengah-tengah lagu sangat banyak dipergunakan.
4. Kakawin/ Wirama (Sekar Agung)
Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu, pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. Kakawin adalah puisi Bali klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya, Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan, sehingga mempunyai kekhasan tersendiri.
Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI.
Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:
No. Jenis
1 Aswalalita
2 Wasantatilaka
3 Tanukerti
4 Sardulawikradita
5 Watapatia Wangeasta
6 Wirat
7 Çekarini
8 Girisa
9 Prtiwitala
10 Puspitagra
11 Saronca
Di samping tembang-tembang di atas masih ada beberapa jenis untaian kata bertembang yang sukar untuk dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok yang bertembang. Jenis-jenis kata bertembang yang dimaksud adalah:
Sasonggaan: Kalimat kiasan yang dapat dipakai untuk menggambarkan suatu peristiwa
Bladbadan: Kalimat yang mengandung arti kiasan
Wawangsalan: Kalimat bersajak
Sasawangan: Kalimat perbandingan
Papindaan: Kalimat perbandingan
Tandak: Kalimat yang dilagukan melodinya diharmoniskan dengan nada yang diikutinya
Pangalang: Tembang pendahuluan
Sasendon: Semacam tandak yang dipergunakan untuk menggarisbawahi suatu drama
Untuk dapat menyanyi dengan baik seorang penembang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Suara harus bagus dan tahu pengolahannya
2. Nafas panjang serta tahu mengaturnya
3. Mengerti masalah laras (selendro dan pelog)
4. Mengerti tetabuhan dan menguasai perihal matra
5. Tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing kelompok tembang
Di Bali terdapat berbagai jenis tembang yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda-beda. Masyarakat Bali membedakan seni tembang ini menjadi empat (4) kelompok:
1. Gegendingan adalah sekumpulan kalimat bebas yang dinyanyikan. Isinya pada umumnya pendek, dan sederhana. Dikatakan bebas karena benar-benar tidak ada ikatannya. Antara tiap kalimat tidak harus mempunyai arti yang membentuk cerita atau pengertian, dan kadang-kadang kalimat yang terbentuk dari kata-kata itu juga tidak mempunyai arti yang jelas. Ada tiga jenis gegendingan:
a. Gending Rare atau Sekar Rare mencakup berbagai jenis lagu-lagu anak-anak yang bernuansa permainan. Jenis tembang ini pada umumnya memakai bahasa Bali sederhana, bersifat dinamis dan riang, sehingga dapat dilagukan dengan mudah dalam suasana bermain dan bergembira.
Biasanya tiap lagu dilengkapi (atau sebagai pelengkap dari) sebuah permainan (dolanan) yang bertema sama. Tetapi ada juga yang berdiri sendiri, sebagai lagu-lagu rakyat (gegendingan) yang bentuknya sangat sederhana. Baik lagu anak-anak maupun lagu rakyat tidak terlalu diikat oleh hukum / uger-uger seperti Guru Lagu atau Padalingsa. Beberapa contoh dari jenis tembang ini antara lain:
No. Judul
1. Meong-meong
2. Juru Pencar
3. Ongkek-ongkek Ongke
4. Indang-indang Sidi
5. Galang Bulan
6. Ucung-ucung Semanggi
7. Pul Sinoge
Pada jenis gending ini, ada yang seluruh baitnya merupakan isi, dan ada pula yang mengandung bait- bait sampiran bahkan ada yang hanya berupa sampiran tanpa isi yang jelas artinya.
b. Gending Jejanggeran ini sama dengan Gending Rare dan biasanya dinyanyikan bersama-sama saling sahut-menyahut antara kelompok satu dengan yang lain. Ada yang menjadi janger (kelompok putri) ada yang menjadi kecak (kelompok putra).
Lama kelamaan Gending Jejangeran ini dinyanyikan juga oleh orang-orang dewasa di dalam tontonan dengan jalan memberi variasi gerak-gerik atau variasi lakon (lelampahan)
Contoh Gending Jejangeran ini antara lain:
No. Judul
1 Putri Ayu
2 Siap Sangkur
3 Mejejangeran
c. Gending Sanghyang dinyanyikan untuk menurunkan (nedunang) Sanghyang-Sanghyang, misalnya pada prosesi budaya peninggalan jaman pra-Hindu dalam tarian sakral Sanghyang, yang meliputi tarian Sanghyang Dedari, Sanghyang Deling, Sanghyang Jaran, Sanghyang Bojog, Sanghyang Celeng, Sanghyang Sampat dan sebagainya. Sistem atau ortenan tembang-tembang ini sama dengan gending-gending rare lainnya, pengertian yang dihasilkan dari isi gending ini sering abstrak, dan tidak menentu karena sulit dicerna. Ini sesuai dengan kaidah gegendingan yang tidak menuntut pengertian yang utuh dan runtut seperti halnya Tembang Macapat.
Contoh dari gending- gending Sanghyang adalah:
No. Judul
1 Puspa Panganjali
2 Kukus Arum
3 Suaran Kumbang
2. Tembang macapat, Sinom, Pangkur (Sekar Alit)
Berbeda dengan Sekar Rare (lagu anak-anak maupun lagu rakyat), kelompok Sekar Alit, yang biasa disebut tembang macapat, gaguritan atau pupuh, terikat oleh hukum Padalingsa yang terdiri dari guru wilang dan guru dingdong. Guru wilang adalah ketentuan yang mengikat jumlah baris pada setiap satu macam pupuh (lagu) serta banyaknya bilangan suku kata pada setiap barisnya. Bila terjadi pelanggaran atas guru wilang ini maka kesalahan ini disebut elung. Selanjutnya guru dingdong adalah uger-uger yang mengatur jatuhnya huruf vokal pada tiap-tiap akhir suku kata. Pelanggaran atas guru dingdong ini disebut ngandang. Tentang istilah macapat yang dipakai untuk menyebut jenis tembang ini adalah sebuah istilah dari bahasa Jawa. Kelompok tembang ini disebut tembang macapat karena pada umumnya dibaca dengan sistem membaca empat-empat suku kata (ketukan).
3. Kekidungan/Sekar Madya
Sekar Madya yang meliputi jenis-jenis lagu pemujaan, umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama. Kelompok tembang yang tergolong sekar madya pada umumnya mempergunakan bahasa Jawa tengahan, yaitu seperti bahasa yang dipergunakan di dalam lontar/ cerita Panji atau Malat, dan tidak terikat oleh Guru Lagu maupun Padalingsa.
Tembang- tembang yang tergolong dalam kelompok ini di antaranya yang paling banyak adalah Kidung atau Kakidungan. Kidung diduga datang dari Jawa abad XVI sampai XIX akan tetapi kemudian kebanyakan ditulis di Bali. Hal ini dapat dilihat dari struktur komposisinya terbukti dengan masuknya ide-ide yang terdiri dari Pangawit, Panama dan Pangawak yang merupakan istilah-istilah yang tidak asing lagi dalam tetabuhan Bali.
Di Bali kidung-kidung selalu dilakukan dan dimainkan bersama-sama dengan instrumen. Lagu - lagu kidung ini ditulis dalam lontar tabuh-tabuh Gambang dan oleh karena itulah laras dan namanya banyak sama dengan apa yang ada dalam penggambangan, menggunakan laras pelog Saih Pitu (Pelog 7 nada) yang terdiri dari 5 nada pokok dan 2 nada pemaro/ tengahan.
Modulasi yaitu perubahan tangga nada ditengah-tengah lagu sangat banyak dipergunakan.
4. Kakawin/ Wirama (Sekar Agung)
Sekar Agung atau Tembang Gede meliputi lagu-lagu berbahasa Kawi yang diikat oleh hukum guru lagu, pada umumnya dinyanyikan dalam kaitan upacara, baik upacara adat maupun agama. Jenis tembang Bali yang termasuk dalam kelompok Sekar Agung ini adalah Kakawin. Kakawin adalah puisi Bali klasik yang berdasarkan puisi dari bahasa Jawa Kuna. Dilihat dari segi penggunaan bahasanya, Kakawin banyak mengambil dasar dari puisi Sanskerta yang kemudian diterjemahkan dan disesuaikan, sehingga mempunyai kekhasan tersendiri.
Ada dugaan bahwa Kakawin ini diciptakan di Jawa pada abad IX sampai XVI.
Masyarakat Bali mengenal banyak jenis Kekawin seperti:
No. Jenis
1 Aswalalita
2 Wasantatilaka
3 Tanukerti
4 Sardulawikradita
5 Watapatia Wangeasta
6 Wirat
7 Çekarini
8 Girisa
9 Prtiwitala
10 Puspitagra
11 Saronca
Di samping tembang-tembang di atas masih ada beberapa jenis untaian kata bertembang yang sukar untuk dimasukkan ke dalam kelompok-kelompok yang bertembang. Jenis-jenis kata bertembang yang dimaksud adalah:
Sasonggaan: Kalimat kiasan yang dapat dipakai untuk menggambarkan suatu peristiwa
Bladbadan: Kalimat yang mengandung arti kiasan
Wawangsalan: Kalimat bersajak
Sasawangan: Kalimat perbandingan
Papindaan: Kalimat perbandingan
Tandak: Kalimat yang dilagukan melodinya diharmoniskan dengan nada yang diikutinya
Pangalang: Tembang pendahuluan
Sasendon: Semacam tandak yang dipergunakan untuk menggarisbawahi suatu drama
Untuk dapat menyanyi dengan baik seorang penembang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Suara harus bagus dan tahu pengolahannya
2. Nafas panjang serta tahu mengaturnya
3. Mengerti masalah laras (selendro dan pelog)
4. Mengerti tetabuhan dan menguasai perihal matra
5. Tahu hukum/uger-uger yang ada pada masing-masing kelompok tembang
PKB, Gong Kebyar sampai Gambang Oleh I Wayan Sinti, M.A.
WALAUPUN tidak ikut terlibat dalam kepanitaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-31, namun karena kecintaan kepada seni budaya Bali khususnya seni pertunjukan, penulis hampir selalu mengikuti perkembangannya dari tahun ke tahun -- walaupun pada saat tertentu mungkin penulis sedang berada di luar negeri. PKB 2009 baru saja berlalu dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kita patut berbangga dan bersyukur karena pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik dan lancar.
Soal materi yang diacarakan dalam PKB masih terkesan kurang seimbang. Hal ini dapat dilihat pada penampilan dari penggalian dan pelestarian kesenian tua atau klasik dengan kesenian pengembangan (populer). Pun penampilan seni tradisi dengan seni kontemporer termasuk teater modern, seperti termuat pada Bali Post (14/7) yang baru lalu.
Masalah paling menonjol adalah soal pendanaan. Konon, seni populer seperti satu grup gong kebyar, pembiayaannya mencapai lebih dari Rp 200 juta. Sementara kesenian tua atau klasik dibiayai hanya sekitar Rp 5-7 juta. Hal ini sungguh sangat ironis jika berlangsung terus menerus. Oleh karenanya, sesuai dengan tema PKB tahun ini yaitu "Mulat Sarira", panitia khususnya konseptor seni pertunjukan hendaknya lebih bijak mengagendakan acara pementasan dan mengusulkan kepada top figur atau pengambil keputusan/kebijakan agar dana pembinaan antara kesenian klasik dengan kesenian modern lebih diseimbangkan di masa mendatang.
Perihal Laras
Generasi muda khususnya para pecinta karawitan Bali seyogyanya tidak bingung mendefinisikan perihal laras. Laras ialah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang sudah tertentu banyaknya serta susunan intervalnya atau suara-antaranya.
Sesuai dengan penuturan para penabuh tua yang pernah penulis ajak berdiskusi secara informal pada saat penulis sedang melatih tabuh di tiap kabupaten di seluruh Bali, kebanyakan dari mereka berasal dari Kota Denpasar, Badung, Klungkung, Bangli, Tabanan, Gianyar dan dari Karangasem. Mereka rata-rata mengatakan bahwa gamelan yang bertangga nada tujuh di Bali dikenal dengan sebutan saih pitu -- bukan pelog saih pitu. Adanya tambahan kata pelog terkesan sudah kena pengaruh dari Jawa.
Di samping gamelan saih pitu, juga dikenal saih lima dan saih pat. Dan menurut penuturan Guru I Nyoman Kaler (almarhum) yang adalah salah seorang pendiri Konservatori Karawitan (Kokar) Jurusan Bali (kini SMKI), dari gamelan saih pitu dapat diturunkan beberapa macam laras atau saih/patutan termasuk pelog dan slendro.
Karawitan Bali pada umumnya menggunakan tangga nada tujuh, lima, dan empat. Namun khusus untuk karawitan vokal, digunakan tangga nada lebih banyak lagi. Hal ini dapat dijumpai pada sekar ageng seperti wirama, sloka, sruti, mantram, dan palawakya.
Terkait dengan tangga nada yang dipergunakan pada seni suara vokal, ada cerita menarik yang dialami penulis. Menjelang akhir dari studi penulis pada San Diego Sate University, California, AS, Agustus 1981, seorang sarodis terkenal dari India, Ali Akbar Khan, diundang untuk mempertunjukkan kebolehannya memainkan alat musik sarod. Di samping pementasan, juga diadakan acara tanya-jawab antara penonton dengan si pemain sarod.
Kala itu ada seorang penonton yang menanyakan perihal raga. Raga atau rag adalah satu istilah dalam musik India yang artinya sama dengan melodi atau laras. Si penonton menanyakan prihal banyaknya raga yang dipergunakan dalam musik India. Ketika itu, Ali Akbar Khan dengan spontan menjawab bahwa dalam musik India terdapat ratusan ribu raga. Mendengar jawaban itu, penulis agak kaget, dan langsung menanyakan kepada seorang dosen yang kebetulan banyak mengetahui perihal musik Bali.
Apakah jawaban itu betul? Yang bersangkutan balik menjelaskan bahwa di Bali mungkin terdapat lebih banyak lagi namun tidak diteorikan. Terkait dengan hal tersebut, penulis telah mendapat satu inspirasi untuk menciptakan gamelan baru yang kemudian penulis beri nama Manikasanti, tercipta pada 1994. Gamelan Manikasanti dapat berfungsi seperti ensiklopedi gamelan Bali.
Berselang beberapa tahun kemudian, penulis lagi menciptakan gamelan terbaru saat ini yaitu Siwa Nada bertangga nada sembilan atau saih sanga yang tercipta pada 2005 di Universitas Washington, Seattle, AS. Gamelan ini dapat dipakai untuk memainkan musik Bali serta musik dari negara lain. Misalnya musik Barat, Jepang, dll.nya. Memainkan musik Barat dan Jepang pada gamelan Siwa Nada sudah dilaksanakan pada PKB yang ke-29 pada 2007 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Pada masa mendatang, jika diberi kesempatan, penulis berencana mementaskan musik Cina dan India pada gamelan Siwa Nada.
Gong Kebyar
Gong kebyar adalah salah satu gamelan yang muncul di Bali Utara (Buleleng) sekitar tahun 1920-an, kemudian popularitasnya meningkat luar biasa sejak 1950-an hingga saat ini. Penulis sendiri pertama kali belajar menabuh gamelan gong kebyar pada 1957 di kampung kami Banjar Dauh Kutuh dan Pemangkalan, Desa Ubung Kaja (Denpasar). Penulis juga sudah cukup banyak berkarya pada gamelan gong kebyar yang terkait dengan pelaksaan PKB dari tahun ke tahun.
Gong kebyar memberikan dampak yang positif dan juga negatif. Dampak positifnya antara lain (1) lagunya yang energik, dinamis dengan suara menggelegar serta mempergunakan aneka tempo, ritme, disertai irama ngumbang-ngisep, sungguh mengundang decak kagum bagi pendengarnya, dan (2) dapat dipakai untuk mengiringi beberapa jenis seni pertunjukan, di samping mengiringi upacara panca yajnya.
Sedangkan dampak negatifnya, antara lain (1) pada gamelan gong kebyar kita tidak mungkin bisa mengubah tangga nada dari satu patutan ke patutan lainnya karena gong kebyar hanya bertangga nada lima, (2) munculnya gamelan gong kebyar menyebabkan cukup banyak barung gamelan tua dilebur dijadikan gong kebyar, dan (3) gending-gending (lagu) gamelan klasik akhirnya terbukti tidak sedikit yang dipengaruhi oleh teknik permainan gong kebyar, sehingga karakter gendingnya menjadi berubah.
Dampak negatif lainnya adalah (4) munculnya gamelan gong kebyar, larasnya sangat mempengaruhi si pendengar pada khususnya para seniman tabuh, sehingga telinganya -- maaf -- terkesan sudah dijajah oleh laras gamelan gong kebyar yang kebanyakan mempergunakan patut selisir, sehingga patutan yang lain menjadi agak terpinggirkan. Namun, gamelan gong kebyar cukup bagus dipakai memulai melatih anak-anak muda karena teknik menabuhnya tinggi.
Gamelan Gambang
Lantas, bagaimana dengan gambelan gambang? Gambang diperkirakan sudah ada pada masa pemeritahan Prabu Erlangga yang memerintah Bali dan Jawa Timur pada 1019-1042 Masehi. Hal ini penulis simpulkan setelah membaca beberapa literatur serta membaca beberapa pupuh gambang yang ada teksnya dan kidung Jayendria.
Generasi muda yang mau belajar menabuh gambang, tidak ada jeleknya juga belajar membaca notasi gambang (dingdong). Memang, untuk belajar gambang, bisa saja menggunakan notasi lain, misalnya notasi Kokar, namun reng atau intonasinya akan kedengarannya beda. Yang lebih penting adalah melestarikan notasi tersebut agar tidak sampai punah. Penulis yakin, mudah-mudahan para penabuh gambang di masyarakat sudah biasa membaca notasi gambang.
Lalu, bagaimana halnya dengan para sarjana karawitan kita khususnya di lembaga pendidikan? Kita semua tentu berharap agar notasi itu tidak sampai punah. Namun, kalau seandainya punah, siapakah yang paling bertanggungjawab? Pemahaman penulis, notasi dingdong dipergunakan untuk menotasi pupuh (gending) gamelan gambang, saron/caruk, gong luang, slonding dan kidung.
Perihal kidung, salah seorang tokoh kidung terkenal yaitu almarhum I Wayan Pamit dari Banjar Kayumas Kelod Denpasar, pernah mendatangi penulis menanyakan tentang cara membaca notasi gambang. Kehadirannya tentu saja penulis sambut dengan gembira karena kami sama-sama mencintai seni vokal kidung. Sebaliknya, penulis dapat bertenggang rasa perihal bahasa Jawa Tengahan yang banyak dipergunakan pada kidung. Kemudian, belakangan dengan senang hati penulis memberinya satu tungguh tingklik gambang untuk dipakai pedoman.
Memang, Taman Budaya Denpasar adalah tempat yang sangat bagus untuk berolah seni. Tempat itu sangat ideal dipakai untuk menyelamatkan kesenian tua atau klasik seperti wayang, gambuh, arja, serta jenis kesenian lainnya. Jadwal pementasannya bisa dilakukan misalnya pada setiap bulan Purnama. Dan untuk lebih menyemarakkan pementasan, kalau dipandang perlu, panitia bisa saja mengundang para seniman yang dianggap peduli dengan jenis kesenian yang dipentaskan, sehingga PKB tetap bisa berkesinambungan.
Soal materi yang diacarakan dalam PKB masih terkesan kurang seimbang. Hal ini dapat dilihat pada penampilan dari penggalian dan pelestarian kesenian tua atau klasik dengan kesenian pengembangan (populer). Pun penampilan seni tradisi dengan seni kontemporer termasuk teater modern, seperti termuat pada Bali Post (14/7) yang baru lalu.
Masalah paling menonjol adalah soal pendanaan. Konon, seni populer seperti satu grup gong kebyar, pembiayaannya mencapai lebih dari Rp 200 juta. Sementara kesenian tua atau klasik dibiayai hanya sekitar Rp 5-7 juta. Hal ini sungguh sangat ironis jika berlangsung terus menerus. Oleh karenanya, sesuai dengan tema PKB tahun ini yaitu "Mulat Sarira", panitia khususnya konseptor seni pertunjukan hendaknya lebih bijak mengagendakan acara pementasan dan mengusulkan kepada top figur atau pengambil keputusan/kebijakan agar dana pembinaan antara kesenian klasik dengan kesenian modern lebih diseimbangkan di masa mendatang.
Perihal Laras
Generasi muda khususnya para pecinta karawitan Bali seyogyanya tidak bingung mendefinisikan perihal laras. Laras ialah urutan nada-nada dalam satu oktaf yang sudah tertentu banyaknya serta susunan intervalnya atau suara-antaranya.
Sesuai dengan penuturan para penabuh tua yang pernah penulis ajak berdiskusi secara informal pada saat penulis sedang melatih tabuh di tiap kabupaten di seluruh Bali, kebanyakan dari mereka berasal dari Kota Denpasar, Badung, Klungkung, Bangli, Tabanan, Gianyar dan dari Karangasem. Mereka rata-rata mengatakan bahwa gamelan yang bertangga nada tujuh di Bali dikenal dengan sebutan saih pitu -- bukan pelog saih pitu. Adanya tambahan kata pelog terkesan sudah kena pengaruh dari Jawa.
Di samping gamelan saih pitu, juga dikenal saih lima dan saih pat. Dan menurut penuturan Guru I Nyoman Kaler (almarhum) yang adalah salah seorang pendiri Konservatori Karawitan (Kokar) Jurusan Bali (kini SMKI), dari gamelan saih pitu dapat diturunkan beberapa macam laras atau saih/patutan termasuk pelog dan slendro.
Karawitan Bali pada umumnya menggunakan tangga nada tujuh, lima, dan empat. Namun khusus untuk karawitan vokal, digunakan tangga nada lebih banyak lagi. Hal ini dapat dijumpai pada sekar ageng seperti wirama, sloka, sruti, mantram, dan palawakya.
Terkait dengan tangga nada yang dipergunakan pada seni suara vokal, ada cerita menarik yang dialami penulis. Menjelang akhir dari studi penulis pada San Diego Sate University, California, AS, Agustus 1981, seorang sarodis terkenal dari India, Ali Akbar Khan, diundang untuk mempertunjukkan kebolehannya memainkan alat musik sarod. Di samping pementasan, juga diadakan acara tanya-jawab antara penonton dengan si pemain sarod.
Kala itu ada seorang penonton yang menanyakan perihal raga. Raga atau rag adalah satu istilah dalam musik India yang artinya sama dengan melodi atau laras. Si penonton menanyakan prihal banyaknya raga yang dipergunakan dalam musik India. Ketika itu, Ali Akbar Khan dengan spontan menjawab bahwa dalam musik India terdapat ratusan ribu raga. Mendengar jawaban itu, penulis agak kaget, dan langsung menanyakan kepada seorang dosen yang kebetulan banyak mengetahui perihal musik Bali.
Apakah jawaban itu betul? Yang bersangkutan balik menjelaskan bahwa di Bali mungkin terdapat lebih banyak lagi namun tidak diteorikan. Terkait dengan hal tersebut, penulis telah mendapat satu inspirasi untuk menciptakan gamelan baru yang kemudian penulis beri nama Manikasanti, tercipta pada 1994. Gamelan Manikasanti dapat berfungsi seperti ensiklopedi gamelan Bali.
Berselang beberapa tahun kemudian, penulis lagi menciptakan gamelan terbaru saat ini yaitu Siwa Nada bertangga nada sembilan atau saih sanga yang tercipta pada 2005 di Universitas Washington, Seattle, AS. Gamelan ini dapat dipakai untuk memainkan musik Bali serta musik dari negara lain. Misalnya musik Barat, Jepang, dll.nya. Memainkan musik Barat dan Jepang pada gamelan Siwa Nada sudah dilaksanakan pada PKB yang ke-29 pada 2007 di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Denpasar. Pada masa mendatang, jika diberi kesempatan, penulis berencana mementaskan musik Cina dan India pada gamelan Siwa Nada.
Gong Kebyar
Gong kebyar adalah salah satu gamelan yang muncul di Bali Utara (Buleleng) sekitar tahun 1920-an, kemudian popularitasnya meningkat luar biasa sejak 1950-an hingga saat ini. Penulis sendiri pertama kali belajar menabuh gamelan gong kebyar pada 1957 di kampung kami Banjar Dauh Kutuh dan Pemangkalan, Desa Ubung Kaja (Denpasar). Penulis juga sudah cukup banyak berkarya pada gamelan gong kebyar yang terkait dengan pelaksaan PKB dari tahun ke tahun.
Gong kebyar memberikan dampak yang positif dan juga negatif. Dampak positifnya antara lain (1) lagunya yang energik, dinamis dengan suara menggelegar serta mempergunakan aneka tempo, ritme, disertai irama ngumbang-ngisep, sungguh mengundang decak kagum bagi pendengarnya, dan (2) dapat dipakai untuk mengiringi beberapa jenis seni pertunjukan, di samping mengiringi upacara panca yajnya.
Sedangkan dampak negatifnya, antara lain (1) pada gamelan gong kebyar kita tidak mungkin bisa mengubah tangga nada dari satu patutan ke patutan lainnya karena gong kebyar hanya bertangga nada lima, (2) munculnya gamelan gong kebyar menyebabkan cukup banyak barung gamelan tua dilebur dijadikan gong kebyar, dan (3) gending-gending (lagu) gamelan klasik akhirnya terbukti tidak sedikit yang dipengaruhi oleh teknik permainan gong kebyar, sehingga karakter gendingnya menjadi berubah.
Dampak negatif lainnya adalah (4) munculnya gamelan gong kebyar, larasnya sangat mempengaruhi si pendengar pada khususnya para seniman tabuh, sehingga telinganya -- maaf -- terkesan sudah dijajah oleh laras gamelan gong kebyar yang kebanyakan mempergunakan patut selisir, sehingga patutan yang lain menjadi agak terpinggirkan. Namun, gamelan gong kebyar cukup bagus dipakai memulai melatih anak-anak muda karena teknik menabuhnya tinggi.
Gamelan Gambang
Lantas, bagaimana dengan gambelan gambang? Gambang diperkirakan sudah ada pada masa pemeritahan Prabu Erlangga yang memerintah Bali dan Jawa Timur pada 1019-1042 Masehi. Hal ini penulis simpulkan setelah membaca beberapa literatur serta membaca beberapa pupuh gambang yang ada teksnya dan kidung Jayendria.
Generasi muda yang mau belajar menabuh gambang, tidak ada jeleknya juga belajar membaca notasi gambang (dingdong). Memang, untuk belajar gambang, bisa saja menggunakan notasi lain, misalnya notasi Kokar, namun reng atau intonasinya akan kedengarannya beda. Yang lebih penting adalah melestarikan notasi tersebut agar tidak sampai punah. Penulis yakin, mudah-mudahan para penabuh gambang di masyarakat sudah biasa membaca notasi gambang.
Lalu, bagaimana halnya dengan para sarjana karawitan kita khususnya di lembaga pendidikan? Kita semua tentu berharap agar notasi itu tidak sampai punah. Namun, kalau seandainya punah, siapakah yang paling bertanggungjawab? Pemahaman penulis, notasi dingdong dipergunakan untuk menotasi pupuh (gending) gamelan gambang, saron/caruk, gong luang, slonding dan kidung.
Perihal kidung, salah seorang tokoh kidung terkenal yaitu almarhum I Wayan Pamit dari Banjar Kayumas Kelod Denpasar, pernah mendatangi penulis menanyakan tentang cara membaca notasi gambang. Kehadirannya tentu saja penulis sambut dengan gembira karena kami sama-sama mencintai seni vokal kidung. Sebaliknya, penulis dapat bertenggang rasa perihal bahasa Jawa Tengahan yang banyak dipergunakan pada kidung. Kemudian, belakangan dengan senang hati penulis memberinya satu tungguh tingklik gambang untuk dipakai pedoman.
Memang, Taman Budaya Denpasar adalah tempat yang sangat bagus untuk berolah seni. Tempat itu sangat ideal dipakai untuk menyelamatkan kesenian tua atau klasik seperti wayang, gambuh, arja, serta jenis kesenian lainnya. Jadwal pementasannya bisa dilakukan misalnya pada setiap bulan Purnama. Dan untuk lebih menyemarakkan pementasan, kalau dipandang perlu, panitia bisa saja mengundang para seniman yang dianggap peduli dengan jenis kesenian yang dipentaskan, sehingga PKB tetap bisa berkesinambungan.
RAMALAN sabdo palon
Filed under: sejarah by superpriyo — Tinggalkan komentar
Mei 20, 2010
Ramalan Sabdo Palon
(Terjemahan bebas bahasa Indonesia)
1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
2.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.” View full article »
Baca Lagi & Komentar
Kitab Musarar Joyoboyo (edisi lengkap dengan terjemahan Bahasa Indonesia oleh Bapak Isjana Dewa)
Filed under: sejarah by superpriyo — Tinggalkan komentar
Mei 19, 2010
Asmarandana
1. Kitab Musarar inganggit, Duk Sang Prabu Joyoboyo, Ing Kediri kedhatone, Ratu agagah prakosa, Tan ana kang malanga, Parang muka samya teluk, Pan sami ajrih sedaya
Kitab Musarar ditulis, Kala Sang Raja Jayabaya, di Kediri istananya, Raja Gagah perkasa, tak ada yang menghalangi, para musuh tunduk, semua pada ketakutan
2. Milane sinungan sakti, Bathara Wisnu puniku, Anitis ana ing kene, Ing Sang Prabu Jayabaya, Nalikane mangkana, Pan jumeneng Ratu Agung, Abala para Narendra
Sebanya dia sakti, Sanghyang Wisnu itu menitis padanya, pada Sang Raja Jayabaya, pada waktu itu, bertahta sebagai Raja besar, berkawan dengan para Raja.
3. Wusnya mangkana winarni, Lami-lami apeputra, Jalu apekik putrane, Apanta sampun diwasa, Ingadekaken raja, Pagedongan tanahipun, Langkung arja kang nagara,
Setelah demikian terkisah, lama-lama berputra, lelaki gantheng ujudnya, pada waktu dewasa, diangkat sebagai raja, di daerah Pagedongan, lebih ramai negaranya.
4. Maksihe bapa anenggih, Langkung suka ingkang rama, Sang Prabu Jayabayane, Duk samana cinarita, Pan arsa katamiyan, Raja Pandita saking Rum, Nama Sultan Maolana,
Kesayangan ayah itu, lebih sayang sang bapa, Sang Raja Jayabaya, pada saat itu dikisahkan, akan kedatangan tamu, Raja Ulama dari Roma, bernama Sultan Maulana
5. Ngali Samsujen kang nami, Sapraptane sinambrama, Kalawan pangabektine, Kalangkung sinuba suba, Rehning tamiyan raja, Lan seje jinis puniku, Wenang lamun ngurmatana
Ali Syamsul Zein namanya, setibanya menghadap, bersama bingkisannya, lebih dimuliakan, karena tamunya seorang Raja, dan lain bangsa itu, terhormat bila menghargainya
6. Wus lenggah atata sami, Nuli wau angandika, Jeng Sultan Ngali Samsujen, “Heh Sang Prabu Jayabaya, Tatkalane ta iya, Apitutur ing sireku, Kandhane Kitab Musarar.
Telah duduk berhadapan keduanya, lalu bersabdalah Sri Sultan Syambul Zein, ” Hai Sang Raja Jayabaya, ketika memberi nasehat padamu, isinya Kitab Musarar
7. Prakara tingkahe nenggih, Kari ping telu lan para, Nuli cupet keprabone, Dene ta nuli sinelan, Liyane teka para,” Sang Prabu lajeng andeku, Wus wikan titah Bathara.
Perkara lakunya itu, tinggal tiga kali dan selanjutnya, lalu sempit tahtanya, lalu diselingi, lainnya dari kawula, Sang Raja lalu tertunduk, sudah paham kehendak Tuhan
8. Lajeng angguru sayekti, Sang-a Prabu Jayabaya, Mring Sang raja panditane, Rasane Kitab Musarar, Wus tunumplak sadaya, Lan enget wewangenipun, Yen kantun nitis ping tiga
Lalu berguru dengan tekun, Sang Raja Jayabaya, pada Sang Raja Ulama, Rasanya Kitab Musarar, sudah tamat semua, lalu ingat ketentuannya, bahwa tinggal menitis tiga kali
9. Benjing pinernahken nenggih, Sang-a Prabu Jayabaya, Aneng sajroning tekene, Ing guru Sang-a Pandita, Tinilar aneng Kakbah, Imam Supingi kang nggadhuh, Kinarya nginggahken kutbah.
Kelak akan dijelaskan, Sang Raja jayabaya, di dalam tongkat(=pegangan)nya; oleh Guru Sang Ulama, ditinggalkan di Ka’bah, Imam Syafei yang merawah/memelihara, dipakai untuk mendirikan / menyampaikan wejangan/ajaran
10. Ecis wesi Udharati, Ing tembe ana Molana, Pan cucu Rasul jatine, Alunga mring Tanah Jawa, Nggawa ecis punika, Kinarya dhuwung puniku, Dadi pundhen bekel Jawa
Ecis wesi udarati ( ini peribahasa, maksudnya adlh senjata/dari logam), kelak ada Maulana, yang sesungguhnya ialah cucu Rasul, pergi ke tanah Jawa, membawa logam itu, untuk (bahan) keris, jadi leluhur para pemimpin Jawa
11. Raja Pandita apamit, Musna saking palenggahan, Tan antara ing lamine, Pan wus jangkep ing sewulan, Kondure Sang Pandita, Kocapa wau Sang Prabu, Animbali ingkang putra.
Ulama raja mohon diri, hilang dari tempat duduknya, tak seberapa lama, yaitu genap satu bulan, (dari) pulangnya Sang Ulama, terkisahlah Sang Raja, memanggil Sang Putra.
12. Tan nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga.
Tak lama kemudian tiba, dan langsung dibawa, Oleh Sang Bapa dalam perjalanannya, naik Gunung Padhang, Sang Bapa dan Sang Putra, setibanya di Gunung, naik ke tengah puncak gunung
13. Wonten ta ajar satunggil, Anama Ajar Subrata, Pan arsa methuk lampahe, Mring Sang Prabu Jayabaya, Ratu kang namur lampah, Tur titis Bathara Wisnu, Njalma Prabu Jayabaya
Ada seorang Guru, bernama Guru Subrata, yang akan menjemput datangnya, yaitu Sang Raja Jayabaya, Raja yang langkahnya menyamar, apalagi Titisan Dewa Wisnu, menjelma sang Raja Jayabaya
14. Dadya Sang Jayabaya ji, Waspada reh samar-samar, Kinawruhan sadurunge, Lakune jagad karana, Tindake raja-raja, Saturute laku putus, Kalawan gaib sasmita.
Jadilah Sang Jayabaya seorang, waspada hal yang samar-samar, diketahui sebelumnya, Lakunya dunia oleh karena, Langkahnya Raja-raja, sterusnya langkah tegas, beserta pertanda ghaib
15. Yen Islama kadi nabi, Ri Sang aji Jayabaya, Cangkrameng ardi wus suwe, Apanggih lawan ki Ajar, Ajar ing gunung Padhang, Awindon tapane guntur, Dadi barang kang cinipta.
Bila Sang Nabi Islam, Paduka Sang Aji Jayabaya, bediam di gunung sudah lama, bertemu Ki Guru, Guru di Gunung Padhang, berwindu-windu tekun bertapanya, Jadi/terwujud barang yang diangankan
16. Gupuh methuk ngacarahi, Wus tata dennya alenggah, Ajar angundang endhange, Siji nyunggi kang rampadan, Isine warna-warna, Sapta wara kang sesuguh, Kawolu lawan ni endang.
Tergesa-gesa menjemput mempersilakan, setelah tenang mereka duduk, Ki Guru memanggil putrinya, satu menyunggi sesajian, isinya beraneka macam, tujuh hal yang disajii, ke delapan ialah Sang Putri
17. Juwadah kehe satakir, Lan bawang putih satalam, Kembang melathi saconthong, Kalawan getih sapitrah, Lawan kunir sarimpang, Lawan kajar sawit iku, Kang saconthong kembang mojar.
Jadah/tetel/Uli sebanyak satu takir, juga bawang putih sebanyak satu baki, Bunga melathi sebanyak satu bungkus, juga darah sebanyak satu mangkok, juga Kunyit satu rimpang,, dan kajar sawit itu, yang sebungkus bunga mojar
18. Kawolu endang sawiji, Ki Ajar pan atur sembah, “Punika sugataningong, Katura dhateng paduka,” Sang Prabu Jayabaya, Awas denira andulu, Sedhet anarik curiga.
Ke delapan Sang Putri seorang, Ki Guru mengaturkan sembah, ”Iinilah atur /hidangan saya, kupersembahkan kepada Paduka”: Sang Raja Jayabaya awas penglihatannya, segera mencabut keris
19. Ginoco ki Ajar mati, Endhange tinuweg pejah, Dhuwung sinarungken age, Cantrike sami lumajar, Ajrih dateng sang nata, Sang Rajaputra gegetun, Mulat solahe kang rama.
Ditusuk Sang Guru tewas, putrinya ditikam tewas, keris disarungkan segera, Santrinya sama lari, takut kepada Sang Raja, Sang putra raja menyesal, melihat perbuatan Sang Bapa
20. Arsa matur putra ajrih, Lajeng kondur sekaliyan, Sapraptanira kedhaton, Pinarak lan ingkang putra, Sumiwi muriggweng ngarsa, Angandika Sang-a Prabu, Jayabaya mring kang putra.
Sang Putra ingin berkata takut, lalu berdua pulang, setibanya di istana, duduk dengan sang putra, sang putra di hadapan, berkata Sang Prabu Jayabaya kepada sang putra
21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.
Hai putraku ananda, kamu tahu kelakuan Guru, dia yang mati olehku, bersalah pada guruku, Sang Sultan Maulana, iaitu Ali Syamsul
21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.
Hai putraku ananda, kamu tahu kelakuan Guru, dia yang mati olehku, bersalah pada guruku, Sang Sultan Maulana, iaitu Ali Syamsul Zein, ketika masih sama-sama muda.
Sinom :
1. Pan iku uwis winejang, Mring guru Pandita Ngali, Rasane kitab Musarar, lya padha lawan mami, Nanging anggelak janji, Cupet lelakoning ratu, lya ing tanah Jawa, Ingsun pan wus den wangeni, Kari loro kaping telune ta ingwang.
Memang itu sudah diajarkan, pada Guru Ulama Ali, rasanya Kitab Musarar, ia sama dengan aku, tapi mengingkari janji, pendek perikehidupan raja, ya di tanah Jawa, Aku jelas sudah dikurangajari, tinggal dua, ke tiganya ialah kepadaku.
2. Yen wis anitis ping tiga, Nuli ana jaman maning, Liyane panggaweningwang, Apan uwus den wangeni, Mring pandita ing nguni, Tan kena gingsir ing besuk, Apan talinambangan, Dene Maolana Ngali, Jaman catur semune segara asat.
Bila sudah menitis tiga kali, akan ada jaman lagi, selain karyaku, andai sudah dikurangajari, kapada Ulama saat lalu, Tak bisa berubah kelak, apabila dilambangkan oleh Maulana Ali, Jaman ke empat tandanya lautan mengering
3. Mapan iku ing Jenggala, Lawan iya ing Kediri, Ing Singasari Ngurawan, Patang ratu iku maksih, Bubuhan ingsun kaki, Mapan ta durung kaliru, Negarane raharja, Rahayu kang bumi-bumi, Pan wus wenang anggempur kang dora cara.
Tempat itu di Jenggala, juga di Kediri, di Singasari Ngurawan, Empat Raja itu masih keluargaku nak, Asal belum keliru, Negaranya makmur, Sejahtera penduduknya, juga sudah kuat menyerang para penjahat
4. Ing nalika satus warsa, Rusake negara kaki, Kang ratu patang negara, Nuli salin alam malih, Ingsun nora nduweni, Nora kena milu-milu, Pan ingsun wus pinisah, Lan sedulur bapa kaki, Wus ginaib prenahe panggonan ingwang.
Pada saat seratus tahun, rusaknya Negara Nak, Sang Raja empat Negara, lalu ganti alam lagi. Aku tidak memiliki, tidak boleh ikut campur, karena aku telah terpisah, dengan saudaraku nak, sudah ghaib letak tempatku.
5. Ana sajroning kekarah, Ing tekene guru mami, Kang naina raja Pandita, Sultan Maolana Ngali, Samsujen iku kaki, Kawruhana ta ing mbesuk, Saturun turunira, Nuli ana jaman maning, Anderpati arane Kalawisesa.
Ada di dalam batang, di tongkatnya Guruku, yang bernama Raja Ulama, Sultan Maulana Ali, Syamsul Zein itu Nak, ketahuilah kelak, dengan seluruh keturunanmu, aka nada jaman lagi, Sang raja disebut Kalawisesa
6. Apan sita linambangan, Sumilir kang naga kentir, Semune liman pepeka, Pejajaran kang negari, Hang tingkahing becik, Nagara kramane suwung, Miwah yudanegara, Nora ana anglabeti, Tanpa adil satus taun nuli sirna.
Apabila dilambangkan, berembus Sang Naga hanyut, ibaratnya gajah bertingkah Pajajaran lah negaranya, yang kelakuannya baik, tak ada pemberontakan, juga para tentara, tak ada yang membela, tanpa adil seratus tahun lalu hilang
7. Awit perang padha kadang, Dene pametune bumi, Wong cilik pajeke emas, Sawab ingsun den suguhi, Marang si Ajar dhingin, Kunir sarimpang ta ingsun, Nuli asalin jaman, Majapahit kang nagari, lya iku Sang-a Prabu Brawijaya.
Karena perang (antar) saudara, dan hasil bumi. Para rakyat pajaknya emas, pertandanya aku di hidangi oleh Ki Ajar itu, Kunyit serimpang, lalu berganti masa, Majapahitlah negaranya, ia itulah Sang Prabu Bhre Wijaya.
8. Jejuluke Sri Narendra, Peparab Sang Rajapati, Dewanata alam ira, Ingaranan Anderpati, Samana apan nenggih, Lamine sedasa windu, Pametuning nagara, Wedale arupa picis, Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar.
Julukan sang Raja, bernama Sang Rajapati, sangat indah tempatnya, disebut Sang Raja (besar) Demikiakianlah keadaannya, lamanya sepuluh windu (80 tahun), terkenalnya Negara, Ekspornya emas, pertandanya aku dijamuoleh Si Ajar.
9. Juwadah satakir iya, Sima galak semu nenggih, Curiga kethul kang lambang, Sirna salin jaman maning, Tanah Gelagahwangi, Pan ing Demak kithanipun, Kono ana agama, Tetep ingkang amurwani, Ajejuluk Diyati Kalawisaya.
Ketan juwadah/uli se takir itu, Harimau buas ibaratnya, Keris tumpul lambangnya, hilang berganti masa lagi, Tanah Gelagahwangi, yaitu di kota Demak, di situ ada agama, tetap yang memulai, berjulukan Dyah Kalawisaya.
10. Swidak gangsal taun sirna, Pan jumeneng Ratu adil, Para wali lan pandhita, Sadaya pan samya asih, Pametune wong cilik, Ingkang katur marang Ratu, Rupa picis lan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padang.
Enampuluh lima tahun hilang, lalu bertahta Ratu adil, para wali dan brahmana, semua merasa sayang. Hasil rakyat, yang dipersembahkan kepada Rajanya, berujud emas dan uang. Pertandanya aku dijamu, bunga melati oleh Ki Ajar Gunung Padang.
11. Kaselak kampuhe bedhah, Kekesahan durung kongsi, Iku lambange dyan sirna, Nuli ana jaman maning, Kalajangga kang nami, Tanah Pajang kuthanipun, Kukume telad Demak, Tan tumurun marang siwi, Tigangdasa enem taun nuli sirna.
Tersusul sarungnya robek, penceriteraan belum habis, itu lambangnya dian (api) padam, lalu ada masa lagi, bernama Kalajangga, tanah Pajang kotanya, hukumnya meniru Demak, (tahtanya) tidak menurun kepada anak (= tak punya putra mahkota), tigapuluh enam tahun lalu hilang.
12. Semune lambang Cangkrama, Putung ingkang watang nenggih, Wong ndesa pajege sandhang, Picis ingsun den suguhi, lya kajar sauwit, Marang si Ajar karuhun, Nuli asalin jaman, Ing Mataram kang nagari, Kalasakti Prabu Anyakrakusumo.
Penggambarannya lambing tmbak, patah gagangnya, orang desa pajaknya kain, aku dijamu emas. Selain (pohon) kajar sebatang, oleh si Ajar tua, lau berganti masa, di Mataram negaranya, Rajasakti Prabu (= Sultan) Anyakrakusuma
13. Kinalulutan ing bala, Kuwat prang ratune sugih, Keringan ing nungsa Jawa, Tur iku dadi gegenti, Ajar lan para wali, Ngulama lan para nujum, Miwah para pandhita, Kagelung dadi sawiji, Ratu dibya ambeg adil paramarta.
Para rakyat n prajurittunduk patuh, kuat dalam berperang, rajanya kaya, disukai di Pulau Jawa, dan itu jadi pengganti, Guru dan para Wali, Ulama dan Tukang Nujum, juga para Brahmana, dipersatukan menjadi satu, Ratu Pandai adil dan bijaksana.
14. Sudibya apari krama, Alus sabaranging budi, Wong cilik wadale reyal, Sawab ingsun den suguhi, Arupa bawang putih, Mring ki Ajar iku mau, Jejuluke negara, Ratune ingkang miwiti, Surakalpa semune lintang sinipat.
Pandai dalam bergaul, halus budi pekertinya, orang kecil pajaknya real/duit, pengertianku dihidangi berupa bawang putih, oleh ki Ajar itu, Nama Negara itu, Rajanya yang memulai, Surakalpa ibaratnya bintang terang
15. Nuli kembang sempol tanpa, Modin sreban lambang nenggih, Panjenengan kaping papat, Ratune ingkang mekasi, Apan dipun lambangi, Kalpa sru kanaka putung, Satus taun pan sirna, Wit mungsuh sekuthu sami, Nuti ana nakoda dhateng merdagang.
Lalu bunga sempol tanpa. Modin bersorban lambangnya, Raja yang ke empat, Raja yang mengakhiri, bila dilambangkan, cincin dengan kuku putus, seratus tahun hilang, mulai dengan saudara, lalu ada nahkoda datang berniaga.
16. Iya aneng tanah Jawa, Angempek tanah sethithik, Lawas-lawas tumut aprang, Unggul sasolahe nenggih, Kedhep neng tanah Jawi, Wus ngalih jamanireku, Maksih turun Mataram, Jejuluke kang negari, Nyakrawati kadhatone tanah Pajang.
Ia di tanah Jawa, mengambil sedikit tanah/lahan, lama-lama ikut berperang, menang seluruh perangnya, Jaya di tanah Jawa, sudah berganti masanya itu, masih keturunan Mataram, nama Negara itu, Sang Raja di istana tanah Pajang
17. Ratu abala bacingah, Keringan ing nuswa Jawi, Kang miwiti dadi raja, Jejuluke Layon Keli, Semu satriya brangti, Iya nuli salin ratu, Jejuluke sang nata, Semune kenya musoni, Nora lawas nuli salin panjenengan.
Raja berbala penjahat, ditakuti di Pulau Jawa, Yang memulai jadi raja, gelarnya Mayat hanyut, ibarat satriya seberang, lalu berganti raja, Gelarnya Sang Raja, ibaratnya gadis menyusui, tidak lama lalu dia diganti
18. Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.
Sedangkan gelarnya Sang Raja, Lung gadhung rara nglingkasi, lalu ganti Gajah marah, ibaratnya tungau jantan, enampuluh tahun lalu, ada sabda hukuman, tenggelam negaranya, rusak tatanan Negara, pada masa itu pengahasilan orang desa
19. Dhuwit anggris lawan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Rupa getih mung sapitrah, Nuli retu kang nagari, Ilang barkating bumi, Tatane Parentah rusuh, Wong cilik kesrakatan, Tumpa-tumpa kang bilahi, Wus pinesthi nagri tan kena tinambak.
Uang asing dan local, kepadaku dihidangkan, berujud darah secawan, lalu rusak negaranya, hilang berkahnya bumi, ketatanegaraan hancur, rakyat jelata sangat susah, bertumpuk-p\tumpuk penderitaan, sudah takdir Negara tak dapat dihindari
20. Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.
Rusaknya Negara, Raja berpisah dengan rakyatnya, Sang Raja asyik sendiri, Waktu itu berpindah negaranya, jaman Kutila gantinya, yang serakah rajanya, Waktu itu dilambangkan, oleh Maulana Ali, bendera dua gambaran Pajang dan Mataram
21. Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.
Nahkoda ikut berkuasa, kelebihan harta terlalu berani, Sarjana?orang terdidik semua diam, Rakyat jelata sungguh kasihan, Rumah tangga berantakan, terlindas jalan besar, bendera dua dian/api padam, Dua janda menyusul saling tukar
22. Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.
Tak sempat berdandan diri, Kain panjang dan kutang tak dilihat, kelanjutan sang perlambang, sedang Maulana Ali, Syamsu Zein sang Ulama, datangnya Sang Masa Hukuman, di Semarang Tembayat, maka ketahuilah, pertanda lambing yang dikisahkan itu.
23. Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundak-mundak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja.
Sedang pajaknya Orang desa, sangat beragam ujudnya, dan pajak terus naik, saat panen tak membuat kenyang, bibit berkurang… Read More di bumi, orang jahat kian merajalela, banyak jadi penjahat, orang besar/eksekutif hatinya buruk/jahil, semakin bertambah tahun semakin meningkat bahayanya Negara.
24. Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
Hukum dan tata Negara, tak ada yang menta’ati, berganti-ganti yang memerintah, jauh penegakan keadilan, yang benar-benar diterapkan,. Yang jagoan/berkuasa tidak tulus, (orang) yang benar tak berdaya, setan menyerupai wahyu, banyak lupa
28. Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.
Raja utusan para Wali Allah, Istananya ada dua, di Mekah salah satunya, Tanah Jawa yang ke duanya, tempatnya itu nak, Perak dan Gunung (Tangkuban?) Perahu, di barat Pertemuan Sungai, Rakyatnya pada takut dan sayang, dia itu raja terkenal seluruh dunia
29. Kono ana pangapura, Ajeg kukum lawan adil, Wong jilik pajege dinar, Sawab ingsun den suguhi, Iya kembang saruni, Mring ki Ajar iku mau, Ing nalika semana, Mulya jenenging narpati, Tur abagus eseme lir madu puspa.
Di situ ada pengampunan, hukum dan keadilam ditegakkan, Rakyat pajaknya dinar, pertandanya aku dihjamu bunga seruni oleh ki Ajar itu, pada waktu itu, mulia nama sang Raja, selain tampan senyumnya seperti madu bunga (sangat manis dan elok
Dandanggula :
1. Langkung arja jamane narpati, Nora nana pan ingkang nanggulang, Wong desa iku wadale, Kang duwe pajeg sewu, Pan sinuda dening Narpati, Mung metu satus dinar, Mangkana winuwus, Jamanira pan pinetang, Apan sewu wolungatus anenggih, Ratune nuli sirna.
Lebih ramai jamannya Raja, tidak ada yang menandingi. Orang desa pajaknya, yang wajib membayar pajak seribu, dikurangi oleh raja, hanya membayar seratus dinar, demikian akhirnya, jamannya bila dihitung, ialah seribu Delapan Ratus, Rajanya lalu hilang.
2. Ilang tekan kadhatone sami, Nuli rusak iya nungsa Jawa, Nora karuwan tatane, Pra nayaka sadarum, Miwah manca negara sami, Pada sowang-sowangan, Mangkana winuwus, Mangka Allahu Tangala, Anjenengken Sang Ratu Asmarakingkin, Bagus maksih taruna.
Hilang bersama istananya juga, lalu rusak Pulau Jawa, tata Negara tidak jelas, Para Menteri semua, juga duta besar, tak ada kerjasama, demikian akhirnya. Lalu Allah ta Alaa mengangkat Raja Asmarakingkin, tampan masih muda
3. Iku mulih jenenge Narpati, Wadya punggawa sujud sadaya, Tur padha rena prentahe, Kadhatone winuwus, Ing Kediri ingkang satunggil, Kang siji tanah Ngarab, Karta jamanipun, Duk semana pan pinetang, Apan sewu lwih sangang atus anenggih, Negaranira rengka.
Itu kembali pulih nama Raja, Rakyat dan Para pejabat semua tunduk, juga mengikuti perintahnya. Istananya di Kediri salah satu, satunya lagi di tanah Arab, jamannya Kerta, pada masa itu bila dihitung, seribu lebih Sembilan Ratus, negaranya retak
4. Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi, Ratu Peranggi anulya prapta, Wadya tambuh wilangane, Prawirane kalangkung, Para ratu kalah ngajurit, Tan ana kang nanggulang, Tanah Jawa gempur, Wus jumeneng tanah Jawa, Ratu Prenggi ber budi kras anglangkungi, Tetep neng tanah Jawa.
Sudah menjadi kehendak Tuhan YME, Raja Peranggi lalu datang, prajuritnya sangat banyak, perwiranya sangat hebat, para raja kalah perang, tak ada yang mengalahkan. Tanah Jawa diserang, lalu bertahta di tanah Jawa Raja Prenggi berwatak sangat keras, tetap di Tanah Jawa
5. Enengena Sang Nateng Parenggi, Prabu ing Rum ingkang ginupita, Lagya siniwi wadyane, Kya patih munggweng ngayun, Angandika Sri Narapati, “Heh patih ingsun myarsa, Tanah Jawa iku, Ing mangke ratune sirna, lya perang klawan Ratu Parenggi, Tan ana kang nanggulang.
Adanya Sang Raja Prenggi, Raja di Rum ( Roma?) yang diminta, selagi berhadapan denga prajuritnya, Perdana Menteri menghadap, berkata Sang Raja : “ Hai PMku yang datang, Tanah Jawa itu kini Rajanya hilang karena perang dengan Raja Prenggi, tak ada yang mencegah
6. Iku patih mengkata tumuli, Anggawaa ta sabalanira, Poma tundungen den age, Yen nora lunga iku, Nora ingsun lilani mulih”, Ki Patih sigra budal, Saha balanipun, Ya ta prapta Tanah Jawa, Raja Prenggi tinundhung dening ki Patih, Sirna sabalanira.
Oleh karena itu PM agar segera membawa prajuritmu dan usirlah (Prenggi) segera, bila tidak pergi PM jangan pulang “, Sang PM lalu segera berangkat bersama prajuritnya, sampai di Tanah Jawa, Raja Prenggi diusir oleh Sang PM, beserta prajuritnya
7. Nuli rena manahe wong cilik, Nora ana kang budi sangsaya, Sarwa murah tetukone, Tulus ingkang tinandur, Jamanira den jujuluki, Gandrung-gandrung neng marga, Andulu wong gelung, Kekendon lukar kawratan, Keris parung dolen tukokena nuli, Campur bawur mring pasar.
Lalu legalah hari rakyat jelata, tidak ada yang merasa sengsara, segala batrang murah harganya, subur yang ditanam, jamannya dinamai, tergila-gila di Jalan, melihat orang bergelung, kendor rasanya keberatan baju, keris/senjata/pusaka dijual dan terbeli, campur baur di pasar
8. Sampun tutug kalih ewu warsi, Sunya ngegana tanpa tumingal, Ya meh tekan dalajate, Yen Kiamat puniku, Ja majuja tabatulihi, Anuli larang udan, Angin topan rawuh, Tumangkeb sabumi alam, Saking kidul wetan ingkang andatengi, Ambedol ponang arga.
Sudah selesai dua ribu tahun, sepi langit tak terlihat, ya hampir datang masanya, bila kiamat itu, ja majujatabatulihi (segera beertobatlah), lalu hujan jarang turun, angin puyuh /topan datang dari tenggara yang datang, mencabut gunung-gunung.
Mei 20, 2010
Ramalan Sabdo Palon
(Terjemahan bebas bahasa Indonesia)
1.
Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.
2.
Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.” View full article »
Baca Lagi & Komentar
Kitab Musarar Joyoboyo (edisi lengkap dengan terjemahan Bahasa Indonesia oleh Bapak Isjana Dewa)
Filed under: sejarah by superpriyo — Tinggalkan komentar
Mei 19, 2010
Asmarandana
1. Kitab Musarar inganggit, Duk Sang Prabu Joyoboyo, Ing Kediri kedhatone, Ratu agagah prakosa, Tan ana kang malanga, Parang muka samya teluk, Pan sami ajrih sedaya
Kitab Musarar ditulis, Kala Sang Raja Jayabaya, di Kediri istananya, Raja Gagah perkasa, tak ada yang menghalangi, para musuh tunduk, semua pada ketakutan
2. Milane sinungan sakti, Bathara Wisnu puniku, Anitis ana ing kene, Ing Sang Prabu Jayabaya, Nalikane mangkana, Pan jumeneng Ratu Agung, Abala para Narendra
Sebanya dia sakti, Sanghyang Wisnu itu menitis padanya, pada Sang Raja Jayabaya, pada waktu itu, bertahta sebagai Raja besar, berkawan dengan para Raja.
3. Wusnya mangkana winarni, Lami-lami apeputra, Jalu apekik putrane, Apanta sampun diwasa, Ingadekaken raja, Pagedongan tanahipun, Langkung arja kang nagara,
Setelah demikian terkisah, lama-lama berputra, lelaki gantheng ujudnya, pada waktu dewasa, diangkat sebagai raja, di daerah Pagedongan, lebih ramai negaranya.
4. Maksihe bapa anenggih, Langkung suka ingkang rama, Sang Prabu Jayabayane, Duk samana cinarita, Pan arsa katamiyan, Raja Pandita saking Rum, Nama Sultan Maolana,
Kesayangan ayah itu, lebih sayang sang bapa, Sang Raja Jayabaya, pada saat itu dikisahkan, akan kedatangan tamu, Raja Ulama dari Roma, bernama Sultan Maulana
5. Ngali Samsujen kang nami, Sapraptane sinambrama, Kalawan pangabektine, Kalangkung sinuba suba, Rehning tamiyan raja, Lan seje jinis puniku, Wenang lamun ngurmatana
Ali Syamsul Zein namanya, setibanya menghadap, bersama bingkisannya, lebih dimuliakan, karena tamunya seorang Raja, dan lain bangsa itu, terhormat bila menghargainya
6. Wus lenggah atata sami, Nuli wau angandika, Jeng Sultan Ngali Samsujen, “Heh Sang Prabu Jayabaya, Tatkalane ta iya, Apitutur ing sireku, Kandhane Kitab Musarar.
Telah duduk berhadapan keduanya, lalu bersabdalah Sri Sultan Syambul Zein, ” Hai Sang Raja Jayabaya, ketika memberi nasehat padamu, isinya Kitab Musarar
7. Prakara tingkahe nenggih, Kari ping telu lan para, Nuli cupet keprabone, Dene ta nuli sinelan, Liyane teka para,” Sang Prabu lajeng andeku, Wus wikan titah Bathara.
Perkara lakunya itu, tinggal tiga kali dan selanjutnya, lalu sempit tahtanya, lalu diselingi, lainnya dari kawula, Sang Raja lalu tertunduk, sudah paham kehendak Tuhan
8. Lajeng angguru sayekti, Sang-a Prabu Jayabaya, Mring Sang raja panditane, Rasane Kitab Musarar, Wus tunumplak sadaya, Lan enget wewangenipun, Yen kantun nitis ping tiga
Lalu berguru dengan tekun, Sang Raja Jayabaya, pada Sang Raja Ulama, Rasanya Kitab Musarar, sudah tamat semua, lalu ingat ketentuannya, bahwa tinggal menitis tiga kali
9. Benjing pinernahken nenggih, Sang-a Prabu Jayabaya, Aneng sajroning tekene, Ing guru Sang-a Pandita, Tinilar aneng Kakbah, Imam Supingi kang nggadhuh, Kinarya nginggahken kutbah.
Kelak akan dijelaskan, Sang Raja jayabaya, di dalam tongkat(=pegangan)nya; oleh Guru Sang Ulama, ditinggalkan di Ka’bah, Imam Syafei yang merawah/memelihara, dipakai untuk mendirikan / menyampaikan wejangan/ajaran
10. Ecis wesi Udharati, Ing tembe ana Molana, Pan cucu Rasul jatine, Alunga mring Tanah Jawa, Nggawa ecis punika, Kinarya dhuwung puniku, Dadi pundhen bekel Jawa
Ecis wesi udarati ( ini peribahasa, maksudnya adlh senjata/dari logam), kelak ada Maulana, yang sesungguhnya ialah cucu Rasul, pergi ke tanah Jawa, membawa logam itu, untuk (bahan) keris, jadi leluhur para pemimpin Jawa
11. Raja Pandita apamit, Musna saking palenggahan, Tan antara ing lamine, Pan wus jangkep ing sewulan, Kondure Sang Pandita, Kocapa wau Sang Prabu, Animbali ingkang putra.
Ulama raja mohon diri, hilang dari tempat duduknya, tak seberapa lama, yaitu genap satu bulan, (dari) pulangnya Sang Ulama, terkisahlah Sang Raja, memanggil Sang Putra.
12. Tan nulya prapti, Apan ta lajeng binekta, Mring kang rama ing lampahe, Minggah dhateng ardi Padhang, Kang putra lan keng rama, Sakpraptanira ing gunung, Minggah samdyaning arga.
Tak lama kemudian tiba, dan langsung dibawa, Oleh Sang Bapa dalam perjalanannya, naik Gunung Padhang, Sang Bapa dan Sang Putra, setibanya di Gunung, naik ke tengah puncak gunung
13. Wonten ta ajar satunggil, Anama Ajar Subrata, Pan arsa methuk lampahe, Mring Sang Prabu Jayabaya, Ratu kang namur lampah, Tur titis Bathara Wisnu, Njalma Prabu Jayabaya
Ada seorang Guru, bernama Guru Subrata, yang akan menjemput datangnya, yaitu Sang Raja Jayabaya, Raja yang langkahnya menyamar, apalagi Titisan Dewa Wisnu, menjelma sang Raja Jayabaya
14. Dadya Sang Jayabaya ji, Waspada reh samar-samar, Kinawruhan sadurunge, Lakune jagad karana, Tindake raja-raja, Saturute laku putus, Kalawan gaib sasmita.
Jadilah Sang Jayabaya seorang, waspada hal yang samar-samar, diketahui sebelumnya, Lakunya dunia oleh karena, Langkahnya Raja-raja, sterusnya langkah tegas, beserta pertanda ghaib
15. Yen Islama kadi nabi, Ri Sang aji Jayabaya, Cangkrameng ardi wus suwe, Apanggih lawan ki Ajar, Ajar ing gunung Padhang, Awindon tapane guntur, Dadi barang kang cinipta.
Bila Sang Nabi Islam, Paduka Sang Aji Jayabaya, bediam di gunung sudah lama, bertemu Ki Guru, Guru di Gunung Padhang, berwindu-windu tekun bertapanya, Jadi/terwujud barang yang diangankan
16. Gupuh methuk ngacarahi, Wus tata dennya alenggah, Ajar angundang endhange, Siji nyunggi kang rampadan, Isine warna-warna, Sapta wara kang sesuguh, Kawolu lawan ni endang.
Tergesa-gesa menjemput mempersilakan, setelah tenang mereka duduk, Ki Guru memanggil putrinya, satu menyunggi sesajian, isinya beraneka macam, tujuh hal yang disajii, ke delapan ialah Sang Putri
17. Juwadah kehe satakir, Lan bawang putih satalam, Kembang melathi saconthong, Kalawan getih sapitrah, Lawan kunir sarimpang, Lawan kajar sawit iku, Kang saconthong kembang mojar.
Jadah/tetel/Uli sebanyak satu takir, juga bawang putih sebanyak satu baki, Bunga melathi sebanyak satu bungkus, juga darah sebanyak satu mangkok, juga Kunyit satu rimpang,, dan kajar sawit itu, yang sebungkus bunga mojar
18. Kawolu endang sawiji, Ki Ajar pan atur sembah, “Punika sugataningong, Katura dhateng paduka,” Sang Prabu Jayabaya, Awas denira andulu, Sedhet anarik curiga.
Ke delapan Sang Putri seorang, Ki Guru mengaturkan sembah, ”Iinilah atur /hidangan saya, kupersembahkan kepada Paduka”: Sang Raja Jayabaya awas penglihatannya, segera mencabut keris
19. Ginoco ki Ajar mati, Endhange tinuweg pejah, Dhuwung sinarungken age, Cantrike sami lumajar, Ajrih dateng sang nata, Sang Rajaputra gegetun, Mulat solahe kang rama.
Ditusuk Sang Guru tewas, putrinya ditikam tewas, keris disarungkan segera, Santrinya sama lari, takut kepada Sang Raja, Sang putra raja menyesal, melihat perbuatan Sang Bapa
20. Arsa matur putra ajrih, Lajeng kondur sekaliyan, Sapraptanira kedhaton, Pinarak lan ingkang putra, Sumiwi muriggweng ngarsa, Angandika Sang-a Prabu, Jayabaya mring kang putra.
Sang Putra ingin berkata takut, lalu berdua pulang, setibanya di istana, duduk dengan sang putra, sang putra di hadapan, berkata Sang Prabu Jayabaya kepada sang putra
21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.
Hai putraku ananda, kamu tahu kelakuan Guru, dia yang mati olehku, bersalah pada guruku, Sang Sultan Maulana, iaitu Ali Syamsul
21. Heh putraningsun ta kaki, Sira wruh solahing Ayea, lya kang mati dening ngong, Adosa mring guruningwang, Jeng Sultan Maolana, Ngali Samsujen ta iku, Duk maksih sami nom-noman.
Hai putraku ananda, kamu tahu kelakuan Guru, dia yang mati olehku, bersalah pada guruku, Sang Sultan Maulana, iaitu Ali Syamsul Zein, ketika masih sama-sama muda.
Sinom :
1. Pan iku uwis winejang, Mring guru Pandita Ngali, Rasane kitab Musarar, lya padha lawan mami, Nanging anggelak janji, Cupet lelakoning ratu, lya ing tanah Jawa, Ingsun pan wus den wangeni, Kari loro kaping telune ta ingwang.
Memang itu sudah diajarkan, pada Guru Ulama Ali, rasanya Kitab Musarar, ia sama dengan aku, tapi mengingkari janji, pendek perikehidupan raja, ya di tanah Jawa, Aku jelas sudah dikurangajari, tinggal dua, ke tiganya ialah kepadaku.
2. Yen wis anitis ping tiga, Nuli ana jaman maning, Liyane panggaweningwang, Apan uwus den wangeni, Mring pandita ing nguni, Tan kena gingsir ing besuk, Apan talinambangan, Dene Maolana Ngali, Jaman catur semune segara asat.
Bila sudah menitis tiga kali, akan ada jaman lagi, selain karyaku, andai sudah dikurangajari, kapada Ulama saat lalu, Tak bisa berubah kelak, apabila dilambangkan oleh Maulana Ali, Jaman ke empat tandanya lautan mengering
3. Mapan iku ing Jenggala, Lawan iya ing Kediri, Ing Singasari Ngurawan, Patang ratu iku maksih, Bubuhan ingsun kaki, Mapan ta durung kaliru, Negarane raharja, Rahayu kang bumi-bumi, Pan wus wenang anggempur kang dora cara.
Tempat itu di Jenggala, juga di Kediri, di Singasari Ngurawan, Empat Raja itu masih keluargaku nak, Asal belum keliru, Negaranya makmur, Sejahtera penduduknya, juga sudah kuat menyerang para penjahat
4. Ing nalika satus warsa, Rusake negara kaki, Kang ratu patang negara, Nuli salin alam malih, Ingsun nora nduweni, Nora kena milu-milu, Pan ingsun wus pinisah, Lan sedulur bapa kaki, Wus ginaib prenahe panggonan ingwang.
Pada saat seratus tahun, rusaknya Negara Nak, Sang Raja empat Negara, lalu ganti alam lagi. Aku tidak memiliki, tidak boleh ikut campur, karena aku telah terpisah, dengan saudaraku nak, sudah ghaib letak tempatku.
5. Ana sajroning kekarah, Ing tekene guru mami, Kang naina raja Pandita, Sultan Maolana Ngali, Samsujen iku kaki, Kawruhana ta ing mbesuk, Saturun turunira, Nuli ana jaman maning, Anderpati arane Kalawisesa.
Ada di dalam batang, di tongkatnya Guruku, yang bernama Raja Ulama, Sultan Maulana Ali, Syamsul Zein itu Nak, ketahuilah kelak, dengan seluruh keturunanmu, aka nada jaman lagi, Sang raja disebut Kalawisesa
6. Apan sita linambangan, Sumilir kang naga kentir, Semune liman pepeka, Pejajaran kang negari, Hang tingkahing becik, Nagara kramane suwung, Miwah yudanegara, Nora ana anglabeti, Tanpa adil satus taun nuli sirna.
Apabila dilambangkan, berembus Sang Naga hanyut, ibaratnya gajah bertingkah Pajajaran lah negaranya, yang kelakuannya baik, tak ada pemberontakan, juga para tentara, tak ada yang membela, tanpa adil seratus tahun lalu hilang
7. Awit perang padha kadang, Dene pametune bumi, Wong cilik pajeke emas, Sawab ingsun den suguhi, Marang si Ajar dhingin, Kunir sarimpang ta ingsun, Nuli asalin jaman, Majapahit kang nagari, lya iku Sang-a Prabu Brawijaya.
Karena perang (antar) saudara, dan hasil bumi. Para rakyat pajaknya emas, pertandanya aku di hidangi oleh Ki Ajar itu, Kunyit serimpang, lalu berganti masa, Majapahitlah negaranya, ia itulah Sang Prabu Bhre Wijaya.
8. Jejuluke Sri Narendra, Peparab Sang Rajapati, Dewanata alam ira, Ingaranan Anderpati, Samana apan nenggih, Lamine sedasa windu, Pametuning nagara, Wedale arupa picis, Sawab ingsun den suguhi mring si Ajar.
Julukan sang Raja, bernama Sang Rajapati, sangat indah tempatnya, disebut Sang Raja (besar) Demikiakianlah keadaannya, lamanya sepuluh windu (80 tahun), terkenalnya Negara, Ekspornya emas, pertandanya aku dijamuoleh Si Ajar.
9. Juwadah satakir iya, Sima galak semu nenggih, Curiga kethul kang lambang, Sirna salin jaman maning, Tanah Gelagahwangi, Pan ing Demak kithanipun, Kono ana agama, Tetep ingkang amurwani, Ajejuluk Diyati Kalawisaya.
Ketan juwadah/uli se takir itu, Harimau buas ibaratnya, Keris tumpul lambangnya, hilang berganti masa lagi, Tanah Gelagahwangi, yaitu di kota Demak, di situ ada agama, tetap yang memulai, berjulukan Dyah Kalawisaya.
10. Swidak gangsal taun sirna, Pan jumeneng Ratu adil, Para wali lan pandhita, Sadaya pan samya asih, Pametune wong cilik, Ingkang katur marang Ratu, Rupa picis lan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Kembang mlathi mring ki Ajar gunung Padang.
Enampuluh lima tahun hilang, lalu bertahta Ratu adil, para wali dan brahmana, semua merasa sayang. Hasil rakyat, yang dipersembahkan kepada Rajanya, berujud emas dan uang. Pertandanya aku dijamu, bunga melati oleh Ki Ajar Gunung Padang.
11. Kaselak kampuhe bedhah, Kekesahan durung kongsi, Iku lambange dyan sirna, Nuli ana jaman maning, Kalajangga kang nami, Tanah Pajang kuthanipun, Kukume telad Demak, Tan tumurun marang siwi, Tigangdasa enem taun nuli sirna.
Tersusul sarungnya robek, penceriteraan belum habis, itu lambangnya dian (api) padam, lalu ada masa lagi, bernama Kalajangga, tanah Pajang kotanya, hukumnya meniru Demak, (tahtanya) tidak menurun kepada anak (= tak punya putra mahkota), tigapuluh enam tahun lalu hilang.
12. Semune lambang Cangkrama, Putung ingkang watang nenggih, Wong ndesa pajege sandhang, Picis ingsun den suguhi, lya kajar sauwit, Marang si Ajar karuhun, Nuli asalin jaman, Ing Mataram kang nagari, Kalasakti Prabu Anyakrakusumo.
Penggambarannya lambing tmbak, patah gagangnya, orang desa pajaknya kain, aku dijamu emas. Selain (pohon) kajar sebatang, oleh si Ajar tua, lau berganti masa, di Mataram negaranya, Rajasakti Prabu (= Sultan) Anyakrakusuma
13. Kinalulutan ing bala, Kuwat prang ratune sugih, Keringan ing nungsa Jawa, Tur iku dadi gegenti, Ajar lan para wali, Ngulama lan para nujum, Miwah para pandhita, Kagelung dadi sawiji, Ratu dibya ambeg adil paramarta.
Para rakyat n prajurittunduk patuh, kuat dalam berperang, rajanya kaya, disukai di Pulau Jawa, dan itu jadi pengganti, Guru dan para Wali, Ulama dan Tukang Nujum, juga para Brahmana, dipersatukan menjadi satu, Ratu Pandai adil dan bijaksana.
14. Sudibya apari krama, Alus sabaranging budi, Wong cilik wadale reyal, Sawab ingsun den suguhi, Arupa bawang putih, Mring ki Ajar iku mau, Jejuluke negara, Ratune ingkang miwiti, Surakalpa semune lintang sinipat.
Pandai dalam bergaul, halus budi pekertinya, orang kecil pajaknya real/duit, pengertianku dihidangi berupa bawang putih, oleh ki Ajar itu, Nama Negara itu, Rajanya yang memulai, Surakalpa ibaratnya bintang terang
15. Nuli kembang sempol tanpa, Modin sreban lambang nenggih, Panjenengan kaping papat, Ratune ingkang mekasi, Apan dipun lambangi, Kalpa sru kanaka putung, Satus taun pan sirna, Wit mungsuh sekuthu sami, Nuti ana nakoda dhateng merdagang.
Lalu bunga sempol tanpa. Modin bersorban lambangnya, Raja yang ke empat, Raja yang mengakhiri, bila dilambangkan, cincin dengan kuku putus, seratus tahun hilang, mulai dengan saudara, lalu ada nahkoda datang berniaga.
16. Iya aneng tanah Jawa, Angempek tanah sethithik, Lawas-lawas tumut aprang, Unggul sasolahe nenggih, Kedhep neng tanah Jawi, Wus ngalih jamanireku, Maksih turun Mataram, Jejuluke kang negari, Nyakrawati kadhatone tanah Pajang.
Ia di tanah Jawa, mengambil sedikit tanah/lahan, lama-lama ikut berperang, menang seluruh perangnya, Jaya di tanah Jawa, sudah berganti masanya itu, masih keturunan Mataram, nama Negara itu, Sang Raja di istana tanah Pajang
17. Ratu abala bacingah, Keringan ing nuswa Jawi, Kang miwiti dadi raja, Jejuluke Layon Keli, Semu satriya brangti, Iya nuli salin ratu, Jejuluke sang nata, Semune kenya musoni, Nora lawas nuli salin panjenengan.
Raja berbala penjahat, ditakuti di Pulau Jawa, Yang memulai jadi raja, gelarnya Mayat hanyut, ibarat satriya seberang, lalu berganti raja, Gelarnya Sang Raja, ibaratnya gadis menyusui, tidak lama lalu dia diganti
18. Dene jejuluke nata, Lung gadung rara nglingkasi, Nuli salin gajah meta, Semune tengu lelaki, Sewidak warsa nuli, Ana dhawuhing bebendu, Kelem negaranira, Kuwur tataning negari, Duk semana pametune wong ing ndesa.
Sedangkan gelarnya Sang Raja, Lung gadhung rara nglingkasi, lalu ganti Gajah marah, ibaratnya tungau jantan, enampuluh tahun lalu, ada sabda hukuman, tenggelam negaranya, rusak tatanan Negara, pada masa itu pengahasilan orang desa
19. Dhuwit anggris lawan uwang, Sawab ingsun den suguhi, Rupa getih mung sapitrah, Nuli retu kang nagari, Ilang barkating bumi, Tatane Parentah rusuh, Wong cilik kesrakatan, Tumpa-tumpa kang bilahi, Wus pinesthi nagri tan kena tinambak.
Uang asing dan local, kepadaku dihidangkan, berujud darah secawan, lalu rusak negaranya, hilang berkahnya bumi, ketatanegaraan hancur, rakyat jelata sangat susah, bertumpuk-p\tumpuk penderitaan, sudah takdir Negara tak dapat dihindari
20. Bojode ingkang negara, Narendra pisah lan abdi, Prabupati sowang-sowang, Samana ngalih nagari, Jaman Kutila genti, Kara murka ratunipun, Semana linambangan, Dene Maolana Ngali, Panji loro semune Pajang Mataram.
Rusaknya Negara, Raja berpisah dengan rakyatnya, Sang Raja asyik sendiri, Waktu itu berpindah negaranya, jaman Kutila gantinya, yang serakah rajanya, Waktu itu dilambangkan, oleh Maulana Ali, bendera dua gambaran Pajang dan Mataram
21. Nakoda melu wasesa, Kaduk bandha sugih wani, Sarjana sirep sadaya, Wong cilik kawelas asih, Mah omah bosah-basih, Katarajang marga agung, Panji loro dyan sirna, Nuli Rara ngangsu sami, Randha loro nututi pijer tetukar.
Nahkoda ikut berkuasa, kelebihan harta terlalu berani, Sarjana?orang terdidik semua diam, Rakyat jelata sungguh kasihan, Rumah tangga berantakan, terlindas jalan besar, bendera dua dian/api padam, Dua janda menyusul saling tukar
22. Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, Lajengipun sinung lambang, Dene Maolana Ngali, Samsujen Sang-a Yogi, Tekane Sang Kala Bendu, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika.
Tak sempat berdandan diri, Kain panjang dan kutang tak dilihat, kelanjutan sang perlambang, sedang Maulana Ali, Syamsu Zein sang Ulama, datangnya Sang Masa Hukuman, di Semarang Tembayat, maka ketahuilah, pertanda lambing yang dikisahkan itu.
23. Dene pajege wong ndesa, Akeh warninira sami, Lawan pajeg mundak-mundak, Yen panen datan maregi, Wuwuh suda ing bumi, Wong dursila saya ndarung, Akeh dadi durjana, Wong gedhe atine jail, Mundhak tahun mundhak bilaining praja.
Sedang pajaknya Orang desa, sangat beragam ujudnya, dan pajak terus naik, saat panen tak membuat kenyang, bibit berkurang… Read More di bumi, orang jahat kian merajalela, banyak jadi penjahat, orang besar/eksekutif hatinya buruk/jahil, semakin bertambah tahun semakin meningkat bahayanya Negara.
24. Kukum lan yuda nagara, Pan nora na kang nglabeti, Salin-salin kang parentah, Aretu patraping adil, Kang bener-bener kontit, Kang bandhol-bandhol pan tulus, Kang lurus-lurus rampas, Setan mindha wahyu sami, Akeh lali mring Gusti miwah wong tuwa.
Hukum dan tata Negara, tak ada yang menta’ati, berganti-ganti yang memerintah, jauh penegakan keadilan, yang benar-benar diterapkan,. Yang jagoan/berkuasa tidak tulus, (orang) yang benar tak berdaya, setan menyerupai wahyu, banyak lupa
28. Prabu tusing waliyulah, Kadhatone pan kekalih, Ing Mekah ingkang satunggal, Tanah Jawi kang sawiji, Prenahe iku kaki, Perak lan gunung Perahu, Sakulone tempuran, Balane samya jrih asih, Iya iku ratu rinenggeng sajagad.
Raja utusan para Wali Allah, Istananya ada dua, di Mekah salah satunya, Tanah Jawa yang ke duanya, tempatnya itu nak, Perak dan Gunung (Tangkuban?) Perahu, di barat Pertemuan Sungai, Rakyatnya pada takut dan sayang, dia itu raja terkenal seluruh dunia
29. Kono ana pangapura, Ajeg kukum lawan adil, Wong jilik pajege dinar, Sawab ingsun den suguhi, Iya kembang saruni, Mring ki Ajar iku mau, Ing nalika semana, Mulya jenenging narpati, Tur abagus eseme lir madu puspa.
Di situ ada pengampunan, hukum dan keadilam ditegakkan, Rakyat pajaknya dinar, pertandanya aku dihjamu bunga seruni oleh ki Ajar itu, pada waktu itu, mulia nama sang Raja, selain tampan senyumnya seperti madu bunga (sangat manis dan elok
Dandanggula :
1. Langkung arja jamane narpati, Nora nana pan ingkang nanggulang, Wong desa iku wadale, Kang duwe pajeg sewu, Pan sinuda dening Narpati, Mung metu satus dinar, Mangkana winuwus, Jamanira pan pinetang, Apan sewu wolungatus anenggih, Ratune nuli sirna.
Lebih ramai jamannya Raja, tidak ada yang menandingi. Orang desa pajaknya, yang wajib membayar pajak seribu, dikurangi oleh raja, hanya membayar seratus dinar, demikian akhirnya, jamannya bila dihitung, ialah seribu Delapan Ratus, Rajanya lalu hilang.
2. Ilang tekan kadhatone sami, Nuli rusak iya nungsa Jawa, Nora karuwan tatane, Pra nayaka sadarum, Miwah manca negara sami, Pada sowang-sowangan, Mangkana winuwus, Mangka Allahu Tangala, Anjenengken Sang Ratu Asmarakingkin, Bagus maksih taruna.
Hilang bersama istananya juga, lalu rusak Pulau Jawa, tata Negara tidak jelas, Para Menteri semua, juga duta besar, tak ada kerjasama, demikian akhirnya. Lalu Allah ta Alaa mengangkat Raja Asmarakingkin, tampan masih muda
3. Iku mulih jenenge Narpati, Wadya punggawa sujud sadaya, Tur padha rena prentahe, Kadhatone winuwus, Ing Kediri ingkang satunggil, Kang siji tanah Ngarab, Karta jamanipun, Duk semana pan pinetang, Apan sewu lwih sangang atus anenggih, Negaranira rengka.
Itu kembali pulih nama Raja, Rakyat dan Para pejabat semua tunduk, juga mengikuti perintahnya. Istananya di Kediri salah satu, satunya lagi di tanah Arab, jamannya Kerta, pada masa itu bila dihitung, seribu lebih Sembilan Ratus, negaranya retak
4. Wus ndilalah kersaning Hyang Widhi, Ratu Peranggi anulya prapta, Wadya tambuh wilangane, Prawirane kalangkung, Para ratu kalah ngajurit, Tan ana kang nanggulang, Tanah Jawa gempur, Wus jumeneng tanah Jawa, Ratu Prenggi ber budi kras anglangkungi, Tetep neng tanah Jawa.
Sudah menjadi kehendak Tuhan YME, Raja Peranggi lalu datang, prajuritnya sangat banyak, perwiranya sangat hebat, para raja kalah perang, tak ada yang mengalahkan. Tanah Jawa diserang, lalu bertahta di tanah Jawa Raja Prenggi berwatak sangat keras, tetap di Tanah Jawa
5. Enengena Sang Nateng Parenggi, Prabu ing Rum ingkang ginupita, Lagya siniwi wadyane, Kya patih munggweng ngayun, Angandika Sri Narapati, “Heh patih ingsun myarsa, Tanah Jawa iku, Ing mangke ratune sirna, lya perang klawan Ratu Parenggi, Tan ana kang nanggulang.
Adanya Sang Raja Prenggi, Raja di Rum ( Roma?) yang diminta, selagi berhadapan denga prajuritnya, Perdana Menteri menghadap, berkata Sang Raja : “ Hai PMku yang datang, Tanah Jawa itu kini Rajanya hilang karena perang dengan Raja Prenggi, tak ada yang mencegah
6. Iku patih mengkata tumuli, Anggawaa ta sabalanira, Poma tundungen den age, Yen nora lunga iku, Nora ingsun lilani mulih”, Ki Patih sigra budal, Saha balanipun, Ya ta prapta Tanah Jawa, Raja Prenggi tinundhung dening ki Patih, Sirna sabalanira.
Oleh karena itu PM agar segera membawa prajuritmu dan usirlah (Prenggi) segera, bila tidak pergi PM jangan pulang “, Sang PM lalu segera berangkat bersama prajuritnya, sampai di Tanah Jawa, Raja Prenggi diusir oleh Sang PM, beserta prajuritnya
7. Nuli rena manahe wong cilik, Nora ana kang budi sangsaya, Sarwa murah tetukone, Tulus ingkang tinandur, Jamanira den jujuluki, Gandrung-gandrung neng marga, Andulu wong gelung, Kekendon lukar kawratan, Keris parung dolen tukokena nuli, Campur bawur mring pasar.
Lalu legalah hari rakyat jelata, tidak ada yang merasa sengsara, segala batrang murah harganya, subur yang ditanam, jamannya dinamai, tergila-gila di Jalan, melihat orang bergelung, kendor rasanya keberatan baju, keris/senjata/pusaka dijual dan terbeli, campur baur di pasar
8. Sampun tutug kalih ewu warsi, Sunya ngegana tanpa tumingal, Ya meh tekan dalajate, Yen Kiamat puniku, Ja majuja tabatulihi, Anuli larang udan, Angin topan rawuh, Tumangkeb sabumi alam, Saking kidul wetan ingkang andatengi, Ambedol ponang arga.
Sudah selesai dua ribu tahun, sepi langit tak terlihat, ya hampir datang masanya, bila kiamat itu, ja majujatabatulihi (segera beertobatlah), lalu hujan jarang turun, angin puyuh /topan datang dari tenggara yang datang, mencabut gunung-gunung.
EDARAN SEMINAR
Pendahuluan
Tujuan dan sasaran
Waktu dan Tempat
Seminar Nasional Pemupukan akan diselenggararakan pada
tanggal 27 - 28 Juli 2010 di Novotel Hotels, Palembang.
Jln. R. Sukamto No 8A
Palembang 30127
Telp : (+62) 711 369 777
Fax : (+62) 711 379 777
Email : info@novotelpalembang.com
Format kegiatan seminar adalah dalam bentuk acara sidang,
pameran, dan kunjungan lapang.
Peserta
Jumlah peserta Seminar Pupuk ditargetkan sekitar 200 orang
peserta yang bergerak di bidang perkebunan, industri pupuk,
pemerintah daerah/dinas perkebunan, peneliti, akademisi, dan
peminat pembangunan perkebunan.
Biaya seminar
Umum : Rp 1.500.000,-
Peneliti/dosen/mahasiswa : Rp 1.000.000,-
Harga sudah termasuk : Seminar kit, coffe break 2x, makan
siang 1x, dan makan malam 1x.
Pupuk merupakan salah satu input penting pada komoditas
perkebunan. Sebagian besar komoditas perkebunan diusahakan
pada lahan dengan tingkat kesuburan yang umumnya rendah
sehingga pemupukan mutlak diperlukan.
Pada tahun 2008 terjadi kenaikan harga pupuk yang sangat
tinggi yaitu mencapai lebih dari 100%, akibatnya banyak
perusahaan perkebunan kesulitan untuk melaksanakan
rekomendasi pemupukan.
Diagnosis kebutuhan hara, teknik, aplikasi, serta formulasi
pupuk yang tepat perlu terus ditingkatkan, untuk mencapai efisiensi
serta efektivitas pemupukan. Selain itu pupuk organik dan pupuk
hayati perlu terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk
mengurangi kebutuhan pupuk anorganik.
Untuk menyebarkan informasi tentang teknologi pemupukan di
perkebunan, khususnya pada perkebunan karet dan kelapa sawit,
Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, akan
menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema: ”Antisipasi
Menghadapi Kelangkaan dan Kenaikan Harga Pupuk
(Menelisik Kesiapan dan Potensi Pupuk Organik)”.
1. Mengulas kondisi persediaan dan permintaan pupuk nasional.
2. Menyampaikan informasi teknologi pemupukan pada tanaman
karet dan kelapa sawit.
3. Mendiskusikan potensi, ketersediaan, dan keunggulan pupuk
organik dan biofertilizer.
Penyelenggara
BALAI PENELITIAN SEMBAWA
PUSAT PENELITIAN KARET
KNAPPP
Menelisik Kesiapan dan Potensi Pupuk Organik
Seminar Nasional Teknologi Pemupukan 2010
ANTISIPASI MENGHADAPI
KELANGKAAN DAN KENAIKAN HARGA PUPUK
Novotel Hotels, Palembang, 27-28 Juli 2010
Formulir Pendaftaran
Nama peserta : 1...........................................................................
2...........................................................................
3...........................................................................
Instansi : ..............................................................................
Alamat : .............................................................................
.............................................................................
..............................................................................
Biaya pendaftaran akan ditransfer melalui *) :
¨ Rekening Bank BNI 46 Cabang Palembang Km. 12
Pada saat pendaftaran ¨
........................., 2010
Pendaftar
(...................................)
Materi sidang
Dalam Seminar Nasional Teknologi Pemupukan 2010 akan dibahas
berbagai topik yang akan disampaikan oleh para pengambil kebijakan,
pakar pemupukan, dan perusahaan pengguna pupuk antara lain : Pameran dan Sponsor
Kegiatan pameran (exhibition) diadakan untuk menyediakan
media bagi perusahaan yang bergerak di sektor industri
perkebunan, industri pupuk, serta Lembaga Riset untuk
mempromosikan teknologi, produk, dan jasa yang dihasilkan.
Materi yang dipamerkan meliputi sarana produksi seperti pupuk,
fungisida, herbisida, mesin pembuat kompos, dan lain-lain.
Balai Penelitian Sembawa-Pusat Penelitian Karet
Pendaftaran
Untuk informasi dan pendaftaran peserta dapat menghubungi
panitia di :
A/n Lina Fatayati Syarifa
AC No. 2244556679
Dapat diperbanyak sesuai keperluan
Jln. Raya Palembang-Pangkalan Balai Km. 29
P.O.Box 1127 Palembang 30001
Telepon: (0711) 7439493
Fax. : (0711) 7439282
e-mail: irri_sbw@yahoo.com
Contact persons : Kunjungan lapang *) :
oku
o Tidak ikut
I t
*) Beri tanda pada kotak pilihan
Catatan :
Lina Fatayati Syarifa : 085838361071
Dwi Shinta Agustina : 081532684521
Thomas Wijaya : 08127863645
Cicilia Nancy : 08127120996
lKeynote Speech (Deputi IV Kementerian BUMN Bidang
Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan)
lSupply dan Demand Pupuk Nasional (Asosiasi Produsen Pupuk
Indonesia)
lRoadmap Pupuk Nasional (Departemen Pertanian)
lTeknologi Pemupukan di Masa Depan: Substitusi dan Efisiensi
Penggunaan Pupuk Anorganik (PT. Riset Perkebunan Nusantara
/PT. RPN)
lProspek Pengembangan Pupuk Organik (Institut Pertanian Bogor)
lTeknologi Pemupukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk di Perkebunan Karet (Pusat Penelitian Karet)
lTeknologi pemupukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk di Perkebunan Kelapa Sawit (Pusat Penelitian Kelapa
Sawit)
lFormulasi pupuk anorganik untuk meningkatkan efisiensi
pemupukan (PT. Saraswanti Anugerah Makmur)
lPemanfaatan tandan kosong kelapa sawit untuk pupuk organik
(Balai Penelitian Sembawa/PT. Pinago Utama)
lTeknologi pupuk organik PT. PUSRI (Komite Waralaba PT. Pusri /
Departemen Pengembangan Usaha & Teknologi)
lBiofertilizer untuk meningkatkan efisiensi pemupukan (Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia /P3GI)
lPengolahan Limbah Organik menjadi Pupuk dalam Sehari
(Biomax Technology, Singapore)
lPengalaman dan kebijakan pemupukan pada PT. PP. London
Sumatra, Tbk
lPengalaman dan kebijakan pemupukan pada PT. Perkebunan
Nusantara III
lPemupukan perkebunan karet di Malaysia (RRIM/ Malaysian Palm
Oil Council)
lAnalisa ekonomi pemupukan pada perkebunan karet (Balai
Penelitian Sembawa)
Kunjungan lapang ke pabrik pupuk
Tujuan dan sasaran
Waktu dan Tempat
Seminar Nasional Pemupukan akan diselenggararakan pada
tanggal 27 - 28 Juli 2010 di Novotel Hotels, Palembang.
Jln. R. Sukamto No 8A
Palembang 30127
Telp : (+62) 711 369 777
Fax : (+62) 711 379 777
Email : info@novotelpalembang.com
Format kegiatan seminar adalah dalam bentuk acara sidang,
pameran, dan kunjungan lapang.
Peserta
Jumlah peserta Seminar Pupuk ditargetkan sekitar 200 orang
peserta yang bergerak di bidang perkebunan, industri pupuk,
pemerintah daerah/dinas perkebunan, peneliti, akademisi, dan
peminat pembangunan perkebunan.
Biaya seminar
Umum : Rp 1.500.000,-
Peneliti/dosen/mahasiswa : Rp 1.000.000,-
Harga sudah termasuk : Seminar kit, coffe break 2x, makan
siang 1x, dan makan malam 1x.
Pupuk merupakan salah satu input penting pada komoditas
perkebunan. Sebagian besar komoditas perkebunan diusahakan
pada lahan dengan tingkat kesuburan yang umumnya rendah
sehingga pemupukan mutlak diperlukan.
Pada tahun 2008 terjadi kenaikan harga pupuk yang sangat
tinggi yaitu mencapai lebih dari 100%, akibatnya banyak
perusahaan perkebunan kesulitan untuk melaksanakan
rekomendasi pemupukan.
Diagnosis kebutuhan hara, teknik, aplikasi, serta formulasi
pupuk yang tepat perlu terus ditingkatkan, untuk mencapai efisiensi
serta efektivitas pemupukan. Selain itu pupuk organik dan pupuk
hayati perlu terus dikembangkan dan dimanfaatkan untuk
mengurangi kebutuhan pupuk anorganik.
Untuk menyebarkan informasi tentang teknologi pemupukan di
perkebunan, khususnya pada perkebunan karet dan kelapa sawit,
Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian Karet, akan
menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema: ”Antisipasi
Menghadapi Kelangkaan dan Kenaikan Harga Pupuk
(Menelisik Kesiapan dan Potensi Pupuk Organik)”.
1. Mengulas kondisi persediaan dan permintaan pupuk nasional.
2. Menyampaikan informasi teknologi pemupukan pada tanaman
karet dan kelapa sawit.
3. Mendiskusikan potensi, ketersediaan, dan keunggulan pupuk
organik dan biofertilizer.
Penyelenggara
BALAI PENELITIAN SEMBAWA
PUSAT PENELITIAN KARET
KNAPPP
Menelisik Kesiapan dan Potensi Pupuk Organik
Seminar Nasional Teknologi Pemupukan 2010
ANTISIPASI MENGHADAPI
KELANGKAAN DAN KENAIKAN HARGA PUPUK
Novotel Hotels, Palembang, 27-28 Juli 2010
Formulir Pendaftaran
Nama peserta : 1...........................................................................
2...........................................................................
3...........................................................................
Instansi : ..............................................................................
Alamat : .............................................................................
.............................................................................
..............................................................................
Biaya pendaftaran akan ditransfer melalui *) :
¨ Rekening Bank BNI 46 Cabang Palembang Km. 12
Pada saat pendaftaran ¨
........................., 2010
Pendaftar
(...................................)
Materi sidang
Dalam Seminar Nasional Teknologi Pemupukan 2010 akan dibahas
berbagai topik yang akan disampaikan oleh para pengambil kebijakan,
pakar pemupukan, dan perusahaan pengguna pupuk antara lain : Pameran dan Sponsor
Kegiatan pameran (exhibition) diadakan untuk menyediakan
media bagi perusahaan yang bergerak di sektor industri
perkebunan, industri pupuk, serta Lembaga Riset untuk
mempromosikan teknologi, produk, dan jasa yang dihasilkan.
Materi yang dipamerkan meliputi sarana produksi seperti pupuk,
fungisida, herbisida, mesin pembuat kompos, dan lain-lain.
Balai Penelitian Sembawa-Pusat Penelitian Karet
Pendaftaran
Untuk informasi dan pendaftaran peserta dapat menghubungi
panitia di :
A/n Lina Fatayati Syarifa
AC No. 2244556679
Dapat diperbanyak sesuai keperluan
Jln. Raya Palembang-Pangkalan Balai Km. 29
P.O.Box 1127 Palembang 30001
Telepon: (0711) 7439493
Fax. : (0711) 7439282
e-mail: irri_sbw@yahoo.com
Contact persons : Kunjungan lapang *) :
oku
o Tidak ikut
I t
*) Beri tanda pada kotak pilihan
Catatan :
Lina Fatayati Syarifa : 085838361071
Dwi Shinta Agustina : 081532684521
Thomas Wijaya : 08127863645
Cicilia Nancy : 08127120996
lKeynote Speech (Deputi IV Kementerian BUMN Bidang
Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan)
lSupply dan Demand Pupuk Nasional (Asosiasi Produsen Pupuk
Indonesia)
lRoadmap Pupuk Nasional (Departemen Pertanian)
lTeknologi Pemupukan di Masa Depan: Substitusi dan Efisiensi
Penggunaan Pupuk Anorganik (PT. Riset Perkebunan Nusantara
/PT. RPN)
lProspek Pengembangan Pupuk Organik (Institut Pertanian Bogor)
lTeknologi Pemupukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk di Perkebunan Karet (Pusat Penelitian Karet)
lTeknologi pemupukan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk di Perkebunan Kelapa Sawit (Pusat Penelitian Kelapa
Sawit)
lFormulasi pupuk anorganik untuk meningkatkan efisiensi
pemupukan (PT. Saraswanti Anugerah Makmur)
lPemanfaatan tandan kosong kelapa sawit untuk pupuk organik
(Balai Penelitian Sembawa/PT. Pinago Utama)
lTeknologi pupuk organik PT. PUSRI (Komite Waralaba PT. Pusri /
Departemen Pengembangan Usaha & Teknologi)
lBiofertilizer untuk meningkatkan efisiensi pemupukan (Pusat
Penelitian Perkebunan Gula Indonesia /P3GI)
lPengolahan Limbah Organik menjadi Pupuk dalam Sehari
(Biomax Technology, Singapore)
lPengalaman dan kebijakan pemupukan pada PT. PP. London
Sumatra, Tbk
lPengalaman dan kebijakan pemupukan pada PT. Perkebunan
Nusantara III
lPemupukan perkebunan karet di Malaysia (RRIM/ Malaysian Palm
Oil Council)
lAnalisa ekonomi pemupukan pada perkebunan karet (Balai
Penelitian Sembawa)
Kunjungan lapang ke pabrik pupuk
Selasa, 16 November 2010
Usada Pamugpugan
[1b] Ya Tuhan, semoga kami tidak menemukan rintangan. Inilah disebut Usada Babugbugan. Sarana untuk menghidupkan rasa adalah air diberi mantra "Ong Ah, Ung Ang Ah" (dinamakan aksara modre. Aksara modre merupakan bentuk aksara dengan rumusan-rumusan atau formula-formula khusus yang secara harafiah tidak memiliki arti, tetapi diyakini memiliki kekuatan magis, yang dapat dipakai menyembuhkan pasien atau sebaliknya dapat dipakai menyakiti orang lain). Sarana obat untuk penyakit cacar, terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang Ung Mang Mang Mêh, Awreyah". Sarana untuk penawar penyakit adalah air diberi mantra "Ang Asweryêr". Sarana untuk pematuh terdiri atas air diberi mantra "Asweryuh, Ong masaý " (aksara modre). Sarana penempur segala penyakit terdiri atas air diberi mantra "Ong tayà I yà. Ong tayà A I, yata A I Ong" (aksara modre). Sarana penawar penyakit batuk, mata mengeluarkan darah dan nanah terdiri atas air ditaruh didalam sibuh (tempurung kelapa kecil), diisi bunga kamboja, diberi mantra "Ong Ai Ih, Ong Ih A Ah", lalu air itu diminum. Sarana obat penyakit mata, terasa sakit seperti menusuk-nusuk, terdiri atas air ditaruh dalam sibuh, berisi bunga waribang, diberi mantra [2a] "Ong Ang Ah, Ong Ah Ang". Sarana untuk peruwatan terdiri atas air diberi mantra "Ong Ang Ah, Ah Ang Ong". Sarana obat penyakit filek disertai dan panas badan terdiri atas air diberi mantra "Ong A AH, Ih Ah Ong". Atau juga boleh menggunakan sarana apa saja untuk menyembuhkan segala jenis penyakit, diberi mantra "Ong Ang Ah, Ong Ah Ang". Sarana obat penyakit perut terdiri atas air diberi mantra "A A A, Ah Ah Ah, Ah A, A, A". Sarana penawar segala jenis penyakit terdiri atas air ditaruh dalam sibuh berisi bunga merah, diberi mantra "Ong Ih Eh Ah Ung Oh Ah, Ong Ih Ong Ih Ung". Sarana untuk penawar panas badan terdiri atas air diisi bunga merah, diberi mantra "Ong Eh Ang, Eh Ong Ang, Ong Ang Eh, ngryaý madhisêng".Sarana obat untuk segala jenis penyakit, terdiri atas air diberi mantra. Ketika merapalkan mantra, dukun wajib mendampingi sesajen terdiri atas sesajen sagi-sagi, uang 7, beras 7 genggam, sirih 3 lembar. Mantranya adalah "Ung Ang Ang Ung Ah Ang". Sarana obat lesu terdiri atas air. Ketika merapalkan mantra, janganlah bernafas (nafas ditahan). Mantranya adalah "Ong [2b] Ang Ah". Sarana obat sakit terasa seperti menusuk-nusuk, terdiri atas air diberi mantra "Ong Mang Ah, Ong Ah Mang". Sarana obat untuk sakit perut, terdiri atas buah pinang diberi tulisan gaib A diberi mantra A. Lalu buah pinang itu dimakan oleh pasien. Sarana untuk menghidupkan tenaga terdiri atas air, dipercikkan di atas ubun-ubun pasie
LAMBANG-LAMBANG AKSARA MODRE
Sebagaimana kita ketahui, bahwa pemakaian lambang-lambang bunyi Bali itu diterapkan melalui tiga jalur, yaitu:
Wreastra dipakai untuk menuliskan bahasa Bali umum, misalnya: surat, urak, pipil, pangeling-eling dan lain-lainnya.
Sualalita dipakai menuliskan bahasa Kawi, bahasa Kawi Tengahan, dan bahasa Sanskerta, misalnya Kidung, Kekawin, parwa, sloka.
Modre dipakai menuliskan kadyatmikan, misalnya japa mantra-mantra dan juga yang berhubungan dengan upacara keagamaan, dunia kegaiban dan pengobatan.
Dalam pelajaran aksara Modre ini kami hanya memperkenalkan sebagian kecil saja dari lambang-lambang tersebut. Kalau kita ingin mempelajari lambang-lambang ini lebih banyak dan juga cara membacanya carilah pada buku / rontal petunjuk yang disebut: KRAKAH / GRIGUH.
Lambang-lambang tersebut antara lain:
Lambang Tapak Dara ( + )
Dipakai misalnya kepada seorang ibu sedang menyusui, dikejutkan oleh sesuatu, biasanya digoresi lukisan tapak dara dari arang / kapur sirih pada susu dan anaknya (pada sela dahi maksudnya), ialah untuk menolak bahaya atau yang bersifat negatif. Tanda ini kita dapati juga pada kekeb (penutup masak nasi) yang fungsinya juga untuk menolak hal-hal yang sifatnya negatif.
Tapak dara itu adalah melambangkan jalannya matahari. Jaman dahulu matahari itu dianggap Dewa yang tertinggi, yang di Bali disebut Sang Hyang Siwa Raditya.
Lengkapnya:
Perkembangan selanjutnya Tapak Dara menjadi Swastika yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos).
Lengkapnya:
(Dari lambang Tapak Dara menjadi Swastika)
Ucapan OM SWASTYASTU, juga ada hubungannya dengan SWASTIKA, sebab sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Ida Sanghyang Widhi yang menguasai alam Raya Semesta ini.
Om: kata panggilan kepada Ida Hyang Widhi
Su: baik, asti = adalah dan astu = semoga.
Jadi arti keseluruhannya: Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Ida Hyang Widhi.
Dari bentuk SWASTIKA itu timbullah PADMA (teratai) yang berdaun bunga delapan (astadala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.
Lambang OM = Tuhan
Simbul:
1 BAYU angin, bintang, bintang (angin padat jadi bintang)
2 TEJA api, surya (Matahari)
3 APAH yeh (air yang padat jadi Bulan)
4 AKASA langit (memenuhi yang ada)
5 PERTIWI bumi, tanah
Omkara Geni
Omkara Sabha
Omkara Merta
Omkara Adu Muka
Omkara Pasah
Wreastra dipakai untuk menuliskan bahasa Bali umum, misalnya: surat, urak, pipil, pangeling-eling dan lain-lainnya.
Sualalita dipakai menuliskan bahasa Kawi, bahasa Kawi Tengahan, dan bahasa Sanskerta, misalnya Kidung, Kekawin, parwa, sloka.
Modre dipakai menuliskan kadyatmikan, misalnya japa mantra-mantra dan juga yang berhubungan dengan upacara keagamaan, dunia kegaiban dan pengobatan.
Dalam pelajaran aksara Modre ini kami hanya memperkenalkan sebagian kecil saja dari lambang-lambang tersebut. Kalau kita ingin mempelajari lambang-lambang ini lebih banyak dan juga cara membacanya carilah pada buku / rontal petunjuk yang disebut: KRAKAH / GRIGUH.
Lambang-lambang tersebut antara lain:
Lambang Tapak Dara ( + )
Dipakai misalnya kepada seorang ibu sedang menyusui, dikejutkan oleh sesuatu, biasanya digoresi lukisan tapak dara dari arang / kapur sirih pada susu dan anaknya (pada sela dahi maksudnya), ialah untuk menolak bahaya atau yang bersifat negatif. Tanda ini kita dapati juga pada kekeb (penutup masak nasi) yang fungsinya juga untuk menolak hal-hal yang sifatnya negatif.
Tapak dara itu adalah melambangkan jalannya matahari. Jaman dahulu matahari itu dianggap Dewa yang tertinggi, yang di Bali disebut Sang Hyang Siwa Raditya.
Lengkapnya:
Perkembangan selanjutnya Tapak Dara menjadi Swastika yang merupakan dasar kekuatan dan kesejahteraan Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos).
Lengkapnya:
(Dari lambang Tapak Dara menjadi Swastika)
Ucapan OM SWASTYASTU, juga ada hubungannya dengan SWASTIKA, sebab sebenarnya kita sudah memohon perlindungan kepada Ida Sanghyang Widhi yang menguasai alam Raya Semesta ini.
Om: kata panggilan kepada Ida Hyang Widhi
Su: baik, asti = adalah dan astu = semoga.
Jadi arti keseluruhannya: Semoga ada dalam keadaan baik atas karunia Ida Hyang Widhi.
Dari bentuk SWASTIKA itu timbullah PADMA (teratai) yang berdaun bunga delapan (astadala) yang kita pakai dasar keharmonisan alam, kesucian dan kedamaian abadi.
Lambang OM = Tuhan
Simbul:
1 BAYU angin, bintang, bintang (angin padat jadi bintang)
2 TEJA api, surya (Matahari)
3 APAH yeh (air yang padat jadi Bulan)
4 AKASA langit (memenuhi yang ada)
5 PERTIWI bumi, tanah
Omkara Geni
Omkara Sabha
Omkara Merta
Omkara Adu Muka
Omkara Pasah
Senin, 08 November 2010
BABAD BAGIAN PERTAMA (1)
Ya Tuhan semoga tidak mendapat halangan.
Ong pranamyam sira sang siwyam, bhukti mukti hitarratam,
prawaksye tatwa wijnevah, wisnwangsa patayo swaram.
Sira ghranestyam patyam, rajasityam mahabalam,
sawangsanira mangjawam, bhuphalakarn patyam loke.
Ong nama dewa ya.
Sembah hamba ke hadapan Batara junjungan, daulat paduka leluhur yang telah menjadi batara, Engkau yang menganugerahi kehidupan (makanan) dan kebahagiaan, keberhasilan dalam segala kehendak, senantiasa bersemayam dalam perasaan dan pikiran, dipuja agar merestui, para bijak di lingkungan keluarga memohon untuk menyebarkan cerita ( sejarah ) ini, yang berkenaan dengan kewajiban seorang raja, menerangi dan menjadi contoh di dunia, akan diuraikan tentang silsilah keturunan oleh beliau junjungan utama yang telah sempurna. Pada awalnya dimulai. Selamat dan panjang usia, terhindar dari kutuk celaan fitnah bagaikan terkena racun, semoga terus dijunjung di dunia. Ya Tuhan semoga menemukan keberhasilan.
Selamat pada tahun Saka 530 yang telah lewat, bulan Cetra (sekitar Maret), hari ke-12 terang bulan, hari dalam sepekan Julung Pujut, pada saat itu titah paduka batara Maharaja Manu, tiba di pulau Jawa di Medangkamulan, di sana dipuja sebagai dewa, dan menjadi pelindung pertama di negeri itu.
Gurunam sobitah siyotah.
Sebabnya beliau turun, karena atas titah ayah beliau , Batara Guru, menitahkan untuk menegakkan dharma ( kebenaran ) di Medangkemulan, kemudian selesainya melaksanakan dharma beliau, beliau juga melakukan semadi, menghadap/ memuja Surya pada waktu mulai terbit. Hasil dari tapanya, beliau bagaikan dewa dalam alam nyata, oleh karena itu tidak ada yang menyamai di dunia, demikian selesai.
Taman loke turanjitah, stroteyam satya dharmmanam,
Sakyam wakbhitah krtti loke, bhuta bhawanam wancanam.
Karenanya tenteramlah negeri itu selama beliau dijunjung bagi beliau tidak ada yang melebihi selain darma, itulah sebabnya berhasil segala yang diucapkannya, Hyang Maharaja Manu juga memahami tentang kebatinan.
Jawanam mandawe swijah, dasantih bhujanggam tayah,
tasiyamnco ywanam prajah, haiwam santanam Wijnanah.
Entah berapa lama hyang Batara Maharaja Manu, bertahta menjadi pemimpin di sana, bagaikan dewa dalam kenyataan, beliau tetap mempertahankan kemuliaan, sampai ke seluruh negeri, disegani oleh rakyat maupun bangsawan, orang pertama dalam keturunan Manu, di kerajaan, Medangkamulan.
Awiji ekam sastito.
Awalnya beliau Maharaja Manu, menurunkan keturunan utama seorang laki-laki, bergelar Sri Jaya Langit. Adapun Sri Jaya langit, menurunkan Sri Wrttikandayun. Adapun Sri Wrttikandayun, menurunkan Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, menurunkan Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa, beliau sebagai pemimpin utama, perencana unggul, raja di antara para yogi dan penguasa tertinggi, menjabarkan tujuh formasi ilmu Sanskrit dalam tata bahasa, oleh dilampaui orang. Hasil karya Bagawan Byasa, digubah dalam palawakya, memahami seluk beluk cerita prosa dari Astadasa Parwa. Beliau bagaikan Raja yang unggul di dunia, pikiran beliau mengutamakan kebenaran, tidak diperdaya sebagai raja, menjaga daerah kekuasaan, mengutamakan kejujuran dan kesetiaan, sungguh beliau menjadi pelindung dunia.
Prawaktayan sri gotrabih. Beliau raja penguasa pertama, pada waktu beliau memerintah negeri itu makmur, para pernuka tidak ada yang berani menentang beliau. Demikian keistimewaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa.
Beberapa lama beliau dijunjung menjadi penguasa negeri, berhasil mempunyai keturunan, beliau berputra laki-laki yang utama, bernama Sri Kameswara, seperti nama buyut beliau. Adapun Sri Kameswara, memiliki keturunan tiga laki-laki, dan seorang perempuan, Semuanya ada empat, rinciannya adalah, yang tertua bernama Sri Krtta Dharma, beliau yang wafat di Jirah. Adapun adik beliau, Sri Tunggul Ametung, beliau wafat di Tumapel, saudara yang perempuan, bernama Dewi Ghori Puspatha, disunting oleh Mpu Widha, saudara dari Medhawati, telah menyatu ke alam baka, berkedudukan di kuburan. Adapun yang keempat, adalah Sri Airlangga, yang diangkat dari Sri Udayana Warmadewa, raja Bali, beserta Sri Guna Priya Dharmapatni, keturunan dari Mpu Sendok.
Adapun Sri Airlangga menjadi raja penguasa berkedudukan di negara Daha. Memiliki keturunan dua laki-laki utama, yang ketiga putri di luar istana. Putra tertua itu bernama Sri Jayabhaya, dan Sri Jayashaba, lahir dari ibu permaisuri. Semuanya keturunan Wisnuwangsa Kediri. Adapun yang di luar istana (puspa capa), bergelar Sri Arya Buru, sama-sama keturunan orang dusun, cikal bakal lurah Tutwan, Si Gunaraksa yang datang ke Bali.
Silsilah raja Sri Jayabhaya yang diuraikan terlebih dahulu, raja Sri Jayabhaya, berputra tiga orang laki-laki, yang tertua bernama raja Sri Dandang Gendis, Sri Siwa Wandhira, Sri Jaya Kusuma, demikian keturunan beliau Sri Jayabhaya. Adapun raja Sri Dandang Gendis, memiliki keturunan Sri Jaya Katong, dia wafat dalam peperangan, Sri Jaya Katong, berputra Sri Jaya Katha, adapun Sri Siwa Wandhira berputra Sri Jaya Waringin, Sri Jaya Waringin berputra Sri Kuta Wandhira berputra bernama Arya Kutawaringin, dia pergi ke Bali, diutus oleh beliau Patih Mada, berkembang keturunannya menjadi keluarga Kubon Tubuh, Kuta Waringin, sampai di sana diceritakan.
Adapun Sri Jaya Kusuma, memiliki keturunan Sri Wira Kusuma, tidak mengikuti aturan kata krama keluarga, melahirkan keturunan berada di Pulau Jawa, tidak diceritakan lagi kelanjutannya.
Kembali Sri Jayasabha yang diceritakan, memiliki keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kediri, memiliki keturunan bernama Arya Kapakisan, beliau dikirim oleh keturunan dua orang semua laki-laki, beliau Pangeran Nyuhaya, dan Pangeran Asak, sama-sama mengembangkan keturunan di Bali, cerita disudahi.
Kembali diceritakan yang terdahulu, Jaya Waringin dan Jaya Katha, keturunan beliau Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong beliau berdua yang gugur dalam pertempuran, beliau berdua yaitu Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang menyerah ke Tumapel, waktu ayah beliau hancur dalam peperangan negara Daha menjadi kacau, akhirnya berlanjut sampai cucu terkena kehancuran, kutuk beliau pendeta Çiwa maupun golongan Budha.
[Kembali ke atas]
Apa yang menyebabkan terjadinya perang itu? Menyebabkan Keraton menjadi hancur ?
Dengarkan tambahan cerita ini, pada tahun Çaka yang lalu 1144 ( 1222 M ), bulan Palguna (sekitar Pebruari), hari ketiga belas setelah bulan Purnama, hari sepekan Watu Gunung, pada saat itu perintah beliau raja Ken Angrok, beliau yang bertahta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, atas desakan beliau para pendeta Çiwa maupun golongan Budha. Bahwasanya raja Sri Dangdang Gendis, durhaka pada para pendeta, menghina kewajiban sang Brahmana, ibaratnya seperti maharaja Nahusa, yang berkeinginan menguasai Surga. Demikian perbuatan raja Sri Dangdang Gendis, menyebabkan semua pendeta menjadi bingung mengungsi ke Tumapel, sekarang kerajaan Daha, ibaratnya seperti segunung rumput kering, hancur lebur terbakar oleh api, siap dibakar?, itulah kemarahan sang pertapa, berkobar dalam pikirannya, ditiup angin tak henti-hentinya Raja Sri Ken Angrok menghembus, semakin menyala tak ada tandingnya.
Pada akhirnya menyerah Sri Aji Dangdang Gendis, sadar akan ajalnya tiba, karena raja Sri Ken Angrok sungguh seorang keturunan Brahmana dari Waisnawa, beliau juga dijuluki Hyang Guru, nah itu sebabnya Sri Raja Dangdang Gendis, memusatkan pikiran, menggelar rahasia batin, segera moksa tanpa jasad turut pula kandang kuda beserta pembawa puan, payung, terlihat samar bayangan beliau, melambai di angkasa, menuju Wisnuloka. Demikian jelas Sri raja telah menyatu di alam sana.
Ada lagi yang diceritakan yaitu para prajurit dan menteri lebih-lebih para keluarga utama ( dekat ), rakyat yang masih hidup, semua cerai-berai, mencari tempat berlindung, mencari tempat persembunyian, agar selamat, sebab pemimpin perang adalah Siwa Wandhira, beserta Misawalungan, Semuanya telah gugur, dengan penuh keberanian.
Masih ada dua orang keluarga keturunan utama, Jaya Katha, dan Jaya Waringin yang terkenal, keturunan Jaya Katong, beserta Siwa Wandhira, yang gugur dalam medan perang.
Mereka berdua dendam, atas tewas ayahnya dalam pertempuran, maju menyerang seperti harimau galak, lalu ditangkap bersama-sama oleh empat orang gagah berani yang masing-masing bernama , Arya Wang Bang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, di sana Jaya Katha dan Jaya Waringin, keduanya ditangkap. Tidak mampu melawan ikut pula istri Jaya Katha dibawa berlari beliau sedang hamil, sedang mengidam. Adapun Jaya Waringin, masih perjaka, belum mempunyai istri. Keempat menteri tersebut semua belas kasihan terhadap beliau Jaya Katha, dan pula terhadap Siwa Wandhira, itulah sebabnya lepas tidak terkena senjata.
Adapun setibanya beliau di Tumapel, disayang oleh yang mendirikan memerintah Tumapel, diasuh oleh orang Japara, masih merupakan keturunan istri Mpu Sendok, dan Kebo ljo, di sana dipelihara, tidak mendapat kekuasaan. Beberapa lama mereka berada di Tumapel, setelah tiba masanya, akhirnya Jaya Katha berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Wayahan Dalem Manyeneng, ketika ibunya dibawa lari janin itu berada dengan selamat di rahim ibunya, itulah sebabnya diberi nama Dalem Manyeneng.
Adapun adiknya bernama Arya Katanggaran, itu yang menurunkan Kebo Anabrang, orang tua dari Arya Kanuruhan, yang dikirim ke Bali, mengembangkan keturunan, yaitu Arya Brangsinga, Tangkas, Pagatepan, sampai di sana diceritakan.
Putra yang bungsu bernama Arya Nuddhata, seorang Arya yang menetap berdiam di Tumapel mengembangkan keturunan di kerajaan di Jawa, tidak diceritakan lebih lanjut.
Adapun beliau Arya Wayahan Dalem Manyeneng, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Gajah Para, adik beliau bernama Arya Getas, Mereka berdua itu diutus oleh Gajah Mada ke Bali, demikian uraiannya pada zaman dahulu.
Ya Tuhan yang bersemayam dalam kalbu dan pikiran, yang diwujudkan dengan Ongkara dalam kesucian Batara junjungan hamba, para leluhur yang telah suci, hamba menghaturkan sembah suci agar berhasil, oleh karena semua para anggota keluarga, keturunan, karena beliau yang pertama mengembangkan keluarga hamba sendiri, tiada lain beliau itu yang menetap di Tumapel. Beliau itu adalah Arya Wayahan Dalem Manyeneng, gelar beliau yang terkenal. Beliau yang pertama menurunkan keluarga hamba, maafkan agar tidak kena kutukan, para keluarga hamba mohon ijin untuk menguraikan cerita ini, semoga selamat dan panjang umur, menemui kesempurnaan, sampai anggota keluarga dan keturunan, berhasil dalam segala tujuan, tidak kekurangan pangan, kekayaan, semoga tetap disegani di bumi. Ya Tuhan semoga sukses, berhasil selalu.
Permulaan cerita disusun dalam silsilah, berkat jasa beliau seorang brahmana pendeta sakti, beliau bergelar Wayahan Tianyar, yang berasrama di Griya Punia, atas dorongan Kyayi I Gusti Ngurah Tianyar, pemimpin di utara gunung, keturunan beliau Jaya Katong dari Kediri, itulah sebabnya sang pendeta sakti, menulis tentang silsilah , telah dimuat dalam tulisan sesuai dengan bahasa dalam babad Jawa.
Adapula diceritakan, bernama Kriyan Patih Gajah Mada, memanggil Arya Damar, atas titah dari maha raja Pulau Jawa, melaksanakan empat daya upaya, menyerang kerajaan Bali, setelah siap perbekalan dan kendaraan, segeralah beliau berangkat ikut pula para Arya semua, para perwira dan menteri berkelompok-kelompok menaiki perahu, disertai pula prajurit beliau, tepi laut Bali dikelilingi oleh musuh, para Arya itu dibagi-bagi oleh Kriyan Patih Mada, utara, timur, barat selatan semuanya penuh, penuh sesak di pantai laut, yang masing-masing menempati posisinya, ditambatkan perahunya.
Adapun beliau Arya Gajah Para, beserta saudara beliau Arya Getas, disertai oleh Arya Kutawaringin yang cekatan, diikuti oleh Jahaweddhya, para gusti dari Majapahit, seperti tiga patih bersaudara, yang bernama Tan Kawur, Tan Mundur, dan Tan Kober. Beliau tiga bersaudara menambatkan perahu layarnya di pelabuhan Tejakula, yang menyerang dari barat Toya Anyar.
Desa-desa menjadi kacau balau, semuanya yang ada di kerajaan Bali, sangat ramai pergulatan perang itu, memarang diparang, kacau balau, banyak rakyat yang tewas, dan menderita, karena keperkasaannya serangan dan Pulau Jawa. Dengan sekejap kalah pasukan Maharaja Sri Bhedamuka (Bedahulu), amat panjang tidak diceritakan dalam buku ini.
Sementara setelah gugurnya maharaja Bhedamuka, para Arya itu semua kembali, menuju Majapahit, keadaan Pulau Bali menjadi sunyi senyap, karena belum ada yang memimpin Bali, demikian. Setelah sekian lama datanglah Sri Kresna Kepakisan, dinobatkan menjadi raja di Pulau Bali. Diikuti oleh semua Arya, Arya Kepakisan, Arya Wang Bang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Kanuruhan, lagi beliau Arya Wang Bang, Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur, yang terakhir Arya Kutawaringin semua mengiringi sebagai para perwira menteri, Beliau Arya Kutawaringin, menjadi kepala penasehat pasukan tinggi tersebut.
Sesampainya Sri Maharaja Kapakisan, dinobatkan menjadi raja Pulau Bali, orang- orang dusun ada yang tidak mau menghormati ( tunduk ), yang di sebelah utara gunung Agung, oleh karena tidak ada pemimpin yang disegani yang datang di sana. Demikian cerita berakhir.
Kemudian kembali diceritakan, beliau Arya Gajahpara, bersama saudara beliau Arya Getas didesak oleh raja, sebagai mahapatih raja yang ada di Bali. Beliau menurut ( menyerah ), karena ingat dengan kewajiban sebagai seorang anak, tidak pantas melawan perintah orang tua, demikian motto kepemimpinan beliau, dengan tetap pula melaksanakan keperwiraan utama dan keadilan, kedua Arya tersebut diberikan istri, juga merupakan putra Arya. Tetapi di sana para Arya itu segera diajar tentang kewajiban dan tingkah laku seorang kesatria, oleh ayah beliau, untuk tetap melaksanakan cita-cita kewajiban seorang pahlawan (pemberani).
Setelah demikian, kedua Arya itu menyembah dan mohon pamit, berdiri dan segera berangkat. Sekejap telah sampai di pantai laut, segera beliau naik ke perahu, perahu berlayar hilir mudik, setelah melewati pertengahan laut, selanjutnya, berlabuhlah beliau di daerah Pulaki, barat daya Pulau Bali, beliau menumpang di rumah I Gusti Bendesa Pulaki, yang merupakan keluarga keturunan Bendesa Mas. Sangat senang hati I Gusti Bendesa, tulus hatinya dan sangat ramahtamah sambutannya, hormat terhadap kedua Arya itu, seperti berbunga-bunga hati sang tuan rumah, lengkap dengan jamuan penyambutan I Gusti Bendesa Pulaki. Di sana beliau menginap dua malam.
Pagi-pagi pergilah kedua Arya tersebut, diantar oleh I Gusti Bendesa, tujuannya untuk menghadap Sri Maharaja, yang beristana di Samprangan. Tidak habis jika diceritakan perjalanan kedua Arya tersebut, diantar oleh beliau I Gusti Bendesa. Segera tiba di penghadapan, beliau langsung mendekat dan menghadap pada baginda raja. Tak lama antaranya kedua Arya tersebut dipandang oleh sang raja, dengan sopan dan tulus sembah kedua Arya tersebut, demikian pula I Gusti Bendesa, menimbulkan kekaguman setiap yang melihat, orang yang berada di tempat penghadapan, oleh tingkah laku yang baik kedua Arya itu.
Ada petunjuk dari sang raja, terhadap kedua Arya, dinobatkan menjadi patih oleh beliau raja penguasa, bertempat di sana di sebelah utara Tohlangkir, bermukim di Sukangeneb penyerangan beliau Mada untuk membunuh raja Bedha Murdhi ( Bedahulu ), kalahnya Pulau Bali oleh Majapahit. Menjadi patuhlah Arya itu, dengan segera ditutuplah penghadapan raja. Setelah itu mohon pamitlah beliau pada Sri Maharaja, dan permohonannya dikabulkan, kedua Arya itu berjalan menuju ke utara, diiringkan oleh rakyat sebanyak lima puluh orang, menuju Sukangeneb Toya Anyar. Setibanya di sana, segera beliau membangun rumah, tenanglah penduduk sebelah utara gunung Agung itu, batas sebelah timurnya adalah Basang Alas, sebelah baratnya sampai di Tejakula, sebelah utaranya sampai di desa Got, demikian batas wilayah kerja beliau, wilayah pemerintahan Arya Gajah Para, berdua beserta saudara beliau.
Beberapa lama kemudian beliau Arya Gajahpara berdua bersama saudara beliau, hidup di Sukangeneb Toya Anyar, beliau berdua sama-sama memiliki putra. Adapun putra beliau Gajah Para tiga orang laki-laki dan perempuan, laki-laki yang sulung I Gusti Ngurah Toya Anyar, adiknya ( bernama ) I Gusti Ngurah Sukangeneb, yang perempuan Ni Gusti Luh Raras, diambil dijadikan istri oleh beliau Sri Raja Wawu Rawuh, untuk sementara tidak diceritakan.
Beliau Arya Getas yang diceritakan sekarang, berputra dua orang laki-laki, yang tertua bernama I Gusti Ngurah Getas, adiknya diberi nama I Gusti Kekeran Getas. Adapun beliau Arya Getas, setelah berputra dua orang diadu oleh Sri Maharaja, disuruh menyerang daerah Selaparang, karena beliau menguasai empat daya upaya yang licin, diikuti oleh seribu enam ratus orang bawahannya, setelah semua lengkap dengan perbekalan dan kendaraan, menjadi penuhlah desa-desa pesisir di sepanjang pantai, beliau bersama semua rakyatnya hilir mudik menaiki perahu.
Setelah itu berhasillah beliau berlabuh di tepi pantai Selaparang, turun dari perahu, berjalan beliau Arya Getas. Rakyat Selaparang menjadi terdiam, oleh karena beliau ( Arya Getas ) berhasil memasang empat daya upaya yang licin, beliau langsung menerobos memasuki semua desa, orang-orang yang berada di Praya semua diam, semua memberi hormat kepada Arya Getas, itu sebabnya ( beliau ) tinggal di Praya sampai sekarang dan mengembangkan keturunan.
Diceritakan kedua putra beliau yang tinggal di Sukangeneb Toya Anyar, sama-sama mengembangkan keturunan, telah tercatat. Kembali diceritakan, tersebut I Gusti Ngurah Sukangeneb, pindah ke arah barat, diikuti oleh rakyat dengan tiba-tiba, terlunta-lunta perjalanan beliau, sampai tiba di desa Pegametan, bergegas penduduk di sana, disambut oleh I Gusti Bendesa Pegametan, keturunan dari Bendesa Mas, senang hati I Gusti Bendesa sama-sama memohon maaf dengan tulus dan sopan, tidak beberapa lama masuklah di sana I Gusti Ngurah Sukangeneb, bergandeng tangan dengan I Gusti Bendesa, yang menjadi penguasa di Pegametan, masuk ke dalam Puri, duduk di beranda rumah, beliau sama-sama senang saling bertukar pikiran dan berunding, tidak diceritakan jamuan beliau I Gusti Bendesa. Karena saling mengasihi dari dulu.
Waktu telah berlalu, sekarang I Gusti Ngurah Sukangeneb, beliau berdiam di Pegametan, menyebabkan I Gusti Bendesa menjadi akrab, dengan I Gusti Sukangeneb. Oleh karena itu dijadikan menantu laki oleh I Gusti Bendesa. I Gusti Ngurah Sukangeneb. Permintaan I Gusti Bendesa agar I Gusti Ngurah Sukangeneb dikawinkan dengan I Gusti ……………………………..Kekeran, I Gusti Getas, dinikahkan pada hari, Senin Umanis, Wuku Tolu, tanggal empat belas hari terang bulan, sasih kelima ( sekitar Nopember ) pada tahun Saka 1560 ( 1638 M). Tidak diceritakan perkawinan beliau, pada akhirnya beliau mempunyai dua orang putra, laki-laki, yang sulung I Gusti Gede Pulaki, adiknya I Gusti Ngurah Pegametan. Cerita selesai sampai di sini.
Selanjutnya kembali diceritakan, tersebutlah I Gusti Ngurah Toya Anyar, ada saudara beliau, laki-laki dua orang dan perempuan seorang. Adapun yang tertua I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menggantikan ayah beliau Arya Gajah Para, yang ketiga mengambil istri I Gusti Ayu Diah Wwesukia, adiknya I Gusti Ngurah Kaler, kawin dengan I Gusti Diah Lor. Adiknya yang bernama I Gusti Luh Tianyar, dijadikan istri oleh Pendeta Sakti Manuaba. Adapun I Gusti Ngurah Getas, dan I Gusti Ngurah Kekeran Getas, beliau tinggal di Sukangeneb, Toya Anyar, beliau sama-sama mengembangkan keturunan.
Kemudian kembali dikisahkan, diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menjadi tetua di Toya Anyar, generasi ketiga, putra beliau yang seibu yaitu I Gusti Ayu Diah Wwesukia. Putra tertua ( bernama ) I Gusti Gede Tianyar, yang selanjutnya berdiam dan memiliki keturunan di Kebon Culik, putra kedua ( juga ) laki-laki bernama I Gusti Made Tianyar, yang kemudian tinggal dan berkembang di Sukangeneb Toya Anyar. Putra yang bungsu I Gusti Nyoman Tianyar, beliau ( yang ) lahir di Desa Pamuhugan, tidak berbeda seperti leluhur beliau dahulu, janin itu selamat dalam rahim ibunya yang sangat setia kepada suaminya, berkat anugerah beliau sang raja penguasa di Gelgel, ketiganya itu diijinkan kembali ke Toya Anyar.
bAGIAN KEDUA
Sekarang kembali diceritakan I Gusti Ngurah Kaler, mempunyai empat orang putra dari seorang ibu lahir dari I Gusti Ayu Diah Lor, putra tertua bernama I Gusti Gede Kaler, pindah menuju desa Antiga, berdiam di sana dan mengembangkan keturunan, putra kedua I Gusti Made Kekeran, pindah menuju Desa Kubu, berkembang di sana. Putra ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, pindah ke Desa Sukadana Tigaron, menetap dan mengembangkan keturunan di sana. Adapun yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, beliau dijuluki Ubuh, karena ayahnya meninggal pada saat masih dalam kandungan ibunya Sang Diah yang setia terhadap suami, akhirnya tinggal dan mengembangkan keturunan di Tanggawisia, dihentikan penuturannya sebentar. Cerita kembali lagi, pada I Gusti Gede Pulaki, diambil anaknya I Gusti Bendesa Pulaki, dikawinkan menjadi istri bernama I Gusti Luh Mas. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pegametan, beliau tinggal di desa Pegametan. Adapun saudara beliau I Gusti Gede Pulaki, tinggal di desa Pulaki, putra beliau laki-laki, terlanjur sudah, beliau meninggal. Sedih hatinya I Gusti Gede Pulaki.
Diceritakan sekarang Batara Nirartha, adik dari Mpu Angsoka, putra dari Hyang Danghyang Asmaranatha, beliau menemukan kemurahan batin, datang di Bali, menaiki buah labu (waluh kele), dan sampan yang bocor, mendarat di tepi pantai Purancak, mampir di pondok I Gusti Gede Pulaki, beserta putra beliau semua. Ada putra Batara Nirartha, laki perempuan lahir dari golongan Brahmana Keturunan Daha, yang sulung sangat cantik dan parasnya menawan, tidak ada yang menyamai di dunia, harum semerbak baunya. Adiknya bernama Pedanda Kemenuh, lagi pula ada saudara beliau seorang perempuan, menikah dengan Mpu Astamala beliau dari Aliran Budha
Ada pula anak beliau yang lahir dari putri Brahmana dari Pasuruhan, empat orang laki-laki, tertua Pedanda Kulwan, Pedanda Lor, Pedanda Ler. Ada lagi putra dari Pedanda Batara Nirartha, laki perempuan, ibunya dari golongan Kesatria saudara dari Dalem Keniten Blambangan, bernama Patni Keniten. Istri Pedanda Rai, pendeta perempuan tidak bersuami, Pedanda Telaga, Pedanda Keniten.
Kembali lagi pada cerita, Batara Nirartha, berada di pondok I Gusti Gede Pulaki, disambut dan diterima oleh I Gusti Gede Pulaki, beliau berucap "Aum-aum hamba sangat bahagia atas kedatangan sang pendeta, apa tujuan tuan pendeta, katakan yang sebenarnya", Danghyang Nirartha menjawab, "Aum Ngurah Gede Pulaki, tujuan saya datang padamu, maksud saya untuk menyembunyikan putraku sekarang, takut saya jika ia datang di kerajaan menghadap pada raja, karena harum semerbak bau tubuhnya, juga sangat cantik paras mukanya, maksud saya sekarang untuk menyatukan kembali ke alam sepi (alam gaib), I Gusti Gede Pulaki menyetujui dan berkenan mengantar, seraya memohon ikut ke alam gaib ia bersedih dan berduka karena terputus keturunannya, tidak ada lagi putranya, diam ( lah ) Batara Nirartha, memikirkan perasaan hati I Gusti Gede Pulaki. Maka bersabdalah Batara Nirartha, sabdanya, "Duhai Ngurah Pulaki, apa sebabnya demikian, menjadi sangat sedih perasaan hatimu, janganlah engkau demikian". Bersikeras I Gusti Gede Pulaki, memohon restu, agar ia mengiringkan menuju alam gaib. Dengan demikian dikabulkan semua perkataan I Gusti Gede Pulaki, bersama putra beliau, beserta semua prajuritnya mengiringkan putra beliau (Batara Nirartha) tidaklah nampak lagi di alam nyata oleh semua orang.
Diceritakan sekarang berhubung dipenuhinya permintaan I Gusti Ngurah Pulaki, senanglah hati beliau, maka menyiapkan prajurit, kemudian disuruh membuat upacara selamat, di Pura Dalem, lengkap dengan sanggar cucuk, masing-masing pasukannya disuruh untuk memasang di pintu masing-masing, pada had Kamis Kliwon, lengkap dengan sesajennya. Dengan sekuat tenaga Batara Nirartha, melakukan yoga smertti, terhadap Batara Berawa, beserta penghormatan dan permohonan, kemudian dianugerahi beliau oleh Batara sarana untuk tidak tampak di alam ini, oleh semua orang.
Segera setelah itu ada terlihat tabung bambu kuning bergelayutan, tanpa gantungan, dari dalam sebuah tempat pemujaan di kahyangan ( pura ), tidak lama kemudian keluar baju loreng, dari lubang tabung bambu kuning tersebut. Segera diambil baju itu oleh semua orang. Demikian pula I Gusti Ngurah Pulaki, sama-sama disuruh mengenakan pakaian itu, masing-masing sebuah, di sana orang-orang itu semua dan I Gusti Ngurah Pulaki, segera berubah wujud, menjadi harimau, desa tempat tinggal itu, hilang tidak tampak di alam ini. Adapun putra beliau Batara Nirartha, secara gaib menyatu di alam tidak tampak, berdiam di Mlanting, di puja oleh orang yang tidak kelihatan (samar), sampai sekarang.
Cerita kembali lagi, waktu I Gusti Ngurah Pulaki, memohon berubah wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Batara di Mlanting, I Gusti Ngurah Pegametan, sedang tidak ada di rumah, beliau pergi mengunjungi Bendesa Kelab, yang berada di Jembrana. Beberapa hari berada di sana, kembali pulang dia ke Pulaki, bersama semua pengiringnya, tidak diceriterakan dalam perjalanan, segera sampai di perbatasan desa, kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegametan, karena tidak seperti sedia kala, bingung perasaan I Gusti Ngurah Pegametan ………………….
"Wahai saudaraku, apa sebabnya tidak tampak olehku penduduk desa itu, tidak seperti sedia kala tempat tinggal desaku saat ini ".
Kemudian terdengarlah suara-suara binatang bercampur dengan suara harimau, mengaum ribut tiada tara. Terkejut perasaan I Gusti Ngurah Pegametan, tidak kepalang tanggung hati I Gusti Ngurah Pegametan, ingin mengadu keberaniannya, beliau marah dan mengumpat-umpat, ujarnya " Hai engkau harimau semua, tampakkanlah wujudmu, hadapi keberanianku sekarang.
[Kembali ke atas]
Segera I Gusti Ngurah Pegametan melangkah, tidak kelihatan yang bersuara gemuruh itu, kemudian beliau berjalan hendak meninjau Toya Anyar. Berjalan beliau bersama prajurit, sampai tiba di Rajatama, perjalanannya diikuti oleh wujud yang maya itu, sekilas tampak berupa harimau, semua pengikut itu perasaannya menjadi takut, semakin mendekat harimau itu, perilakunya seperti orang menghormat, menunduk pada I Gusti Ngurah Pegametan, kemudian mengumpat serta menghunus keris. Jadi hilang rupa bayangan itu, segeralah beliau melanjutkan perjalanan. Tidak diceritakan desa yang telah dilewati, orang-orang yang mengiringinya, diceritakan sekarang telah sampai di desa Wana Wangi, banyak pengiring itu berlarian teringat para pengiring yang hilang sebanyak lima puluh orang, karena jurangnya menyulitkan berbahaya dan terjal diliputi oleh gelap, tidak terlihat keberadaan di dalam hutan.
Tidak terpikir oleh I Gusti Ngurah Pegametan, tidak menghiraukan lembah terjal perjalanan beliau, segera sampai di Samirenteng. Menuju ke timur perjalanan beliau, sampailah beliau di hutan sekitar Sukangeneb Toya Anyar. Beristirahatlah beliau di sana, dihitung prajuritnya, dulu diiringi oleh dua ratus prajurit, telah hilang tersesat lima puluh orang, sekarang pengiringnya tinggal seratus lima puluh orang, itulah sebabnya ( tempat itu ), bernama Desa Karobelahan sampai sekarang.
Adapun lima puluh orang pengikut yang tersesat, dikumpulkan bertempat di Bengkala. Adapun beliau I Gusti Ngurah Pegametan, beserta pengikut menuju keluarganya di Sukangeneb Toya Anyar. Tidak diceritakan sekarang untuk sementara.
Cerita kembali lagi, sekarang diceritakan beliau Arya Gajah Para, setelah lama beliau berada di Sukangeneb, Toya Anyar. Karena masa tuanya, pada saatnya akan dijemput oleh Kala Mrtyu ( Kematian ), sudah tampak tanda-tanda kematiannya. Sudah diyakini oleh beliau, tidak boleh tidak beliau pasti akan meninggal.
Ada pesan beliau terhadap cucunya, yang bernama I Gusti Ngurah Kaler, katanya " Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti saya meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di puncak gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari), dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh dan tari-tarian, karena ibuku dulu bidadari". Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti Ngurah Kaler, cucu beliau mematuhi, tidak berani menolak pesan kakeknya.
Tidak diceritakan lagi telah tiba saatnya maka wafatlah beliau Arya Gajah Para. Adapun cucu beliau yang bernama I Gusti Ngurah Tianyar, tidak mengetahui wasiat tersebut, karena ( pada saat itu ) beliau tidak berada di rumah, beliau pergi ke Gelgel, menghadap pada Sri Maharaja, bersama-sama dengan I Gusti Ngurah Pegametan, sama-sama berada di Gelgel.
Tidak diceritakan lagi, setibanya kembali I Gusti Ngurah Tianyar, beserta saudaranya, dijumpai orang-orang di pun, semua menyongsong I Gusti Ngurah Tianyar, memberitahukan tentang wafatnya Arya Gajah Para. Kaget dan terhenyak hati yang baru tiba, berpikir-pikir tentang wafatnya, segera datang I Gusti Ngurah Kaler, diberitahukan ada pesan beliau (Arya Gajah Para), bahwa disuruh untuk membuatkan panggung jasad beliau di puncak gunung Mangun. Demikian perkataan beliau I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya. Diam I Gusti Ngurah Tianyar, berpikir-pikir beliau. Tidak disetujui semua ucapan yang disampaikan I Gusti Ngurah Kaler, bersikeras pula I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh semua rakyat, untuk membantu bersama-sama mengerjakan bade ( tempat usungan mayat ) bertumpang sembilan, pancaksahe, taman agung cakranti tatrawangen, beserta segala upakara ngaben seperti lazimnya orang-orang berwibawa bernama anyawa wedhana, harapan beliau agar segera jasad leluhurnya dikremasi. Karena hari baik sudah dekat, itu sebabnya masyarakat itu beserta tamu semua segera membantu bekerja baik laki maupun perempuan, membuat upakara ngaben (pitra yadnya).
Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Kaler, kembali ingat dengan wasiat pesan leluhurnya dahulu, tidak berani menolak setia pada perintah, semakin khawatir I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya I Gusti Ngurah Tianyar. Diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh rakyat beliau memulai mengerjakan terhadap upacara pengabenan, setelah beliau tentukan, saat pelaksanaannya, tidak diceritakan upacara tersebut. Tersebutlah sekarang I Gusti Ngurah Kaler, semakin besar dendam hatinya, banyak alasannya, marah, terhadap I Gusti Ngurah Tianyar. Itu Sebabnya I Gusti Ngurah tidak ingat terhadap kakaknya, terikat oleh kesetiaan beliau, yakin terhadap kebenaran ucapan wasiat leluhur beliau, perasaan hatinya yang marah tidak dapat dikendalikan, segera kakaknya ditantang berperang, marah I Gusti Ngurah Tianyar, memuncak kemarahannya, sama-sama tidak mau surut kejantanannya, sebagai seorang kesatria untuk mendapatkan kemashuran di ujung senjata utama, lagi pula prajurit sama-sama prajurit, semua setia membela kehendak tuannya, sama-sama beringas, saling parang memarang, terus menerjang berbenturan. Lagi pula peperangan beliau I Gusti Ngurah Tianyar, dengan I Gusti Ngurah Kaler, sama-sama gagah berani, sangat hebat peperangan itu, bagaikan perang kelompok raksasa, banyak rakyat hancur menjadi korban, darah bercucuran, dan mayat para prajurit menggunung, itu sebabnya diberi nama Tukad Luwah sampai sekarang. Adapun peperangan I Gusti Ngurah Kaler, dengan I Gusti Ngurah Tianyar, sama-sama tidak berkurang keberaniannya, sama-sama saling menikam. I Gusti Ngurah Kaler menikam dengan keris Si Tan Pasirik, tembus dada I Gusti Ngurah Tianyar, membalaslah ia menikam dengan keris " I Baru Pangesan ", sekejap sama-sama meninggal beliau berdua.
Kemudian datang I Gusti Abyan Tubuh, bersama I Gusti Pagatepan, yang merupakan utusan dari Sri Raja penguasa di suruh untuk melerai pertikaian mereka berdua. Agar tidak terjadi perkelahian, karena dia bersaudara, sekarang keduanya ditemukan telah meninggal, terhenyak I Gusti Abyan Tubuh, demikian pula I Gusti Pagatepan, memikirkan tentang kematiannya berdua, juga tentang ketidakberhasilan tugasnya, diutus oleh Sri Raja penguasa. Beliau segera kembali untuk menghadap Baginda Raja, tidak diceritakan perjalanannya I Gusti Abyan Tubuh, beserta I Gusti Pagatepan, tibalah mereka di Sweca Negara (Gelgel), segera mereka menghadap sang raja memberitahukan tentang meninggalnya mereka berdua karena berkelahi katanya. " Baiklah paduka Sri Prameswara, tidak membuahkan hasil yang baik tugas yang hamba emban dari paduka, hamba temukan keduanya telah meninggal. Melongo gundah hati sang raja, berpikir-pikir beliau, bahwa sungguh merupakan takdir Yang Maha Esa.
Sekarang diceritakan, putra I Gusti Ngurah Kaler, dan I Gusti Ngurah Tianyar, keturunannya sama-sama pria. Adapun putra I Gusti Ngurah Tianyar, yang sulung bernama I Gusti Gede Tianyar, adiknya bernama I Gusti Made Tianyar, yang bungsu bernama I Gusti Nyoman Tianyar, lahir di desa Pamuhugan, semua bijaksana, paham dengan segala ilmu pengetahuan. Diceritakan pula putra I Gusti Ngurah Kaler, empat orang laki-laki, yang tertua I Gusti Gede Kaler seperti nama ayahnya. Adiknya bernama I Gusti Made Kekeran, yang muda bernama I Gusti Nyoman Jambeng Campara, yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, karena di antara dua orang yang meninggal ( ayahnya ) sama-sama meninggalkan isterinya yang sedang hamil, itu sebabnya tidak ada yang melakukan satya, "menceburkan diri dalam api pembakaran mayat " kemudian setelah sama-sama kandungan mencapai usianya, pada saatnya lahirlah bayi itu sama-sama pria, ada di Desa Pamuhugan di Tanggawisia, hentikan ceritanya sebentar.
Sekarang diceritakan, tentang beliau Batara Sakti Manuaba, putra dari Batara Ler, ibunya dari I Gusti Dawuh Baleagung, dengan gelar Batara Buruwan, berhasil menjadi pendeta besar, mendapatkan tingkat kemuliaan yang tinggi, tidak ada yang menyamai tentang kependetaan beliau, bertempat di Manuaba. Banyak brahmana ikut tinggal di sana. Beliau mendengar tentang pertikaian I Gusti Ngurah Tianyar dan I Gusti Ngurah Kaler, yang sama-sama meninggal, beserta rakyatnya yang mati tidak terhitung jumlahnya. Menjadi kasihan beliau Batara Sakti Manuaba. Tujuan beliau datang untuk mengetahui keadaan sesungguhnya kedua orang yang bertikai tersebut. Tidak diceritakan perjalanan beliau sang Resi sakti. Tidak beberapa lama tiba beliau di Sukangeneb, Toya Anyar. Dijumpai saudara I Gusti Ngurah Kaler, perempuan seorang, berpengetahuan dan rupawan, bernama I Gusti Ayu Tianyar.
Disarankan oleh beliau sang raja penguasa, agar beliau melamar (meminang ), dikawinkan dijadikan istri sang Resi Wisesa. Tidak diceritakan beliau.
Ada anak lahir dari I Gusti Ayu Tianyar, laki-laki tiga orang, yang sulung bernama Ida Wayahan Tianyar, adiknya bernama Ida Nyoman Tianyar, yang bungsu bernama Ida Ketut Tianyar, bagaikan dewa Brahma, Wisnu, Çiwa kecerdasannya.
Cerita kembali lagi, diceritakan istri I Gusti Ngurah Tianyar, dan istri I Gusti Ngurah Kaler, mereka berdua sangat sedih, hatinya sangat duka, menyebabkan mereka meninggalkan puri. Bersama putra beliau yang masih bayi, diikuti oleh dua ratus orang pengikut, tujuannya untuk datang menghadap Sri raja, yang berada di Sweca pura (Gelgel). Adapun I Gusti Diah Lor, pergi meninggalkan rumahnya, bersama putranya, diiringkan oleh pengikut sebanyak dua ratus orang menuju Desa Tanggawisia, tidak diceritakan perjalanan beliau.
Adapun I Gusti Ayu Wwesukia, datang menghadap ke Gelgel, menghadap raja mohon belas kasihan dari beliau Dalem, dengan sopan dan hormat, terhenyak hati Dalem, melihat penderitaan I Gusti Diah Wwesukia, kemudian bersabdalah beliau. "Wahai engkau Wwesukia, aku paham dengan kesedihan yang menimpamu. Sekarang tabahkan hati dalam suka duka, karena sudah menjadi nasib, jangan engkau terlalu bersedih ingatlah akan kesetiaan sebagai seorang istri, jangan gundah, menyesali karma, aku berikan engkau tempat tinggal, beserta rakyat yang banyak yang akan menyertaimu, di sana di Desa Pamuhugan", demikian sabda Dalem. Senang hati I Gusti Diah Wwesukia, bagaikan disiram dengan air kehidupan, hatinya sangat senang, terdorong kesetiaannya sebagai seorang istri, lagi pula sabda beliau Dalem bagaikan sungai Gangga yang membasuh perasaan ternoda.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Wwesukia, memohon diri pada Dalem, bersama sama dengan pengikutnya, menuju desa Pamuhugan, beserta putra beliau yang bernama I Gusti Nyoman Tianyar, tinggal di Desa Pamuhugan, mereka menyiapkan dan menyuruh untuk segera bekerja, karena banyaknya pengikut, puri cepat terwujud, sampai di sana diceritakan.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Lor, setibanya di Tanggawisia, bersama dengan putra beliau yang bernama I Gusti Ketut Kaler Ubuh, diikuti oleh rakyat sebanyak dua ratus orang, juga ikut tinggal di sana, mengembangkan keturunannya, di Desa Tanggawisia wilayah Buleleng, sampai sekarang. Cerita kembali lagi, diceritakan sekarang yang berada di Sukangeneb, Toya Anyar, itu sudah dewasa, putra I Gusti Ngurah berdua, yang gugur dalam peperangan, Semuanya bernama I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar, adapun I Gusti Gede Tianyar, menghadap pada Sri Raja penguasa di Sweca negara (Gelgel), menyampaikan tentang penderitaannya berada di Sukangeneb, Toya Anyar, lemah bagaikan diiris hatinya. Bersabda sang raja, menyuruh untuk berpindah tempat, tidak menolak perintah, I Gusti Gede Tianyar, kemudian mohon pamit pada beliau Dalem, berpindah ke Desa Kebon Dungus, tinggal beliau di sana, mengembangkan keturunan sampai sekarang. Adapun I Gusti Made Tianyar, tinggallah beliau di Sukangeneb, Toya Anyar, mengembangkan keturunan di sana sampai kemudian.
Selanjutnya diceritakan putra I Gusti Ngurah Kaler, I Gusti Gede Kaler Putra yang sulung, I Gusti Ngurah Tianyar Pohajeng pindah, berjodoh di desa Blungbang Antiga, Adiknya I Gusti Made Kekeran, berpindah ke Kubu, yang ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, segera pindah ke Desa Sukadana Tigaron, telah diceritakan dahulu semuanya mengembangkan keturunan, cerita selesai.
Diceritakan kembali, Batara Sakti Manuaba, putranya yang lahir dari I Gusti Ayu Tianyar yang sulung Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, sekarang sudah selesai didiksa (ditasbih) menjadi pendeta Siwa, dilantik oleh Batara Sakti Abah, karena beliau itu adalah saudara lain ibu, beliau mencapai puncak kemuliaan. Setelah selesai dilantik oleh pendeta mahasakti, ( putra ) sulung bergelar Batara Wayahan Tianyar, adiknya bernama Batara Nyoman Tianyar, yang bungsu Batara Ketut Tianyar, sama-sama menemukan puncak kemuliaan, lagi pula mereka bertiga dianugerahi keterampilan, Batara Wayan Tianyar, beliau diberi pangrupak ( alat tulis pada daun lontar ), Batara Nyoman Tianyar diberi pustaka, Batara Ketut Tianyar dianugerahi ilmu panah, semua sama-sama dipahami, pemberian guru pendidiknya, cerita selesai.
Selanjutnya diuraikan, yang bernama Gusti Ngurah Batu Lepang, di Batwan desa beliau, angkara murka dan dengki melihat asrama di Manuaba, sangat indah dan makmur, keberadaan Asrama Manuaba, semua brahmana yang berada di asrama itu, tidak urung diobrakabrik, oleh Si Ngurah Batu Lepang, oleh karena Batara Sakti Manuaba telah berpulang ke Surga.
Tetapi Batara Sakti Abah yang ditakuti oleh Si Ngurah Batu Lepang, sedang tidak berada di asrama, sedang bepergian ke Banjar Ambengan. Segera Si Ngurah Batu Lepang menyiapkan pasukan, lengkap dengan senjata, ingin menggerebeg Asrama Manuaba. Bergemuruh sorak para prajurit. Adapun Pedanda Teges menjadi takut, gemetar, memohon ampun pada Si Ngurah Batu Lepang, adapun para brahmana semua sama-sama untuk bertahan, sangat pemberani dan melawan, seperti perang antara dewa melawan raksasa, mundur berlari pasukan Si Ngurah Batu Lepang, dihancurkan, lain lagi ada yang mati. Si Ngurah Batu Lepang menjadi marah, maju dengan rakyat yang berlimpah, dikurung asrama tersebut. Adapun kaum brahmana, sama-sama tidak ada yang mundur, karena jumlahnya sedikit bergantian dipukul oleh lawan, tidak lama kalah asrama itu, hancur semuanya, banyak yang meninggal dan yang lainnya hancur, yang lainnya ada yang menjauh laki perempuan menuju desa tidak henti-hentinya menangis.
Adapun Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar baru tanggal gigi pada waktu itu, perjalanannya menuju ke timur tiba di Bukit Bangli, di pertapaan Pedanda Bajangan. Tersebar berita I Gusti Dawuh Baleagung, mendengar kabar, di Gelgel, dicari tiga bersaudara yang berada di Bangli, karena masih ada hubungan cucu, tidak habis kalau diceritakan, datanglah beliau di Bukit Bangli, beliau menghadap Pedanda Bajangan, meminta ketiga cucu beliau, Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, semua senang. Memohon pamit pada Pedanda Sakti Bajangan. Tidak diceritakan dalam perjalanan, telah tiba di Gelgel, didengar oleh raja, bahwa Ida Wayan Tianyar datang, bersama semua saudaranya, diutuslah I Dewa Wayahan Tianyar ke istana, menghadap pada Dalem, disambut dengan lirikan yang manis, dan ucapan yang simpatik, ujar beliau. Duhai Ida Wayan Tianyar, masuklah ke teras, mari duduk mendekat, katakanlah sekarang tentang kesedihanmu.
Kemudian berkatalah Ida Wayan Tianyar, sebabnya asrama/pertapaannya hancur diserbu karena keangkuhan Si Ngurah Batu Lepang, diserang hancur beserta penghuninya, banyak meninggal yang ada di pertapaan, bersabdalah sang raja. Kata beliau, Duhai jika demikian, Si Ngurah Batu Lepang, " Hai semoga ia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, karena ia perusak pendeta, menemukan kesengsaraan ( karena ) membunuh brahmana ". Demikian kutukan beliau sang raja , terhadap si Ngurah Batu Lepang.
Demikian pula Pedanda Sakti Abah melepaskan kutukan seperti senjata Bajra beracun ke luar dari mulut beliau, demikian umpat kutukannya. ''Sekarang Ida Wayan Tianyar beserta dua saudaranya, janganlah ragu-ragu dalam hati, saya memberikanmu tempat, ada keluargamu di Pamuhugan, Kyai Nyoman Tianyar nama beliau, juga aku akan memberikan pengiring, dua ratus orang beserta keris warisan dari ibumu, bernama Ki Tan Pasirik, dibawa oleh Kyayi Nyoman Tianyar, ini keris Si Baru Pangesan saya berikan kepadamu", Ida Wayan Tianyar menurut, demikian pula Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar. Cerita sampai di sini dulu.
Tidak diceritakan Pedanda Teges setelah kalah/hancurnya Pertapaan Manuaba, kemudian dijarah semua isi pertapaan. Adapun Pedanda Sakti Abah, mendengar tentang kehancuran pertapaan, dirusak oleh Si Ngurah Batu Lepang, beliau marah dan mengutuk. "Jah tasmat (semoga hancur) Si Ngurah Batu Lepang dia sangat tidak berperasaan, congkak dan garang kepada kami brahmana, biadab membunuh brahmana pendeta, semoga dia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, lagi pula terbenam dalam Yamaniloka (sengsara) pada bersumpah untuk Si Teges, jangan engkau saling mengambil (dalam perkawinan), dan menjalin kekeluargaan dengan keturunan Si Teges". Didukung oleh semua keluarga beliau.
BAGIAN KETIGA (3)
Diceritakan Pedanda Sakti Abah lama berada di Pertapaan Pedanda Sakti Bajangan, di sana di Bukit Bangli, Pada suatu ketika, akhirnya menginjak dewasa ketiga adiknya, sudah wajar diupacarai, diberi penyucian (padiksan), oleh Pedanda Sakti Abah, sekarang berganti nama yang sulung Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar.
Adapun Pedanda Wayan Tianyar, kawin dengan seorang putri dari Kekeran, Pedanda Nyoman Tianyar beristrikan dari Intaran Badung, Pedanda Ketut Tianyar dari Blaluwan isterinya. Adapun Pedanda Sakti Abah, beliau pindah pertapaan ke Banjar Ambengan, selanjutnya bergelar Pedanda Lering Gunung. Selesai diceriterakan.
Kembali lagi diceritakan Si Ngurah Batu Lepang, setelah beberapa lamanya, menghancurkan pertapaan itu, lalu terbukti kutuk brahmana itu mengena, kegusaran, gundah gulana bercampur ( menyebabkan ) kesusahan hati, akhirnya menentang terhadap Sri raja, marahlah baginda raja, diperintahkan untuk mengangkat senjata, Sri raja hendak menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, karena kemarahan sang raja, maka berembug dengan keluarganya semua, perintah Si Ngurah Batu Lepang, "Terlebih dahulu gempur raja pada malam hari, agar meninggal" maka didukung oleh keluarganya semua, perintah Si Batu Lepang pula, menyuruh untuk membunuh semua keluarga dan isterinya, agar tak ada lagi yang diingat-ingat di rumah, sampai di sana diceritakan.
Diceritakan sang raja, para punggawa diperintahkan, untuk menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, semua keluarga sampai anak isterinya. Semua prajurit itu ribut mengangkat senjata, banyak tak terhitung, penuh menyebar ke mana-mana tak putus-putusnya dan para menteri sang raja, siap untuk menyerbu rumah Si Ngurah Batu Lepang, diserang bersama. Bingung Si Ngurah Batu Lepang, kehilangan akal, hingar bingar prajurit itu, saling berbenturan mendesak bergulat mengincar keadaan perang itu, meraba-raba tidak tahu dengan temannya, karena diliputi oleh gelap, itu sebabnya sama-sama menyalakan obor.
Sekarang kembali mengejar ke arah timur Si Ngurah Batu Lepang, mundur rakyatnya Si Ngurah Batu Lepang, karena banyak yang mati dan menderita, kemudian mengamuk Si Ngurah Batu Lepang, tidak dapat menahan hati, memarang, tombak-menombak menusuk kiri kanan, oleh karena gelap gulita.
Kemudian Si Ngurah Batu Lepang terhalang tidak melihat jalan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, karena banyak rakyatnya yang gugur, sisa dari yang gugur semua lari menuju rumah masing-masing. Bingung hati Si Ngurah Batu Lepang, masuklah ia ke rumah tempat mesiu, di sana dikejar diburu Si Ngurah Batu Lepang, dikelilingi oleh banyak prajurit, adapun belas kasihan perlakuan prajurit dan menteri semuanya, tak diijinkan membunuhnya dengan mengikat dan menyiksa. Sadar Si Ngurah Batu Lepang, bahwa dirinya akan dibunuh dengan siksaan oleh musuh, kemudian didekatilah bungkusan mesiu itu, kemudian dibakar, segera menyala menjulang tinggi sampai ke angkasa, Si Ngurah Batu Lepang pun segera meninggal, hangus beserta prajuritnya, demikian akibat kutuk brahmana, karena (dulu ) membunuh brahmana tidak berdosa, saat kematiannya lama menemukan hina sengsara.
Sekarang kembali diceritakan putra Batara Sakti Manuaba bagaimana keutamaannya yang bernama Bajangan, mempunyai tiga orang putra laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Bajangan, Pedanda Taman, dan Pedanda Abyan. Pedanda Bajangan mendirikan pertapaan di Bukit Bangli, beliau berputra seorang bernama Pedanda Tajung. Adapun Pedanda Taman, mendirikan pertapaan di Sidhawa, putra beliau bernama Pedanda Manggis. Juga Pedanda Abyan, mencari pertapaan di Tagatawang, mempunyai dua orang putra laki-laki, disebut Pedanda Buringkit, Pedanda Made Tubuh. Adapun istri Batara Abah, berputra seorang laki-laki, disebut Pedanda Abah, beliau bertempat di Bajing, pemberian dari Sri Raja penguasa. Berputra empat orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Kelingan, Pedanda Gunung, Pedanda Tamu, Pedanda Abah.
Adapun istri Batara yang bernama I Gusti Ayu Tianyar, keturunannya tiga orang laki-laki, yang tertua bernama Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar. Beliau merupakan Bagawanta Arya Dawuh, di Desa Singharsa (Sidemen). Adapun Pedanda Wayan Tianyar, memiliki dua orang istri, keturunan Arya Kekeran seorang, berasal dari Jasi seorang, ada putra lahir dari Kekeran, seorang laki-laki bernama Pedanda Kekeran, mempunyai seorang adik perempuan, bernama Laksmi Sisingharsa, lagi pula putra beliau yang lahir dari keturunan Jasi, bernama Pedanda Tianyar, seperti nama ayahnya, adiknya perempuan bernama Pasuruhan.
Beliau Pedanda Wayan Tianyar, yang memiliki dua orang istri, seorang dari Intaran, dari Blaluwan seorang, keturunan yang lahir dari ibu Intaran, Pedanda Wayan Intaran, Pedanda Made Intaran. Keturunan dari Blaluwan, seorang perempuan disunting oleh Pedanda Wayan Kekeran. Pedanda Ketut Tianyar, beristrikan Ngurah Sukahet, berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Sukahet, Pedanda Made Wangseyan, dan Pedanda Ketut Wanasari.
Adapun istri Batara yang bernama Kutuh, mempunyai seorang putra laki-laki, bernama Pedanda Kutuh, kawin dengan perempuan dari Karangasern, memiliki empat orang putra laki-laki, Pedanda Wayan Karang, Pedanda Made Karang, Pedanda Nyoman Karang, dan Pedanda Ketut Karang.
Adapun Istri Batara yang berasal dari Sambawa, berputra seorang laki-laki, bernama Ida Raden, kemudian beliau berputra bernama Ida Panji, beliau sudah tercatat.
Diceritakan kembali, I Gusti Nyoman Tianyar, yang berada di Pamuhugan, melahirkan keturunan lima orang anak laki-laki, tertua I Gusti Ngurah Sangging, adiknya I Gusti Made Sukangeneb, I Gusti Nyoman Tianyar, I Gusti Ngurah Diratha, yang bungsu I Gusti Ngurah Intaran.
Pada akhirnya seperti mendapat petunjuk dari leluhur, habis semua isi rumah beliau, hutan ( ladang ) sawah, ada yang digadaikan, ada yang dijual, ke desa lain, oleh karena menuruti hawa nafsu, I Gusti Nyoman Tianyar menjadi tidak henti-hentinya bingung pikirannya, menjadi kasihan setiap ia melihat anak-anaknya yang masih kecil.
Kemudian di dengar oleh Batara Wayan Tianyar kasihan terhadap kesusahan I Gusti Nyoman Tianyar, maka beliau pergi menuju Desa Pamuhugan. Maka disuruhnya I Gusti Nyoman Tianyar, mengambil warisannya dahulu berupa sebidang tanah, yang berada di Sukangeneb.
Berkata I Gusti Nyoman Tianyar, Ucapnya. "Jika demikian saya tidak mau kembali ke Sukangeneb Toya Anyar". Berpikir-pikir Batara Wayan Tianyar, tentang kehancurannya di sana, terketuk hatinya sangat kasihan melihat keluarga beliau I Gusti Nyoman Tianyar" Wahai keluargaku semua, jangan anda di sini, mari bersama-samaku di Singarsa, saya memberi anda tempat, sebab kami tak bisa berpisah dengan anda".
Diceritakan sekarang I Gusti Nyoman Tianyar semua mengikuti Batara Wayan Tianyar, berbondong-bondong bersama anak isterinya, tidak diceritakan dalam perjalanan tiba di Singharsa, I Gusti Nyoman Tianyar disuruh membangun rumah di Abyan Sekeha, wilayah Dusun Ulah yang disebut Malayu, dijadikan pengawal pendamping dari asrama Batara di kota Singharsa.
Adapun putra beliau Batara Wayan Tianyar, yang bernama Batara Wayan Kekeran, pindah asrama ke Pidada, kawin dengan putra Batara Nyoman Tianyar, menjadi istri beliau, mempunyai dua orang putra, yang tua bernama Pedanda Nyoman Pidada, adiknya bernama Pedanda Ketut Pidada, sama-sama mencapai keutamaan. Pedanda Nyoman Pidada, pindah asrama menuju ke Pangajaran, Pedanda Ketut Pidada pindah pertapaan ke Sinduwati, sama-sama mempunyai keturunan. Kembali diceritakan Pedanda Wayahan Kekeran, yang berada di Pidada, memiliki seorang putra laki-laki lahir dari golongan bawah yang bernama Ni Jro Dangin, putra itu bernama Ida Wayan Dangin.
Sekarang diceritakan kembali Pedanda Wayan Intaran, berada di Gelgel, memiliki murid dari golongan Sulinggih empat orang. Adapun Pedanda Made Intaran, beliau berada di Toya Mumbul, beliau pindah dari Toya Mumbul, pindah menuju desa Duda, beliau menetap di sana, kawin dengan putra Pedanda Wayan Kekeran, berputra dua orang laki-laki bernama Pedanda Wayan Intaran, di Pendem. Pedanda Made Intaran. Adapun Pedanda Wayan Intaran memiliki anak dua orang, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Intaran, Pedanda Ketut Intaran, mengembangkan keturunan di Pendem dan di Kediri Sasak. Adapun Pedanda Made Intaran, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Paguyangan, berasrama di Sindhu, Pedanda Ketut Tianyar di Pidada, ada keturunan beliau di Pasangkan berhasil dalam mengobati segala penyakit.
[Kembali ke atas]
Diceritakan Pedanda Sukahet, memiliki dua orang istri, seorang putri dari Pedanda Wayan Kekeran, dari Banjar Kebon seorang, istri dari golongan Brahmana tersebut memiliki putra, namanya Pedanda Wayan Sukahet, (dan) Pedanda Made Sukahet, bertempat tinggal di Banjar Wangseyan, kemudian beliau pindah ke Wanasari, kemudian pindah lagi ke Pasedehan. Adapun putra beliau yang lahir dari istri yang berasal dari Banjar Kebon, bernama Ida Nyoman Banjar, keturunannya berada di Abyan Tubuh daerah Sasak. Adapun Pedanda Made Sukahet, memiliki putra laki-laki bernama Pedanda Sukahet, sedangkan Pedanda Wanasari, putranya bernama Pendeta Wayan Wanasari, beliau yang melahirkan keturunan yang berada di Sindhu daerah Sasak.
Cerita Kembali lagi, diceritakan putra beliau I Gusti Nyoman Tianyar, setelah waktu berselang lama, beliau yang memiliki lima orang anak kini telah tumbuh dewasa. Adapun I Gusti Ngurah Diratha, pindah rumah tinggal di Kubu Juntal, memiliki keturunan, di antaranya I Gusti Ngurah Bratha, kemudian berganti nama menjadi I Gusti Ngurah Bhujangga Ratha. Adiknya bernama I Gusti Ngurah Tianyar. pindah menuju Katawarah. menetap di sana. I Gusti Ngurah Cakrapatha, di Bhawana. Yang bungsu I Gusti Ngurah Gajah Para, di Kubu, mengembangkan keturunan yang berada di Tongtongan, Bubunan, Bondalem, Bakbakan, Antiga, Gamongan.
Adapun I Gusti Ngurah Intaran, mendirikan tempat tinggal di Banjar Getas Tianyar. Keturunannya ada tiga orang, I Gusti Ngurah Cadha, I Gusti Ngurah Cadha Sukangeneb, I Gusti Ngurah Bhojasem yang memiliki keturunan berada di Tista, semuanya memiliki keturunan. Adapun I Gusti Nyoman Tianyar, menjadi pengiring Pedanda Made Intaran, di Toya Mumbul, di sana menetap dan memiliki keturunan.
Adapun I Gusti Made Sukangeneb, berada di Singaraja, memiliki empat orang putra, yang sulung I Gusti Wayan Tianyar, pindah ke Badung. Adiknya bernama I Gusti Made Danti, pindah menuju Panghi. I Gusti Nyoman Tianyar pindah menuju Mataram di daerah Sasak, yang bungsu I Gusti Ketut Tianyar, menetap di Antiga.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, beliau masih menetap di Abyan Sekeha ikut dengan ayahnya. Kemudian beliau melakukan diksa, berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, memiliki tiga orang anak. Putra tertua I Gusti Ngurah Subratha, adiknya I Gusti Ngurah Jathakumba pindah menuju Pangi, yang bungsu bernama I Gusti Ngurah Ketut Tianyar, pindah menuju Bajing, memiliki keturunan dua belas orang.
Adapun beliau I Gusti Ngurah Subratha, mulanya tinggal di Jumpungan, setelah didiksa kemudian pindah asrama ke Abyan Sekeha. Berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar Taman. Pindah asrama ke Sindu, menjadi pengikut Pedanda Ketut Pidada, pada waktu mendirikan asrama di Sindhu.
Adapula kolam peninggalan beliau di Patal, berupa tempat penyucian waktu di pertapaan, sangat kemilau dan menyenangkan di Patal, dihiasi dengan berbagai bunga, di tepi kolam tersebut, merupakan tempat bercengkrama Pedanda Ketut Pidada. Beliau juga mendirikan tempat pemujaan, tiga buah, sebuah untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ada (pula) titah beliau Pedanda Ketut Pidada terhadap I Gusti Wayan Tianyar Taman, Duhai anaku Wayan Tianyar, ini bangunan untuk memuja dewa, tiga buah. Ananda nantinya yang menjadi pemangku, kemudian saya juga berada di sana, dipersatukan dengan beliau Sang Hyang Siwa, jangan tidak disucikan, sampai nanti seterusnya, anda yang menjadi pemangku untuk keluarga saya, bagian yang sebelah utara diupacarai. Untuk semua keturunanmu, itu yang di sebelah selatan. Karena itu, jangan melupakan keturunan saya juga keturunanmu yang seterusnya dapat menemukan Surga (kebahagiaan). I Gusti Wayan Tianyar Taman mengiyakan, sampai ke lubuk hati, cerita disudahi.
Adapun I Gusti Wayan Tianyar Taman, beliau memulai menetap di Sinduwati, mengambil wanita menjadi isterinya dan keturunan Pulasari, memiliki putra seorang bernama I Gusti Gede Tianyar, kemudian beliau juga didiksa. Adapun I Gusti Gede Tianyar, berputra seorang laki-laki, tidak berbeda tingkah laku dengan leluhurnya, beliau juga didiksa, bernama I Gusti Gede Tianyar Sekar. Adapun I Gusti Gede Tianyar Sekar, memiliki tiga orang keturunan, I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar Blahbatuh, adiknya I Gusti Made Tianyar Tkurenan, beliau pada akhirnya menjadi Rohaniwan.
Demikian perkembangan keturunan yang berada di Sinduwati, daerah Singharsa, lengkap dengan tempat pemujaan Dewa, bernama, Pura Puri Anyar Sukangeneb, diteruskan dari sejak dulu, masa kini dan masa yang akan datang. Cerita disudahi.
Ya Tuhan semoga selalu berhasil. Ini petunjuk/tingkah laku keturunan Manu, pesan beliau Batara Manu, agar ditaati oleh para keluarga dan keturunan, tentang lahirnya dari keturunan Manu. Jika petunjuk/kewajiban/ajaran ini sudah dikuasai, dapat menyebabkan kesembuhan/menghilangkan sengsara dalam diri, jika badan dapat dijaga dengan baik, atas perintah pikiran yang tak ternoda. Tidak tercoreng oleh noda-noda yang menyakitkan telinga, begitu pula nafsu dan tamak/loba, itu tujuannya untuk mendapatkan kesenangan yang besar, lebih-lebih keutamaan batin, kenali perbuatanmu masing-masing.
Singkatnya, ajaran/tuntunan perbuatan itu sungguh dipahami, dan dilaksanakan, jangan gegabah dengan segala perilaku, itu dapat menjagamu (agar) tidak menyimpang dari sifat-sifat manusia, oleh karena tahu akan penjelmaan. Tidak bercampur-baur dengan kaum Ekajati hendaklah dipilih yang pantas dijadikan sahabat, apa sebab demikian, karena engkau sungguh manusia yang baik, keturunan dari golongan Manu, hendaknya ingat dengan tugas masing-masing, lebih-lebih dalam melaksanakan aturan brata, utamakanlah kesetiaan dan kebaikan yang dapat mengontrol perbuatanmu, tidak diselingi perbuatan salah, perbuatan durjana, ini ajaranmu yang pantas diikuti dan dilarang mendatangkan mala petaka kutuk, ditujukan kepada siapa saja, ditujukan kepada semua keturunan dan warga Manu.
Pada jaman dahulu kala, di India, beliau Batara penguasa tertinggi, dapat dikalahkan, oleh musuh, ditangkap dipukul dan disiksa, tidak dapat membela diri, akhirnya lari dengan tidak menentu, ingin masuk ke tengah hutan, masuklah ia di bawah biji tumbuhan Jawa, dinaungi oleh tumbuhan hea beras, ada burung perkutut dan bayan, lagi pula (ada) sapi hitam mulus. Di sana burung tersebut memakan biji-bijian, menampakkan keadaan yang wajar, burung itu bersuara, sapi itu jinak tidak liar. Oleh karena demikian, dikira oleh musuh beliau Batara, tidak ada orang di sana, segera ditinggalkan, pada akhirnya selamatlah beliau. Pergilah beliau menuju Jawa, dinobatkan menjadi pemimpin negeri, beliau berwasiat, seketurunan Wisnuwangsa tidak memakan daging perkutut, dan Bayan, apalagi daging sapi yang bulunya berwarna hitam mulus, wija maya (Jawa), eha beras, sama-sama tidak boleh yang melanggar, oleh semua keluarga seketurunan golongan Wisnuwangsa.
Demikian wasiat beliau Batara Manu. Apabila tercela dalam kehidupan, lebih-lebih untuk mengabdi, terhadap keluarganya, akibat kesulitan penghidupan, oleh karena itu menjadi melanggar pedoman hidup, itu tidak merupakan dosa, berhak bila merendah terhadap saudara, sebab satu keturunan, seperti perputaran roda pedati, dapat di bawah dan dapat pula di atas. Jika engkau memohon bantuan/perlindungan terhadap orang bawah, ya dapat pula merendahkan derajat, berakibat menyimpang dari etika, menyebabkan terperosok ke dalam sumur mati, menjadi manusia biasa ( ekajati), tidak memiliki nama baik, senang makan minum kepunyaan orang lain, itu namanya hina, tidak dapat disucikan, ( hendaknya ) dijadikan pedoman bagi empat golongan manusia, janganlah engkau meniru perbuatan tersebut, semoga selamat, panjang umur, sempurna, sampai sanak saudara dan keturunannya, selamanya disenangi di bumi, ya Tuhan semoga senantiasa berhasil.
Ini adalah jenis busana (alat) yang dapat/bisa digunakan dalam upacara kematian, ijin dari beliau Sri Raja Batur Renggong, engkau bisa menggunakan busana manusia utama, sesuai dengan tata cara kerajaan (Dalem), menggunakan peti usungan, upacara penyucian, upacara Ngaben dengan membakar jenazah, bade ( tempat usungan ) bertumpang sembilan, taman agung, candra sari, cakraantita trawangan, tempelan kapas lima warna, sembilan tumpang warna warni, kain panjang, cemeti dari bulu merak yang panjang dan burung cendrawasih berkuncir, balai-balai dari bambu gading, gender yang digotong menyertai bade (tempat usungan), binatang singa bersayap, yang lain sapi/lembu jantan yang hitam, magumi undag sapta, balai silunglung, lengkap dengan kajang (kain penutup may at) dengan perlengkapannya, walantaga, pakelem yang dibuat dari emas, lengkap dengan kawat emas, parbha padma lenkara, bukan diikatkan pada galar. Harus diberi tirta (air suci) untuk ukuran yang utama dengan uang (harga) 16.000, menengah 8.000, sederhana harga 4.000,. Kelanjutan dari (upacara) kematian, boleh melakukan upacara Atma wedhana, upacara baligya sradha, menengah panileman, mangrorasin.
Demikian rangkaian upacara pengabenan tingkatan utama, boleh menggunakan kawat emas, itu perwujudan dari delapan penjuru arah yang di tengah-tengahnya terdapat bulatan yang bertuliskan Dasa Aksara. Berapa besar bahaya keutamaannya? Kamu tidak tabu, hanya keinginan untuk mempercayai orang lain, mengikat galar, tidak tahu dengan maknanya, jika engkau ingin mengetahuinya inilah sebenarnya, Hurat mawrat, tar porat, jika memakai perlengkapan yang berat ( berlimpah ), menengah namanya. Jika tidak memakai perlengkapan yang berbobot, bernama nista (sederhana). Jika menggunakan/berbobot perlengkapannya, bernama besar (utama). Rupa/fungsi kawat emas, bagaimana bentuk kawat mas? Kain putih, lebarnya seukuran destar, itu sebagai alas, simbul tikar, di tempel bentuk Ongkara kawat mas, tidak boleh digambari (dirajah) oleh orang kaum rendah (Sudra), yang berhak juga brahmana.
Setelah siap/sedia , dipasang di atas bagian hulu pawalungan, itu melambangkan padmanglayang, setelah jenazah diperciki dengan tirta pangentas, ditutupi dengan kawat emas, agar sama-sama terbakar dengan jenazah, itu bermakna utama.
Apa keutamaannya ? Ini kenyataannya, dahulu di Surga, pada waktu semua roh berkumpul, dijemur di teriknya panas, ada satu roh, terbebas oleh panas, tertutup oleh awan, kemudian ditanyai oleh Sang Suratma, diperiksa tulisan di kepalanya, menjawab roh itu, mengaku memakai kawatamas, berbentuk padma reka, itu sebabnya terbebas dari kekeringan. Itu kemudian ditiru oleh yang mengetahui keadaan tersebut, karena kawat emas itu sangat utama, demikian diberitakan, jangan ceroboh.
Ini petunjuk perilaku Arya Gajah Para yang menjadi rohaniawan. Bagi yang melaksanakan/menjadi Resi, diwajibkan melakukan diksa brata boleh mengenakan jujumpung dan rambut di sanggul , seperti pakaian seorang pendeta Siwasidhanta (sekta Siwa), juga boleh bercukur pendek seperti pendeta golongan Budha. Berpakaian serba putih, harus memakai tongkat yang berukuran panjang setinggi badan, pada ujungnya bhajra yantu, tidak boleh lepas tongkat itu, dibawa pada saat bepergian, sebagai tanda itu, untuk tidak salah tafsir. Jika sudah diberi tanda, menggunakan tongkat bhajra yantu, yang menjadi ujungnya, itu sesungguhnya adalah Bhujangga Resi, tidak keliru (bila) akan bertanya, karena masih ada yang menandakan. Jika dia Resi, Bhujangga, berjalan tanpa tongkat, itu dapat membuatnya terserang noda/kotor, bagaimana ia itu, ketiga aliran sulinggih, berjumpa di jalan, Semuanya menyapa, disertai tercakupnya kedua telapak tangan, serta membungkukkan badan, sang Resi segera berkata, mengaku dirinya bukan pendeta, mereka sang tri wangsa menjadi malu, dalam benaknya salah sangka, marah dalam hatinya, segera terdengar suara cemoohan, menimpa diri Sang Resi, itulah sebabnya berjalan dengan tongkat, baru kelihatan keadaan yang nyata (kejatiannya), wajah Resi Bhujangga, pendeta bertabiat tenang dan murid sang pendeta.
Demikian perilaku Resi Bhujangga, jangan tidak berhati-hati, menjaga tingkah laku itu, jelas sang Adi Guru, semoga tidak bercampur dengan pikiran kotor, bagaikan kristal permata, pikiran itu serta bersih berkilap tidak berawan, tidak menentang perintah, sang Adi Guru, sekalipun tertimpa hujan dan panas, berat ringan, lebih-lebih turun ke sungai jurang yang dalam dan tidak dirisaukan oleh orang yang menjunjung dharma, bising hening menahan lapar, dahaga menginginkan agar berhasil perintah sang Adi Guru, bersama orang yang wajib dihormati, sampai dengan keluarga sang Adi Guru, putri guru, kakak guru, adik guru, paman guru, kakek guru, keluarga guru, cicit guru seluruh anggota keluarga, kawan, keluarga sang Adi Guru, hendaknya semua dapat dihormati. Karena semua pengajar (guru) dianggap berasal dari perbuatan utama ( baik ).
Lagi pula seorang Resi tidak berhak mencarikan jalan bagi orang yang satu keturunan (sidikara) bila meninggal, jika mencarikan jalan keluarga, itu akan menjadi rendah (nista), bukan orang yang telah suci, apa sebabnya demikian, karena seorang Resi itu adalah dari keturunan, maka hilanglah keharumannya, tidak dapat disucikan/diupacarakan oleh sang pendeta Brahmana. Kemudian ada salah seorang berkeinginan untuk menyucikan diri menjadi pendeta, berlaku seperti Resi Bhujangga, itu tidak dapat didiksa, puasa, oleh beliau Mpu Dhang Guru Brahmana, karena murid Resi, bukan keturunan wiku, brahmana, seorang petani tulen menjadi utama, demikian celakanya bila dicarikan jalan oleh Resi.
Lagi jika upacara hayu (bukan duka ), upacara penyucian diri, upacara tentang kehidupan, itu dapat dipimpin oleh Resi, tetapi sebelumnya menyampaikan perkenan kepada Dhang Guru agar tidak berbuat sekehendak hati, lancar, bebas/terlepas dari kekurangan lebih-lebih membuat bingung, tidak berhasil, sebagai akibat kurang nasihat dari sang Adi Guru, ikut terbawa-bawa sang guru, oleh karena pelaksanaan keliru muridnya, itu juga sama-sama menyebabkan ditaati, memohon restu kepada sang Adi Guru, pada waktu melaksanakan upacara, lagi pula pada saat sang Guru dalam wujud Ardhanareswari menyatu ke alam sunyatmaka (Surga), Sang Resi harus mempersembahkan air suci pada kaki, menghaturkan penyucian kaki beliau. Juga pada waktu hari raya Galungan tiba, Kuningan, pada saat itu sang Resi (juga) mempersembahkan daging untuk pelaksanaan Galungan, sebagai persembahan layaknya hormat kepada Gumi. Lagi pula ingatlah tata krama itu, menghadap sang Adi Guru, jangan sembunyi-sembunyi, pergi (juga ) sembunyi-sembunyi, tidak mengabaikan bimbingan, tidak memalingkan muka, tidak salah dengar, tetap menatap muka, setiap berucap dan berkata dengan hormat, jangan menutupi pembicaraan yang tidak benar, tidak mencampuri pembicaraan Adi Guru, tidak menyangkal perintah, mempercepat dapat dimengerti, jangan tetap membenarkan terhadap apa yang belum benar, tidak mengeruhkan permandian sang Adi Guru, tidak menolak perintah, tidak menginjak bayangan sang Adi Guru, tidak menduduki tempat duduk sang Guru, tidak turun naik dalam perasaan, tidak memotong-potong pembicaraan sang Adi Guru, jangan sering lemah dan memudar, dan juga awasi dari kejauhan, jika belum nyata/ pasti tentang keadaan sang Adi Guru, jangan segera mencampuri, jangan berbicara dan menjawab dengan membalikkan punggung.
Demikian tata cara seorang putra guru, putri guru, kakak guru, adik guru, ada penghormatan yang tulus dari dalam hati, dengan suara yang lembut, bahasanya/nadanya datar, ucapannya mempesona, dengan perkataan Ida Bagus, Ratu Ida Ayu, lagi pula saat menghadap sang Adi Guru, jika terlihat putra sang Guru, putri guru, kakak dan adik guru, ajak (tawari) duduk bersama, jangan engkau menghalangi duduk, juga jangan membelakangi, jangan menyuguhkan makanan yang telah diambil dengan tidak teratur. Jika telah tiba saatnya meninggal, engkau dapat meminta untuk menggunakan Padmasana, apa sebabnya bisa, karena engkau merupakan perlindungan manusia, menjadi sahabat sang pendeta menceriterakan jalan/mengupacarakan orang yang telah meninggal, sekalipun engkau gadis yang kecantikannya telah menyusut, gadis (istri ) Resi panggilanmu, sama-sama bisa/dapat menjadi pelindung manusia, memakai gelung kesa gagato seperti pakaian istri pendeta.
Demikian tata cara sang Resi, taat terhadap sang brahmana, jangan mabuk menganggap diri tabu, engkau merupakan wadah berbunyi, sang pendeta yang mengisinya, menghidupkan, dan memberikan kekuatan jagat, beliau dianggap air kehidupan, sekalipun wadah itu bocor, tetapi memiliki kewenangan untuk menyalurkan kehidupan, berbeda dengan kulit seekor kambing, dipakai oleh Baladewa, menimba air dari sumur, sekalipun pekerjaan suci, waspadai baunya yang busuk, karena dicemari oleh tempat. Demikian perbuatan yang alpa, itu sebabnya di waspadai oleh yang menjunjung dharma ( kebenaran ), berusaha melaksanakan tiga perbuatan baik, agama, kebaikan, tingkah laku yang baik.
Ini purana (silsilah /cerita kuno ) tentang area perwujudan di Pura Puri Anyar Sukangeneb, yang berada di Sinduwati, Singharsa, dipuja oleh para keturunan beliau semua. Ahli waris yang memelihara, para keturunan Jro Gede Wiryya, keturunan dari I Gusti Gede Tianyar, beliau memang bersaudara, tiga, anak dari I Gusti Gede Tianyar Sekar.
Sumber:
Pusat Dokumentasi - Dinas Kebudayaan Provinsi Bali
Ong pranamyam sira sang siwyam, bhukti mukti hitarratam,
prawaksye tatwa wijnevah, wisnwangsa patayo swaram.
Sira ghranestyam patyam, rajasityam mahabalam,
sawangsanira mangjawam, bhuphalakarn patyam loke.
Ong nama dewa ya.
Sembah hamba ke hadapan Batara junjungan, daulat paduka leluhur yang telah menjadi batara, Engkau yang menganugerahi kehidupan (makanan) dan kebahagiaan, keberhasilan dalam segala kehendak, senantiasa bersemayam dalam perasaan dan pikiran, dipuja agar merestui, para bijak di lingkungan keluarga memohon untuk menyebarkan cerita ( sejarah ) ini, yang berkenaan dengan kewajiban seorang raja, menerangi dan menjadi contoh di dunia, akan diuraikan tentang silsilah keturunan oleh beliau junjungan utama yang telah sempurna. Pada awalnya dimulai. Selamat dan panjang usia, terhindar dari kutuk celaan fitnah bagaikan terkena racun, semoga terus dijunjung di dunia. Ya Tuhan semoga menemukan keberhasilan.
Selamat pada tahun Saka 530 yang telah lewat, bulan Cetra (sekitar Maret), hari ke-12 terang bulan, hari dalam sepekan Julung Pujut, pada saat itu titah paduka batara Maharaja Manu, tiba di pulau Jawa di Medangkamulan, di sana dipuja sebagai dewa, dan menjadi pelindung pertama di negeri itu.
Gurunam sobitah siyotah.
Sebabnya beliau turun, karena atas titah ayah beliau , Batara Guru, menitahkan untuk menegakkan dharma ( kebenaran ) di Medangkemulan, kemudian selesainya melaksanakan dharma beliau, beliau juga melakukan semadi, menghadap/ memuja Surya pada waktu mulai terbit. Hasil dari tapanya, beliau bagaikan dewa dalam alam nyata, oleh karena itu tidak ada yang menyamai di dunia, demikian selesai.
Taman loke turanjitah, stroteyam satya dharmmanam,
Sakyam wakbhitah krtti loke, bhuta bhawanam wancanam.
Karenanya tenteramlah negeri itu selama beliau dijunjung bagi beliau tidak ada yang melebihi selain darma, itulah sebabnya berhasil segala yang diucapkannya, Hyang Maharaja Manu juga memahami tentang kebatinan.
Jawanam mandawe swijah, dasantih bhujanggam tayah,
tasiyamnco ywanam prajah, haiwam santanam Wijnanah.
Entah berapa lama hyang Batara Maharaja Manu, bertahta menjadi pemimpin di sana, bagaikan dewa dalam kenyataan, beliau tetap mempertahankan kemuliaan, sampai ke seluruh negeri, disegani oleh rakyat maupun bangsawan, orang pertama dalam keturunan Manu, di kerajaan, Medangkamulan.
Awiji ekam sastito.
Awalnya beliau Maharaja Manu, menurunkan keturunan utama seorang laki-laki, bergelar Sri Jaya Langit. Adapun Sri Jaya langit, menurunkan Sri Wrttikandayun. Adapun Sri Wrttikandayun, menurunkan Sri Kameswara Paradewasikan. Adapun Sri Kameswara Paradewasikan, menurunkan Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tungga Dewa, beliau sebagai pemimpin utama, perencana unggul, raja di antara para yogi dan penguasa tertinggi, menjabarkan tujuh formasi ilmu Sanskrit dalam tata bahasa, oleh dilampaui orang. Hasil karya Bagawan Byasa, digubah dalam palawakya, memahami seluk beluk cerita prosa dari Astadasa Parwa. Beliau bagaikan Raja yang unggul di dunia, pikiran beliau mengutamakan kebenaran, tidak diperdaya sebagai raja, menjaga daerah kekuasaan, mengutamakan kejujuran dan kesetiaan, sungguh beliau menjadi pelindung dunia.
Prawaktayan sri gotrabih. Beliau raja penguasa pertama, pada waktu beliau memerintah negeri itu makmur, para pernuka tidak ada yang berani menentang beliau. Demikian keistimewaan beliau Sri Dharmawangsa Teguh Ananta Wikrama Tunggadewa.
Beberapa lama beliau dijunjung menjadi penguasa negeri, berhasil mempunyai keturunan, beliau berputra laki-laki yang utama, bernama Sri Kameswara, seperti nama buyut beliau. Adapun Sri Kameswara, memiliki keturunan tiga laki-laki, dan seorang perempuan, Semuanya ada empat, rinciannya adalah, yang tertua bernama Sri Krtta Dharma, beliau yang wafat di Jirah. Adapun adik beliau, Sri Tunggul Ametung, beliau wafat di Tumapel, saudara yang perempuan, bernama Dewi Ghori Puspatha, disunting oleh Mpu Widha, saudara dari Medhawati, telah menyatu ke alam baka, berkedudukan di kuburan. Adapun yang keempat, adalah Sri Airlangga, yang diangkat dari Sri Udayana Warmadewa, raja Bali, beserta Sri Guna Priya Dharmapatni, keturunan dari Mpu Sendok.
Adapun Sri Airlangga menjadi raja penguasa berkedudukan di negara Daha. Memiliki keturunan dua laki-laki utama, yang ketiga putri di luar istana. Putra tertua itu bernama Sri Jayabhaya, dan Sri Jayashaba, lahir dari ibu permaisuri. Semuanya keturunan Wisnuwangsa Kediri. Adapun yang di luar istana (puspa capa), bergelar Sri Arya Buru, sama-sama keturunan orang dusun, cikal bakal lurah Tutwan, Si Gunaraksa yang datang ke Bali.
Silsilah raja Sri Jayabhaya yang diuraikan terlebih dahulu, raja Sri Jayabhaya, berputra tiga orang laki-laki, yang tertua bernama raja Sri Dandang Gendis, Sri Siwa Wandhira, Sri Jaya Kusuma, demikian keturunan beliau Sri Jayabhaya. Adapun raja Sri Dandang Gendis, memiliki keturunan Sri Jaya Katong, dia wafat dalam peperangan, Sri Jaya Katong, berputra Sri Jaya Katha, adapun Sri Siwa Wandhira berputra Sri Jaya Waringin, Sri Jaya Waringin berputra Sri Kuta Wandhira berputra bernama Arya Kutawaringin, dia pergi ke Bali, diutus oleh beliau Patih Mada, berkembang keturunannya menjadi keluarga Kubon Tubuh, Kuta Waringin, sampai di sana diceritakan.
Adapun Sri Jaya Kusuma, memiliki keturunan Sri Wira Kusuma, tidak mengikuti aturan kata krama keluarga, melahirkan keturunan berada di Pulau Jawa, tidak diceritakan lagi kelanjutannya.
Kembali Sri Jayasabha yang diceritakan, memiliki keturunan seorang laki-laki, bernama Sirarya Kediri, memiliki keturunan bernama Arya Kapakisan, beliau dikirim oleh keturunan dua orang semua laki-laki, beliau Pangeran Nyuhaya, dan Pangeran Asak, sama-sama mengembangkan keturunan di Bali, cerita disudahi.
Kembali diceritakan yang terdahulu, Jaya Waringin dan Jaya Katha, keturunan beliau Sri Siwa Wandhira dan Jaya Katong beliau berdua yang gugur dalam pertempuran, beliau berdua yaitu Jaya Waringin dan Jaya Katha, yang menyerah ke Tumapel, waktu ayah beliau hancur dalam peperangan negara Daha menjadi kacau, akhirnya berlanjut sampai cucu terkena kehancuran, kutuk beliau pendeta Çiwa maupun golongan Budha.
[Kembali ke atas]
Apa yang menyebabkan terjadinya perang itu? Menyebabkan Keraton menjadi hancur ?
Dengarkan tambahan cerita ini, pada tahun Çaka yang lalu 1144 ( 1222 M ), bulan Palguna (sekitar Pebruari), hari ketiga belas setelah bulan Purnama, hari sepekan Watu Gunung, pada saat itu perintah beliau raja Ken Angrok, beliau yang bertahta di Tumapel, menyerang kerajaan Galuh, atas desakan beliau para pendeta Çiwa maupun golongan Budha. Bahwasanya raja Sri Dangdang Gendis, durhaka pada para pendeta, menghina kewajiban sang Brahmana, ibaratnya seperti maharaja Nahusa, yang berkeinginan menguasai Surga. Demikian perbuatan raja Sri Dangdang Gendis, menyebabkan semua pendeta menjadi bingung mengungsi ke Tumapel, sekarang kerajaan Daha, ibaratnya seperti segunung rumput kering, hancur lebur terbakar oleh api, siap dibakar?, itulah kemarahan sang pertapa, berkobar dalam pikirannya, ditiup angin tak henti-hentinya Raja Sri Ken Angrok menghembus, semakin menyala tak ada tandingnya.
Pada akhirnya menyerah Sri Aji Dangdang Gendis, sadar akan ajalnya tiba, karena raja Sri Ken Angrok sungguh seorang keturunan Brahmana dari Waisnawa, beliau juga dijuluki Hyang Guru, nah itu sebabnya Sri Raja Dangdang Gendis, memusatkan pikiran, menggelar rahasia batin, segera moksa tanpa jasad turut pula kandang kuda beserta pembawa puan, payung, terlihat samar bayangan beliau, melambai di angkasa, menuju Wisnuloka. Demikian jelas Sri raja telah menyatu di alam sana.
Ada lagi yang diceritakan yaitu para prajurit dan menteri lebih-lebih para keluarga utama ( dekat ), rakyat yang masih hidup, semua cerai-berai, mencari tempat berlindung, mencari tempat persembunyian, agar selamat, sebab pemimpin perang adalah Siwa Wandhira, beserta Misawalungan, Semuanya telah gugur, dengan penuh keberanian.
Masih ada dua orang keluarga keturunan utama, Jaya Katha, dan Jaya Waringin yang terkenal, keturunan Jaya Katong, beserta Siwa Wandhira, yang gugur dalam medan perang.
Mereka berdua dendam, atas tewas ayahnya dalam pertempuran, maju menyerang seperti harimau galak, lalu ditangkap bersama-sama oleh empat orang gagah berani yang masing-masing bernama , Arya Wang Bang, Misa Rangdi, Bango Samparan, Cucupu Rantya, di sana Jaya Katha dan Jaya Waringin, keduanya ditangkap. Tidak mampu melawan ikut pula istri Jaya Katha dibawa berlari beliau sedang hamil, sedang mengidam. Adapun Jaya Waringin, masih perjaka, belum mempunyai istri. Keempat menteri tersebut semua belas kasihan terhadap beliau Jaya Katha, dan pula terhadap Siwa Wandhira, itulah sebabnya lepas tidak terkena senjata.
Adapun setibanya beliau di Tumapel, disayang oleh yang mendirikan memerintah Tumapel, diasuh oleh orang Japara, masih merupakan keturunan istri Mpu Sendok, dan Kebo ljo, di sana dipelihara, tidak mendapat kekuasaan. Beberapa lama mereka berada di Tumapel, setelah tiba masanya, akhirnya Jaya Katha berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Wayahan Dalem Manyeneng, ketika ibunya dibawa lari janin itu berada dengan selamat di rahim ibunya, itulah sebabnya diberi nama Dalem Manyeneng.
Adapun adiknya bernama Arya Katanggaran, itu yang menurunkan Kebo Anabrang, orang tua dari Arya Kanuruhan, yang dikirim ke Bali, mengembangkan keturunan, yaitu Arya Brangsinga, Tangkas, Pagatepan, sampai di sana diceritakan.
Putra yang bungsu bernama Arya Nuddhata, seorang Arya yang menetap berdiam di Tumapel mengembangkan keturunan di kerajaan di Jawa, tidak diceritakan lebih lanjut.
Adapun beliau Arya Wayahan Dalem Manyeneng, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Arya Gajah Para, adik beliau bernama Arya Getas, Mereka berdua itu diutus oleh Gajah Mada ke Bali, demikian uraiannya pada zaman dahulu.
Ya Tuhan yang bersemayam dalam kalbu dan pikiran, yang diwujudkan dengan Ongkara dalam kesucian Batara junjungan hamba, para leluhur yang telah suci, hamba menghaturkan sembah suci agar berhasil, oleh karena semua para anggota keluarga, keturunan, karena beliau yang pertama mengembangkan keluarga hamba sendiri, tiada lain beliau itu yang menetap di Tumapel. Beliau itu adalah Arya Wayahan Dalem Manyeneng, gelar beliau yang terkenal. Beliau yang pertama menurunkan keluarga hamba, maafkan agar tidak kena kutukan, para keluarga hamba mohon ijin untuk menguraikan cerita ini, semoga selamat dan panjang umur, menemui kesempurnaan, sampai anggota keluarga dan keturunan, berhasil dalam segala tujuan, tidak kekurangan pangan, kekayaan, semoga tetap disegani di bumi. Ya Tuhan semoga sukses, berhasil selalu.
Permulaan cerita disusun dalam silsilah, berkat jasa beliau seorang brahmana pendeta sakti, beliau bergelar Wayahan Tianyar, yang berasrama di Griya Punia, atas dorongan Kyayi I Gusti Ngurah Tianyar, pemimpin di utara gunung, keturunan beliau Jaya Katong dari Kediri, itulah sebabnya sang pendeta sakti, menulis tentang silsilah , telah dimuat dalam tulisan sesuai dengan bahasa dalam babad Jawa.
Adapula diceritakan, bernama Kriyan Patih Gajah Mada, memanggil Arya Damar, atas titah dari maha raja Pulau Jawa, melaksanakan empat daya upaya, menyerang kerajaan Bali, setelah siap perbekalan dan kendaraan, segeralah beliau berangkat ikut pula para Arya semua, para perwira dan menteri berkelompok-kelompok menaiki perahu, disertai pula prajurit beliau, tepi laut Bali dikelilingi oleh musuh, para Arya itu dibagi-bagi oleh Kriyan Patih Mada, utara, timur, barat selatan semuanya penuh, penuh sesak di pantai laut, yang masing-masing menempati posisinya, ditambatkan perahunya.
Adapun beliau Arya Gajah Para, beserta saudara beliau Arya Getas, disertai oleh Arya Kutawaringin yang cekatan, diikuti oleh Jahaweddhya, para gusti dari Majapahit, seperti tiga patih bersaudara, yang bernama Tan Kawur, Tan Mundur, dan Tan Kober. Beliau tiga bersaudara menambatkan perahu layarnya di pelabuhan Tejakula, yang menyerang dari barat Toya Anyar.
Desa-desa menjadi kacau balau, semuanya yang ada di kerajaan Bali, sangat ramai pergulatan perang itu, memarang diparang, kacau balau, banyak rakyat yang tewas, dan menderita, karena keperkasaannya serangan dan Pulau Jawa. Dengan sekejap kalah pasukan Maharaja Sri Bhedamuka (Bedahulu), amat panjang tidak diceritakan dalam buku ini.
Sementara setelah gugurnya maharaja Bhedamuka, para Arya itu semua kembali, menuju Majapahit, keadaan Pulau Bali menjadi sunyi senyap, karena belum ada yang memimpin Bali, demikian. Setelah sekian lama datanglah Sri Kresna Kepakisan, dinobatkan menjadi raja di Pulau Bali. Diikuti oleh semua Arya, Arya Kepakisan, Arya Wang Bang, Arya Kenceng, Arya Dalancang, Arya Belog, Arya Kanuruhan, lagi beliau Arya Wang Bang, Tan Kober, Tan Kawur, Tan Mundur, yang terakhir Arya Kutawaringin semua mengiringi sebagai para perwira menteri, Beliau Arya Kutawaringin, menjadi kepala penasehat pasukan tinggi tersebut.
Sesampainya Sri Maharaja Kapakisan, dinobatkan menjadi raja Pulau Bali, orang- orang dusun ada yang tidak mau menghormati ( tunduk ), yang di sebelah utara gunung Agung, oleh karena tidak ada pemimpin yang disegani yang datang di sana. Demikian cerita berakhir.
Kemudian kembali diceritakan, beliau Arya Gajahpara, bersama saudara beliau Arya Getas didesak oleh raja, sebagai mahapatih raja yang ada di Bali. Beliau menurut ( menyerah ), karena ingat dengan kewajiban sebagai seorang anak, tidak pantas melawan perintah orang tua, demikian motto kepemimpinan beliau, dengan tetap pula melaksanakan keperwiraan utama dan keadilan, kedua Arya tersebut diberikan istri, juga merupakan putra Arya. Tetapi di sana para Arya itu segera diajar tentang kewajiban dan tingkah laku seorang kesatria, oleh ayah beliau, untuk tetap melaksanakan cita-cita kewajiban seorang pahlawan (pemberani).
Setelah demikian, kedua Arya itu menyembah dan mohon pamit, berdiri dan segera berangkat. Sekejap telah sampai di pantai laut, segera beliau naik ke perahu, perahu berlayar hilir mudik, setelah melewati pertengahan laut, selanjutnya, berlabuhlah beliau di daerah Pulaki, barat daya Pulau Bali, beliau menumpang di rumah I Gusti Bendesa Pulaki, yang merupakan keluarga keturunan Bendesa Mas. Sangat senang hati I Gusti Bendesa, tulus hatinya dan sangat ramahtamah sambutannya, hormat terhadap kedua Arya itu, seperti berbunga-bunga hati sang tuan rumah, lengkap dengan jamuan penyambutan I Gusti Bendesa Pulaki. Di sana beliau menginap dua malam.
Pagi-pagi pergilah kedua Arya tersebut, diantar oleh I Gusti Bendesa, tujuannya untuk menghadap Sri Maharaja, yang beristana di Samprangan. Tidak habis jika diceritakan perjalanan kedua Arya tersebut, diantar oleh beliau I Gusti Bendesa. Segera tiba di penghadapan, beliau langsung mendekat dan menghadap pada baginda raja. Tak lama antaranya kedua Arya tersebut dipandang oleh sang raja, dengan sopan dan tulus sembah kedua Arya tersebut, demikian pula I Gusti Bendesa, menimbulkan kekaguman setiap yang melihat, orang yang berada di tempat penghadapan, oleh tingkah laku yang baik kedua Arya itu.
Ada petunjuk dari sang raja, terhadap kedua Arya, dinobatkan menjadi patih oleh beliau raja penguasa, bertempat di sana di sebelah utara Tohlangkir, bermukim di Sukangeneb penyerangan beliau Mada untuk membunuh raja Bedha Murdhi ( Bedahulu ), kalahnya Pulau Bali oleh Majapahit. Menjadi patuhlah Arya itu, dengan segera ditutuplah penghadapan raja. Setelah itu mohon pamitlah beliau pada Sri Maharaja, dan permohonannya dikabulkan, kedua Arya itu berjalan menuju ke utara, diiringkan oleh rakyat sebanyak lima puluh orang, menuju Sukangeneb Toya Anyar. Setibanya di sana, segera beliau membangun rumah, tenanglah penduduk sebelah utara gunung Agung itu, batas sebelah timurnya adalah Basang Alas, sebelah baratnya sampai di Tejakula, sebelah utaranya sampai di desa Got, demikian batas wilayah kerja beliau, wilayah pemerintahan Arya Gajah Para, berdua beserta saudara beliau.
Beberapa lama kemudian beliau Arya Gajahpara berdua bersama saudara beliau, hidup di Sukangeneb Toya Anyar, beliau berdua sama-sama memiliki putra. Adapun putra beliau Gajah Para tiga orang laki-laki dan perempuan, laki-laki yang sulung I Gusti Ngurah Toya Anyar, adiknya ( bernama ) I Gusti Ngurah Sukangeneb, yang perempuan Ni Gusti Luh Raras, diambil dijadikan istri oleh beliau Sri Raja Wawu Rawuh, untuk sementara tidak diceritakan.
Beliau Arya Getas yang diceritakan sekarang, berputra dua orang laki-laki, yang tertua bernama I Gusti Ngurah Getas, adiknya diberi nama I Gusti Kekeran Getas. Adapun beliau Arya Getas, setelah berputra dua orang diadu oleh Sri Maharaja, disuruh menyerang daerah Selaparang, karena beliau menguasai empat daya upaya yang licin, diikuti oleh seribu enam ratus orang bawahannya, setelah semua lengkap dengan perbekalan dan kendaraan, menjadi penuhlah desa-desa pesisir di sepanjang pantai, beliau bersama semua rakyatnya hilir mudik menaiki perahu.
Setelah itu berhasillah beliau berlabuh di tepi pantai Selaparang, turun dari perahu, berjalan beliau Arya Getas. Rakyat Selaparang menjadi terdiam, oleh karena beliau ( Arya Getas ) berhasil memasang empat daya upaya yang licin, beliau langsung menerobos memasuki semua desa, orang-orang yang berada di Praya semua diam, semua memberi hormat kepada Arya Getas, itu sebabnya ( beliau ) tinggal di Praya sampai sekarang dan mengembangkan keturunan.
Diceritakan kedua putra beliau yang tinggal di Sukangeneb Toya Anyar, sama-sama mengembangkan keturunan, telah tercatat. Kembali diceritakan, tersebut I Gusti Ngurah Sukangeneb, pindah ke arah barat, diikuti oleh rakyat dengan tiba-tiba, terlunta-lunta perjalanan beliau, sampai tiba di desa Pegametan, bergegas penduduk di sana, disambut oleh I Gusti Bendesa Pegametan, keturunan dari Bendesa Mas, senang hati I Gusti Bendesa sama-sama memohon maaf dengan tulus dan sopan, tidak beberapa lama masuklah di sana I Gusti Ngurah Sukangeneb, bergandeng tangan dengan I Gusti Bendesa, yang menjadi penguasa di Pegametan, masuk ke dalam Puri, duduk di beranda rumah, beliau sama-sama senang saling bertukar pikiran dan berunding, tidak diceritakan jamuan beliau I Gusti Bendesa. Karena saling mengasihi dari dulu.
Waktu telah berlalu, sekarang I Gusti Ngurah Sukangeneb, beliau berdiam di Pegametan, menyebabkan I Gusti Bendesa menjadi akrab, dengan I Gusti Sukangeneb. Oleh karena itu dijadikan menantu laki oleh I Gusti Bendesa. I Gusti Ngurah Sukangeneb. Permintaan I Gusti Bendesa agar I Gusti Ngurah Sukangeneb dikawinkan dengan I Gusti ……………………………..Kekeran, I Gusti Getas, dinikahkan pada hari, Senin Umanis, Wuku Tolu, tanggal empat belas hari terang bulan, sasih kelima ( sekitar Nopember ) pada tahun Saka 1560 ( 1638 M). Tidak diceritakan perkawinan beliau, pada akhirnya beliau mempunyai dua orang putra, laki-laki, yang sulung I Gusti Gede Pulaki, adiknya I Gusti Ngurah Pegametan. Cerita selesai sampai di sini.
Selanjutnya kembali diceritakan, tersebutlah I Gusti Ngurah Toya Anyar, ada saudara beliau, laki-laki dua orang dan perempuan seorang. Adapun yang tertua I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menggantikan ayah beliau Arya Gajah Para, yang ketiga mengambil istri I Gusti Ayu Diah Wwesukia, adiknya I Gusti Ngurah Kaler, kawin dengan I Gusti Diah Lor. Adiknya yang bernama I Gusti Luh Tianyar, dijadikan istri oleh Pendeta Sakti Manuaba. Adapun I Gusti Ngurah Getas, dan I Gusti Ngurah Kekeran Getas, beliau tinggal di Sukangeneb, Toya Anyar, beliau sama-sama mengembangkan keturunan.
Kemudian kembali dikisahkan, diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, beliau yang dinobatkan menjadi tetua di Toya Anyar, generasi ketiga, putra beliau yang seibu yaitu I Gusti Ayu Diah Wwesukia. Putra tertua ( bernama ) I Gusti Gede Tianyar, yang selanjutnya berdiam dan memiliki keturunan di Kebon Culik, putra kedua ( juga ) laki-laki bernama I Gusti Made Tianyar, yang kemudian tinggal dan berkembang di Sukangeneb Toya Anyar. Putra yang bungsu I Gusti Nyoman Tianyar, beliau ( yang ) lahir di Desa Pamuhugan, tidak berbeda seperti leluhur beliau dahulu, janin itu selamat dalam rahim ibunya yang sangat setia kepada suaminya, berkat anugerah beliau sang raja penguasa di Gelgel, ketiganya itu diijinkan kembali ke Toya Anyar.
bAGIAN KEDUA
Sekarang kembali diceritakan I Gusti Ngurah Kaler, mempunyai empat orang putra dari seorang ibu lahir dari I Gusti Ayu Diah Lor, putra tertua bernama I Gusti Gede Kaler, pindah menuju desa Antiga, berdiam di sana dan mengembangkan keturunan, putra kedua I Gusti Made Kekeran, pindah menuju Desa Kubu, berkembang di sana. Putra ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, pindah ke Desa Sukadana Tigaron, menetap dan mengembangkan keturunan di sana. Adapun yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, beliau dijuluki Ubuh, karena ayahnya meninggal pada saat masih dalam kandungan ibunya Sang Diah yang setia terhadap suami, akhirnya tinggal dan mengembangkan keturunan di Tanggawisia, dihentikan penuturannya sebentar. Cerita kembali lagi, pada I Gusti Gede Pulaki, diambil anaknya I Gusti Bendesa Pulaki, dikawinkan menjadi istri bernama I Gusti Luh Mas. Selanjutnya I Gusti Ngurah Pegametan, beliau tinggal di desa Pegametan. Adapun saudara beliau I Gusti Gede Pulaki, tinggal di desa Pulaki, putra beliau laki-laki, terlanjur sudah, beliau meninggal. Sedih hatinya I Gusti Gede Pulaki.
Diceritakan sekarang Batara Nirartha, adik dari Mpu Angsoka, putra dari Hyang Danghyang Asmaranatha, beliau menemukan kemurahan batin, datang di Bali, menaiki buah labu (waluh kele), dan sampan yang bocor, mendarat di tepi pantai Purancak, mampir di pondok I Gusti Gede Pulaki, beserta putra beliau semua. Ada putra Batara Nirartha, laki perempuan lahir dari golongan Brahmana Keturunan Daha, yang sulung sangat cantik dan parasnya menawan, tidak ada yang menyamai di dunia, harum semerbak baunya. Adiknya bernama Pedanda Kemenuh, lagi pula ada saudara beliau seorang perempuan, menikah dengan Mpu Astamala beliau dari Aliran Budha
Ada pula anak beliau yang lahir dari putri Brahmana dari Pasuruhan, empat orang laki-laki, tertua Pedanda Kulwan, Pedanda Lor, Pedanda Ler. Ada lagi putra dari Pedanda Batara Nirartha, laki perempuan, ibunya dari golongan Kesatria saudara dari Dalem Keniten Blambangan, bernama Patni Keniten. Istri Pedanda Rai, pendeta perempuan tidak bersuami, Pedanda Telaga, Pedanda Keniten.
Kembali lagi pada cerita, Batara Nirartha, berada di pondok I Gusti Gede Pulaki, disambut dan diterima oleh I Gusti Gede Pulaki, beliau berucap "Aum-aum hamba sangat bahagia atas kedatangan sang pendeta, apa tujuan tuan pendeta, katakan yang sebenarnya", Danghyang Nirartha menjawab, "Aum Ngurah Gede Pulaki, tujuan saya datang padamu, maksud saya untuk menyembunyikan putraku sekarang, takut saya jika ia datang di kerajaan menghadap pada raja, karena harum semerbak bau tubuhnya, juga sangat cantik paras mukanya, maksud saya sekarang untuk menyatukan kembali ke alam sepi (alam gaib), I Gusti Gede Pulaki menyetujui dan berkenan mengantar, seraya memohon ikut ke alam gaib ia bersedih dan berduka karena terputus keturunannya, tidak ada lagi putranya, diam ( lah ) Batara Nirartha, memikirkan perasaan hati I Gusti Gede Pulaki. Maka bersabdalah Batara Nirartha, sabdanya, "Duhai Ngurah Pulaki, apa sebabnya demikian, menjadi sangat sedih perasaan hatimu, janganlah engkau demikian". Bersikeras I Gusti Gede Pulaki, memohon restu, agar ia mengiringkan menuju alam gaib. Dengan demikian dikabulkan semua perkataan I Gusti Gede Pulaki, bersama putra beliau, beserta semua prajuritnya mengiringkan putra beliau (Batara Nirartha) tidaklah nampak lagi di alam nyata oleh semua orang.
Diceritakan sekarang berhubung dipenuhinya permintaan I Gusti Ngurah Pulaki, senanglah hati beliau, maka menyiapkan prajurit, kemudian disuruh membuat upacara selamat, di Pura Dalem, lengkap dengan sanggar cucuk, masing-masing pasukannya disuruh untuk memasang di pintu masing-masing, pada had Kamis Kliwon, lengkap dengan sesajennya. Dengan sekuat tenaga Batara Nirartha, melakukan yoga smertti, terhadap Batara Berawa, beserta penghormatan dan permohonan, kemudian dianugerahi beliau oleh Batara sarana untuk tidak tampak di alam ini, oleh semua orang.
Segera setelah itu ada terlihat tabung bambu kuning bergelayutan, tanpa gantungan, dari dalam sebuah tempat pemujaan di kahyangan ( pura ), tidak lama kemudian keluar baju loreng, dari lubang tabung bambu kuning tersebut. Segera diambil baju itu oleh semua orang. Demikian pula I Gusti Ngurah Pulaki, sama-sama disuruh mengenakan pakaian itu, masing-masing sebuah, di sana orang-orang itu semua dan I Gusti Ngurah Pulaki, segera berubah wujud, menjadi harimau, desa tempat tinggal itu, hilang tidak tampak di alam ini. Adapun putra beliau Batara Nirartha, secara gaib menyatu di alam tidak tampak, berdiam di Mlanting, di puja oleh orang yang tidak kelihatan (samar), sampai sekarang.
Cerita kembali lagi, waktu I Gusti Ngurah Pulaki, memohon berubah wujud menyatu dalam alam tidak tampak mengikuti Batara di Mlanting, I Gusti Ngurah Pegametan, sedang tidak ada di rumah, beliau pergi mengunjungi Bendesa Kelab, yang berada di Jembrana. Beberapa hari berada di sana, kembali pulang dia ke Pulaki, bersama semua pengiringnya, tidak diceriterakan dalam perjalanan, segera sampai di perbatasan desa, kaget perasaannya I Gusti Ngurah Pegametan, karena tidak seperti sedia kala, bingung perasaan I Gusti Ngurah Pegametan ………………….
"Wahai saudaraku, apa sebabnya tidak tampak olehku penduduk desa itu, tidak seperti sedia kala tempat tinggal desaku saat ini ".
Kemudian terdengarlah suara-suara binatang bercampur dengan suara harimau, mengaum ribut tiada tara. Terkejut perasaan I Gusti Ngurah Pegametan, tidak kepalang tanggung hati I Gusti Ngurah Pegametan, ingin mengadu keberaniannya, beliau marah dan mengumpat-umpat, ujarnya " Hai engkau harimau semua, tampakkanlah wujudmu, hadapi keberanianku sekarang.
[Kembali ke atas]
Segera I Gusti Ngurah Pegametan melangkah, tidak kelihatan yang bersuara gemuruh itu, kemudian beliau berjalan hendak meninjau Toya Anyar. Berjalan beliau bersama prajurit, sampai tiba di Rajatama, perjalanannya diikuti oleh wujud yang maya itu, sekilas tampak berupa harimau, semua pengikut itu perasaannya menjadi takut, semakin mendekat harimau itu, perilakunya seperti orang menghormat, menunduk pada I Gusti Ngurah Pegametan, kemudian mengumpat serta menghunus keris. Jadi hilang rupa bayangan itu, segeralah beliau melanjutkan perjalanan. Tidak diceritakan desa yang telah dilewati, orang-orang yang mengiringinya, diceritakan sekarang telah sampai di desa Wana Wangi, banyak pengiring itu berlarian teringat para pengiring yang hilang sebanyak lima puluh orang, karena jurangnya menyulitkan berbahaya dan terjal diliputi oleh gelap, tidak terlihat keberadaan di dalam hutan.
Tidak terpikir oleh I Gusti Ngurah Pegametan, tidak menghiraukan lembah terjal perjalanan beliau, segera sampai di Samirenteng. Menuju ke timur perjalanan beliau, sampailah beliau di hutan sekitar Sukangeneb Toya Anyar. Beristirahatlah beliau di sana, dihitung prajuritnya, dulu diiringi oleh dua ratus prajurit, telah hilang tersesat lima puluh orang, sekarang pengiringnya tinggal seratus lima puluh orang, itulah sebabnya ( tempat itu ), bernama Desa Karobelahan sampai sekarang.
Adapun lima puluh orang pengikut yang tersesat, dikumpulkan bertempat di Bengkala. Adapun beliau I Gusti Ngurah Pegametan, beserta pengikut menuju keluarganya di Sukangeneb Toya Anyar. Tidak diceritakan sekarang untuk sementara.
Cerita kembali lagi, sekarang diceritakan beliau Arya Gajah Para, setelah lama beliau berada di Sukangeneb, Toya Anyar. Karena masa tuanya, pada saatnya akan dijemput oleh Kala Mrtyu ( Kematian ), sudah tampak tanda-tanda kematiannya. Sudah diyakini oleh beliau, tidak boleh tidak beliau pasti akan meninggal.
Ada pesan beliau terhadap cucunya, yang bernama I Gusti Ngurah Kaler, katanya " Wahai cucuku Ngurah Kaler, apabila nanti saya meninggal buatkan panggung jasadku, di sana di puncak gunung Mangun, satu bulan tujuh hari (42 hari), dihias dengan bunga-bunga, dan diiringi dengan tabuh dan tari-tarian, karena ibuku dulu bidadari". Demikian pesan beliau Arya Gajah Para terhadap cucunya I Gusti Ngurah Kaler, cucu beliau mematuhi, tidak berani menolak pesan kakeknya.
Tidak diceritakan lagi telah tiba saatnya maka wafatlah beliau Arya Gajah Para. Adapun cucu beliau yang bernama I Gusti Ngurah Tianyar, tidak mengetahui wasiat tersebut, karena ( pada saat itu ) beliau tidak berada di rumah, beliau pergi ke Gelgel, menghadap pada Sri Maharaja, bersama-sama dengan I Gusti Ngurah Pegametan, sama-sama berada di Gelgel.
Tidak diceritakan lagi, setibanya kembali I Gusti Ngurah Tianyar, beserta saudaranya, dijumpai orang-orang di pun, semua menyongsong I Gusti Ngurah Tianyar, memberitahukan tentang wafatnya Arya Gajah Para. Kaget dan terhenyak hati yang baru tiba, berpikir-pikir tentang wafatnya, segera datang I Gusti Ngurah Kaler, diberitahukan ada pesan beliau (Arya Gajah Para), bahwa disuruh untuk membuatkan panggung jasad beliau di puncak gunung Mangun. Demikian perkataan beliau I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya. Diam I Gusti Ngurah Tianyar, berpikir-pikir beliau. Tidak disetujui semua ucapan yang disampaikan I Gusti Ngurah Kaler, bersikeras pula I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh semua rakyat, untuk membantu bersama-sama mengerjakan bade ( tempat usungan mayat ) bertumpang sembilan, pancaksahe, taman agung cakranti tatrawangen, beserta segala upakara ngaben seperti lazimnya orang-orang berwibawa bernama anyawa wedhana, harapan beliau agar segera jasad leluhurnya dikremasi. Karena hari baik sudah dekat, itu sebabnya masyarakat itu beserta tamu semua segera membantu bekerja baik laki maupun perempuan, membuat upakara ngaben (pitra yadnya).
Diceritakan sekarang I Gusti Ngurah Kaler, kembali ingat dengan wasiat pesan leluhurnya dahulu, tidak berani menolak setia pada perintah, semakin khawatir I Gusti Ngurah Kaler terhadap kakaknya I Gusti Ngurah Tianyar. Diceritakan I Gusti Ngurah Tianyar, menyuruh rakyat beliau memulai mengerjakan terhadap upacara pengabenan, setelah beliau tentukan, saat pelaksanaannya, tidak diceritakan upacara tersebut. Tersebutlah sekarang I Gusti Ngurah Kaler, semakin besar dendam hatinya, banyak alasannya, marah, terhadap I Gusti Ngurah Tianyar. Itu Sebabnya I Gusti Ngurah tidak ingat terhadap kakaknya, terikat oleh kesetiaan beliau, yakin terhadap kebenaran ucapan wasiat leluhur beliau, perasaan hatinya yang marah tidak dapat dikendalikan, segera kakaknya ditantang berperang, marah I Gusti Ngurah Tianyar, memuncak kemarahannya, sama-sama tidak mau surut kejantanannya, sebagai seorang kesatria untuk mendapatkan kemashuran di ujung senjata utama, lagi pula prajurit sama-sama prajurit, semua setia membela kehendak tuannya, sama-sama beringas, saling parang memarang, terus menerjang berbenturan. Lagi pula peperangan beliau I Gusti Ngurah Tianyar, dengan I Gusti Ngurah Kaler, sama-sama gagah berani, sangat hebat peperangan itu, bagaikan perang kelompok raksasa, banyak rakyat hancur menjadi korban, darah bercucuran, dan mayat para prajurit menggunung, itu sebabnya diberi nama Tukad Luwah sampai sekarang. Adapun peperangan I Gusti Ngurah Kaler, dengan I Gusti Ngurah Tianyar, sama-sama tidak berkurang keberaniannya, sama-sama saling menikam. I Gusti Ngurah Kaler menikam dengan keris Si Tan Pasirik, tembus dada I Gusti Ngurah Tianyar, membalaslah ia menikam dengan keris " I Baru Pangesan ", sekejap sama-sama meninggal beliau berdua.
Kemudian datang I Gusti Abyan Tubuh, bersama I Gusti Pagatepan, yang merupakan utusan dari Sri Raja penguasa di suruh untuk melerai pertikaian mereka berdua. Agar tidak terjadi perkelahian, karena dia bersaudara, sekarang keduanya ditemukan telah meninggal, terhenyak I Gusti Abyan Tubuh, demikian pula I Gusti Pagatepan, memikirkan tentang kematiannya berdua, juga tentang ketidakberhasilan tugasnya, diutus oleh Sri Raja penguasa. Beliau segera kembali untuk menghadap Baginda Raja, tidak diceritakan perjalanannya I Gusti Abyan Tubuh, beserta I Gusti Pagatepan, tibalah mereka di Sweca Negara (Gelgel), segera mereka menghadap sang raja memberitahukan tentang meninggalnya mereka berdua karena berkelahi katanya. " Baiklah paduka Sri Prameswara, tidak membuahkan hasil yang baik tugas yang hamba emban dari paduka, hamba temukan keduanya telah meninggal. Melongo gundah hati sang raja, berpikir-pikir beliau, bahwa sungguh merupakan takdir Yang Maha Esa.
Sekarang diceritakan, putra I Gusti Ngurah Kaler, dan I Gusti Ngurah Tianyar, keturunannya sama-sama pria. Adapun putra I Gusti Ngurah Tianyar, yang sulung bernama I Gusti Gede Tianyar, adiknya bernama I Gusti Made Tianyar, yang bungsu bernama I Gusti Nyoman Tianyar, lahir di desa Pamuhugan, semua bijaksana, paham dengan segala ilmu pengetahuan. Diceritakan pula putra I Gusti Ngurah Kaler, empat orang laki-laki, yang tertua I Gusti Gede Kaler seperti nama ayahnya. Adiknya bernama I Gusti Made Kekeran, yang muda bernama I Gusti Nyoman Jambeng Campara, yang bungsu I Gusti Ketut Kaler Ubuh, lahir di Tanggawisia, karena di antara dua orang yang meninggal ( ayahnya ) sama-sama meninggalkan isterinya yang sedang hamil, itu sebabnya tidak ada yang melakukan satya, "menceburkan diri dalam api pembakaran mayat " kemudian setelah sama-sama kandungan mencapai usianya, pada saatnya lahirlah bayi itu sama-sama pria, ada di Desa Pamuhugan di Tanggawisia, hentikan ceritanya sebentar.
Sekarang diceritakan, tentang beliau Batara Sakti Manuaba, putra dari Batara Ler, ibunya dari I Gusti Dawuh Baleagung, dengan gelar Batara Buruwan, berhasil menjadi pendeta besar, mendapatkan tingkat kemuliaan yang tinggi, tidak ada yang menyamai tentang kependetaan beliau, bertempat di Manuaba. Banyak brahmana ikut tinggal di sana. Beliau mendengar tentang pertikaian I Gusti Ngurah Tianyar dan I Gusti Ngurah Kaler, yang sama-sama meninggal, beserta rakyatnya yang mati tidak terhitung jumlahnya. Menjadi kasihan beliau Batara Sakti Manuaba. Tujuan beliau datang untuk mengetahui keadaan sesungguhnya kedua orang yang bertikai tersebut. Tidak diceritakan perjalanan beliau sang Resi sakti. Tidak beberapa lama tiba beliau di Sukangeneb, Toya Anyar. Dijumpai saudara I Gusti Ngurah Kaler, perempuan seorang, berpengetahuan dan rupawan, bernama I Gusti Ayu Tianyar.
Disarankan oleh beliau sang raja penguasa, agar beliau melamar (meminang ), dikawinkan dijadikan istri sang Resi Wisesa. Tidak diceritakan beliau.
Ada anak lahir dari I Gusti Ayu Tianyar, laki-laki tiga orang, yang sulung bernama Ida Wayahan Tianyar, adiknya bernama Ida Nyoman Tianyar, yang bungsu bernama Ida Ketut Tianyar, bagaikan dewa Brahma, Wisnu, Çiwa kecerdasannya.
Cerita kembali lagi, diceritakan istri I Gusti Ngurah Tianyar, dan istri I Gusti Ngurah Kaler, mereka berdua sangat sedih, hatinya sangat duka, menyebabkan mereka meninggalkan puri. Bersama putra beliau yang masih bayi, diikuti oleh dua ratus orang pengikut, tujuannya untuk datang menghadap Sri raja, yang berada di Sweca pura (Gelgel). Adapun I Gusti Diah Lor, pergi meninggalkan rumahnya, bersama putranya, diiringkan oleh pengikut sebanyak dua ratus orang menuju Desa Tanggawisia, tidak diceritakan perjalanan beliau.
Adapun I Gusti Ayu Wwesukia, datang menghadap ke Gelgel, menghadap raja mohon belas kasihan dari beliau Dalem, dengan sopan dan hormat, terhenyak hati Dalem, melihat penderitaan I Gusti Diah Wwesukia, kemudian bersabdalah beliau. "Wahai engkau Wwesukia, aku paham dengan kesedihan yang menimpamu. Sekarang tabahkan hati dalam suka duka, karena sudah menjadi nasib, jangan engkau terlalu bersedih ingatlah akan kesetiaan sebagai seorang istri, jangan gundah, menyesali karma, aku berikan engkau tempat tinggal, beserta rakyat yang banyak yang akan menyertaimu, di sana di Desa Pamuhugan", demikian sabda Dalem. Senang hati I Gusti Diah Wwesukia, bagaikan disiram dengan air kehidupan, hatinya sangat senang, terdorong kesetiaannya sebagai seorang istri, lagi pula sabda beliau Dalem bagaikan sungai Gangga yang membasuh perasaan ternoda.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Wwesukia, memohon diri pada Dalem, bersama sama dengan pengikutnya, menuju desa Pamuhugan, beserta putra beliau yang bernama I Gusti Nyoman Tianyar, tinggal di Desa Pamuhugan, mereka menyiapkan dan menyuruh untuk segera bekerja, karena banyaknya pengikut, puri cepat terwujud, sampai di sana diceritakan.
Diceritakan sekarang I Gusti Diah Lor, setibanya di Tanggawisia, bersama dengan putra beliau yang bernama I Gusti Ketut Kaler Ubuh, diikuti oleh rakyat sebanyak dua ratus orang, juga ikut tinggal di sana, mengembangkan keturunannya, di Desa Tanggawisia wilayah Buleleng, sampai sekarang. Cerita kembali lagi, diceritakan sekarang yang berada di Sukangeneb, Toya Anyar, itu sudah dewasa, putra I Gusti Ngurah berdua, yang gugur dalam peperangan, Semuanya bernama I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar, adapun I Gusti Gede Tianyar, menghadap pada Sri Raja penguasa di Sweca negara (Gelgel), menyampaikan tentang penderitaannya berada di Sukangeneb, Toya Anyar, lemah bagaikan diiris hatinya. Bersabda sang raja, menyuruh untuk berpindah tempat, tidak menolak perintah, I Gusti Gede Tianyar, kemudian mohon pamit pada beliau Dalem, berpindah ke Desa Kebon Dungus, tinggal beliau di sana, mengembangkan keturunan sampai sekarang. Adapun I Gusti Made Tianyar, tinggallah beliau di Sukangeneb, Toya Anyar, mengembangkan keturunan di sana sampai kemudian.
Selanjutnya diceritakan putra I Gusti Ngurah Kaler, I Gusti Gede Kaler Putra yang sulung, I Gusti Ngurah Tianyar Pohajeng pindah, berjodoh di desa Blungbang Antiga, Adiknya I Gusti Made Kekeran, berpindah ke Kubu, yang ketiga I Gusti Nyoman Jambeng Campara, segera pindah ke Desa Sukadana Tigaron, telah diceritakan dahulu semuanya mengembangkan keturunan, cerita selesai.
Diceritakan kembali, Batara Sakti Manuaba, putranya yang lahir dari I Gusti Ayu Tianyar yang sulung Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, sekarang sudah selesai didiksa (ditasbih) menjadi pendeta Siwa, dilantik oleh Batara Sakti Abah, karena beliau itu adalah saudara lain ibu, beliau mencapai puncak kemuliaan. Setelah selesai dilantik oleh pendeta mahasakti, ( putra ) sulung bergelar Batara Wayahan Tianyar, adiknya bernama Batara Nyoman Tianyar, yang bungsu Batara Ketut Tianyar, sama-sama menemukan puncak kemuliaan, lagi pula mereka bertiga dianugerahi keterampilan, Batara Wayan Tianyar, beliau diberi pangrupak ( alat tulis pada daun lontar ), Batara Nyoman Tianyar diberi pustaka, Batara Ketut Tianyar dianugerahi ilmu panah, semua sama-sama dipahami, pemberian guru pendidiknya, cerita selesai.
Selanjutnya diuraikan, yang bernama Gusti Ngurah Batu Lepang, di Batwan desa beliau, angkara murka dan dengki melihat asrama di Manuaba, sangat indah dan makmur, keberadaan Asrama Manuaba, semua brahmana yang berada di asrama itu, tidak urung diobrakabrik, oleh Si Ngurah Batu Lepang, oleh karena Batara Sakti Manuaba telah berpulang ke Surga.
Tetapi Batara Sakti Abah yang ditakuti oleh Si Ngurah Batu Lepang, sedang tidak berada di asrama, sedang bepergian ke Banjar Ambengan. Segera Si Ngurah Batu Lepang menyiapkan pasukan, lengkap dengan senjata, ingin menggerebeg Asrama Manuaba. Bergemuruh sorak para prajurit. Adapun Pedanda Teges menjadi takut, gemetar, memohon ampun pada Si Ngurah Batu Lepang, adapun para brahmana semua sama-sama untuk bertahan, sangat pemberani dan melawan, seperti perang antara dewa melawan raksasa, mundur berlari pasukan Si Ngurah Batu Lepang, dihancurkan, lain lagi ada yang mati. Si Ngurah Batu Lepang menjadi marah, maju dengan rakyat yang berlimpah, dikurung asrama tersebut. Adapun kaum brahmana, sama-sama tidak ada yang mundur, karena jumlahnya sedikit bergantian dipukul oleh lawan, tidak lama kalah asrama itu, hancur semuanya, banyak yang meninggal dan yang lainnya hancur, yang lainnya ada yang menjauh laki perempuan menuju desa tidak henti-hentinya menangis.
Adapun Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar baru tanggal gigi pada waktu itu, perjalanannya menuju ke timur tiba di Bukit Bangli, di pertapaan Pedanda Bajangan. Tersebar berita I Gusti Dawuh Baleagung, mendengar kabar, di Gelgel, dicari tiga bersaudara yang berada di Bangli, karena masih ada hubungan cucu, tidak habis kalau diceritakan, datanglah beliau di Bukit Bangli, beliau menghadap Pedanda Bajangan, meminta ketiga cucu beliau, Ida Wayahan Tianyar, Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar, semua senang. Memohon pamit pada Pedanda Sakti Bajangan. Tidak diceritakan dalam perjalanan, telah tiba di Gelgel, didengar oleh raja, bahwa Ida Wayan Tianyar datang, bersama semua saudaranya, diutuslah I Dewa Wayahan Tianyar ke istana, menghadap pada Dalem, disambut dengan lirikan yang manis, dan ucapan yang simpatik, ujar beliau. Duhai Ida Wayan Tianyar, masuklah ke teras, mari duduk mendekat, katakanlah sekarang tentang kesedihanmu.
Kemudian berkatalah Ida Wayan Tianyar, sebabnya asrama/pertapaannya hancur diserbu karena keangkuhan Si Ngurah Batu Lepang, diserang hancur beserta penghuninya, banyak meninggal yang ada di pertapaan, bersabdalah sang raja. Kata beliau, Duhai jika demikian, Si Ngurah Batu Lepang, " Hai semoga ia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, karena ia perusak pendeta, menemukan kesengsaraan ( karena ) membunuh brahmana ". Demikian kutukan beliau sang raja , terhadap si Ngurah Batu Lepang.
Demikian pula Pedanda Sakti Abah melepaskan kutukan seperti senjata Bajra beracun ke luar dari mulut beliau, demikian umpat kutukannya. ''Sekarang Ida Wayan Tianyar beserta dua saudaranya, janganlah ragu-ragu dalam hati, saya memberikanmu tempat, ada keluargamu di Pamuhugan, Kyai Nyoman Tianyar nama beliau, juga aku akan memberikan pengiring, dua ratus orang beserta keris warisan dari ibumu, bernama Ki Tan Pasirik, dibawa oleh Kyayi Nyoman Tianyar, ini keris Si Baru Pangesan saya berikan kepadamu", Ida Wayan Tianyar menurut, demikian pula Ida Nyoman Tianyar, Ida Ketut Tianyar. Cerita sampai di sini dulu.
Tidak diceritakan Pedanda Teges setelah kalah/hancurnya Pertapaan Manuaba, kemudian dijarah semua isi pertapaan. Adapun Pedanda Sakti Abah, mendengar tentang kehancuran pertapaan, dirusak oleh Si Ngurah Batu Lepang, beliau marah dan mengutuk. "Jah tasmat (semoga hancur) Si Ngurah Batu Lepang dia sangat tidak berperasaan, congkak dan garang kepada kami brahmana, biadab membunuh brahmana pendeta, semoga dia tidak berlanjut menemukan kewibawaan, lagi pula terbenam dalam Yamaniloka (sengsara) pada bersumpah untuk Si Teges, jangan engkau saling mengambil (dalam perkawinan), dan menjalin kekeluargaan dengan keturunan Si Teges". Didukung oleh semua keluarga beliau.
BAGIAN KETIGA (3)
Diceritakan Pedanda Sakti Abah lama berada di Pertapaan Pedanda Sakti Bajangan, di sana di Bukit Bangli, Pada suatu ketika, akhirnya menginjak dewasa ketiga adiknya, sudah wajar diupacarai, diberi penyucian (padiksan), oleh Pedanda Sakti Abah, sekarang berganti nama yang sulung Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar.
Adapun Pedanda Wayan Tianyar, kawin dengan seorang putri dari Kekeran, Pedanda Nyoman Tianyar beristrikan dari Intaran Badung, Pedanda Ketut Tianyar dari Blaluwan isterinya. Adapun Pedanda Sakti Abah, beliau pindah pertapaan ke Banjar Ambengan, selanjutnya bergelar Pedanda Lering Gunung. Selesai diceriterakan.
Kembali lagi diceritakan Si Ngurah Batu Lepang, setelah beberapa lamanya, menghancurkan pertapaan itu, lalu terbukti kutuk brahmana itu mengena, kegusaran, gundah gulana bercampur ( menyebabkan ) kesusahan hati, akhirnya menentang terhadap Sri raja, marahlah baginda raja, diperintahkan untuk mengangkat senjata, Sri raja hendak menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, karena kemarahan sang raja, maka berembug dengan keluarganya semua, perintah Si Ngurah Batu Lepang, "Terlebih dahulu gempur raja pada malam hari, agar meninggal" maka didukung oleh keluarganya semua, perintah Si Batu Lepang pula, menyuruh untuk membunuh semua keluarga dan isterinya, agar tak ada lagi yang diingat-ingat di rumah, sampai di sana diceritakan.
Diceritakan sang raja, para punggawa diperintahkan, untuk menghancurkan Si Ngurah Batu Lepang, semua keluarga sampai anak isterinya. Semua prajurit itu ribut mengangkat senjata, banyak tak terhitung, penuh menyebar ke mana-mana tak putus-putusnya dan para menteri sang raja, siap untuk menyerbu rumah Si Ngurah Batu Lepang, diserang bersama. Bingung Si Ngurah Batu Lepang, kehilangan akal, hingar bingar prajurit itu, saling berbenturan mendesak bergulat mengincar keadaan perang itu, meraba-raba tidak tahu dengan temannya, karena diliputi oleh gelap, itu sebabnya sama-sama menyalakan obor.
Sekarang kembali mengejar ke arah timur Si Ngurah Batu Lepang, mundur rakyatnya Si Ngurah Batu Lepang, karena banyak yang mati dan menderita, kemudian mengamuk Si Ngurah Batu Lepang, tidak dapat menahan hati, memarang, tombak-menombak menusuk kiri kanan, oleh karena gelap gulita.
Kemudian Si Ngurah Batu Lepang terhalang tidak melihat jalan, tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, karena banyak rakyatnya yang gugur, sisa dari yang gugur semua lari menuju rumah masing-masing. Bingung hati Si Ngurah Batu Lepang, masuklah ia ke rumah tempat mesiu, di sana dikejar diburu Si Ngurah Batu Lepang, dikelilingi oleh banyak prajurit, adapun belas kasihan perlakuan prajurit dan menteri semuanya, tak diijinkan membunuhnya dengan mengikat dan menyiksa. Sadar Si Ngurah Batu Lepang, bahwa dirinya akan dibunuh dengan siksaan oleh musuh, kemudian didekatilah bungkusan mesiu itu, kemudian dibakar, segera menyala menjulang tinggi sampai ke angkasa, Si Ngurah Batu Lepang pun segera meninggal, hangus beserta prajuritnya, demikian akibat kutuk brahmana, karena (dulu ) membunuh brahmana tidak berdosa, saat kematiannya lama menemukan hina sengsara.
Sekarang kembali diceritakan putra Batara Sakti Manuaba bagaimana keutamaannya yang bernama Bajangan, mempunyai tiga orang putra laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Bajangan, Pedanda Taman, dan Pedanda Abyan. Pedanda Bajangan mendirikan pertapaan di Bukit Bangli, beliau berputra seorang bernama Pedanda Tajung. Adapun Pedanda Taman, mendirikan pertapaan di Sidhawa, putra beliau bernama Pedanda Manggis. Juga Pedanda Abyan, mencari pertapaan di Tagatawang, mempunyai dua orang putra laki-laki, disebut Pedanda Buringkit, Pedanda Made Tubuh. Adapun istri Batara Abah, berputra seorang laki-laki, disebut Pedanda Abah, beliau bertempat di Bajing, pemberian dari Sri Raja penguasa. Berputra empat orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Kelingan, Pedanda Gunung, Pedanda Tamu, Pedanda Abah.
Adapun istri Batara yang bernama I Gusti Ayu Tianyar, keturunannya tiga orang laki-laki, yang tertua bernama Pedanda Wayan Tianyar, Pedanda Nyoman Tianyar, Pedanda Ketut Tianyar. Beliau merupakan Bagawanta Arya Dawuh, di Desa Singharsa (Sidemen). Adapun Pedanda Wayan Tianyar, memiliki dua orang istri, keturunan Arya Kekeran seorang, berasal dari Jasi seorang, ada putra lahir dari Kekeran, seorang laki-laki bernama Pedanda Kekeran, mempunyai seorang adik perempuan, bernama Laksmi Sisingharsa, lagi pula putra beliau yang lahir dari keturunan Jasi, bernama Pedanda Tianyar, seperti nama ayahnya, adiknya perempuan bernama Pasuruhan.
Beliau Pedanda Wayan Tianyar, yang memiliki dua orang istri, seorang dari Intaran, dari Blaluwan seorang, keturunan yang lahir dari ibu Intaran, Pedanda Wayan Intaran, Pedanda Made Intaran. Keturunan dari Blaluwan, seorang perempuan disunting oleh Pedanda Wayan Kekeran. Pedanda Ketut Tianyar, beristrikan Ngurah Sukahet, berputra tiga orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Sukahet, Pedanda Made Wangseyan, dan Pedanda Ketut Wanasari.
Adapun istri Batara yang bernama Kutuh, mempunyai seorang putra laki-laki, bernama Pedanda Kutuh, kawin dengan perempuan dari Karangasern, memiliki empat orang putra laki-laki, Pedanda Wayan Karang, Pedanda Made Karang, Pedanda Nyoman Karang, dan Pedanda Ketut Karang.
Adapun Istri Batara yang berasal dari Sambawa, berputra seorang laki-laki, bernama Ida Raden, kemudian beliau berputra bernama Ida Panji, beliau sudah tercatat.
Diceritakan kembali, I Gusti Nyoman Tianyar, yang berada di Pamuhugan, melahirkan keturunan lima orang anak laki-laki, tertua I Gusti Ngurah Sangging, adiknya I Gusti Made Sukangeneb, I Gusti Nyoman Tianyar, I Gusti Ngurah Diratha, yang bungsu I Gusti Ngurah Intaran.
Pada akhirnya seperti mendapat petunjuk dari leluhur, habis semua isi rumah beliau, hutan ( ladang ) sawah, ada yang digadaikan, ada yang dijual, ke desa lain, oleh karena menuruti hawa nafsu, I Gusti Nyoman Tianyar menjadi tidak henti-hentinya bingung pikirannya, menjadi kasihan setiap ia melihat anak-anaknya yang masih kecil.
Kemudian di dengar oleh Batara Wayan Tianyar kasihan terhadap kesusahan I Gusti Nyoman Tianyar, maka beliau pergi menuju Desa Pamuhugan. Maka disuruhnya I Gusti Nyoman Tianyar, mengambil warisannya dahulu berupa sebidang tanah, yang berada di Sukangeneb.
Berkata I Gusti Nyoman Tianyar, Ucapnya. "Jika demikian saya tidak mau kembali ke Sukangeneb Toya Anyar". Berpikir-pikir Batara Wayan Tianyar, tentang kehancurannya di sana, terketuk hatinya sangat kasihan melihat keluarga beliau I Gusti Nyoman Tianyar" Wahai keluargaku semua, jangan anda di sini, mari bersama-samaku di Singarsa, saya memberi anda tempat, sebab kami tak bisa berpisah dengan anda".
Diceritakan sekarang I Gusti Nyoman Tianyar semua mengikuti Batara Wayan Tianyar, berbondong-bondong bersama anak isterinya, tidak diceritakan dalam perjalanan tiba di Singharsa, I Gusti Nyoman Tianyar disuruh membangun rumah di Abyan Sekeha, wilayah Dusun Ulah yang disebut Malayu, dijadikan pengawal pendamping dari asrama Batara di kota Singharsa.
Adapun putra beliau Batara Wayan Tianyar, yang bernama Batara Wayan Kekeran, pindah asrama ke Pidada, kawin dengan putra Batara Nyoman Tianyar, menjadi istri beliau, mempunyai dua orang putra, yang tua bernama Pedanda Nyoman Pidada, adiknya bernama Pedanda Ketut Pidada, sama-sama mencapai keutamaan. Pedanda Nyoman Pidada, pindah asrama menuju ke Pangajaran, Pedanda Ketut Pidada pindah pertapaan ke Sinduwati, sama-sama mempunyai keturunan. Kembali diceritakan Pedanda Wayahan Kekeran, yang berada di Pidada, memiliki seorang putra laki-laki lahir dari golongan bawah yang bernama Ni Jro Dangin, putra itu bernama Ida Wayan Dangin.
Sekarang diceritakan kembali Pedanda Wayan Intaran, berada di Gelgel, memiliki murid dari golongan Sulinggih empat orang. Adapun Pedanda Made Intaran, beliau berada di Toya Mumbul, beliau pindah dari Toya Mumbul, pindah menuju desa Duda, beliau menetap di sana, kawin dengan putra Pedanda Wayan Kekeran, berputra dua orang laki-laki bernama Pedanda Wayan Intaran, di Pendem. Pedanda Made Intaran. Adapun Pedanda Wayan Intaran memiliki anak dua orang, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Intaran, Pedanda Ketut Intaran, mengembangkan keturunan di Pendem dan di Kediri Sasak. Adapun Pedanda Made Intaran, berputra dua orang laki-laki, yang sulung bernama Pedanda Nyoman Paguyangan, berasrama di Sindhu, Pedanda Ketut Tianyar di Pidada, ada keturunan beliau di Pasangkan berhasil dalam mengobati segala penyakit.
[Kembali ke atas]
Diceritakan Pedanda Sukahet, memiliki dua orang istri, seorang putri dari Pedanda Wayan Kekeran, dari Banjar Kebon seorang, istri dari golongan Brahmana tersebut memiliki putra, namanya Pedanda Wayan Sukahet, (dan) Pedanda Made Sukahet, bertempat tinggal di Banjar Wangseyan, kemudian beliau pindah ke Wanasari, kemudian pindah lagi ke Pasedehan. Adapun putra beliau yang lahir dari istri yang berasal dari Banjar Kebon, bernama Ida Nyoman Banjar, keturunannya berada di Abyan Tubuh daerah Sasak. Adapun Pedanda Made Sukahet, memiliki putra laki-laki bernama Pedanda Sukahet, sedangkan Pedanda Wanasari, putranya bernama Pendeta Wayan Wanasari, beliau yang melahirkan keturunan yang berada di Sindhu daerah Sasak.
Cerita Kembali lagi, diceritakan putra beliau I Gusti Nyoman Tianyar, setelah waktu berselang lama, beliau yang memiliki lima orang anak kini telah tumbuh dewasa. Adapun I Gusti Ngurah Diratha, pindah rumah tinggal di Kubu Juntal, memiliki keturunan, di antaranya I Gusti Ngurah Bratha, kemudian berganti nama menjadi I Gusti Ngurah Bhujangga Ratha. Adiknya bernama I Gusti Ngurah Tianyar. pindah menuju Katawarah. menetap di sana. I Gusti Ngurah Cakrapatha, di Bhawana. Yang bungsu I Gusti Ngurah Gajah Para, di Kubu, mengembangkan keturunan yang berada di Tongtongan, Bubunan, Bondalem, Bakbakan, Antiga, Gamongan.
Adapun I Gusti Ngurah Intaran, mendirikan tempat tinggal di Banjar Getas Tianyar. Keturunannya ada tiga orang, I Gusti Ngurah Cadha, I Gusti Ngurah Cadha Sukangeneb, I Gusti Ngurah Bhojasem yang memiliki keturunan berada di Tista, semuanya memiliki keturunan. Adapun I Gusti Nyoman Tianyar, menjadi pengiring Pedanda Made Intaran, di Toya Mumbul, di sana menetap dan memiliki keturunan.
Adapun I Gusti Made Sukangeneb, berada di Singaraja, memiliki empat orang putra, yang sulung I Gusti Wayan Tianyar, pindah ke Badung. Adiknya bernama I Gusti Made Danti, pindah menuju Panghi. I Gusti Nyoman Tianyar pindah menuju Mataram di daerah Sasak, yang bungsu I Gusti Ketut Tianyar, menetap di Antiga.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, beliau masih menetap di Abyan Sekeha ikut dengan ayahnya. Kemudian beliau melakukan diksa, berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar.
Adapun I Gusti Ngurah Sangging, memiliki tiga orang anak. Putra tertua I Gusti Ngurah Subratha, adiknya I Gusti Ngurah Jathakumba pindah menuju Pangi, yang bungsu bernama I Gusti Ngurah Ketut Tianyar, pindah menuju Bajing, memiliki keturunan dua belas orang.
Adapun beliau I Gusti Ngurah Subratha, mulanya tinggal di Jumpungan, setelah didiksa kemudian pindah asrama ke Abyan Sekeha. Berganti nama menjadi I Gusti Wayan Tianyar Taman. Pindah asrama ke Sindu, menjadi pengikut Pedanda Ketut Pidada, pada waktu mendirikan asrama di Sindhu.
Adapula kolam peninggalan beliau di Patal, berupa tempat penyucian waktu di pertapaan, sangat kemilau dan menyenangkan di Patal, dihiasi dengan berbagai bunga, di tepi kolam tersebut, merupakan tempat bercengkrama Pedanda Ketut Pidada. Beliau juga mendirikan tempat pemujaan, tiga buah, sebuah untuk pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, ada (pula) titah beliau Pedanda Ketut Pidada terhadap I Gusti Wayan Tianyar Taman, Duhai anaku Wayan Tianyar, ini bangunan untuk memuja dewa, tiga buah. Ananda nantinya yang menjadi pemangku, kemudian saya juga berada di sana, dipersatukan dengan beliau Sang Hyang Siwa, jangan tidak disucikan, sampai nanti seterusnya, anda yang menjadi pemangku untuk keluarga saya, bagian yang sebelah utara diupacarai. Untuk semua keturunanmu, itu yang di sebelah selatan. Karena itu, jangan melupakan keturunan saya juga keturunanmu yang seterusnya dapat menemukan Surga (kebahagiaan). I Gusti Wayan Tianyar Taman mengiyakan, sampai ke lubuk hati, cerita disudahi.
Adapun I Gusti Wayan Tianyar Taman, beliau memulai menetap di Sinduwati, mengambil wanita menjadi isterinya dan keturunan Pulasari, memiliki putra seorang bernama I Gusti Gede Tianyar, kemudian beliau juga didiksa. Adapun I Gusti Gede Tianyar, berputra seorang laki-laki, tidak berbeda tingkah laku dengan leluhurnya, beliau juga didiksa, bernama I Gusti Gede Tianyar Sekar. Adapun I Gusti Gede Tianyar Sekar, memiliki tiga orang keturunan, I Gusti Gede Tianyar, I Gusti Made Tianyar Blahbatuh, adiknya I Gusti Made Tianyar Tkurenan, beliau pada akhirnya menjadi Rohaniwan.
Demikian perkembangan keturunan yang berada di Sinduwati, daerah Singharsa, lengkap dengan tempat pemujaan Dewa, bernama, Pura Puri Anyar Sukangeneb, diteruskan dari sejak dulu, masa kini dan masa yang akan datang. Cerita disudahi.
Ya Tuhan semoga selalu berhasil. Ini petunjuk/tingkah laku keturunan Manu, pesan beliau Batara Manu, agar ditaati oleh para keluarga dan keturunan, tentang lahirnya dari keturunan Manu. Jika petunjuk/kewajiban/ajaran ini sudah dikuasai, dapat menyebabkan kesembuhan/menghilangkan sengsara dalam diri, jika badan dapat dijaga dengan baik, atas perintah pikiran yang tak ternoda. Tidak tercoreng oleh noda-noda yang menyakitkan telinga, begitu pula nafsu dan tamak/loba, itu tujuannya untuk mendapatkan kesenangan yang besar, lebih-lebih keutamaan batin, kenali perbuatanmu masing-masing.
Singkatnya, ajaran/tuntunan perbuatan itu sungguh dipahami, dan dilaksanakan, jangan gegabah dengan segala perilaku, itu dapat menjagamu (agar) tidak menyimpang dari sifat-sifat manusia, oleh karena tahu akan penjelmaan. Tidak bercampur-baur dengan kaum Ekajati hendaklah dipilih yang pantas dijadikan sahabat, apa sebab demikian, karena engkau sungguh manusia yang baik, keturunan dari golongan Manu, hendaknya ingat dengan tugas masing-masing, lebih-lebih dalam melaksanakan aturan brata, utamakanlah kesetiaan dan kebaikan yang dapat mengontrol perbuatanmu, tidak diselingi perbuatan salah, perbuatan durjana, ini ajaranmu yang pantas diikuti dan dilarang mendatangkan mala petaka kutuk, ditujukan kepada siapa saja, ditujukan kepada semua keturunan dan warga Manu.
Pada jaman dahulu kala, di India, beliau Batara penguasa tertinggi, dapat dikalahkan, oleh musuh, ditangkap dipukul dan disiksa, tidak dapat membela diri, akhirnya lari dengan tidak menentu, ingin masuk ke tengah hutan, masuklah ia di bawah biji tumbuhan Jawa, dinaungi oleh tumbuhan hea beras, ada burung perkutut dan bayan, lagi pula (ada) sapi hitam mulus. Di sana burung tersebut memakan biji-bijian, menampakkan keadaan yang wajar, burung itu bersuara, sapi itu jinak tidak liar. Oleh karena demikian, dikira oleh musuh beliau Batara, tidak ada orang di sana, segera ditinggalkan, pada akhirnya selamatlah beliau. Pergilah beliau menuju Jawa, dinobatkan menjadi pemimpin negeri, beliau berwasiat, seketurunan Wisnuwangsa tidak memakan daging perkutut, dan Bayan, apalagi daging sapi yang bulunya berwarna hitam mulus, wija maya (Jawa), eha beras, sama-sama tidak boleh yang melanggar, oleh semua keluarga seketurunan golongan Wisnuwangsa.
Demikian wasiat beliau Batara Manu. Apabila tercela dalam kehidupan, lebih-lebih untuk mengabdi, terhadap keluarganya, akibat kesulitan penghidupan, oleh karena itu menjadi melanggar pedoman hidup, itu tidak merupakan dosa, berhak bila merendah terhadap saudara, sebab satu keturunan, seperti perputaran roda pedati, dapat di bawah dan dapat pula di atas. Jika engkau memohon bantuan/perlindungan terhadap orang bawah, ya dapat pula merendahkan derajat, berakibat menyimpang dari etika, menyebabkan terperosok ke dalam sumur mati, menjadi manusia biasa ( ekajati), tidak memiliki nama baik, senang makan minum kepunyaan orang lain, itu namanya hina, tidak dapat disucikan, ( hendaknya ) dijadikan pedoman bagi empat golongan manusia, janganlah engkau meniru perbuatan tersebut, semoga selamat, panjang umur, sempurna, sampai sanak saudara dan keturunannya, selamanya disenangi di bumi, ya Tuhan semoga senantiasa berhasil.
Ini adalah jenis busana (alat) yang dapat/bisa digunakan dalam upacara kematian, ijin dari beliau Sri Raja Batur Renggong, engkau bisa menggunakan busana manusia utama, sesuai dengan tata cara kerajaan (Dalem), menggunakan peti usungan, upacara penyucian, upacara Ngaben dengan membakar jenazah, bade ( tempat usungan ) bertumpang sembilan, taman agung, candra sari, cakraantita trawangan, tempelan kapas lima warna, sembilan tumpang warna warni, kain panjang, cemeti dari bulu merak yang panjang dan burung cendrawasih berkuncir, balai-balai dari bambu gading, gender yang digotong menyertai bade (tempat usungan), binatang singa bersayap, yang lain sapi/lembu jantan yang hitam, magumi undag sapta, balai silunglung, lengkap dengan kajang (kain penutup may at) dengan perlengkapannya, walantaga, pakelem yang dibuat dari emas, lengkap dengan kawat emas, parbha padma lenkara, bukan diikatkan pada galar. Harus diberi tirta (air suci) untuk ukuran yang utama dengan uang (harga) 16.000, menengah 8.000, sederhana harga 4.000,. Kelanjutan dari (upacara) kematian, boleh melakukan upacara Atma wedhana, upacara baligya sradha, menengah panileman, mangrorasin.
Demikian rangkaian upacara pengabenan tingkatan utama, boleh menggunakan kawat emas, itu perwujudan dari delapan penjuru arah yang di tengah-tengahnya terdapat bulatan yang bertuliskan Dasa Aksara. Berapa besar bahaya keutamaannya? Kamu tidak tabu, hanya keinginan untuk mempercayai orang lain, mengikat galar, tidak tahu dengan maknanya, jika engkau ingin mengetahuinya inilah sebenarnya, Hurat mawrat, tar porat, jika memakai perlengkapan yang berat ( berlimpah ), menengah namanya. Jika tidak memakai perlengkapan yang berbobot, bernama nista (sederhana). Jika menggunakan/berbobot perlengkapannya, bernama besar (utama). Rupa/fungsi kawat emas, bagaimana bentuk kawat mas? Kain putih, lebarnya seukuran destar, itu sebagai alas, simbul tikar, di tempel bentuk Ongkara kawat mas, tidak boleh digambari (dirajah) oleh orang kaum rendah (Sudra), yang berhak juga brahmana.
Setelah siap/sedia , dipasang di atas bagian hulu pawalungan, itu melambangkan padmanglayang, setelah jenazah diperciki dengan tirta pangentas, ditutupi dengan kawat emas, agar sama-sama terbakar dengan jenazah, itu bermakna utama.
Apa keutamaannya ? Ini kenyataannya, dahulu di Surga, pada waktu semua roh berkumpul, dijemur di teriknya panas, ada satu roh, terbebas oleh panas, tertutup oleh awan, kemudian ditanyai oleh Sang Suratma, diperiksa tulisan di kepalanya, menjawab roh itu, mengaku memakai kawatamas, berbentuk padma reka, itu sebabnya terbebas dari kekeringan. Itu kemudian ditiru oleh yang mengetahui keadaan tersebut, karena kawat emas itu sangat utama, demikian diberitakan, jangan ceroboh.
Ini petunjuk perilaku Arya Gajah Para yang menjadi rohaniawan. Bagi yang melaksanakan/menjadi Resi, diwajibkan melakukan diksa brata boleh mengenakan jujumpung dan rambut di sanggul , seperti pakaian seorang pendeta Siwasidhanta (sekta Siwa), juga boleh bercukur pendek seperti pendeta golongan Budha. Berpakaian serba putih, harus memakai tongkat yang berukuran panjang setinggi badan, pada ujungnya bhajra yantu, tidak boleh lepas tongkat itu, dibawa pada saat bepergian, sebagai tanda itu, untuk tidak salah tafsir. Jika sudah diberi tanda, menggunakan tongkat bhajra yantu, yang menjadi ujungnya, itu sesungguhnya adalah Bhujangga Resi, tidak keliru (bila) akan bertanya, karena masih ada yang menandakan. Jika dia Resi, Bhujangga, berjalan tanpa tongkat, itu dapat membuatnya terserang noda/kotor, bagaimana ia itu, ketiga aliran sulinggih, berjumpa di jalan, Semuanya menyapa, disertai tercakupnya kedua telapak tangan, serta membungkukkan badan, sang Resi segera berkata, mengaku dirinya bukan pendeta, mereka sang tri wangsa menjadi malu, dalam benaknya salah sangka, marah dalam hatinya, segera terdengar suara cemoohan, menimpa diri Sang Resi, itulah sebabnya berjalan dengan tongkat, baru kelihatan keadaan yang nyata (kejatiannya), wajah Resi Bhujangga, pendeta bertabiat tenang dan murid sang pendeta.
Demikian perilaku Resi Bhujangga, jangan tidak berhati-hati, menjaga tingkah laku itu, jelas sang Adi Guru, semoga tidak bercampur dengan pikiran kotor, bagaikan kristal permata, pikiran itu serta bersih berkilap tidak berawan, tidak menentang perintah, sang Adi Guru, sekalipun tertimpa hujan dan panas, berat ringan, lebih-lebih turun ke sungai jurang yang dalam dan tidak dirisaukan oleh orang yang menjunjung dharma, bising hening menahan lapar, dahaga menginginkan agar berhasil perintah sang Adi Guru, bersama orang yang wajib dihormati, sampai dengan keluarga sang Adi Guru, putri guru, kakak guru, adik guru, paman guru, kakek guru, keluarga guru, cicit guru seluruh anggota keluarga, kawan, keluarga sang Adi Guru, hendaknya semua dapat dihormati. Karena semua pengajar (guru) dianggap berasal dari perbuatan utama ( baik ).
Lagi pula seorang Resi tidak berhak mencarikan jalan bagi orang yang satu keturunan (sidikara) bila meninggal, jika mencarikan jalan keluarga, itu akan menjadi rendah (nista), bukan orang yang telah suci, apa sebabnya demikian, karena seorang Resi itu adalah dari keturunan, maka hilanglah keharumannya, tidak dapat disucikan/diupacarakan oleh sang pendeta Brahmana. Kemudian ada salah seorang berkeinginan untuk menyucikan diri menjadi pendeta, berlaku seperti Resi Bhujangga, itu tidak dapat didiksa, puasa, oleh beliau Mpu Dhang Guru Brahmana, karena murid Resi, bukan keturunan wiku, brahmana, seorang petani tulen menjadi utama, demikian celakanya bila dicarikan jalan oleh Resi.
Lagi jika upacara hayu (bukan duka ), upacara penyucian diri, upacara tentang kehidupan, itu dapat dipimpin oleh Resi, tetapi sebelumnya menyampaikan perkenan kepada Dhang Guru agar tidak berbuat sekehendak hati, lancar, bebas/terlepas dari kekurangan lebih-lebih membuat bingung, tidak berhasil, sebagai akibat kurang nasihat dari sang Adi Guru, ikut terbawa-bawa sang guru, oleh karena pelaksanaan keliru muridnya, itu juga sama-sama menyebabkan ditaati, memohon restu kepada sang Adi Guru, pada waktu melaksanakan upacara, lagi pula pada saat sang Guru dalam wujud Ardhanareswari menyatu ke alam sunyatmaka (Surga), Sang Resi harus mempersembahkan air suci pada kaki, menghaturkan penyucian kaki beliau. Juga pada waktu hari raya Galungan tiba, Kuningan, pada saat itu sang Resi (juga) mempersembahkan daging untuk pelaksanaan Galungan, sebagai persembahan layaknya hormat kepada Gumi. Lagi pula ingatlah tata krama itu, menghadap sang Adi Guru, jangan sembunyi-sembunyi, pergi (juga ) sembunyi-sembunyi, tidak mengabaikan bimbingan, tidak memalingkan muka, tidak salah dengar, tetap menatap muka, setiap berucap dan berkata dengan hormat, jangan menutupi pembicaraan yang tidak benar, tidak mencampuri pembicaraan Adi Guru, tidak menyangkal perintah, mempercepat dapat dimengerti, jangan tetap membenarkan terhadap apa yang belum benar, tidak mengeruhkan permandian sang Adi Guru, tidak menolak perintah, tidak menginjak bayangan sang Adi Guru, tidak menduduki tempat duduk sang Guru, tidak turun naik dalam perasaan, tidak memotong-potong pembicaraan sang Adi Guru, jangan sering lemah dan memudar, dan juga awasi dari kejauhan, jika belum nyata/ pasti tentang keadaan sang Adi Guru, jangan segera mencampuri, jangan berbicara dan menjawab dengan membalikkan punggung.
Demikian tata cara seorang putra guru, putri guru, kakak guru, adik guru, ada penghormatan yang tulus dari dalam hati, dengan suara yang lembut, bahasanya/nadanya datar, ucapannya mempesona, dengan perkataan Ida Bagus, Ratu Ida Ayu, lagi pula saat menghadap sang Adi Guru, jika terlihat putra sang Guru, putri guru, kakak dan adik guru, ajak (tawari) duduk bersama, jangan engkau menghalangi duduk, juga jangan membelakangi, jangan menyuguhkan makanan yang telah diambil dengan tidak teratur. Jika telah tiba saatnya meninggal, engkau dapat meminta untuk menggunakan Padmasana, apa sebabnya bisa, karena engkau merupakan perlindungan manusia, menjadi sahabat sang pendeta menceriterakan jalan/mengupacarakan orang yang telah meninggal, sekalipun engkau gadis yang kecantikannya telah menyusut, gadis (istri ) Resi panggilanmu, sama-sama bisa/dapat menjadi pelindung manusia, memakai gelung kesa gagato seperti pakaian istri pendeta.
Demikian tata cara sang Resi, taat terhadap sang brahmana, jangan mabuk menganggap diri tabu, engkau merupakan wadah berbunyi, sang pendeta yang mengisinya, menghidupkan, dan memberikan kekuatan jagat, beliau dianggap air kehidupan, sekalipun wadah itu bocor, tetapi memiliki kewenangan untuk menyalurkan kehidupan, berbeda dengan kulit seekor kambing, dipakai oleh Baladewa, menimba air dari sumur, sekalipun pekerjaan suci, waspadai baunya yang busuk, karena dicemari oleh tempat. Demikian perbuatan yang alpa, itu sebabnya di waspadai oleh yang menjunjung dharma ( kebenaran ), berusaha melaksanakan tiga perbuatan baik, agama, kebaikan, tingkah laku yang baik.
Ini purana (silsilah /cerita kuno ) tentang area perwujudan di Pura Puri Anyar Sukangeneb, yang berada di Sinduwati, Singharsa, dipuja oleh para keturunan beliau semua. Ahli waris yang memelihara, para keturunan Jro Gede Wiryya, keturunan dari I Gusti Gede Tianyar, beliau memang bersaudara, tiga, anak dari I Gusti Gede Tianyar Sekar.
Sumber:
Pusat Dokumentasi - Dinas Kebudayaan Provinsi Bali
Langganan:
Komentar (Atom)
